Tampilkan postingan dengan label Bulan Katekese Liturgi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bulan Katekese Liturgi. Tampilkan semua postingan

Empat Misa Natal

 Rangkaian Misa Natal ada 4 misa dengan bacaan-bacaan yang berbeda menyesuaikan waktu dimana misa tersebut dirayakan. 

 Misa Vigili Natal ini adalah Misa Sore menjelang Hari Raya Natal dirayakan pada 24 Desember sore hari atau saat petang tiba. 

 Misa Hari Raya Natal - Misa Malam dirayakan pada 24 - 25 Desember pada petang hari atau tengah malam.

 Misa Hari Raya Natal - Misa Fajar dirayakan pada 25 Desember saat Fajar Pagi.

 Misa Hari Raya Natal - Misa Siang dirayakan pada 25 Desember saat siang/sore hari. 

Setiap bacaan-bacaan Misa tersebut memiliki penekanan khusus dan istimewa.

Doa Tobat: Bibit Perdamaian

Sementara orang Katolik memahami bahwa doa tobat dalam Ritus Pembuka dari Misa Kudus sudah berlaku seperti Sakramen Tobat. Lalu mereka itu memandang bahwa absolusi dari imam yang berbunyi: "Semoga Allah yang Mahakuasa, mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan mengantar kita ke hidup yang kekal" sama dengan menerima absolusi seperti dalam Sakramen Tobat. Nah, pandangan ini tidak tepat. Doa tobat dan absolusi dalam Ritus Pembuka dari Misa sama sekali bukan Sakramen Tobat. Pedoman Umum Misale Romawi no. 51 menyatakan bahwa absolusi dalam Ritus Pembuka ini tidak memiliki kuasa pengampunan seperti absolusi dalam Sakramen Tobat. Dengan lain kata, kita mesti tetap rajin menerima Sakramen Tobat atau Rekonsiliasi pada waktu lain.

Bagian doa tobat ini mempersiapkan umat agar siap dengan hati dan budi jernih mendengarkan Sabda Allah dan menyambut kehadiran Tuhan dalam Doa Syukur Agung dan komuni. Selain itu, doa tobat juga mengajak kita untuk rendah hati di hadapan Allah, menyesali kekurangan dan kesalahan kita. Saat seperti ini kita diajak menyadari akan kelemahan dan kerapuhan manusia di hadapan Allah. Allah kita adalah Allah yang Maharahim dan penuh belas kasihan. Allah kita lambat akan marah tetapi penuh kasih setia.Dengan pengampunan dari Allah, kita didamaikan dengan diri-Nya dan umat Allah pula. Maka doa tobat menjadi bibit perdamaian, yakni perdamaian sebagai karunia Allah melalui Kristus. Melalui sabda-Nya dan terutama karunia tubuh dan darah Kristus, rahmat penebusan Kristus yang mendamaikan itu dianugerahkan. Dengan doa tobat kita menyatakan diri sebagai umat yang selalu mendambakan belas kasih Allah mengingat kita bisanya cuma melukai hati Allah dan sesama kita dengan dosa-dosa kita. Itulah sebabnya bagian ini juga penting dan hendaknya kita tidak terlambat datang ke Misa Kudus.



SUMBER: Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi KAS 2012 hari 19.

Tanda Salib dan Salam dalam perayaan Ekaristi

Pertanyaan yang sering muncul: berapa kali kita membuat tanda salib saat Misa Kudus? Jawabannya sederhana: resminya cuma dua kali, yaitu awal dan akhir. Akan tetapi apabila ada orang yang membuat tanda salib lebih dari dua kali itu, ya anggap saja itu sebagai devosi pribadi. Akan tetapi apa artinya tanda salib?

Tanda salib menunjuk dua makna. Pertama, tanda salib mengungkapkan tanda keselamatan kita, yaitu salib Kristus; dan kedua, tanda salib mengungkapkan inti iman kita kepada Allah Tritunggal, yang dinyatakan saat kita menerima sakramen baptisan. Maka pembuatan tanda salib sebenarnya juga pengenangan atas pembaptisan kita, sekaligus mengungkapkan bahwa kita ini sebenarnya telah dimasukkan ke dalam persekutuan kasih Allah Tritunggal.

Pada awal perayaan Ekaristi, setelah tanda salib, imam menyapa umat dengan kata-kata: "Tuhan bersamamu", dan kita semua menjawab: "Dan bersama roh-mu", ataupun dengan alternatif rumusan Salam yang panjang. Dahulu dalam TPE, kita masih dapat menggunakan rumusan Salam "Tuhan sertamu" dan "Dan sertamu juga". Akan tetapi karena permintaan dari Tahta Suci, akhirnya pada Sidang para Uskup KWI pada bulan November 2009 diputuskan bahwa hanya ada satu rumusan Salam saja, yaitu "Tuhan bersamamu" dan "Dan bersama rohmu". Hal ini juga berkaitan dengan pembakuan rumusan resmi Misa berbahasa Inggris yang menggunakan kata "The Lord be with you" dan "And also with your spirit". Salam ini menunjuk pada keyakinan iman Gereja bahwa Tuhan selalu menyertai kita. Tuhan Yesus Kristus adalah Sang Emanuel, Allah Beserta Kita. Dan kini Sang Emanuel itu selalu hadir di tengah umat-Nya dalam perayaan Ekaristi. Bahkan di setiap pertemuan umat beriman Tuhan tentu hadir, sebab Ia bersabda: "Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Mat 18:20)



SUMBER: Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi KAS 2012 hari 18.

