Tampilkan postingan dengan label Liturgi Sabda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liturgi Sabda. Tampilkan semua postingan

CINTA YANG BESAR DIBALIK SETIAP ATURAN GEREJA


Aturan lain boleh dibuat untuk dilanggar, tapi aturan Gereja Katolik selalu berhubungan erat dengan imannya yang harus dijaga dan dilestarikan dengan cinta dan kebijaksanaan.

Merelativir aturan adalah jalan yang terbuka kepada penyalagunaan bahkan penghancuran hukum itu sendiri, bahkan dalam konteks iman, umat semakin dijauhkan umat dari Yesus.

Yesus tidak membenci aturan, tapi Ia mencela mereka yang menerapkan aturan dengan cara yang tidak bijaksana. Apakah engkau tidak berpikir bahwa Yesus pun mencela mereka yang melanggar aturan?

Kalau engkau berpikir bahwa demi alasan apapun aturan gereja dilonggarkan sehingga membuat aturan sendiri, apakah engkau tidak berpikir bahwa ada iman Bunda Gereja yang besar dibalik setiap perumusan aturan yang ada di dalam tubuhnya?

Taatilah aturan agar imanmu tetap terpelihara.


SUMBER: FACEBOOK GEREJA KATOLIK
SIGNATURE: ***Duc in Altum***

Apa Perbedaan antara Liturgi Sabda dan Ibadat Sabda?

Perbedaan antara ibadat dan liturgi, sebagaimana disampaikan oleh Rm. Emanuel Martasudjita, Pr.[1], adalah:

1. Dari segi bahasa

Dari sisi bahasa, pengertian ibadat lebih luas daripada liturgi. Ibadat mencakup tindakan ungkapan iman (doa) dan sekaligus perwujudannya dalam perbuatan kasih kepada sesama; sedangkan liturgi memang hanya merupakan tindakan untuk mengungkapkan iman. Maka liturgi berhubungan dengan doa ungkapan iman kita kepada Allah.

2. Dari segi teologis

Dari sisi ini, pengertian liturgi justru lebih luas daripada ibadat. Liturgi merupakan komunikasi dua arah sekaligus yang langsung terkait; yaitu Allah yang menguduskan dan menyelamatkan manusia (‘katabatis‘= gerakan dari Allah ke manusia) dan sekaligus manusia yang menanggapi pengudusan Allah dengan memuliakan Dia (‘anabatis‘= gerakan dari manusia ke Allah). Komunikasi ini berlangsung melalui Kristus di dalam Roh Kudus. Kedua gerakan ini merupakan dua unsur yang tidak terpisahkan yang terjadi di dalam liturgi. Sedangkan dalam ibadat, penekanan lebih terletak kepada gerakan naik dari manusia ke Allah (‘anabatis‘) saja.

3. Dari segi liturgis

Liturgi selalu merupakan tindakan komunal atau tindakan bersama, yakni perayaan seluruh Gereja, bukan tindakan perayaan pribadi (lih. Sacrosanctum Concilium, 26). Liturgi merupakan perayaan yang bersifat resmi karena di dalamnya Gereja mengungkapkan hakekat dirinya secara resmi (lih. Sacrosanctum Concilium, 2). Sedangkan pengertian ibadat masih bisa mengacu kepada tindakan pribadi, dan ibadat tidak selalu pada tingkatan resmi.
Contoh liturgi adalah liturgi sakraman-sakramen; sedangkan contoh ibadat adalah ibadat sakramentali seperti ibadat pertunangan dan bermacam ibadat berkat.


