Tampilkan postingan dengan label Natal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Natal. Tampilkan semua postingan

Perayaan Natal WKRI Banjarsari

Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Ranting Banjarsari menggelar Perayaan Hari Natal. Perayaan tersebut dihadiri 125 tamu undangan yang diisi renungan oleh Romo J Triwidianto, Pr.

Menurut Humas WKRI Banjarsari, Ikka Sri Litnaniyah, tema perayaan Natal dititikberatkan pada kepedulian sesama yang membutuhkan. Maka dari itu, pihaknya juga melibatkan kaum difabel pada perayaan Natal. Sehingga, mereka juga bisa merayakan Hari Natal dengan kebersamaan. "Kami ingin berbagi pada sesama saat merayakan Hari Natal," ucapnya seperti rilis yang diterima Solopos, Jumat (6/1).

HOMILI: Hari Raya Natal

“Sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa”

Pertama-tama kami ucapkan “SELAMAT NATAL”, selamat merayakan hari Kelahiran Penyelamat Dunia. Bagi orang yang sehat baik secara phisik maupun spiritual kelahiran seorang anak pada umumnya sungguh membahagiakan, membuat hidup lebih ceria, bergairah dan bergembira. Secara khusus ibunya atau orangtuanya pasti akan membaktikan diri sepenuhnya bagi anak yang baru saja dilahirkan, dan demikian demikian pasti akan memiliki cara hidup dan cara bertindak baru, lebih-lebih atau terutama bagi sang ibu. Kegembiraan dan kebahagiaan akan semakin besar ketika tahu bahwa anak yang telah dilahirkan menjanjikan sesuatu yang besar, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama jiwa manusia. Yang kita rayakan kelahiranNya adalah Penyelamat Dunia, suatu pemenuhan janji Allah untuk menyelamatkan seluruh dunia seisinya, maka selayaknya seluruh bangsa di dunia menyambut gembira. Marilah kita renungkan warta gembira Natal, sebagaimana diwartakan oleh para malaikat Allah.

"Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Luk 2:10-12)

Warta Gembira Natal pertama-tama disampaikan oleh para malaikat Allah kepada para gembala domba di padang rumput. Para gembala domba dalam tata susunan social atau kemasyarakatan pada masa itu termasuk kelompok yang tersingkirkan atau kurang memperoleh perhatian. Maka warta gembira Natal bagi mereka berarti suatu pengentasan atau pengangkatan mereka sebagai manusia atau warga untuk menjadi sejajar dengan manusia atau warga lainnya, dan hal itu sungguh merupakan ‘kesukaan besar’ bagi mereka. Allah yang menjadi Manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa merupakan wujud solidaritas dan empati Allah kepada semua umat manusia di bumi atau semua bangsa di dunia.

Yesus adalah Penyelamat Dunia, maka siapapun beriman kepadaNya hendaknya tidak takut untuk mendunia. Berpartisipasi dalam seluk beluk atau hal-ihwal duniawi pada masa kini harus menghadapi aneka masalah, tantangan dan hambatan, lebih-lebih ketika dalam mendunia harus jujur dan disiplin. Beriman kepada Penyelamat Dunia berarti berpartisipasi dalam menyelamatkan bagian dunia yang tidak selamat, dimana ada bagian dunia yang tidak selamat ke situlah dipanggil untuk menyelamatkannya. Maka marilah kita lihat dan cermati lingkungan hidup kita dimana kita hidup, bekerja atau berada, dan ketika melihat sesuatu yang tidak selamat, entah itu harta benda, binatang, tanaman atau manusia, hendaknya segera diselamatkan. Sesuatu tidak selamat berarti sesuatu yang tidak sesuai pada tempatnya atau tidak lagi menjadi citra atau gambar Allah dalam cara hidup dan cara bertindaknya.