Makna Tinggal Dalam Kristus Secara Eskatologis

"Aku menjadi tersadar beberapa detik dalam suasana hati yang campur aduk antara bersyukur dan menyesal. Aku bersyukur karena diperkenankan memahami rahasia ini dan menjadi tahu bagaimana yang seharusnya bersikap pada saat Ekaristi. Aku juga merenung sambil menyesali sikap dan perilaku diriku di masa lalu akibat dari ketidakpahamanku tentang rahasia suasana ilahi ini. Oh, betapa kita telah melecehkan Tuhan karena kebodohan kita". Ini adalah sepenggal pengalaman seorang bapak dan ibu yang merasa tersentuh saat merayakan Ekaristi. Bagi bapak ibu ini, perayaan Ekaristi adalah saat tinggal bersama dan dalam Yesus.

Hari ini Hari Raya Kenaikan Tuhan. Dengan kenaikan-Nya, Tuhan Yesus dimuliakan. Kini Ia duduk di sisi kanan Allah Bapa. Dia masuk dalam kemuliaan-Nya yang penuh bersama Bapa dan Roh Kudus. Akan tetapi Tuhan Yesus yang dimuliakan itu tetap tinggal dan hadir di tengah kita. Kini Ia hadir di tengah kita tidak dalam bentuk fisik seperti saat di Palestina dahulu tetapi dalam macam-macam cara, dan yang paling istimewa ialah dalam Ekaristi. Justru karena Kristus telah dimuliakan dan kini hadir di tengah kita dalam Ekaristi, Ekaristi sekaligus menghadirkan kemuliaan surgawi. Istilah kernnya: inilah dimensi eskatologis. Kata eskatologi berasal dari bahasa Yunani: eschata (= hal-hal terakhir) dan logos (=pembicaraan). Dapat dikatakan, dimensi eskatologis berarti dimensi kemuliaan surgawi yang kini telah mulai hadir dalam sejarah hidup kita sekarang ini. Dengan indah Paus Yohanes Paulus II berkata: "Sungguh Ekaristi adalah secercah penampakan surga di atas bumi. Ekaristi adalah seberkas sinar mulia dari Yerusalem surgawi yang menembus awan sejarah dan menerangi peziarahan kita" (Ensiklik Ecclesia de Eucharistia no. 19).

Bila kita tinggal dalam Kristus secara khusus melalui Ekaristi dan Adorasi, ternyata kita pun telah mencicipi perayaan perjamuan surgawi. Sebab Yesus sendiri juga berkata: "Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman." (Yoh 6:54)



SUMBER: Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi KAS 2012 hari 17.

Makna Tinggal Dalam Kristus Secara Komunal

Suatu ketika, Yohanes Paijo bertanya kepada Benediktus Paimin, teman kuliahnya di sebuah perguruan tinggi di Jogja: "Min, mau misa di mana, jam berapa?" Paimin menjawab: "Tu di koran ada jadwal kok, tinggal pilih mau misa di mana dan jam berapa". Paijo menimpali: "O yang di samping iklan bioskop itu ya". Apakah percakapan di sini salah? Tentu tidak. Setiap orang Katolik memang berkewajiban untuk Misa Kudus pada hari Minggu. Namun di sini muncul kesan bahwa Ekaristi itu sama seperti menonton bioskop dengan pilihan film dan jam tayang. Inilah yang tidak pas. Apakah mengikuti Ekaristi sama dengan menonton bioskop, sehingga bisa seenaknya memilih waktu, Ramanya, lamanya, dan tempat sesuai selera pribadi? Tentu Ekaristi tidak sekedar itu. Merayakan Ekaristi adalah perayaan tinggal dalam Kristus bersama seluruh umat beriman lainnya. Ekaristi itu perayaan seluruh Tubuh Mistik Kristus, yaitu Kristus Sang Kepala dan para anggotanya yaitu Gereja. Dan siapa Gereja itu? Tentu Gereja adalah seluruh umat beriman di dunia dalam kepemimpinan Bapa Suci, dan di keuskupan ya Bapa Uskup. Akan tetapi umat beriman bagi kita masing-masing akhirnya ialah saudara-saudari se lingkungan, wilayah ataupun paroki. Itulah sebabnya, sangat perlu kita usahakan untuk dapat menghadiri Misa di paroki sendiri, terlebih apabila lingkungan atau wilayah kita tugas paduan suara ataupun tata liturgi lainnya. Merayakan bersama mereka yang kita kenal dan yang setiap harinya menjadi tetangga kita sangatlah perlu dan penting. Begitulah Ekaristi bukanlah sekedar urusan pribadiku dan Tuhan, tetapi juga kebersamaan dengan umat beriman lainnya.


SUMBER: Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi KAS 2012 hari 16.

Makna Tinggal Dalam Kristus Secara Personal

Ada seorang ibu yang begitu khusuk berdoa rosario selama Misa berlangsung. Ada umat lain yang melihat dan kemudian cerita kepada pastor paroki. Ternyata pastor parokinya kenal ibu itu. Suatu kali sang pastor bertanya: "Kenapa sih ibu berdoa rosario kalau pas Misa?" Ibu itu dengan polosnya menjawab: "Saya ingin bertemu secara pribadi dengan Tuhan". Inilah contoh: apa yang dilakukan oleh ibu itu baik namun tidak tepat dari segi waktu dan tempat. Pantas dipuji bahwa ibu itu rindu berjumpa pribadi dengan Tuhan. Tetapi mestinya ia tidak berdoa rosario di kala Misa Kudus, karena pas Misa kita sedang merayakan perjumpaan Tuhan bersama seluruh umat beriman.

