Tampilkan postingan dengan label Renungan Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Harian. Tampilkan semua postingan

Temukanlah Yesus Rajamu pada wajah-wajah miskin dan papa yang mendatangimu.

 Minggu 23 November 2014: Mat.25: 31-46
 HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM.

"Doamu kepada orang miskin dan lapar akan berdaya guna ketika engkau memberi mereka makan"

Yesus, Raja Semesta Alam. Ia mendatangi kita tidak dengan kereta berkuda, lambang kekuasaan. Ia tidak memerinta kita dengan suara keras dan tangan besi. Ia tidak hanya duduk bertakhta dan minta dilayani, melainkan Ia yang adalah Allah merendahkan Diri-Nya menjadi seperti kita manusia; lahir di kandang Betlehem, berjalan dari desa ke desa, kota ke kota untuk mengajar, menumpang pada perahu dan rumah orang, menunggang keledai, menyembuhkan dan membangkitkan orang, memberi makan kepada yang lapar, minuman kepada yang haus, menemani yang kesepian, mengampuni yang berdosa. Semuanya dilakukan agar kita sadar akan tujuan kehidupan kita yakni kembali kepada Bapa.

Hari ini kita merayakan Kristus Raja Semesta Alam. Pesta ini mengingatkan kita semua untuk berkata dan bertindakan seperti Yesus sendiri. Sabda-Nya jelas dalam Injil hari ini; "Apa pun yang kau lakukan kepada salah satu saudara-Ku yang paling hina ini, itu kau lakukan untuk-Ku. Sebaliknya, apa pun yang tidak kau lakukan kepada salah satu saudara-Ku yang paling hina ini, itu kau tidak lakukan terhadap-Ku."

Karena itu, marilah kita temukan wajah Tuhan, Raja Semesta Alam dalam wajah-wajah yang menderita, yang sakit, yang terasing, yang kesepian, yang merana, yang lapar, yang tidak mempunyai tempat tinggal, dalam wajah anak-anak yatim, para janda/duda, orang tua, cacat di sekitar kita. Mereka tidak hanya membutuhkan barang yang kita miliki, tapi lebih dari itu, mereka membutuhkan cinta dan kasih sayang yang tulus dari kita.

Ingatlah bahwa surga atau neraka akan kita dapatkan sangat tergantung pada pertanyaan; "Apakah imanmu telah berbuah dalam perbuatan-perbuatan baik kepada sesamamu atau tidak selama hidup terbentang di hadapanmu."

Selamat berhari Minggu untuk para sahabat.
Salam dan doa dari seorang sahabat untuk para sahabatnya,

Rm. Inno Ngutra, Pr. 

HOMILI: Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga

Rekan-rekan yang baik!
Meskipun sudah dirayakan sejak abad ke-4, baru pada tahun 1950-lah pengangkatan Maria ke Surga “Jiwa dan Badan” ditegaskan secara resmi sebagai bagian ajaran kepercayaan iman.

Sekitar awal abad ke-20 di beberapa kalangan para teolog berkembang aliran berpikir yang pada dasarnya menolak hal-hal yang tak bisa diterangkan dengan akal budi dan pengetahuan pada waktu itu. Pendapat seperti ini meluas pengaruhnya dalam Gereja, juga di kalangan para rohaniwan.

Salah satu akibat dari cara berpikir tadi ialah penolakan adanya sisi-sisi keramat dalam kehidupan, termasuk hal-hal yang biasa disebut mukjizat, dan tentu saja tradisi mengenai Maria diangkat ke Surga langsung sesudah wafatnya. Tetapi pengalaman pahit dalam dua perang dunia mengajarkan betapa orang sesungguhnya tidak berdaya menghadapi sisi-sisi gelap kemanusiaan sendiri. Berangsur-angsur ketergantungan pada kekuatan ilahi semakin disadari kembali.

Dalam hubungan ini penegasan kepercayaan Maria diangkat ke surga jiwa dan badan itu menjadi pernyataan resmi iman Gereja dalam menerima kenyataan mukjizat yang terjadi pada Maria.