Sang Penyelamat Dunia yang mendatangi kita lahir “ dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan”, dengan kata lain Ia dilahirkan dalam kesederhanaan atau kemiskinan, yang menandakan bahwa Ia juga akan hidup dalam kesederhanaan dan kemiskinan. Dengan hidup sederhana dan bersemangat miskin, terbuka terhadap aneka macam kemungkinan dan kesempatan, kita akan mampu melihat bagian dunia lingkungan hidup kita yang harus kita selamatkan atau bahagiakan. Maka beriman kepadaNya berarti juga harus hidup sederhana dan bersemangat/berjiwa miskin. Maka selanjutnya marilah kita renungkan kutipan surat Paulus kepada Titus di bawah ini.

“Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.” (Tit 2:12-14).

Keinginan-keinginan duniawi memang mengarah kepada penderitaan atau kesengsaraan selamanya, meskipun mengikuti keinginan dunia akan nikmat untuk sementara, tetapi akan menderita atau sengsara selamanya. Keinginan duniawi masa kini antara lain berupa gila akan harta benda/uang, gila akan jabatan/kedudukan dan gila akan kehormatan duniawi serta gila akan kenikmatan phisik misalnya kenikmatan seksual. Cukup memprihatinkan membaca informasi melalui internet bahwa cukup banyak PNS di Jawa Tengah yang selingkuh pada jam-jam kerja mereka. Para PNS yang seharusnya menjadi teladan baik ternyata malah menjadi batu sandungan dengan perilaku selingkuh, yang memang sungguh merusak hidup berkeluarga yang didasari cintakasih, dengan kata lain mereka melanggar atau melawan cintakasih sebagai hukum utama dan pertama dalam kehidupan bersama dimanapun.

Beriman kepada Penyelamat Dunia dipanggil untuk “meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan dunia dan supaya hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini”. Maka dengan rendah hati kami berharap kepada mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama di dunia ini dapat menjadi teladan dalam menghayati ajakan di atas ini: tidak mengikuti keinginan-keinginan duniawi serta hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam hidup sehari-hari di dunia sekarang ini. Memang peran keluarga pada masa kini cukup penting dalam kehidupan bersama: hidup berkeluarga adalah dasar hidup bermasyarakat dan beragama atau beriman. Orang-orang atau pribadi-pribadi bijaksana, adil dan beribadah pada umumnya berasal dari keluarga-keluarga baik, beriman dan senantiasa dalam keadaan bahagia dan damai sejahtera.

Kelahiran seorang anak dalam keluarga berarti kedatangan pihak ketiga di antara suami dan isteri. Anak adalah anugerah Allah, maka kelahiran seorang anak juga berarti kelahiran atau kehadiran Allah dalam keluarga, dalam relasi antara suami dan isteri. Bagi suami dan isteri dengan kelahiran seorang anak pasti akan berkata seperti Yesaya ini, yaitu “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” (Yes 9:1). Sang Penyelamat Dunia telah lahir dan datang di tengah-tengah kita, maka selayaknya kita pun akan menghayati sapaan Yesaya di atas: Rtidak ada sesuatu pun yang dapat ditutupi atau disembunyikan. Maka kepada mereka yang masih hidup atau ‘berjalan di dalam kegelapan’ kami ajak untuk segera keluar dari kegelapan. Dengan kata lain mereka yang suka berbohong hendaknya segera hidup jujur, yang suka bersandiwara dalam kehidupan kami harapkan segera membuka topeng kehidupan tersebut dan menghadirkan diri apa adanya sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan, dst..

“Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa. Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya.” (Mzm 96:1-3.11-13)

“SELAMAT NATAL DAN BERBAHAGIA BERSAMA”



Minggu , 25 Desember 2011



Romo Ignatius Sumarya, SJ

Note: Sabtu, 24 Desember 2011 saksikan Metro TV pk 19.05 wib (siaran sekitar Seminari Mertoyudan) - Film Satu Abad Seminari Mertoyudan -

Natal dengan Semangat Sederhana

JAKARTA, - Umat Kristiani di Indonesia diimbau merayakan Natal dengan penuh semangat kesederhanaan, kebersamaan, dan perdamaian. Perayaan diharapkan berlangsung aman sehingga semakin memperkuat kehidupan harmonis di tengah kemajemukan bangsa Indonesia.