Tinggal dalam Kristus memang juga bermakna personal. Artinya tinggalnya Tuhan Yesus di tengah kita membuat kita semakin bersatu atau hidup dalam kesatuan dengan Kristus. Kita bisa mengagumi misteri iman ini dalam Ekaristi. Betapa Tuhan Yesus mau menjadi makanan, yaitu santapan suci Ekaristi. Tubuh-Nya kita santap dengan mulut, kita telan dan masuk ke lambung, serta bercampur dengan nasi pecel, teh ataupun apa yang kita makan dan minum. Dan akhirnya melalui proses pencernaan, hosti suci atau tubuh Kristus itu diedarkan darah dan menyatu dengan seluruh tubuh kita. Betapa dalam makna kesatuan ini, kita yang penuh dosa boleh menjadi "tempat tinggal" Tuhan Yesus yang teramat kudus!

"Lihatlah misteri keselamatanmu yang ada di hadapanmu; lihatlah dirimu menjadi seperti apa yang kalian terima". Inilah homili Santo Agustinus mengenai misteri Ekaristi yang kita terima. Dengan Ekaristi, kita menjadi seperti apa yang kita terima, yaitu apa yang kita santap! Maka tidak ada lain selain kita berdoa: "Ya Tuhan Yesus Kristus, semoga kami menjadi seperti apa yang kami terima dalam komuni suci, yaitu tubuh dan darah-Mu. Kami dapat semakin menjadi diri-Mu, yang adalah kasih dan yang selalu taat dan pasrah kepada Bapa berkat bimbingan Roh Kudus, dan senantiasa rela berkorban bagi keselamatan sesama."


SUMBER: Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi KAS 2012 hari 15.

Makna Tinggal Dalam Kristus Secara Temporal

Ada tulisan cukup besar dipasang di pintu masuk sebuah gereja: "DATANG TERLAMBAT MENGGANGGU UMAT, PULANG CEPAT TIDAK MENDAPAT BERKAT". Tentusaja, orang dapat berdiskusi: apakah berkat Tuhan dalam Misa Kudus terbatas hanya pada yang tidak pulang duluan. Akan tetapi pesan tulisan itu sudah amat jelas: marilah kita mengikuti Misa Kudus secara utuh, dari awal sampai akhir! Dan harapan pesan ini sangat baik dan tepat. Repot lagi, ada juga umat yang mencari Misa Kudus yang serba cepat, tidak “pakai lama”. Kesannya orang macam ini tidak “ikhlas” berlama-lama bersama Tuhan dan umat dalam perayaan Ekaristi.

Bila kita membaca Injil, ternyata Yesus sangat suka berdoa. "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Yesus bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana" (Mrk 1:35). Jadi Yesus rajin bangun pagi, bukan suka bangun siang alias ngebluk. Dan kalau berdoa, Yesus juga sering berdoa berlama-lama, bahkan semalam-malaman. "Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah." (Luk 6:12). Kesimpulannya: untuk berdoa, apalagi Misa Kudus, kita mesti berani memberi waktu dengan longgar dan bahkan memang mengkhususkan waktu. Misa hari Minggu itu wajarnya ya sekitar 75 - 90 menit, itu nyaman dan wajar. Untuk tinggal dalam Kristus, kita diundang untuk berani berlama-lama dan tidak hitung-hitung waktu. Paus Yohanes Paulus II pernah berkata: "Marilah kita tidak berhemat dengan waktu kita. Marilah kita tidak hitung-hitung dengan waktu kita untuk menjumpai Tuhan dalam Adorasi dan kontemplasi yang penuh iman dan siap memberi silih bagi dosa besar dan kejahatan dunia. Semoga Adorasi kita tak akan pernah berhenti!" Ada 24 jam dalam sehari-semalam, berapa menit kita persembahkan untuk Tuhan? Ada 168 jam dalam satu minggu, berapa jam kita sisihkan waktu untuk Tuhan? Padahal, Tuhan tidak pernah sedetik pun melepaskan perhatian-Nya terhadap kita.


SUMBER: Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi KAS 2012 hari 14.

Tinggallah dalam kasih Kristus

Bayi dan anak kecil merasa aman ketika berada di dekat orangtuanya, apalagi dalam gendhongan, pelukan, atau pangkuannya. Mereka bisa dengan cepat tertidur pulas tanpa khawatir akan apa pun. Mereka betah berlama-lama dalam gendongan. Kalau dilepas dari gendhongan orangtuanya, mereka menangis. Mereka tidak mau berpisah dari orangtuanya karena percaya bahwa mereka sangat dikasihi sehingga mereka merasa aman dan nyaman tinggal dalam kasih orangtua.

Demikian pulalah hendaknya antara kita dengan Tuhan. Allah adalah kasih (1Yoh 4:8). "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yoh 3:16). Sebagai jawaban atas kasih Allah yang telah mengaruniakan Putera-Nya, Yesus Kristus, kita pun hendaknya mengasihi Dia dan tinggal di dalam kasih-Nya. "Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal dalam kasih-Ku. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu" (Yoh 15:10a.12). Jadi, untuk tinggal dalam kasih Tuhan, kita harus hidup saling mengasihi.

Agar kita mendapatkan daya dan kekuatan untuk saling mengasihi, kita harus merasa dikasihi Tuhan dan selalu menimba energi kasih-Nya melalui Ekaristi. Sebab, Ekaristi adalah sakramen cinta kasih, "karunia pemberian diri Yesus Kristus, yang mengungkapkan kepada kita kasih Allah yang tak terbatas kepada setiap orang, laki-laki dan perempuan" (S.Car. 1). Oleh karena itu, panggilan tinggal dalam kasih Kristus, berarti panggilan untuk semakin mencintai Ekaristi dan bertekun merayakannya supaya kita mendapatkan daya dan kekuatan untuk saling mengasihi satu sama lain.