MARIA DIANGKAT KE SURGA
Merayakan peristiwa Maria diangkat ke Surga dapat menjadi ungkapan kepercayaan akan masa depan kemanusiaan sendiri. Pada satu saat nanti umat manusia seluruhnya akan kembali berada bersama dengan Tuhan di surga. Hal ini sering digambarkan bakal terjadi lewat “pemurnian” dengan pelbagai cara seperti halnya tempat penantian, pengadilan terakhir yang memisahkan orang baik dari orang jahat, atau pembersihan jiwa kedosaan.

Inti pemikirannya sama, yakni satu ketika nanti kita akan pulih menjadi warga Firdaus kembali dan masuk ke sana. Dan kita percaya bahwa itu dapat terjadi karena salah satu dari kemanusiaan, yakni Maria, sudah ada di sana dan kini ia melantarkan doa-doa permohonan dari yang biasa hingga yang amat khusus kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Kita acap kali menyadari bahwa Tuhan lebih mendengarkan kita – berkat Maria – daripada kita mendengarkan-Nya. Maria tahu jalan-jalan menyampaikan doa kita kepada Yang Mahakuasa.

Diceritakan dalam Kitab Kejadian, manusia dan istrinya diusir dari Firdaus karena melanggar larangan memakan buah pengetahuan baik dan buruk. Ini dosa. Dosa membuat kemanusiaan merosot. Sebelumnya mereka akrab dengan dunia ilahi, dapat bercakap-cakap dengan Tuhan. Manusia merasa aman di hadapan-Nya. Tapi begitu mereka sadar telah melanggar larangannya mereka takut bertemu dengan-Nya dan menyembunyikan diri. Rasa saling percaya rusak dan tidak lagi mereka dapat berdiam di Firdaus. Tuhan mengusir mereka dan bahkan menempatkan malaikat penjaga berpedang api agar mereka tak bisa mendekat ke pohon kehidupan. Manusia kini harus berjerih payah mencari makan agar hidup terus. Istrinya harus menderita tiap kali mau menjadi ibu. Dan penggoda mereka, ular, dikutuk jalan melata. Tapi juga dikatakan seorang keturunan perempuan yang diperdayakannya itu nanti akan meremukkan kepalanya. Ini semuanya ada dalam Kitab Kejadian 3.

Mari kita bayangkan kelanjutan yang tidak diceritakan dalam Alkitab, tapi bisa kita rasa-rasakan. Setelah mengusir manusia dari Firdaus, Tuhan pun menghela nafas. Dan semua penghuni surga pun tertunduk diam. Seluruh Firdaus seperti berkabung. Dan memang suasana ini membuat Tuhan merasa kesepian. Suatu hari Ia mengambil keputusan untuk turun ke dunia mencari manusia yang sudah diusir-Nya. Ia mengubah diri menjadi suara batin yang ada dalam diri manusia. Dengan demikian, manusia diam-diam dituntun-Nya melangkah, mungkin dengan jatuh bangun, pada jalan kembali ke Firdaus, lewat jalan lain yang tidak dijaga malaikat berpedang api. Begitulah Ia berharap satu ketika nanti manusia akan bisa berada kembali di surga mengusir suasana murung untuk selama-lamanya.

Hari ini dirayakan kembalinya satu dari keturunan yang telah terusir dari Firdaus tadi. Bukan itu saja. Dirayakan pulihnya suasana gembira di surga. Dirayakan kebesaran Tuhan yang dapat membawa kembali kemanusiaan ke sana. Dirayakan pula kemampuan manusia untuk bekerja sama dengan Tuhan. Dirayakan seorang yang hidup tulus mengikuti suara batin, yang membiarkan diri dituntun suara batin. Dan lebih dari itu. Kandungan suara batinnya itu menjadi darah daging juga – menjadi manusia. Manusia pertama yang bangkit dari kematian dan naik ke surga. Yesus dan dia yang kini mengisi surga dengan kegembiraan. Dia itulah yang menuntun manusia kembali ke sana. Sebagai Guru. Sebagai Gembala yang baik. Sebagai Penyelamat. Tak mengherankan yang pernah membawanya masuk ke dunia ini dengan sendirinya ikut terbawa kembali ke surga. Dia itu Maria, ibu Yesus.