Demikian disampaikan Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Gumar Gultom dan Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Romo Benny Soesetyo, di Jakarta, Jumat (23/12/2011).

Menurut kedua tokoh agama itu, hingga saat ini proses persiapan ibadah dan perayaan Natal di Indonesia berjalan aman dan lancar. Ibadah dan perayaan Natal, Sabtu ini dan Minggu (25/12/2011), akan berlangsung di sekitar 100.000 gereja Kristen di bawah PGI dan sekitar 1.500 gereja Katolik di bawah koordinasi KWI di seluruh Indonesia.

"Natal bukan pesta, melainkan bagian dari ibadah agama. Kami imbau kepada seluruh umat Kristiani untuk tidak merayakannya secara berlebihan. Rayakan dengan sederhana, sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Dengan begitu, semoga tidak memancing hal-hal yang tidak diinginkan," kata Gultom.

Romo Benny Soesetyo mengimbau agar Natal dirayakan dengan semangat kesederhanaan. Natal adalah kabar gembira dan pemberian harapan bagi semua orang. Ibadah ini merupakan kebaktian kepada sesama manusia dalam bentuk solidaritas. "Di Indonesia, Natal seyogianya menjadi ungkapan kebersamaan untuk semua manusia, apa pun latar belakangnya," katanya.

Universal

Pengajar pada Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, Sylvana Apituley-Ranti, Jumat, mengatakan, pesan Natal, yang sejatinya ialah membawa kabar gembira kelahiran Yesus Kristus, semestinya bisa direfleksikan dalam kenyataan bangsa saat ini.

"Kabar gembira itu universal dan milik semua orang, tidak melihat apa pun agama dan kepercayaannya. Pesan Natal yang ingin membawa kedamaian serta keberpihakan kepada yang tertindas dan lemah tentu bukan hanya milik orang Kristiani semata," katanya.

Dalam konteks itu, menurut Sylvana yang juga komisioner Komisi Nasional Perempuan, semangat Natal harus menjiwai setiap upaya warga bangsa untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dan memelihara semangat kebersamaan dalam wadah Bhinneka Tunggal Ika. Semangat itu juga jangan hanya hidup saat menjelang Natal.

Budayawan Romo Gregorius Budi Subanar SJ berharap pesta Natal bukan sebagai pesta material, melainkan sebagai pesta iman, spiritual, yang mengajak orang untuk masuk ke dalam semangat awal Natal.

Semangat awal Natal adalah semangat penjelmaan Yesus Kristus sebagai manusia. Semangat mengangkat harkat manusia karena Allah menghargai harkat manusia.

"Natal hendaknya menjadi momen rohani untuk masuk dan merenung, bagaimana saya bisa menghargai hidup saya sendiri yang ditempatkan bersama orang lain," ujar Romo Subanar.

Pesan Natal Bersama PGI dan KWI menyatakan bahwa semangat Natal adalah sederhana dan bersahaja, rajin dan giat, semangat tidak membeda-bedakan, serta semangat tidak mengotak- ngotakkan.

Pesan Natal bersama itu juga mencatat bahwa kekerasan masih menjadi bahasa yang digemari untuk menyelesaikan masalah relasi antarmanusia.(IAM/REK/WER/*)

Sumber: KOMPAS

Beberapa hal tentang Misa Hari Raya Natal

Beberapa hal perbedaan dalam tekanan yang mau disampaikan dalam Misa Malam Natal, Misa Natal Fajar dan Misa Natal Siang:

Misa Malam Natal: memberi tekanan tentang kelahiran-Nya yang sudah terjadi sejak awal, yakni dalam kehendak Bapa di surga untuk mengangkat martabat manusia ke dalam sejarah keselamatan-Nya (Luk 2:1-14: Maria melahirkan di Betlehem = Ajakan bagi kita semua untuk menyerahkan kemanusiaan kita (sejarah manusia) untuk dimasukkan/diikutsertakan dalam Sejarah Keselamatan oleh Tuhan).