SUMBER: Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi KAS 2012 hari 13

Makna Tinggal Dalam Kristus Secara Lokal

Bila ada saudara atau teman dari jauh dan mengunjungi keluarga kita, kita tentu menerimanya dengan senang hati. Bahkan apabila teman atau saudara itu tinggal di rumah kita untuk beberapa hari. Memang kita sangat rela menyambutnya, tetapi tentulah acara harian kita diubah dan harus disesuaikan. Misalnya saja, kita yang biasanya punya jadwal olah raga atau rapat, mungkin kita pamit karena sedang ngurus tamu kita itu. Begitulah, tinggalnya seseorang di rumah, keluarga atau komunitas kita sungguh mengubah acara dan bahkan gaya hidup kita.

Tuhan Yesus Kristus juga tinggal di tengah kita melalui perayaan Ekaristi. bahkan ketika Ekaristi sudah selesai, Kristus tetap hadir melalui Sakramen Mahakudus yang ada di tabernakel. Apalagi bila kita mengadakan Adorasi Ekaristi, Kristus sungguh tinggal dan hadir di tengah kita. Dari segi liturgisnya saja, bukankah adanya Sakramen Mahakudus telah membuat kita harus berlutut apabila menghadap ke tabernakel? Jika di tabernakel tidak ada Sakramen Mahakudus tentu saja kita cukup membungkuk yang dalam ke altar tetapi tidak perlu berlutut. Pertanyaan lebih lanjut adalah: apakah kehadiran Kristus yang tinggal dalam diri kita melalui komuni telah mengubah hidup kita juga?

Banyak sekali umat yang telah menyambut komuni dengan hormat dan khidmat. Namun sering masih ada sebagian umat yang maju komuni dengan santai, tangannya kayak orang antri prasmanan, tidak hormat ke Sakramen, sesudah menerima komuni langsung duduk dan membuka HP untuk melihat apakah ada SMS atau 'misscall' temannya. Yang sangat menyedihkan ialah adanya umat yang selama Misa cuma sibuk dengan HP atau ngobrol, tetapi berani juga maju menerima komuni suci. Tinggalnya Kristus ternyata belum mengubah perilaku teman-teman kita ini.


SUMBER: Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi KAS 2012 hari 12.

Ekaristi dan Perkawinan

Beberapa calon pengantin ketika ditanya tentang kebanggaannya terhadap perkawinan kristiani mengungkapkan bahwa mereka bersyukur karena perkawinan kristiani bercirikan kesetiaan seumur hidup. Hal ini memberi jaminan bagi keutuhan keluarga. Mereka tidak perlu khawatir akan ditinggalkan atau diceraikan pasangannya. Pandangan ini mendapat peneguhan dari makna perkawinan kristiani itu sendiri, yaitu sebagai persekutuan hidup antara seorang pria dan seorang wanita yang terjadi karena persetujuan pribadi dan bersifat tetap atau tidak dapat ditarik kembali sehingga menuntut kesetiaan sempurna.

Tetapi mengapa perkawinan kristiani menuntut kesetiaan seumur hidup alias sampai mati? Jawabannya amat mengharukan dan sekaligus kudus: hubungan kasih antara suami dan isteri melambangkan hubungan kasih yang tak terpisahkan antara Kristus dan Gereja-Nya. Suami-isteri yang manusia rapuh boleh melambangkan dan menghadirkan hubungan kasih tak terceraikan antara Kristus dan Gereja. Hal ini hanya mungkin dan sinar kekudusan Kristus dan Gereja-Nya tetap terpancarkan dalam perkawinan dari pasangan kristiani ini apabila sumber kekuatannya didasarkan pada Ekaristi. Ekaristi adalah sakramen Sang Pengantin (Kristus) dan Sang Mempelai (Gereja), begitu kata Beato Yohanes Paulus II. Lalu Paus Benediktus XVI mengajarkan: "Secara tanpa batas Ekaristi menguatkan kesatuan dan kasih yang tak terpisahkan dalam setiap perkawinan Kristen." (Sacramentum Caritatis no. 27). Itulah sebabnya, sangat dianjurkan dan sewajarnya upacara perkawinan yang sakramen, khususnya kedua mempelai sama-sama Katolik, dilangsungkan dalam perayaan Ekaristi! Para pastor paroki tentu dengan murah hati melayaninya. Hendaknya Misa Perkawinan pada hari H-nya itu menjadi puncak dari seluruh rangkaian persiapan. Oleh karena itulah, hendaknya midodareni tidak dilangsungkan dalam Misa, tetapi dengan ibadat sabda saja!

SUMBER: Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi KAS 2012 hari 11.

Ekaristi dan Tahbisan

Salah seorang umat kagum kepada pastor parokinya yang tekun melayani Misa bagi umatnya. Misa dipersiapkan dengan baik, ia datang lebih awal di sakristi, ia membawakan Misa dengan hormat dan khidmat, homilinya bermutu dan menarik, dan ia selalu siap sedia melayani Misa lingkungan tanpa kenal lelah. Umat itu bertanya kepada Rama itu: "Rama kok tekun sekali sih merayakan Misa?" Pastor paroki itu tersenyum ramah dan damai, sambil berkata: "Untuk itulah aku ditahbiskan".

Senang rasanya mempunyai imam atau pastor seperti itu. Ini cocok sekali dengan kata-kata Paus Benediktus XVI: "hubungan antara tahbisan kudus dan Ekaristi tampak paling jelas dalam Misa, apabila uskup atau imam memimpin Perayaan Ekaristi selaku pribadi Kristus Sang Kepala" (Sacramentum Caritatis no. 23). Paus Yohanes Paulus II bahkan berkata bahwa Ekaristi adalah alasan adanya dari imamat. Tahbisan imamat itu ada karena dan demi Ekaristi! Sakramen Imamat ini ditetapkan Tuhan Yesus bersamaan Dia menetapkan Ekaristi pada saat perjamuan malam terakhir. Kristus ingin tinggal dan menyertai umat-Nya yang untuk mereka Dia menumpahkan darah-Nya. Bagaimana Kristus tinggal bagi kita? Dengan perayaan Ekaristi. Akan tetapi bagaimana agar Ekaristi dapat dirayakan? Harus ada yang memimpin. Itulah para imam yang ditahbiskan untuk menjadi pembantu para uskup melalui sakramen imamat.

