Tampilkan postingan dengan label Jumat Agung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jumat Agung. Tampilkan semua postingan

JUMAT AGUNG (Yer 52:13-53:12; Mzm 31:12-13.15-16; Ibr 4:14-16; 5:7-9; Yoh 18:1-19:42)

“Kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita”

Imam Besar adalah “imam agung bangsa Yahudi yang berasal dari golongan aristokrat Yahudi. Ia berwibawa besar baik dalam bidang sipil maupun agama, sejauh mewakili bangsanya di hadapan penguasa Roma. Ia mengepalai ‘Mahkamah Agama’, namun baik hak-haknya maupun kewajiban-kewajibannya terutama menyangkut ‘peribadatan’. Setelah dilantik dengan pengurapan khusus dan dianugerahi kesucian, ia mempersembahkan ‘korban harian’, ia mengetuai semua acara besar, dan seorang diri ia memasuki tempat yang ‘terkudus pada hari raya Perdamaian” (Xavier Leon – Dufour: Ensiklopedi Perjanjian Baru, Penerbit Kanisius – Yogyakarta 1990, hal 280-281). Kutipan ini saya angkat untuk mengajak anda sekalian dalam rangka mengenangkan Yesus Kristus, Imam Besar Agung, yang mempersembahkan Diri seutuhnya kepada Allah dan dunia, demi keselamatan seluruh umat manusia, dengan wafat di kayu salib pada hari ini.

“Ibu, inilah, anakmu!" (Yoh 19:26)

Kutipan diatas ini adalah sabda Yesus di puncak kayu salib kepada Bunda Maria seraya memandang murid yang terkasih. Kata-kata yang keluar dari mulut seseorang menjelang kematiannya pada umumnya mengesan alias sungguh didengarkan dan dilaksanakan atau ditanggapi secara positif. Bunda Maria adalah Bunda umat beriman, yang setia bersama dengan ‘Puteranya’ sampai detik terakhir; ia diserahi murid terkasih untuk selanjutnya didampingi dalam perjalanan penghayatan imannya. Murid terkasih Yesus berarti menjadi sahabat Yesus, hidup dan bertindak dengan meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus maupun melaksanakan sabda-sabda-Nya. Kita percaya bahwa Bunda Maria setia pada sabda Yesus tersebut di atas, yaitu sampai kini ia setia mendampingi umat beriman dengan doa-doanya, terutama bagi mereka yang sungguh berkehendak untuk menjadi sahabat-sahabat Yesus, dan tentu saja secara khusus bagi para imam.

Berkehendak untuk menjadi sahabat Yesus berarti siap sedia untuk meneladan-Nya, antara lain senantiasa menjadi suci dalam hidupnya. Yesus telah menyucikan dunia seisinya dengan menderita dan wafat di kayu salib, maka berkehendak menjadi suci berarti senantiasa siap sedia untuk menderita dan mati karena kesetiaan dan ketaatan pada iman dan panggilan. Mungkin kita tidak akan menderita dan mati seperti Yesus, tetapi ada kemungkinan bahwa kita harus sungguh mempersembahkan diri seutuhnya demi penghayatan panggilan dan tugas pengutusan kita. Sebagai umat beriman kita memiliki dimensi imamat umum kaum beriman, sedangkan para imam memiliki rahmat imamat khusus. Pertama-tama kepada para rekan imam kami ajak untuk senantiasa siap sedia menderita dan mati demi keselamatan jiwa umat yang harus dilayani, antara lain sebagaimana dihayati oleh Romo Dewanta SJ di Timor Leste/Timur beberapa tahun lalu ketika terjadi kerusuhan atau perang antar suku. Sedangkan kepada segenap umat beriman kami ajak untuk setia menghayati imannya dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari atau “dalam semangat imam kristiani hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara berasaskan Pancasila dan UUD 45”.