Misa Natal Fajar hari: Permenungan lebih berpusat pada Peristiwa yang mengabarkan lahirnya Kristus di dalam kehidupan orang beriman yang pertama, yakni para gembala (Luk 2:15-20: Para gembala=Pewarta2 pertama yang mengundang kita semua untuk ikut sujud dan menyembah ke hadapan sang Bayi Penyelamat, dan selanjutnya menjadi pewarta kabar baik bagi dunia)

Misa Siang hari: Permenungan lebih mengarah pada pemahaman peristiwa kelahiran Kristus secara rohani di dalam kehidupan orang beriman (Yoh 1:1-18, menegaskan bahwa sang Sabda ini sudah ada sejak semula= Peristiwa Inkulturasi Allah itu akhirnya bukan hanya fakta sejarah, tetapi menjadi rencana Keselamatan Allah dan sekaligus sebagai dasar iman kita yang tak tergoyahkan)

Sering ada pertanyaan: Apakah boleh atau tidak ikut misa natal pagi setelah malam sebelumnya ikut misa natal? Soal boleh atau tidak, tentu saja boleh asal mengikuti perayaan dari awal sampai akhir dan bukan masuk hanya pada saat menyambut komuni. Tetapi kiranya pertanyaan ini lebih ditujukan kepada saudara/i yang mungkin berpandangan: Ah, tidak perlu misa pagi lagi karena toh sama saja sudah ikut malamnya. Maka jawabannya tentu tidak semudah dan sesederhana itu. Misa natal pagi juga bukan sesederhana ‘hanya’ demi mereka yang berhalangan ikut pada malam harinya atau demi anak-anak yang tidak bisa ikut karena larut malam.

Baik misa Malam Natal dan Natal Pagi sebutannya sama: Hari Raya Natal, berbeda dengan Malam Paskah dan Hari Raya Paskah. Di kalender liturgi, Malam Paskah berada pada hari sendiri yang resminya bernama Sabtu Suci, sedangkan Hari Raya Paskah pada hari yang berbeda. Hari Raya Paskah sendiri adalah puncak perayaan liturgi sepanjang tahun, dan karenanya disebut Hari Raya dari segala Hari Raya (Summa solemnitas / solemnity of solemnities), dan karenanya sangat wajib untuk diikuti. Walaupun sudah mengikuti misa Malam Paskah tetap wajib mengikuti misa Hari Raya Paskah, berbeda dengan natal, kalau sudah mengikuti Malam Natal tidak wajib mengikuti natal paginya.

Sumber: http://liturgiekaristi.wordpress.com

Waktu Liturgi

Waktu liturgi melambangkan misteri sejarah keselamatan Allah yang memuncak dalam Misteri Paskah Yesus Kristus. Tata waktu liturgi tampak jelas dalam pengaturan Tahun Liturgi, yang dibuka dengan Minggu Adven I, memuncak dalam perayaan Paskah dan diakhiri dengan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Sebagai pilar penyangga tahun liturgi adalah Natal dan Paskah. Kedua Hari Raya itu didahuli dan diakhiri masa khusus.

Liturgi kita juga mengenal hari-hari raya, hari pesta, hari peringatan baik wajib maupun fakultatif dan hari biasa. Semua hari itu dengan caranya masing-masing ingin menjelaskan dan menguraikan mister Yesus Kristus. Dalam siklus mingguan, hari Minggu menjadi puncak dan memulai pekan mingguan. Hari Minggu adalah hari Tuhan (Portugis: Dominggo, Latin: Dominus) sebab pada hari itu Tuhan bangkit.