Marilah kita berdoa agar kita semua dianugerahi imam-imam yang baik, murah hati dan suci. Agar selalu ada imam-imam, marilah kita berdoa dan mendukung panggilan para calon imam. Marilah kita mendukung panggilan imamat ini dengan doa dan bimbingan kepada anak-anak kita, remaja kita melalui teladan hidup berkeluarga yang baik dan kristiani, khususnya rajin berdoa bersama dalam keluarga dan Misa ke gereja.


SUMBER: Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi KAS 2012 hari 10.

Ekaristi dan Pengurapan Orang Sakit

Dalam perayaan Ekaristi Hari Orang Sakit sedunia, suatu paroki memberikan pelayanan pengurapan orang sakit kepada umat yang sudah lanjut usia. Pada mulanya, yang menerima minyak suci hanya yang sudah lanjut usia dan yang sakit saja. Tetapi lama kelamaan pada tahun-tahun berikutnya, ada umat yang masih sehat, dewasa, bahkan kaum muda dan anak-anak remaja, yang ikut maju antri menerima sakramen pengurapan orang sakit ini. Ketika ditanya, mereka yang masih sehat ini berkata: "Ingin merasakan, kayak apa ya menerima minyak suci ini".

Praktek penerimaan sakramen pengurapan orang sakit yang asal-asalan, artinya juga diberikan kepada orang yang jelas masih sehat walafiat, padahal tidak ada bahaya kematian yang konkret, tentulah tidak dianjurkan sama sekali. Namanya saja sakramen pengurapan orang sakit, maka yang berhak dan semestinya menerima sakramen ini ialah orang sakit. Syarat untuk boleh menerima pengurapan orang sakit menurut ketentuan liturgi ialah: orang yang sudah dibaptis, yang sedang menderita sakit dan kemungkinan dalam bahaya kematian, misalnya sakit berat, operasi besar, dan lanjut usia. Para lansia juga diperkenankan menerima sakramen minyak suci ini. Sakramen minyak suci ini boleh diterimakan berulang kali dengan patokan: jika si sakit telah sembuh dan kemudian sakit lagi, atau kalau dalam penyakit yang sama timbul krisis baru.

Sakramen pengurapan orang sakit ini sangat bagus apabila dapat dirayakan dalam rangka perayaan Ekaristi, kecuali tentu saja apabila keadaannya darurat. Atau sekurang-kurangnya orang yang menerima sakramen minyak suci ini juga menerima Ekaristi viaticum atau bekal suci. Dengan bekal suci itu, orang sakit itu boleh ambil bagian dalam karunia hidup abadi yang memang dianugerahkan melalui Ekaristi.



SUMBER: Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi KAS 2012 hari 9.

Perayaan Ekaristi Bukanlah ENTERTAINMENT/ PERTUNJUKAN

Liturgi yang dirayakan dengan baik, indah, dan sungguh keluar dari hati dapat menumbuhkan, memupuk, dan mengembangkan iman. Oleh karena itu, tanda-tanda dalam liturgi hendaknya sederhana dan mudah dimengerti umat. Doa, nyanyian-nyanyian, dan tanda-tanda/simbol hendaknya mampu mengkomunikasikan iman. Kekuatan liturgi Katolik terletak justru dalam keterpaduan antara pesta, masa liturgi, dan bacaan-bacaan yang telah ditetapkan. ”Kekuatan itu juga tergantung pada kesatuan artistik sebagai hasil pilihan yang cermat dan tepat atas bahan-bahan liturgi yang ditawarkan, musik, dan kesenian yang terkait” (Musik dalam Ibadat Katolik, Komisi Liturgi KWI, 2003, No 11).

Sayangnya, begitu antusiasnya beberapa petugas liturgi membuat liturgi menyentuh umat, justru menurunkan mutu liturgi itu sendiri. Dengan mengikuti mode dan selera umat, justru liturgi tidak mampu mengungkapkan iman sejati. Yang terjadi adalah pentas kesenian dan bukan perayaan liturgi.

Nyanyian dan musik populer dimasukkan dalam perayaan liturgi. Orang lupa bahwa musik populer lebih ditujukan untuk mengabdi kegemaran publik. Demikian pula nilai artistiknya memang terasa kurang bermutu dibandingkan dengan lagu Gregorian yang sudah mentradisi dalam sejarah Gereja. Lagu Gregorian mengungkapkan isi kata bahasa Latin tanpa irama tetap (hitungan). Irama Gregorian berpangkal dari aksen dan arti kata dengan irama bebas, sehingga lagunya merupakan ungkapan syair. Dan ketahuilah, syair-syair Gregorian pada umumnya diambil dari Kitab Suci. Sedangkan lagu-lagu populer lebih menekankan birama dan hitungan yang cenderung mekanis.

Paus Benediktus XVI mengingatkan bahwa musik Gereja pada tempat pertama, merupakan umat Allah yang bernyanyi menyatakan identitasnya. Tidak mudah memang mencari keseimbangan musik Gereja di tengah tarikan antara elitisme estetika seni dan arus budaya massa industrial. ”Jika pop diartikan sebagai suatu produk dari masyarakat massa, lewat reproduksi dan standarisasi pengalaman sehingga menjadi bagian dari kultur massa musik pop yang dihasilkan tidak tumbuh dari pengalaman autentik dan pengalaman reflektif mendalam atas kehidupan” (Krispurwana Cahyadi SJ, Benediktus XVI, Kanisius: Yogyakarta, 2010, hal 176).