Dengan memahami pengertian ini maka dapat diketahui bahwa Liturgi Sabda berbeda maknanya dengan Ibadat Sabda, sehingga persyaratannya-pun berbeda. Liturgi Sabda yang merupakan ungkapan iman Gereja secara resmi, mensyaratkan cara pengungkapannya yang sesuai dengan Tradisi Suci Gereja, yaitu dengan membacakan bacaan Kitab Suci sesuai dengan kalender liturgis Gereja, yang disertai dengan homili oleh para tertahbis (yaitu uskup, imam atau diakon tertahbis). Sedangkan Ibadat Sabda tidak mensyaratkan ketentuan ini, sehingga dapat merupakan pembacaan perikop Kitab Suci tertentu, yang tidak harus diambil dari bacaan liturgis pada hari itu; dan dapat disertai oleh sharing iman ataupun pengajaran dari kaum awam (baik laki-laki maupuan perempuan) yang memang berkompeten untuk itu.


CATATAN KAKI:

lih. Rm. Emanuel Martasudjita, Pr., Liturgi Pengantar untuk Studi dan Praksis Liturgi, (Yogyakarta: Kanisius, 2011), hl. 28-30

SUMBER: http://katolisitas.org/8221/apa-perbedaan-antara-liturgi-sabda-dan-ibadat-sabda

Menggali Makna Bagian-bagian Misa: Homili dan Credo (Edisi 8)

Menggali Makna Bagian-bagian Misa

Homili
Homili adalah pewartaan sabda Allah yang bersumber dari Kitab Suci dan memberi komentar serta penjelasan mengenai Kitab Suci yang menjadi bacaan pada Misa. Homili berasal dari bahasa Yunani: homilia yang berarti percakapan, komentar. Homili dimaksudkan untuk menjelaskan dan mengajarkan misteri Kristus berdasarkan Kitab Suci, sehingga misteri iman itu relevan dengan kehidupan umat jaman sekarang. Homili juga untuk memperteguh iman umat. Homili hendaknya mendorong umat untuk berani diutus mewartakan kabar baik kepada dunia.

Homili berbeda dengan khotbah. Khotbah berasal dari bahasa Arab. Kata “khotbah” dihubungkan dengan bahasa Latin: predicare, artinya: mewartakan dengan lantang [preach, preaching atau predigt]. Khotbah merupakan pewartaan Sabda Allah dan pewartaan iman kristiani yang bertolak dari pengalaman iman, dan tidak selalu merupakan penjelasan suatu teks Kitab Suci.

Homili wajib diadakan pada hari Minggu, hari raya, dan pesta yang terutama dihadiri umat beriman. Peniadaan homili pada hari-hari tersebut harus dengan alasan yang berat. Pada hari-hari biasa, terutama masa Adven, Prapaskah, Paskah, homili sangat dianjurkan oleh Gereja. [Fr. A. Pramono].


Syahadat atau Credo

Syahadat atau Credo atau Aku Percaya merupakan tanggapan umat atas sabda Allah yang telah didengar melalui Kitab Suci dan homili. Saat mengucapkan atau menyanyikan Syahadat, umat berdiri. Sikap berdiri ini berarti umat ingin mengamini dan menyatakan pengakuan iman dengan rumusan iman Gereja. Syahadat harus dinyanyikan atau diucapkan oleh seluruh umat karena merupakan pernyataan iman seluruh umat beriman. Syahadat diucapkan bersama-sama seluruh umat mulai dari kata-kata: “Aku percaya akan Allah”. Tapi sudah menjadi kebiasaan bahwa kata-kata pertama: “Aku percaya akan Allah” diucapkan oleh imam, lalu umat meneruskan …Bapa yang mahakuasa… dst. Maka sesungguhnya ini menjadi kurang lengkap. Jadi hendaknya umat mulai mengucapkan Syahadat mulai dari awal, bersama-sama mengucapkan: “Aku percaya akan Allah, Bapa yang mahakuasa… dst.

Kita mempunyai 2 teks syahadat, yaitu syahadat singkat atau syahadat para rasul, dan syahadat panjang atau syahadat Nikea-Konstantinopel. Kedua syahadat ini boleh dipakai dalam Perayaan Ekaristi hari Minggu dan hari raya. [Fr. A. Pramono].