Masa atau Tahun Liturgi Gereja. Sangat lama dalam sejarah liturgi Gereja, keseluruhan perayaan pesta liturgi dalam peredaran tahun tidak dilihat dan dipahami sebagai satu kesatuan. Dengan demikian, konsepsi dan istilah “Tahun Liturgi” lama tidak dikenal. Bahkan, buku Missale Romanum 1570 pun juga belum mengenalnya. Istilah Tahun Liturgi pertama kali digunakan dalam dokumen resmi Gereja Katolik baru pada tahun 1948 dalam Mediator Dei. Dengan Konstitusi Liturgi dari Vatikan II, pengertian Tahun Liturgi disusun dan dikembangkan. Sejak itu Tahun Liturgi dimengerti sebagai Perayaan Gereja yang mengenangkan misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus dalam rangka perjalanan peredaran lingkaran tahun. Proses terbentuknya perayaan liturgi Kristiani dalam peredaran waktu berakar dalam tahun pesta Yahudi. Ada dua akar pokok yang berasal dari tradisi Yahudi bagi pembentukan masa liturgi Kristiani.

  • Lingkaran perayaan liturgi mingguan: yakni siklus tujuh hari menurut pola hari Sabat Yahudi.
  • Lingkaran perayaan liturgi tahunan: yakni hari-hari raya dan pesta Kristiani menurut pola hari-hari raya Yahudi.

Orang-orang Kristen yang bukan Yahudi tentu saja tidak terlalu merasa terikat dengan siklus hari raya Yahudi. Namun, siklus mingguan tetap berlaku, di mana kini hari pertama minggu itu, yakni hari Minggu sebagai hari Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, dipandang sebagai hari yang lebih penting daripada Sabat Yahudi. Sedangkan, lingkaran hari-hari raya Yahudi dikristenkan seperti hari raya Paskah, hari raya Pentakosta, dll. Perayaan liturgi mingguan dan tahunan ini merupakan masa liturgi tertua. Baru pada abad ke-4 misalnya, muncul hari raya Natal, tgl. 25 Desember, yang sebelumnya merupakan pesta kafir yakni pesta dewa matahari yang tak terkalahkan. Dalam perkembangan sejarah liturgi, muncul aneka macam hari raya dan pesta peringatan untuk Tuhan maupun orang-orang kudus.

Teologi Tahun Liturgi

a.) Misteri Paskah sebagai Pusat dan Jantung Tahun Liturgi. Bertolak dari pengertian dasar, bahwa misteri Paskah menjadi pusat seluruh liturgi Gereja (bdk. SC 5-6) kita dapat pula menyatakan bah misteri paskah adalah pusat dan jantung hati Tahun Liturgi. Sebagaiman suatu rangkaian acara rapat, pertemuan ataupun perayaan pesta apa pun selalu mempunyai inti acara, demikian pula rangkaian perayaan liturgi sepanjang tahun inti acara juga. Inti acara tahun liturgi ilah perayaan misteri wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Misteri Paskah menjadi inti acara atau pusat dan jantung hati tahun liturgi, karena perayaan liturgi, dirayakan sepanjang tahun selalu merupakan perayaan kenangan penuh syukur atas karya keselamatan Allah yang terlaksana dalam wafat dan kebangkitan Kristus. Kita tahu bahwa Misteri Paskah ini pula yang menjadi pangkal tolak seluruh iman Kristiani. Dengan istilah jantung hati, kami memang dengan sengaja mau menunjuk aspek pentingnya Misteri Paskah sebagai pusat seluruh Tahun Liturgi.