MAGNIFICAT!
Bacaan Injil pada perayaan ini (Luk 1:39-56) memuat dua bagian, yakni kisah Maria mengunjungi Elisabet (ay. 39-45) dan Kidung Pujian “Magnificat” (ay. 46-55) yang berakhir dengan ay. 56 sebagai penutup kisah. Bagian pertama mengisahkan dua orang perempuan yang mendapati diri beruntung. Elisabet yang termasuk kaum yang kena aib karena tidak mengandung sampai usia senja kini akan melahirkan Yohanes Pembaptis. Dan dia yang masih ada dalam rahim itu melonjak kegirangan mendengar salam yang diucapkan Maria yang datang berkunjung.

Maria sendiri harus melewati hari-hari tak enak memikirkan bagaimana menjelaskan keadaan dirinya kepada Yusuf, tunangannya. Ia bertanya kepada malaikat yang datang kepadanya, bagaimana mungkin semuanya terjadi. Jawab malaikat menunjuk pada peran Roh Kudus. Begitulah kisah yang disampaikan kepada kita oleh Lukas. Dan kelanjutannya kita ketahui. Maria membiarkan Roh Kudus bekerja dalam dirinya. Itu dia Tuhan yang mengubah diri menjadi suara hati manusia. Dan suara hatinya itu jugalah yang membuatnya berkata “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu!”

Roh yang sama itu juga yang membuat Maria mengungkapkan pujian yang dibacakan hari ini. Kidung itu mulai pada ay. 46 dengan pujian bagi Tuhan yang turun untuk menyelamatkan. Ia membuat hidup ini berarti. Ia membuat penderitaan bermakna. Kemudian dalam ay. 48 terungkap pengakuan bahwa Tuhan menyayangi orang-orang yang kecil sehingga mereka menjadi besar di mata orang. Tak perlu kita tafsirkan ini sebagai teologi pembalikan nasib orang miskin jadi kaya dan orang kaya jadi melarat. Ayat itu mewartakan kebesaran Tuhan yang tidak takut berdekatan dengan orang kecil, bukan karena tindakan ini romantik, ideal, melainkan karena orang kecil itu dapat memberinya naungan dan mengurangi kesepiannya! Orang sederhana biasanya ingat Tuhan dan itu cukup membuat-Nya menemukan kembali secercah kegembiraan yang telah hilang dari surga dulu. Ini teologi sehari-hari.

Ayat-ayat selanjutnya, yakni 49-55, berupa pembacaan kembali sejarah terjadinya umat Israel. Ditekankan tindakan-tindakan hebat Tuhan yang membela orang-orang yang dikasihi-Nya di hadapan pihak-pihak yang mau menindas mereka. Puji-pujian yang terungkap dalam Magnificat ini senada dengan ungkapan kegembiraan dan kepercayaan akan perlindungan ilahi seperti terdapat dalam Kidung Hana dalam 1Sam 2:1-10.

Sering ada anggapan bahwa penderitaan, kemelaratan, ketidakberuntungan, aib, semuanya ini dikenakan sebagai hukuman bagi kesalahan. Juga dianggap bahwa hukuman bisa juga diturunkan kepada keturunan orang yang bersalah. Dosa menurun, hukuman berkelanjutan. Dalam Kidung Magnificat pendapat seperti ini tidak diikuti. Malah ditegaskan bahwa Tuhan membela orang yang percaya kepadanya yang meminta pertolongan dari-Nya.

Bagaimana dengan orang yang hidupnya beruntung, menikmati kelebihan, tidak kurang suatu apa? Apakah mereka itu akan dikenai malapetaka?