Sumber:
www.reginacaeli.org, Fr. A. Pramono
Martasudjita, E. Pr., Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius 2005.





Bagikan

Menggali Makna Bagian-bagian Misa: Bait Pengantar Injil dan Injil (Edisi 7)

Bait Pengantar Injil

Bait Pengantar Injil berfungsi mempersiapkan umat untuk mendengarkan Injil yang akan dibacakan. Pada saat Bait Pengantar Injil dinyanyikan, umat berdiri untuk menghormati Kristus yang hadir dan berbicara melalui Injil, dan sebagai tanda kesiapsediaan menyambut Tuhan Yesus yang bersabda dalam Injil.

Pada masa Prapaskah, Bait Pengantar Injil digantikan dengan lagu “Terpujilah Kristus Tuhan”. Di luar Prapaskah, Bait Pengantar Injil menggunakan Kidung Alleluya. Kata Alleluya berasal dari bahasa Ibrani yang artinya “Terpujilah Yahwe (Tuhan)”. Ungkapan “alleluya” ditujukan kepada Tuhan yang bangkit, sesuai dengan Wahyu 19: 1-7. Kata “alleluya” merupakan seruan khas Paskah, yaitu pujian untuk Tuhan yang bangkit. Dalam masa Paskah, “alleluya” mendapat tempat yang istimewa.

Bait Pengantar Injil merupakan ungkapan pujian sukacita untuk Tuhan yang bangkit. Maka Bait Pengantar Injil selalu dinyanyikan. Tidak benar bila petugas atau imam sebelum pembacaan Injil mengucapkan “Alleluya…alleluya” tanpa dinyanyikan. Bila alleluya tidak dinyanyikan, sebaiknya Bait Pengantar Injil dihilangkan. [Fr. A. Pramono]

Injil

Bacaan Injil merupakan puncak Liturgi Sabda. Pembacaan Injil menunjukkan kenyataan iman bahwa Yesus tetap hadir di tengah-tengah umat beriman, dan terus mewartakan Injil kepada segenap makhluk.

Keistimewaan Injil tampak dalam berbagai ritus yang mengiringinya, yaitu (1) Injil dibacakan oleh diakon atau imam; (2) sebelum pembacaan Injil, ada perarakan untuk membawa Injil oleh diakon atau imam; (3) diakon atau imam mempersiapkan diri dengan berdoa sebelum pembacaan Injil; (4) ada dialog antara pembaca Injil dan umat, yakni “Tuhan sertamu” – “dan sertamu juga”; “Inilah Injil Yesus Kristus menurut…” – “Dimuliakanlah Tuhan”; (5) ada pembuatan tanda salib di dahi, mulut, dada. Orang biasa mengartikan: “Sabda-Mu, ya Tuhan, kami pikirkan dan renungkan, kami wartakan, dan kami resapkan dalam hati kami.” Pembuatan tanda salib oleh pembaca dalam Kitab berarti bahwa dalam Injil ini, Salib Kristus diwartakan; (6) setelah pembacaan Injil, diakon atau imam mencium Injil sambil berdoa dalam hati: “Semoga karena pewartaan Injil ini dileburlah dosa-dosa kita”; (7) untuk Ekaristi yang dipimpin uskup, setelah Injil dibacakan, Injil dibawa kepada uskup untuk dicium. Jika perlu uskup memberikan berkat kepada umat dengan Kitab Injil itu; (8) Injil dihormati dengan dupa-ratus (tidak wajib).

Memaklumkan Injil adalah tugas diakon. Jika tidak ada diakon tertahbis, imam membacakan Injil sendiri lalu dilanjutkan dengan homili.
[Fr. A. Pramono]

Sumber: Martasudjita, E. Pr., Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius 2005.