Itu berarti, puncak pesta perayaan liturgi Gereja adalah Tri Hari Suci, ketiak Kristus menyerahkan diriNya, menderita, wafat, dimakamkan, dan bangkit dari kematian, yakni Kamis Putih hinggu Minggu Paskah. Lalu Malam Paskah tentu saja menjadi puncak dari segala puncak pesta. Maka, liturgi malam Paskah merupakan liturgi Gereja yang hingga kini paling meriah, menurut tata urutan, banyaknya bacaan, melimpahnya simbol, dan lamanya liturgi. Demikianlah dari pengalaman kita sendiri menjadi jelas, bagaimana perayaan liturgi Tri Hari Suci selalu terasa khusus dan meriah.

b.) Tahun Liturgi Menghadirkan Seluruh Misteri Kristus. Apabila Misteri Paskah Kristus menjadi pusat dan jantung hati seluruh perayaan liturgi sepanjang tahun, maka itu bukan berarti, bahwa misteri Kristus yang lainnya tidak menjadi penting lagi. Tahun Liturgi bagaimanapun juga selalu menghadirkan seluruh misteri Kristus. Dalam teologi, misteri Kristus dipahami sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Tahap perutusan Sang Sabda menjadi manusia (inkarnasi) dan kelahiran, hidup tersembunyi di Nazaret dan hidup publik-Nya, penderitaan dan wafat-Nya, kebangkitan dan peninggian-Nya memang secara historis merupakan kejadian yang tidak bersamaan, namun selalu terentang dalam fase-fase historis. Akan tetapi, sebagai suatu karya keselamatan Allah, seluruh misteri peristiwa Kristus itu hanyalah satu realitas, satu realitas tindakan penyelamatan Allah melalui Kristus dalam Roh Kudus.

Demikian pula setiap kali kita merayakan liturgi, entah kapan dan dengan ujub dan tema apa pun, kita sebenarnya merayakan dan menghadirkan seluruh misteri Kristus itu. Dengan amat indah dan urut, Tahun Liturgi Gereja menghadirkan aspek-aspek misteri Kristus itu, seolah-olah satu persatu, agar umat beriman terbuka kepada kekayaan, keutamaan, dan pahala Tuhannya dan dengan demikuan misteri-misteri Kristus itu dapat hadir dengan cara tertentu (SC 102)

Struktur dan Susunan Pokok Tahun Liturgi

a.) Struktur Dasar Tahun Liturgi. Tahun liturgi dibuka dengan hari Minggu Adven I. Pada mulanya waktu awal Tahun Liturgi tidaklah selalu sama. Hal ini berkaitan juga dengan soal: kapan awal tahun masing-masing bangsa terjadi. Baru mulai abad ke-10-11 ketika buku-buku liturgi selalu membuka lingkaran perayaan tahunnya pada hari Minggu Adven I, maka pelan-pelan hari Minggu Adven I semakin dipandang sebagai awal masa Liturgi Gereja. Apabila masa adven menjadi persiapan Gereja menantikan kedatangan Sang Penyelamat Yesus Kristus ke dunia yang puncaknya dirayakan dalam Hari Raya Natal, maka Tahun Liturgi diakhiri dengan hari Minggu Hari Raya Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Suasana Hari Raya Kristus Raja ialah suasana penyelesaian keselamatan Allah dalam Kristus yang masih menjadi harapan kita. Kita menantikan langit dan dunia yang baru, di mana Kristus Sang Raja datang kembali sebagai Hakim untuk menyelesaikan segala sesuatunya dan menaklukkan segala sesuatu, sehingga “Allah menjadi semua di dalam semua” (1Kor 15:28). Inilah tujuan seluruh sejarah manusia dan seluruh Gereja. Dalam rentang waktu antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedatangan-Nya yang kedua kalinya nanti itu hiduplah Gereja. Gereja hidup, bergerak, dan berziarah menuju kepada janji kepenuhan hari penyelamatan Allah yang di satu pihak sudah terlaksana dalam Kristus dan di lain pihak bergerak kepada penyelesaian akhirinya. Dalam rentang waktu itulah Gereja berliturgi untuk pemuliaan Allah dan dengan demikian juga pengudusan manusia.