"Inilah ibumu” (Yoh 19:27), demikian sabda Yesus kepada murid terkasih. Kita semua berkehendak menjadi murid-murid terkasih Yesus, maka marilah kita sungguh-sungguh menghayati Bunda Maria sebagai ibu kita, teladan umat beriman. Untuk mengenangkan kasih Bunda Maria kepada kita semua yang beriman kepadanya, kiranya dapat dibantu dengan lagu ini, yaitu “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”. Orang yang tidak mengasihi ibunya, yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkannya dengan aneka cara hemat saya tak tahu syukur dan terima kasih, sehingga cara hidup dan cara bertindaknya tak beriman alias amburadul, tak bermoral dan kurangajar. Kita dipanggil meneladan ibu yang mengasihi tanpa batas dan hanya memberi tak harap kembali. Penderitaan dan wafat Yesus di puncak kayu salib juga merupakan bentuk atau wujud kasih yang tak terbatas. Pengorbanan-Nya sekali dan berlaku untuk selama-lamanya.

“Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr 4:14-15)

Setia pada iman, panggilan dan tugas pengutusan memang tak akan terlepas dari aneka cobaan untuk berbuat dosa atau melakukan apa yang jahat, tidak baik. Jika menghadapi cobaan-cobaan, kita diharapkan tetap setia dan tabah, serta tidak melakukan dosa sedikitpun. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita telah mengimani-Nya sebagai imam besar, yang sama dengan kita, hanya tidak berbuat dosa. Mengimani-Nya sebagai imam besar berarti kita semua dipanggil untuk menghayati imamat umum kaum beriman.

Salah satu fungsi imam adalah menjadi ‘penyalur’ rahmat Allah kepada umat manusia serta doa-doa umat manusia kepada Allah. Penyalur yang baik adalah yang tak pernah korupsi sedikitpun atau tak pernah menyakiti yang lain. Anggota tubuh kita, yang kelihatan, yang berfungsi menjadi penyalur hemat saya adalah ‘leher’. Bukankah makanan, minuman dan udara segar masuk ke perut melalui leher, dan leher tidak pernah mengambil atau menikmati sedikitpun yang lewat, melainkan apa yang diterima semuanya segera diteruskan. Dengan kata lain kita semua sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus dipanggil pertama-tama dan terutama tidak pernah melakukan tindak korupsi sedikitpun. Tidak melakukan korupsi pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebar-luaskan mengingat korupsi masih merebak di sana-sini.

Selain tidak melakukan korupsi kita semua juga dipanggil untuk menjadi penyalur rahmat atau berkat Allah, yang berarti senantiasa melakukan apa yang baik dan benar, sehingga siapapun yang melihat kita atau hidup bersama dengan kita akan merasa enak, aman dan tenteram, serta tidak merasa terancam sedikitpun. Secara konkret panggilan sebagai penyalur berkat Allah dapat kita wujudkan dengan memberi perhatian kepada orang lain, entah secara phisik atau spiritual. Secara phisik berarti memberi sumbangan berupa harta benda atau uang kepada mereka yang miskin dan berkekurangan, sedangkan secara spiritual berarti dengan rela dan senang hati berani memboroskan waktu dan tenaga bagi mereka yang kurang menerima perhatian alias menemani atau tinggal bersama mereka.

“Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan. Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia -- begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi -- demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami” (Yes 52:13-15). Apa yang dikatakan oleh nabi Yesaya ini memang merupakan ramalan atas Yesus, Penyelamat kita, yang menderita dan wafat di kayu salib, tetapi kiranya juga terarah bagi kita semua yang beriman kepadaNya. Marilah jika karena hidup jujur alias tidak melakukan korupsi sedikitpun, kemudian kita diincar untuk disingkirkan dari pekerjaan atau jabatan, sehingga merasa dirinya berada di ujung tanduk, kita tetap tabah, tenang dan tak takut sedikitpun. Percayalah bahwa kebenaran dan kejujuran pasti akan menang dan berjaya.