Kiranya bukan itulah yang dimaksud. Orang-orang yang beruntung dihimbau agar mengambil sikap seperti Tuhan sendiri, yakni memperhatikan mereka yang kurang beruntung. Sama sekali bertolak belakang bila orang membiarkan kekayaan, kedudukan, kepintaran membuat sesama yang kurang beruntung menjadi terpojok atau kurang mendapat kesempatan untuk maju.

Inilah yang kiranya hendak disampaikan dalam ay. 52-53 yang mengatakan bahwa orang congkak hati akan diceraiberaikan, orang berkedudukan akan direndahkan, orang kaya akan disuruh pergi dengan tangan hampa. Kidung Magnificat mengajak orang-orang yang merasa beruntung diberkati oleh Tuhan dengan kelebihan bukan untuk menikmatinya melainkan untuk memungkinkan sesama ikut beruntung. Di sini tidak ditawarkan sebuah teologi penjungkirbalikan nasib, melainkan pelurusan hakikat kehidupan sendiri.

Kepercayaan akan kebesaran Tuhan tidak bisa diterapkan begitu saja untuk memerangi ketimpangan sosial yang mengakibatkan adanya ketidakadilan yang melembaga. Namun demikian, kepercayaan ini dapat membuat manusia makin peka dan mencari jalan memperbaiki kemanusiaan sendiri. Keterbukaan kepada dimensi ilahi akan membuat orang makin lurus.

MEMELIHARA FIRMAN ALLAH
Dalam bacaan Injil dalam Misa Vigilia (Luk 11:27-28) disebutkan ada seorang perempuan yang menyebut bahagia ibu yang melahirkan Yesus (Luk 11:27). Yesus menambahkan, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” Kata Indonesia “memelihara” ini dengan tepat mengutarakan kembali ungkapan aslinya yang memuat pengertian menjaga, menelateni, membesarkan. Agak disentuh teologi sabda seperti diutarakan dalam pembukaan Injil Yohanes.

Yang menarik ialah adanya penekanan pada kegiatan pihak manusia. Dikatakan manusia memelihara sabda Allah. Berarti sabda itu juga bisa berkembang dalam diri manusia dan bahkan menjadi bagian kehidupannya. Maria ialah salah satu yang menjalankannya. Seperti diutarakan dalam Luk 1:38 “Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu”, sabda Allah yang dibawakan malaikat kepadanya menjadi kehidupan karena diterimanya dan dikandungnya. Dan Maria melahirkannya tadi dalam ujud manusia. Kata-kata Yesus yang diteruskan dalam Luk 11:28 tadi memperjelas apa artinya berbahagia karena bisa melahirkan dan membesarkannya. Maria berbahagia karena ia mendengarkan firman Allah serta memeliharanya.

Salam hangat

A. Gianto

HOMILI: HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS (Ul. 8:2-3,14b-16a; Mzm. 147:12-13,14-15,19-20; 1Kor. 10:16-17; Yoh. 6:51-58)

Minggu 22 Juni 2014


Rekan-rekan yang baik!
    
Pada hari raya Tubuh dan Darah Kristus tahun A ini dibacakan Yoh 6:51-58. Marilah sekadar kita tengok konteksnya. Dalam Yoh 6:25-58 Yesus memperkenalkan diri sebagai “roti kehidupan”, yakni makanan yang memberi hidup. Pengajaran di rumah ibadat di Kapernaum ini mengingatkan pada pokok mengenai “air kehidupan” yang diutarakannya kepada perempuan Samaria (Yoh 4:1-42). Pembicaraan itu memperkaya batin perempuan tadi.

Demikian juga, orang-orang Yahudi diajak semakin mengenali siapa Yesus itu sesungguhnya. Dalam bagian pertama pengajarannya, Yoh 6:25-50, Yesus membuat orang-orang itu menengok kepada pengalaman mereka sendiri sambil mendorong mereka agar maju lebih jauh dan mengerti siapa dia yang sudah datang di tengah-tengah mereka.