Sumber: website www.reginacaeli.org

Memahami Perayaan Ekaristi: Mazmur Tanggapan dan Bacaan Kedua (Edisi 6)

Mazmur Tanggapan

Mazmur Tanggapan merupakan tanggapan umat atas Sabda Allah yang baru saja diwartakan dan didengarkan. Mazmur Tanggapan bukan sekedar selingan atau iringan seperti iringan perarakan persembahan atau komuni. Mazmur Tanggapan termasuk bagian pokok Liturgi Sabda. Mazmur ini di samping sebagai tanggapan umat terhadap Sabda Allah, juga untuk mendorong umat dalam merenungkan dan meresapkan Sabda Allah.

Mazmur Tanggapan mesti sesuai dengan bacaan yang ditanggapinya. Biasanya bacaan tertentu sudah memiliki pasangan Mazmur Tanggapan yang tertentu pula. Hal ini sudah menjadi kebiasaan pada ibadat di Sinagoga Yahudi.

Kitab Mazmur yang digunakan memang termasuk Perjanjian Lama, akan tetapi hendaknya kita membacanya menurut terang Perjanjian Baru, yakni sebagai yang terpenuhi dalam diri Tuhan Yesus Kristus.

Idealnya Mazmur Tanggapan dinyanyikan, sekurang-kurangnya bagian refren yang untuk umat. Meskipun begitu dalam perayaan sabda sederhana, mazmur tanggapan dapat diucapkan. Yang penting adalah suasana khidmat dan meditatif yang sesuai untuk perenungan sabda.


--------------------------------------------------------------------------------

Bacaan Kedua



Khusus hari Minggu dan hari raya ada bacaan kedua. Bacaan diambil dari Perjanjian Baru, biasanya dari Surat Perjanjian Baru. Maka bacaan ini disebut epistola (dari bahasa Latin epistola, epistula = surat). Penggunaan istilah epistola sudah ada sejak abad ke-12.

Pada hari Minggu biasa, tema bacaan kedua tidak berhubungan dengan bacaan pertama dan Injil. Bacaan kedua ingin mewartakan iman kepada Yesus Kristus menurut konteks permasalahan aktual Gereja perdana. Secara liturgis, bacaan kedua berfungsi untuk mempersiapkan umat kepada puncak perayaan sabda, yaitu Injil.

Bacaan Kitab Suci dalam Perayaan Ekaristi tidak boleh dikurangi atau digantikan dengan teks-teks yang bukan dari Alkitab.


PUMR no.357. Untuk hari Minggu dan hari raya ditentukan tiga bacaan, yaitu satu bacaan dari "Kitab para nabi" satu dari "Kitab para rasul" dan satu Injil. Maksudnya ialah untuk membimbing umat agar memahami kesinambungan karya keselamatan, seturut rencana Allah yang mengagumkan . Ketiga bacaan itu harus diikuti dengan saksama.

Untuk hari-hari pesta ditentukan dua bacaan. Tetapi, kalau, seturut kaidah, suatu pesta ditingkatkan menjadi hari raya, maka ditambahkan satu bacaan lagi, yang diambil dari rumus umum orang kudus yang bersangkutan.

Untuk peringatan orang kudus, biasanya digunakan bacaan-bacaan yang ditentukan untuk hari biasa yang bersangkutan, kecuali kalau untuk peringatan orang kudus itu tersedia bacaan-bacaan khusus. Biasanya, bacaan-bacaan khusus itu disediakan untuk menyoroti segi tertentu dari kehidupan rohani atau kegiatan orang yang kudus yang bersangkutan. Penggunaan bacaan-bacaan seperti itu tidak diwajibkan, kecuali kalau ada alasan pastoral yang mendesak.

Sumber: Fr Antonius Pramono,
Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR)
Martasudjita, E. Pr., Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius 2005.