Jelaslah, liturgi adalah perayaan iman, bukan pementasan dan bukan pula sekadar upacara. Maka, aneh, ketika persiapan persembahan, diadakan tarian mengantar persembahan selama lebih kurang 30 menit. Sementara Doa Syukur Agung hanya sekitar tujuh menit. Dengan tarian yang lama, maka Doa Syukur Agung kehilangan makna puncaknya. Perhatian umat masih terpaku pada penari-penari cantik dengan pakaian dan hiasan gemerlap, serta senyum yang menawan. Aspek keheningan pun terasa menghilang. Liturgi dirayakan secara dangkal. Liturgi tidak merupakan pertumbuhan iman yang hidup, tetapi merupakan produk kerja dari segelintir umat dan hobi dari beberapa pastor yang hanya sekadar mencari popularitas.

Memang tidak mudah mencari keseimbangan antara konservatisme dan kebaruan; antara karakter kebaktian liturgis dan tugas kateketis dan pastoral. Namun, perlu ditegaskan lagi, liturgi bukanlah entertainment. Kalau ingin mencoba sesuatu yang baru, maka laksanakan itu dalam kelompok terbatas dan bukan pada Misa hari Minggu. Setiap eksperimen perlu dinilai secara kritis oleh ahli liturgi dan direstui oleh pimpinan Gereja. Di lain pihak, umat pun terus-menerus dididik agar semakin menghayati perayaan liturgi yang telah berkembang dalam sejarah Gereja. Janganlah liturgi terjebak dalam upaya modernisme dan inkulturasi yang dangkal. Dalam hal ini, penting diperhatikan keheningan, keindahan, kedalaman, dan misteri. Bukan demi kepentingan estetika seni, bukan demi pragmatisme pastoral, tetapi justru demi pujian terhadap Tuhan.

Sumber:
http://www.hidupkatolik.com/2012/04/27/liturgi-bukan-entertainment

Ekaristi dan Penguatan

Pada suatu ketika, Rama Paroki mengadakan penyelidikan kanonik kepada calon pengantin. Satu persatu dari calon itu diminta omong-omong dengan pastor. Ternyata didapati bahwa salah satu calon pengantin tersebut belum menerima sakramen penguatan. "Sudah mau jadi manten, kok belum penguatan ta mas?" tanya Rama Paroki. "Lha tidak ngerti kapan harus menerima je, Rama" jawabnya. "Sudah menerima komuni belum?", tanya Rama itu lagi. Jawabnya, "Sudah Rama, saya baptis dewasa, tapi penguatan kok ndak mudheng (tidak paham) kapan diterimakannya. Tahu-tahu saya lulus sekolah, kerja dan dapat calon bojo (jodoh). Inilah kejadian yang sering terjadi. Ada orang Katolik yang tahunya sudah menerima baptis dan sudah boleh komuni. Sementara sakramen lain, termasuk penguatan tidak masuk dalam hitungannya.

Sakramen krisma atau penguatan termasuk sakramen inisiasi, selain baptis dan Ekaristi pertama. Krisma (dari bahasa Yunani: chrisma = pengurapan) atau penguatan (terjemahan kata Latin: confirmatio) diterimakan oleh Bapa Uskup sebagai pemimpin Gereja yang resmi di keuskupan kita. Sakramen ini diterimakan dengan urapan minyak krisma oleh Bapa Uskup pada dahi penerima Krisma dengan kata-kata: "NN, terimalah tanda karunia Roh Kudus". Dengan penerimaan sakramen krisma ini, seorang Katolik dilantik melalui pencurahan Roh Kudus menjadi warga Gereja yang penuh dan harus siap ikut bertanggungjawab dengan segala tugas dan kewajiban Gereja sebagai saksi Kristus di tengah masyarakat!

Penerimaan sakramen krisma tentusaja selalu diupayakan dalam perayaan Ekaristi, apalagi biasanya Misa tersebut dipimpin oleh Bapa Uskup. Bagaimana pun juga Ekaristi menjadi pusat dan puncak hidup kita, sehingga penerimaan krisma pun secara paling ideal dirayakan dalam Misa Kudus. Dengan perayaan Ekaristi, seorang yang telah menerima Krisma ditopang dengan kekuatan rohani tiada tara sehingga menjadi seorang yang tangguh dan handal dalam mewartakan Injil di tengah dunia ini.


SUMBER: Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi KAS 2012 hari 8.

Ekaristi dan Rekonsiliasi

Pada masa prapaskah dan adven, apalagi menjelang perayaan Paskah dan Natal, banyak umat yang berduyun-duyun pergi ke tempat pengakuan untuk menerima sakramen tobat atau rekonsiliasi. Ini sungguh amat baik. Para pastor umumnya juga sangat disibukkan dengan pelayanan sakramen rekonsiliasi ini. Ada paroki yang menggunakan cara pelayanan bersama dengan mengundang para imam satu rayon. Secara bergantian, para imam melayani penerimaan sakramen rekonsiliasi dari paroki ke paroki, sekaligus juga berbagai sekolah yang berada di wilayah pastoral paroki tersebut. Ada juga yang dilayani sendiri oleh pastor paroki dengan mendatangi ke kapel-kapel wilayah atau lingkungan.

Sakramen tobat atau rekonsiliasi diarahkan kepada Ekaristi. Paus Benediktus XVI juga mengajarkan bahwa kasih terhadap Ekaristi mengantar ke penghargaan yang semakin besar terhdap sakramen rekonsiliasi (Sacramentum Caritatis no. 20). Hubungan tak terpisahkan antara Ekaristi dan sakramen rekonsiliasi menunjukkan bahwa dosa tidak pernah hanya melulu urusan perorangan saja; dosa selalu juga merugikan persekutuan gerejawi yang telah kita masuki melalui sakramen baptis. Unsur-unsur perayaan Ekaristi menampilkan keagungan dan besarnya belaskasih dan kerahiman Allah, sementara kita ini orang yang tidak layak karena dosa-dosa kita. Justru kesadaran ini akan membantu betapa pentingnya Sakramen Rekonsiliasi diterima secara teratur dalam hidup beriman kita.