Tetapi mereka tidak memahami dan malah berputar-putar pada gagasan mereka sendiri mengenai siapa Yesus itu. Pembaca akan dapat melihat kesulitan mereka. Dalam bagian kedua, yakni Yoh 6:51-58, Yesus mengajarkan bukan saja bagaimana mengenali dia, melainkan bagaimana menerima dia. Reaksi orang-orang Yahudi yang meragukannya itu dapat menjadi cermin bagi pembaca. Apakah kita lebih condong mengikuti cara berpikir mereka yang membuat mereka tidak memahami Yesus atau lebih terbuka kepada ajakannya.

“DAGING” DAN “DARAH”
  
Dalam Injil Yohanes, “daging” dipakai untuk membicarakan manusia sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan, tetapi tanpa mengikutsertakan sisi-sisi jahat. Matius, Markus dan Lukas dan juga Paulus memakai kata “tubuh” dengan arti yang sama. (Boleh dicatat, dalam tulisan-tulisan Paulus, “daging” memiliki konotasi buruk, yakni manusia rapuh sejauh dikuasai dosa; untuk pengertian ini Yohanes memakai kata “dunia”.) Dalam Pembukaan Injil Yohanes, dikatakan, Sang Sabda menjadi “daging” (Yoh 1:14), artinya Yang Ilahi itu mendatangi dunia dalam ujud manusia biasa, bahkan rapuh. Hanya dengan demikian ia dapat sungguh merasakan kuatnya kuasa yang jahat walaupun ia sendiri tidak kalah dan menjadi bagian dari kuasa itu. Ia menunjukkan bahwa manusia tidak seluruhnya dapat dikuasai yang jahat. Dengan demikian ia dapat menjadi tumpuan harapan orang banyak. Siapa saja yang kemudian mengikutinya dan bersatu dengan dia akan selamat dan mencapai hidup kekal.
  
Bagaimana dengan “darah”? Dalam cara bicara orang waktu itu, “darah” biasa dipakai untuk menyebut tempat nyawa. Di situlah letak kehidupan Dengan menyerahkan nyawanya – darahnya – bagi orang banyak, Yesus berbagi kehidupan dengan orang banyak pula.
Hidup Yesus berakhir pada kayu salib. Wafatnya menjadi kurban bagi penebusan orang banyak. “Daging” (kerapuhan manusia) dan “darah” (kehidupan) yang menjadi kenampakan Sabda Ilahi itu menjadi jalan penyelamatan. Bergabung dengannya berarti menempuh jalan itu. Inilah yang kemudian dibahasakan dengan siapa saja yang makan dagingnya akan mengambil bagian dalam hidup kekal. Tetapi orang-orang tidak menangkap dan saling mempertengkarkan bagaimana dia bisa memberikan dagingnya untuk dimakan (ay. 52).

Kesulitan memahami kata-kata Yesus itu disampaikan dan dijelaskan dalam petikan ini. Tak mudah orang banyak menerima pemberian Yesus yang sesungguhnya. Mereka ingin pemberian yang mereka maui, seperti roti atau makanan biasa yang diberikan Yesus kepada orang banyak (Yoh 6:1-14). Yesus sendiri berkata bahwa mereka mencari dia karena telah makan roti dan kenyang dan bukan karena mereka melihat dan mengerti tanda-tanda, termasuk tanda roti tadi (Yoh 6:26).

Mereka tak memahami bahwa pemberian roti kepada orang banyak itu tanda bagi pemberian yang datang dari dalam diri Yesus sendiri, yakni pengorbanan diri bagi mereka. Kisah ini dapat membantu kita melihat kerugian memahami Yesus dari segi “kegunaan” belaka: mengenyangkan tapi kemudian akan lapar lagi, memuaskan keinginan mengalami mukjizat, tapi setelah itu keadaan akan menjadi biasa kembali.

ROTI KEHIDUPAN – EKARISTI
Apa yang hendak disampaikan Yesus? Bukan hanya roti yang mengenyangkan secara badaniah dan membuat orang melihat Yesus sebagai “nabi” (Yoh 6:14) yang patut diangkat menjadi pemimpin, bahkan raja (6:15). Yesus malah menghindari harapan seperti itu. Orang-orang Yahudi berpikir apakah Yesus itu Musa yang baru (bdk. Yoh 6:30-31) tokoh yang membuat orang menemukan makanan harian atau manna yang diberikan Tuhan sampai mereka memasuki Tanah Terjanji (Kel 16).