Memahami Perayaan Ekaristi: Liturgi Bacaan - Bacaan Pertama (Edisi 5)

Liturgi Sabda

Liturgi Sabda merupakan salah satu bagian pokok Perayaan Ekaristi. Setelah Doa Pembuka, kita memasuki Liturgi Sabda. Ada 2 struktur pokok Liturgi Sabda: (1) Pewartaan Sabda Allah, dan (2) Tanggapan atas Sabda Allah. Pewartaan Sabda Allah diwujudkan dalam pembacaan Kitab Suci dan Homili. Tanggapan Sabda Allah terungkap melalui Mazmur Tanggapan dan Bait Pengantar Injil.

Bacaan Kitab Suci dan Mazmur Tanggapan tidak dapat diganti dengan teks lain yang bukan dari Alkitab. Maka, praktek mengganti bacaan Misa dengan tulisan orang kudus, ajaran Gereja, atau tulisan dari buku yang sedang populer; sungguh-sungguh tidak tepat dan tidak diperbolehkan. Jika ada teks bagus yang bukan dari Kitab Suci, tapi sesuai dengan tema; teks itu dapat ditempatkan di bagian pengantar, atau homili, atau sebelum penutup; tapi jangan ditempatkan sebagai pengganti bacaan Kitab Suci.

Seluruh bagian Liturgi Sabda hendaknya dilangsungkan di mimbar. Mimbar adalah “pusat perhatian umat selama Liturgi Sabda”. Bacaan Pertama, Mazmur Tanggapan, Bacaan Kedua, Injil, Homili, Syahadat, Doa Umat, disampaikan dari mimbar.

.PUMR no 56. Liturgi Sabda haruslah dilaksanakan sedemikian rupa sehingga mendorong umat untuk merenung. Oleh karena itu, setiap bentuk ketergesa-gesaan yang dapat mengganggu permenungan harus sungguh dihindari. Selama Liturgi Sabda, Sangat cocok disisipkan saat hening sejenak, tergantung pada besarnya jemaat yang berhimpun. Saat hening ini merupakan kesempatan bagi umat untuk meresapkan sabda Allah, dengan dukungan Roh Kudus, dan untuk menyiapkan jawaban dalam bentuk doa. Saat hening sangat tepat dilaksanakan sesudah bacaan pertama, sesudah bacaan kedua, dan sesudah homili.


Bacaan Pertama

Ada 3 bacaan pada hari Minggu dan hari raya, yaitu Bacaan Pertama, Bacaan Kedua, dan Injil. Bacaan Pertama pada hari Minggu dan hari raya diambil dari Perjanjian Lama. Bacaan Pertama berhubungan dengan Injil, sehingga ada kesinambungan antara sejarah keselamatan Allah dari Perjanjian Lama dengan Yesus Kristus yang diwartakan dalam Injil. Untuk misa harian hanya ada 2 bacaan, yaitu Bacaan Pertama dan Injil.

Setiap pembacaan Kitab Suci dalam liturgi resmi Gereja harus selalu diakhiri dengan kata-kata: “Demikianlah Sabda Tuhan”. Ini berarti yang telah dibaca adalah Sabda Allah sendiri. Allah hadir dan berbicara kepada umat-Nya melalui bacaan tadi. Untuk Bacaan Pertama dan Bacaan Kedua, umat menjawab: “Syukur kepada Allah”. Untuk Injil, umat menjawab: “Terpujilah Kristus”.

Bacaan pertama dan kedua jangan pernah dibacakan oleh pemimpin perayaan, tapi dibacakan oleh lektor. Bila ada diakon tertahbis, maka diakon yang membacakan Injil. Hal tersebut berarti bahwa pemimpin perayaan/pastor yang biasanya memberi homili bukan hanya seorang pewarta Sabda Allah; tapi juga seorang pendengar sabda pula. Sebagai pendengar sabda, pemimpin perayaan ikut mendengarkan pewartaan bacaan pertama dan kedua, serta Injil apabila dibacakan oleh diakon tertahbis.

Sumber:
Fr Antonius Pramono.
Pedoman Umum Misale Romawi
Martasudjita, E. Pr., Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius 2005.