Sebagai pilar dan tiang penyangga Tahun Liturgi itu adalah lingkaran Paskah dan Lingkaran Natal. Lingkaran Paskah dipersiapkan dengan Masa Prapaskah dan diikuti Masa Paskah yang diakhiri dengan hari raya Pentakosta. Lingkaran Natal dipersiapkan dengan Masa Adven dan dilanjutkan dengan Masa Natal hingga Pesta Pembaptisan Tuhan.

Di antara dua pilar penyangga utama “bangunan Tahun Liturgi” dipenuhi dengan oleh Masa Biasa, selama 33-34 pekan, yang senantiasa berpuncak dalam setiap hari Minggu (Biasa) yang merupakan peryaan klasik dan awali Gereja atas Misteri Paskah dan berbagai hari raya dan pesta dan peringatan oran-orang kudus.

b.) Hari Minggu sebagai Perayaan Awali Gereja akan Misteri Paskah. Lama dalam sejarah liturgi, makna dan kedudukan hari Minggu dalam perayaan liturgi tidak diperhatikan. Dulu orang selalu disibukkan dengan aneka pesta khusus entah untuk Tuhan, Bunda Maria, ataupun para kudus lainnya. Suatu kecenderungan yang masih sering kita rasakan hingga kini ialah hobi begitu banyak panitia dan komisi gerejawi yang membuat tema-tama khusus pada hari Minggu. Akibat yang kurang baik ialah bahwa rangkaian bacaan migguan dikorbankan dan makna hari Minggu sebagai perayaan awali Gereja akan Misteri Paskah kurang diperhatikan. Sebab dari tradisi hari Minggu menjadi hari pertemuan jemaat Kristiani untuk memuji dan bersyukur atas karya keselamatan Allah, sebagaimana dinampakkan dalam wafat dan kebangkitan Kristus. Acara utama pertemuan jemaat Kristiani pada hari Minggu itu adalah Perayaan Ekaristi dan mendengarkan Sabda Tuhan.

“Berdasarkan Tradisi para Rasul yang berasal mula pada hari kebangkitan Kristus sendiri, Gereja merayakan misteri Paskah sekali seminggu, pada hari yang tepat sekali disebut Hari Tuhan atau Minggu. Pada hari itu umat beriman wajib berkumpul untuk mendengarkan sabda Allah dan ikut serta dalam Perayaan Ekaristi, dan dengan demikian mengenangkan sengsara, kebangkitan dan kemuliaan Tuhan Yesus, serta mengucap syukur kepada Allah, yang melahirkan mereka kembali ke dalam pengharapan yang berkat kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati (1Ptr 1:3). Demikianlah hari Minggu itu pangkal segala hari pesta. Hari itu hendaknya dianjurkan dan ditandaskan bagi kesalehan kaum beriman, sehingga juga menjadi hari kegembiraan dan bebas dari kerja. Kecuali bila memang sungguh sangat penting, perayaan-perayaan lain jangan diutamakan terhadap hari Minggu, sebab perayaan Minggu memang merupakan dasar dan inti segenap tahun Liturgi” (SC 106).

c.) Penghormatan Kepada Orang-Orang Kudus. Perayaan liturgi untuk menghormati orang kudus tidak pernah merupakan perayaan liturgi demi kejayaan dan kehebatan dan kekudusan orang-orang suci itu. Gereja selalu merayakan liturgi penghormatan orang kudus dalam rangka mengungkapkan imannya kepada Yesus Kristus. Meski pernah ada praktek yang berlebih-lebihan dalam menghormati orang suci, Gereja sendiri secara resmi tidak pernah melupakan inti imannya, yang memandang Yesus Kristus sebagai satu-satunya pengantara Allah dan manusia (1Tim 2:5-6). Apa bila Gereja menghormati orang kudus, itu selalu berarti: Gereja merayakan rahmat kemenangan satu-satunya Penebus dan Pengantara kira: Yesus Kristus dan di situ Gereja bersyukur atas buah penebusan Kristus yang kini telah dinikmati oleh para kudus.