Tetapi Yesus mengajak orang agar melihat bahwa yang memberi makanan dari langit itu ialah Bapanya. Lebih lanjut lagi, sekarang ini dirinyalah roti yang turun dari surga itu. Menerima dia, mempercayainya, akan membuat mereka mendapatkan roti yang memberi hidup (Yoh 6:32-40).
  
Orang-orang malah semakin tidak bisa melihat siapa Yesus itu. Mereka hanya bisa melihat dia sebagai anak Yusuf yang mereka kenal dari dulu (Yoh 6:42). Kepekaan batin mereka tidak berkembang. Mereka hanya mau memandanginya dengan ukuran-ukuran yang membuat mereka merasa aman: nabi, pemimpin tipe Musa, zaman kebesaran dulu, dan ketika ia mengajak mereka menengok ke arah yang lebih dalam, mereka malah berkata, lho, ini kan anak Pak Yusuf itu, mana bisa jadi pimpinan seperti kita gambarkan tadi? Kepada pembaca Injil Yohanes disodorkan ketidakpahaman orang-orang yang sudah sedemikian dekat dengan sang roti kehidupan itu sendiri. Apakah kita seperti mereka?

WARTA Yoh 6:51-58 BAGI GEREJA
  
Yohanes memakai pengertian “daging” (dan bukan “tubuh” seperti Injil Sinoptik dan Paulus) untuk lebih membuat kita mengerti kesamaan antara Yesus yang sedang berbicara itu dengan yang diwartakan pada awal Injil: “Dan sang Sabda itu telah menjadi manusia, harfiahnya “daging”, dan tinggal di antara kita…” (Yoh 1:14). Gereja sebagai komunitas orang beriman percaya bahwa Yesus itu ada di tengah-tengah mereka dan menghayatinya dalam bentuk ekaristi.

Yesus itu pemberian dari surga yang membawakan hidup ke dunia. Dan pemberian ini lebih luas kehidupan biasa yang beriramakan lapar, kenyang, lapar lagi, melainkan yang membawa ke kehidupan yang tak lagi dibawahkan pada perputaran itu. Bagaimana kenyataannya, tidak dikatakan dengan jelas, dan justru sulit diperkatakan. Hanya dapat dipahami dengan menghayatinya. Inilah cara berbagi hidup kekal dengannya seperti terungkap dalam Yoh 6:51 dan 58. Iman akan ekaristi menjadi cara Gereja menerima kebenaran warta Yesus itu. Sikap orang beriman berkebalikan dengan sikap mereka yang mempertanyakan bagaimana itu mungkin (ay. 52).

Mereka yang mengikuti Yesus dihimbau agar terus berusaha memberi isi nyata pada apa itu berbagi kehidupan surgawi, apa itu mengarah ke hidup kekal, menemukan roti kehidupan yang sesungguhnya di dalam hidup sehari-hari. Ini iman yang mengangkat kesehari-harian menjadi yang makin dekat ke kehadiran ilahi. Ada ajakan untuk mengusahakan agar kenyataan rohani itu berdampak pada kenyataan sehari-hari juga.

Tidak disangkal adanya ketimpangan di kalangan pengikut Yesus sendiri. Ini kelemahan mereka. Tapi justru dengan menyadari sisi-sisi yang manusiawi itu orang beriman semakin dapat berharap bersatu dengan kurban persembahan Yesus sendiri. Itulah makna pernyataan “siapa yang makan dagingnya dan minum darahnya akan tinggal dalam aku dan aku dalam dia” (Yoh 6:56). Dan kurban bersama ini menyelamatkan dunia. Dalam arti ini ekaristi ialah bentuk nyata ikut serta dalam kurban penebusan tadi.