Ada beberapa paroki yang setiap hari Sabtu sore atau Minggu sebelum perayaan Ekaristi dimulai, ditawarkan kesempatan pengakuan dosa pribadi. Pada jam-jam menjelang Misa tersebut, imam sudah siap di kamar pengakuan. Dan lihatlah ada saja umat yang masuk ke kamar pengakuan. Namun sayangnya, tidak semua paroki begitu. Di tempat Anda?


SUMBER: Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi KAS 2012 hari 7.

Tinggal Dalam Kristus dan Berbuah

Setiap orang pasti ingin agar hidupnya berhasil, sukses dalam meraih prestasi, jabatan tinggi, kekuasaan atau kekayaan. Ia merasa puas, bangga dan bahagia jika berhasil mendapatkan semuanya. Ini tentu baik namun mengandung bahaya. Orang yang orientasinya adalah hidup yang berhasil cenderung menjadikan diri sendiri sebagai pusat hidupnya. Ia akan bercerita mengenai keuletannya, perjuangannya, ketekunannya dalam meraih ini dan itu. Ia cenderung memuji dirinya sendiri dan jatuh dalam kesombongan.

Berbeda dengan orang yang berbuah. Orang yang berbuah memusatkan hidupnya pada Tuhan. Dengan inspirasi dari Yoh 15:1-8 yang merupakan Injil hari ini sekaligus dasar biblis Tema KEK II, ia sadar bahwa tanpa Tuhan ia tidak bisa berbuat apa-apa. Yesus adalah pokok anggur yang benar dan kita ranting-rantingnya. "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yoh 15:5). Hidup yang berbuah tampak dalam kerendahan hati karena sadar bahwa yang menjadikan dirinya bisa begini dan begitu adalah Tuhan, bukan usahanya sendiri.

Sebagai murid-murid Kristus kita diharapkan menghayati spiritualitas hidup yang berbuah bukan hidup yang berhasil (bdk. Yoh 15:8). Oleh karena itu, marilah kita selalu tinggal dalam Kristus dengan semakin tekun berdoa dan secara istimewa merayakan Ekaristi. Sebab, Ekaristi adalah puncak kesatuan kita dengan Kristus. Melalui komuni suci, kita bersatu dengan Dia. Ia tinggal dalam kita dan kita dalam dia. Selain itu, marilah kita juga tekun beradorasi. Adorasi adalah perpanjangan madah syukur sesudah komuni, di mana kita berlama-lama tinggal dalam Kristus. Semoga, dengan demikian, hidup kita semakin berbuah dalam kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal 5:22-23).


SUMBER: Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi KAS 2012 hari 6.

Ekaristi dan Sakramen Baptis

Dalam rapat Dewan Paroki Santo Yuvensius Glagahtinulu, terjadi perdebatan sengit antara dua pendapat, baptisan itu sebaiknya di dalam misa atau di luar misa. Kalau di dalam misa, nanti kelamaan misanya, padahal umat dan romo keburu ke pasar, ke tempat belanja, atau ke pusat keramaian kota. Kalau di luar misa, nanti yang hadir cuma keluarga, kurang meriah. Pastor paroki bingung menghadapi dua kubu ini, kemudian asam lambungnya kumat dan ngaso di rumah sakit.

Sebenarnya romo tidak perlu ngaso di rumah sakit karena alasan itu, kalau memahami gagasan Paus Benediktus dalam Sacramentum Caritatis art 17 bahwa Ekaristi itu sungguh sumber dan puncak kehidupan serta perutusan Gereja. artinya semua perayaan keenam sakramen selalu terarah dan mengalir dari Ekaristi. Kita mengenal sakramen-sakramen inisiasi yang meliputi sakramen baptis, krisma atau penguatan dan ekaristi yang pertama. Ekaristi yang pertama berarti saat seseorang yang telah dibaptis itu mengikuti perayaan Ekaristi secara utuh dan penuh yang tandanya: menyambut komuni. nah, saat anak-anak menerima komuni pertama itulah, mereka merayakan Ekaristi sebagai bagian dari sakramen inisiasi. lalu misa-misa selanjutnya tidak lagi termasuk sakramen inisiasi. Gereja juga mengajarkan bahwa perayaan sakramen baptis dan krisma yang ideal mesti dilaksanakan dalam rangka Misa kudus juga, kecuali tentu saja untuk baptisan (dan krisma) darurat.

Benarkah bahwa baptisan dalam Misa kudus akan memakan waktu lama? Poinnya tentu bukan soal lama atau singkatnya. saat merayakan baptisan, kita sedang menerima anggota atau warga baru. layaklah kita merayakannya dengan penuh kelonggaran hati dan waktu serta rasa sukacita dan semangat welcome. selain itu, bila tata liturginya dipersiapkan sungguh, sebenarnya perayaan-perayaan liturgi dapa mengalir lancar dan tidak memakan waktu lama.


SUMBER: Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi KAS 2012 hari 5.

Ekaristi dan Sakramen Pada Umumnya

Lingkungan Santo Yoseph Randugumbolo merupakan lingkungan kecil yang berada jauh dari Pusat Paroki Santo Bernardinus. Umatnya 44 jiwa. Beberapa di antaranya menderita sakit. Vincentius Yamadipati, ketua lingkungan, berinisiatif mengundang romo paroki untuk mengadakan misa lingkungan sekaligus pengurapan bagi mereka yang sakit, menerima pengakuan dosa. Akhirnya Romo Paroki datang di lingkungan itu dan tinggal beberapa hari seraya memberikan pelayanan sakramen. Suasana penuh kegembiraan. Seorang warga bercerita bahwa ia merasa sungguh bahagia bisa menerima sakramen sebagaimana dia terima dari penjelasan katekis dulu.