“Di hadapan semua lawanku aku tercela, menakutkan bagi tetangga-tetanggaku, dan menjadi kekejutan bagi kenalan-kenalanku; mereka yang melihat aku di jalan lari dari padaku. Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati, telah menjadi seperti barang yang pecah. Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: "Engkaulah Allahku!" Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku” (Mzm 31:12-13.15-16)

Jumat, 6 April 2012


Romo Ignatius Sumarya, SJ

RENUNGAN: Hari Jumat Agung (Yes 52:13- 53:12; Mzm 31:12-13.15-17; Ibr 4:14-16; 5:7-9; Yoh 18:1-19:42)

"Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku."

Pada hari Jumat Agung ini kita diajak untuk merenungkan kisah sengsara Yesus, menelusuri `jalan salib' sampai wafat-Nya di kayu salib. Hari ini juga hari berpuasa dan berpantang alias hari untuk mawas diri perihal keutamaan matiraga, yang juga menjadi salah satu cirikhas hidup beriman atau beragama. Setiap kali akan berdoa kita senantiasa membuat tanda salib, maka baiklah di hari Jumat Agung ini saya mengajak anda sekalian untuk merenungkan sabda-sabda terakhir Yesus selama tergantung di kayu salib di bawah ini:

"Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mat: 27:46)

Tergantung di kayu salib, kaki dan tangan dipaku serta kepala bermahkota duri, sebagai manusia kiranya Yesus sungguh sangat menderita atau berada dalam puncak penderitaan. Penderitaan lebih terasa lebih berat lagi karena Ia sendirian, ditinggalkan oleh sahabat-sahabat-Nya. Namun demikian Allah yang mengutus-Nya tak pernah meninggalkan-Nya, maka Ia berseru dan mengeluh kepada Yang mengutus: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?". Baiklah saya mengajak anda sekalian yang beriman kepada Yesus untuk menyatukan diri dengan penderitaan-Nya.

Ada kemungkinan kita juga sedang merasa kesepian atau ditinggalkan atau kurang diperhatikan orang lain atau saudara-saudari kita, tentu saja bukan karena kita jahat atau tak bermoral, melainkan karena kita setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita, sedangkan saudara-saudari kita hidup seenaknya, sibuk sendiri sesuai dengan hobby atau nafsu pribadinya. Ingatlah dan hayati meskipun saudara-sauadari kita tidak memperhatikan kita atau meninggalkan kita, tetapi Allah tak pernah meninggalkan kita. Maka baiklah jika anda dalam keadaan atau kondisi demikian itu, hendaknya dihayati sebagai `kesempatan emas' untuk berdoa secara pribadi, mempersembahkan atau menghaturkan apa yang kita rasakan dan alami kepada Allah, yang telah menciptakan dan mengutus kita.

"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Luk 23:34)

"Tibo kebrukan ondho" (= Jatuh tertimpa tangga), demikian kata pepatah Jawa, yang hemat saya kena pada apa yang sedang dialami Yesus. Di dalam puncak penderitaan Ia diejek dan dihina oleh musuh-musuh-Nya, yang menyalibkan Dia atau membuat Dia menderita. Jika kita mengalami yang demikian itu pada umumnya kita akan marah besar, namun tidaklah demikian yang terjadi dalam diri Yesus. Yesus berdoa mohon kasih pengampunan bagi mereka yang mengejek dan melecehkan-Nya. Hati yang sungguh mulia dan doa sejati yang tidak ada bandingnya, doa `pahlawan keselamatan'. Yesus tahu bahwa mereka tidak bersalah, melainkan mereka tidak tahu atas apa yang mereka perbuat.

Dalam hidup sehari-hari ada kemungkinan kita mengalami sebagaimana dialami Yesus, `jatuh tertimpa tangga', atau mudah marah terhadap mereka yang mengganggu diri kita atau harta kekayaan kita. Sebagai contoh konkret: anak kecil yang lincah berlari-lari kesana-kemari pada suatu saat menabrak meja dan gelas-gelas yang berada di atas meja jatuh, pecah, berantakan. Pada umumnya para ibu segera memarahi anak-anak tersebut, yang berarti yang jatuh tertimpa tangga adalah anak-anak. Tentu saja anak-anak dimarahi ibunya tak akan membalas kemarahannya. Baiklah kami mengingatkan para ibu jika menghadapi kasus macam itu hendaknya bersikap seperti Yesus dan berdoa "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat". Kami juga mengajak dan mengingatkan kita semua yang beriman kepada Yesus juga meneladan sikap-Nya.

"Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya" (Yoh 19:26-27)

Ternyata masih ada dua pribadi yang menemani Yesus dalam perjalanan penderitaan dan yang tergantung di kayu salib, yaitu murid yang terkasih, Yohanes, dan Bunda Maria, ibu-Nya. Mereka menemani Yesus dalam menit-menit atau detik-detik terakhir hidup-Nya. Menemani mereka yang akan dipanggil Tuhan itulah yang terjadi, dan pada umumnya mereka yang menemani adalah yang sungguh ada ikatan kasih sejati. Di puncak kayu salib menjelang wafat-Nya Yesus menyerahkan murid terkasih kepada ibu-Nya dan sebaliknya. Sebagai murid-murid, orang yang beriman kepada Yesus, kita semua juga menerima penyerahan yang sama, yaitu menjadi Bunda Maria, teladan umat beriman, Bunda kita.

Sebagai putra-putri Bunda Maria kita semua dipanggil untuk meneladannya, antara lain menemani mereka yang berada di puncak penderitaan atau saat-saat terakhir, menjelang dipanggil Tuhan. Ada kemungkinan jarang terjadi mereka yang sungguh menderita seperti Yesus atau yang segera dipanggil Tuhan, maka baiklah saya mengajak anda semua untuk menemani mereka yang berada dalam ketakutan atau kecemasan, misalnya dalam menghadapi operasi, ujian, mau bepergian sendirian, berangkat kerja atau ke sekolah dst.. Hendaknya berani mengorbankan waktu dan tenaga sejenak untuk menemani mereka pada saat-saat `menjelang' tersebut: menjelang pergi disalami, menjelang ujian didukung dan dimotivasi, dst..

"Aku haus!"(Yoh 19:28)

Sepanjang hari sejak pagi sampai sore bekerja keras, tanpa makan dan minum, tentu akhirnya akan merasa kelaparan atau kehausan. Begitulah yang dialami Yesus secara manusia Ia merasa haus dan butuh minuman. Baiklah sabda Yesus ini kita fahami dan hayati tidak hanya sampai secara manusia belaka, tetapi lebih-lebih dan terutama secara spiritual atau rohani. Maka marilah kita tanggapi sabda Yesus dengan `memberi minum' atau `memberi kelegaan' kepada saudara-saudari kita, entah yang harus secara phisik, social maupun spiritual. Marilah kita hayati keutamaan `murah hati'. Kepada mereka yang haus secara phisik kita beri minuman sesuai dengan kebutuhannya, sedangkan mereka yang haus secara social atau spiritual kita persembahkan waktu dan tenaga kita untuk melegakan atau menghiburnya, alias memberi perhatian sedemikian rupa sehingga mereka sungguh merasa diperhatikan atau dikasihi.

"Sudah selesai." (Yoh 19:29)

Yesus merasa sudah paripurna melaksanakan tugas pengutusan-Nya. Dia yang datang atau lahir di dunia ini dalam kegelapan atau penderitaan dan akhirnya akan mengakhiri perjalanan pelaksanaan pengutusan-Nya dalam penderitaan juga. Kita semua dipanggil untuk meneladanNya. Maka baiklah kita dalam menghayati panggilan atau tugas pengutusan hendaknya dengan penuh kesetiaan dan penyerahan diri seutuhnya sampai selesai, sampai mati, sampai lulus dengan baik dan memuaskan. Hari-hari ini kiranya para mahasiswa, pelajar atau murid tingkat atau klas terahhir sedang dan akan menempuh ujian akhir, maka kami berharap kepada mereka: semoga sukses dalam menghadapi ujian. Untuk itu kami berharap ketika akan menghadapi ujian atau tugas berat hendaknya tetap dalam keceriaan dan kerja keras, dalam keceriaan dan kerja kerasa anda pasti akan sukses dalam ujian atau tugas berat.


"Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" (Luk 23:46)

Menjelang wafat-Nya Yesus menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa yang mengutus-Nya. Nyawa adalah yang memberi hidup, yang menggairahkan. Bagi kita semua yang menggairahkan antara lain adalah cita-cita, harapan atau dambaan. Maka marilah kita persembahkan cita-cita, dambaan atau harapan kita kepada Tuhan, sehingga mengusahakan tercapainya cita-cita, dambaan dan harapan dalam dan bersama dengan Tuhan alias melaksanakan aneka tatanan atau tata tertib yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing.

"Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa" (Ibr. 4:14-15).

Imam adalah orang yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan sesamanya; ia adalah penyalur doa dan berkat, bagaikan `leher' dalam tubuh kita: siap menderita bagi sesama, tidak pernah menyakiti yang lain, tidak pernah mengeluh atau menggerutu. Kita semua dipanggil untuk menghayati imamat umum kaum beriman, maka semoga melalui penghayatan panggilan atau pelaksanaan tugas pengutusan kita masing-masing, kita juga dapat menjadi penyalur doa dan berkat.

"Di hadapan semua lawanku aku tercela, menakutkan bagi tetangga-tetanggaku, dan menjadi kekejutan bagi kenalan-kenalanku; mereka yang melihat aku di jalan lari dari padaku. Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati, telah menjadi seperti barang yang pecah. Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: "Engkaulah Allahku!" Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku! Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu " (Mzm 31;12-13.15-17)

Jakarta, 22 April 2011


Romo Ignatius Sumarya, SJ

Mengapa salib ditutup dengan kain ungu?

Berikut ini adalah terjemahan dari “Saint Joseph Catholic Manual” (copyright 1956)

Masa Sengsara Yesus:

Masa Sengsara Yesus dimulai pada Minggu ke- 5 Masa Prapaska, yang dikenal sebagai Minggu Sengsara, dan dari hari itu sampai Paska, Gereja masuk lebih dalam lagi ke dalam Kisah Sengsara Tuhan Yesus dan membawa sengsara-Nya lebih dan lebih dalam lagi ke hadapan umat-Nya. Liturgi mengesampingkan semua lambang suka cita dan menampilkan dalam kata dan perbuatan, kesedihan dan penitensi yang harus mengisi setiap jiwa orang Kristen pada saat merenungkan peristiwa- peristiwa akhir dalam kehidupan Penyelamat kita di dunia ini.

Sebelum Vespers pada hari Sabtu sebelum Minggu Sengsara, crucifix (salib Yesus), patung-patung dan gambar-gambar di altar dan di sekitar gereja ditutup dengan kain ungu polos, kecuali gambar-gambar Jalan Salib. Salib Tuhan Yesus ditutupi kain ungu sampai hari Jumat Agung, sedangkan patung- patung dan gambar- gambar lainnya tetap ditutup sampai pada saat Gloria pada Sabtu Suci. Patung-patung dan gambar- gambar para malaikat dan santa-santo ditutup, untuk menunjukkan bahwa Gereja membungkus dirinya sendiri dan berkabung saat Tuhannya sedang mempersiapkan Diri untuk mengalami kesengsaraan dan kematian untuk menebus dunia. Dengan semua tanda-tanda lahiriah dan upacara Masa Sengsara, umat beriman diingatkan bagaimana Tuhan dalam keilahian-Nya di sepanjang masa sengsara-Nya, dan dengan penglihatan dan pendengaran, para pendosa diingatkan agar bertobat dan menarik diri semakin jauh dari kesenangan- kesenangan duniawi, dengan mendevosikan diri semakin dalam kepada doa- doa Masa Prapaska dan merenungkan kisah sengsara Kristus yang telah wafat demi kasih-Nya kepada mereka.


Sumber: http://www.katolisitas.org/2010/03/06/mengapa-salib-ditutup-kain-ungu-mengapa-memanggil-bapa-pada-paus-pastor/