Masuknya peringatan orang-orang kudus dalam liturgi Gereja memuat tiga makna.

Pertama: dalam diri orang kudus Gereja mengagumi dan memuliakan buah penebusan yang unggul dan dengan gembira merenungkan apa sepenuhnya dirindukan dan dicita-citakan sekarang (bdk. SC 103). Di situ Gereja mewartakan Misteri Paskah yang telah dihidupi oleh para kudus itu.

Kedua: Gereja menggabungkan diri dengan para kudus dalam memuji dan memuliakan Allah serta memohon mereka menjadi pendoa kita di surga.

Ketiga: Kepada orang beriman Gereja menyajikan hidup orang kudus sebagai teladan hidup beriman.

Bacaan Misa Dalam Perayaan Ekaristi. Pada semua hari Minggu dan hari raya selalu ada tiga bacaan misa: bacaan pertama Perjanjian Lama, yang kedua dari Surat Perjanjian Baru, dan yang ketiga Injil. Agar umat beriman dapat mendengarkan bacaan Kitab Suci selengkapa dan seluas mungkin (hampir seluruh bagian Kitab Suci), maka untuk hari Minggu dan hari raya ini bacaan misa dibagikan menurut Tahun A, B dan C. Cara mengenali cukup mudah, yakni tahun yang habis dibagi tiga pasti tahun C; lalu tahun yang lain dihitung dari sana.

Ada dua prinsip pemilihan bacaan yakni,
- Prinsip kesesuaian tema. Prinsip kesesuain tema berarti prinsip pemilihan bacaan menurut isi tema yang sesuai satu sama lain. Prinsip ini diterapkan untuk lingakaran masa Natal dan Paskah, termasuk Minggu Adven dan Prapaskah. Untuk hari Minggu, bacaan I dan Injil juga manganut prinsip kesesuain tema.
- Prinsip lintasan atau urutan. Prinsip urutan berarti prinsip pemilihan bacaan menurut urutan bagian kitab yang sedang dibacakan. Prinpsip urutan tema diterapkan untuk bacaan II pada hari Minggu Biasa. Artinya, bagian Kitab Suci yang dibacakan sebagai bacaan II pada hari Minggu Biasa diambil dari bagian prikop berikut dari bagian Kitab Suci yang dibacakan sebagai bacaan II pada hari Minggu Biasa sebelumnya. Itulah sebabnya bacaan II tidak selalu sesuai dengan Injil dan bacaan I.

Tahun A bacaan Injil diambilkan dari Matius, Tahun B dari Markus, dan Tahun C dari Lukas. Injil Yohanes digunakan untuk minggu-minggu terakhir Masa Prapaskah dan Masa Paskah. Sedangkan Kisah Para Rasul selalu dipakai untuk bacaan I dalam masa Paskah. Pada umumnya ketiga bacaan misa pada hari Minggu dan hari raya selalu dibacakan. Konferensi Wali Gereja Indonisa memberi kemungkinan dua bacaan saja pada hari Minggu, apabila secara pastoral itu dirasakan manfaatnya.

Bacaan pada hari biasa pada umumnya selalu dua buah. Untuk bacaan I ada dua rangkaian Tahun, yaitu Tahun I dan Tahun II. Tahun I dipakai untuk tahun-tahun ganjil dan Tahun II tahun-tahun genap. Bacaan II selalu merupakan bacaan Unjil yang selalu diulang untuk setiap tahun. Bacaan Unjil untuk hari-hari biasa dibagi sbb.: pekan 1-9 Markus, pekan 10-21 Matius, pekan 22-34 Lukas.

Bacaan untuk pesta atau peringatan santo-santa selalu dipilihkan secara tematis, sesuai dengan hidup dan kekhasan santo atau santa yang diperingati.

Manusia Sebagai Simbol Liturgis --- E. Martasudjita, Pr