Begitulah mereka memahami sakramen Gereja. Kata Sakramen berasal dari bahasa latin sacramentum yang digunakan untuk menerjemahkan kata mysterion (bahasa Yunani) dalam Kitab Suci. istilah mysterion-sacramentum ini menunjuk rencana keselamatan Allah yang terlaksana dalam sejarah hidup kita manusia melalui Tuhan Yesus Kristus. Perayaan sakramen-sakramen berarti perayaan karya keselamatan Allah melalui Tuhan Yesus Kristus itu dalam bentuk tanda atau simbol pada hidup konkret kita. Kita mengenal ada 7 sakramen yakni Baptis, Krisma, Ekaristi, Tobat, Pengurapan Orang Sakit, Perkawinan dan Imamat.

Hanya saja, tidak semua sakramen perlu untuk setiap orang, sekaligus tidak semua orang ahrus meneriam ke-7 sakramen. contohnya: yang sudah menerima sakramen imamat tidak boleh menerima sakramen perkawinan. lalu tingkatan dan pentingnya tujuh sakramen itu tidak sama saja. sakramen yang paling penting dan merupakan sumber serta puncak hidup kita adalah Perayaan Ekaristi. Sakramen-sakramen lain menuju kepada Ekaristi dan mengalir dari Ekaristi. Betapa luhurlah makna seluruh sakramen Gereja. Marilah dengan hati terbuak dan sikap yang tepat, kita hayati setiap perayaan sakramen yang kita rayakan dengan iman dan penuh syukur.

SUMBER: Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi KAS 2012 hari 4.

CINTA YANG BESAR DIBALIK SETIAP ATURAN GEREJA


Aturan lain boleh dibuat untuk dilanggar, tapi aturan Gereja Katolik selalu berhubungan erat dengan imannya yang harus dijaga dan dilestarikan dengan cinta dan kebijaksanaan.

Merelativir aturan adalah jalan yang terbuka kepada penyalagunaan bahkan penghancuran hukum itu sendiri, bahkan dalam konteks iman, umat semakin dijauhkan umat dari Yesus.

Yesus tidak membenci aturan, tapi Ia mencela mereka yang menerapkan aturan dengan cara yang tidak bijaksana. Apakah engkau tidak berpikir bahwa Yesus pun mencela mereka yang melanggar aturan?

Kalau engkau berpikir bahwa demi alasan apapun aturan gereja dilonggarkan sehingga membuat aturan sendiri, apakah engkau tidak berpikir bahwa ada iman Bunda Gereja yang besar dibalik setiap perumusan aturan yang ada di dalam tubuhnya?

Taatilah aturan agar imanmu tetap terpelihara.


SUMBER: FACEBOOK GEREJA KATOLIK
SIGNATURE: ***Duc in Altum***

Bulan Liturgi hari ke 30: Saat Hening dan Doa Sesudah Komuni

30. Saat Hening dan Doa Sesudah Komuni

a. Saat Hening

Sesudah pembagian Tubuh dan Darah Kristus selesai, imam dan umat beriman berdoa sejenak dalam keheningan. Inilah saat permenungan, suatu saat doa pribadi. Inilah saat kita mengucapkan selamat datang kepada Tamu Agung kita, saat kita menyampaikan suka cita atas kedatangan-Nya, sekaligus saat kita mengungkapkan keprihatinan, kepedihan kita di hadapan-Nya. Kita dapat berwawan hati dalam suasana penuh cinta. Janganlah saat ini kita pakai untuk ngobrol, apalagi bergosip. Saat ini juga saat yang tepat bagi kita untuk membiarkan Tuhan berbicara dalam diri kita sesuai dengan kehendak-Nya, dan kita siap melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan dari kita.

b. Doa Sesudah Komuni

Doa Sesudah Komuni adalah doa yang mengakhiri seluruh acara komuni, jadi juga mengakhiri seluruh Liturgi Ekaristi.

Sambil berdiri di depan tempat duduk atau di belakang altar, imam menghadap ke arah umat dan sambil membuka tangan berkata: Marilah kita berdoa, lalu mengatupkan tangan. Semua berdoa sejenak dalam hati, kecuali kalau saat hening sudah dilaksanakan langsung sesudah komuni. Lalu, sambil merentangkan tangan imam mengucapkan Doa Sesudah Komuni, dan, pada akhir doa, umat menyerukan aklamasi Amin. 84 Doa ini adalah doa pemimpin atau doa presidential, artinya doa yang dibawakan oleh pemimpin seorang diri selaku pemimpin jemaat.

Bila diamati secara cermat, maka akan ditemukan 3 unsur dalam doa komuni: 1) Sapaan kepada Allah Bapa (misalnya: Allah yang maharahim; Allah yang mahakuasa); 2) mengenangkan anugerah yang baru didapat; dan 3) permohonan, supaya anugerah itu menghasilkan banyak buah dalam diri kita dan dalam hidup kita sehari-hari, 85 bahkan buah-buah eskatologis, yakni kebahagiaan abadi; supaya buah hasil Ekaristi menjadi daya atau pedoman hidup sehari-hari dan jaminan keselamatan abadi.

Pendalaman

1. Apa maksud saat hening sesudah komuni? Bagaimana kita harus mengisi saat hening ini?
2. Apa yang harus kita hindari selama saat hening ini?
3. Sebutkan unsur-unsur yang biasanya ada di dalam Doa Sesudah Komuni!

84 PUMR 165.
85 Lihat PUMR 89.


Sumber: Mengenal, Mendalami, Mencintai Ekaristi - Ernest Mariyanto