EKARISTI DAN HIDUP SEHARI-HARI

Apa arti menyambut komuni? Apakah orang jadi lebih baik? Di lingkungan keagamaan mungkin semuanya baik-baik, tapi di luar di dalam hidup sehari-hari lain. Kenyataan ini memang sering kita lihat. Namun demikian, acap kali kita terlalu memandang ekaristi sebagai obat kuat rohani atau jamu kelakuan baik. Pandangan seperti itu malah menjauhkan kita dari nilai ekaristi yang sesungguhnya Mengapa? Ekaristi itu sakramen yang menghadirkan kenyataan rohani dalam diri kita. Tetapi kehadiran ini perlu diberi ruang dalam kehidupan sehari-hari pula.

Lalu, bila begitu apa bedanya dengan orang yang tidak kenal akan ekaristi tapi toh berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari. Tidak bisa kita hadapkan dua perkara ini begitu saja. Tiap orang dapat berlaku baik, dengan atau tanpa ekaristi. Dan memang manusia memiliki bakat berbuat baik. Tapi orang yang percaya akan kekuatan ekaristi akan semakin melihat dan mengakui bahwa kemampuan berbuat baik serta keberanian untuk menjadi makin manusiawi dan makin lurus itu datang dari atas sana.

Bukan dari kekuatan manusiawi sendiri. Bagi orang yang percaya, kemampuan berbuat baik itu anugerah ilahi. Dan anugerah inilah yang ditandai dengan ekaristi. Dalam arti inilah ekaristi membuat kita semakin dekat dengan kehidupan Yang Ilahi sendiri.

Salam hangat,
A. Gianto

Paus dalam Misa Pagi: Pesona pada Harta Surga

Pada Misa pagi di Casa Santa Marta (Jumat, 20 Juni 2014), Paus Fransiskus kembali mengangkat tema bagaimana umat beriman hanya akan memiliki kebahagiaan sejati ketika mereka menumpuk harta rohani, dan bukan harta dari dunia ini.

Beliau kemudian menggemakan pesannya dari homili Kamis malam pada misa Tubuh dan Darah Kristus. Beliau menegaskan bahwa hal-hal dari dunia ini tidak akan membawa kebahagiaan, karena itu semua akan berakhir dan rusak, dan meninggalkan umat beriman tanpa apa-apa dari nilai sebenarnya.

Bapa Suci merenungkan pada liturgi hari Jumat, di mana Yesus memperingatkan murid-murid-Nya terhadap harta duniawi, dengan mengatakan: "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; .... Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."

Dalam homilinya, Paus Fransiskus memperingatkan terhadap tiga unsur, yaitu: uang, kesombongan dan kekuasaan. Yesus meminta kita untuk menjaga hati kita bebas dari unsur-unsur yang tidak perlu, Paus mencatat. Unsur- unsur tersebut meninggalkan umat beriman sebagai "tahanan," "membebani" dan "mengikat" hati mereka, kata beliau.

Beliau menunjukkan dua jenis hati umat beriman yang dapat dimiliki: sebuah "hati yang bebas" atau sebuah "hati hamba"

Paus Fransiskus mengatakan bahwa sebuah "hati yang bebas" membuat hati seseorang "merasa ringan," seperti " menunjukkan kita jalan yang mengarah kepada Allah," dan digenapi dalam menyembah Allah dan mengasihi sesama. Paus memohon, "Tolong, miliki hati yang bebas! Hanya ... dengan hati yang bebas Anda dapat memiliki harta surga: kasih, kesabaran, pelayanan kepada orang lain, menyembah Allah. Ini semua adalah harta yang sesungguhnya, yang tidak dapat dicuri, "sedangkan yang lain, kekayaan duniawi" membebani "dan " mengikat hati kita. "

Sebuah "hati hamba" , Paus Fransiskus mengatakan, "bukanlah hati yang terang: hati itu akan gelap," menambahkan bahwa "jika kita mengumpulkan harta di dunia, kita menumpuk kegelapan." Dia memperingatkan harta ini tidak memberikan sukacita, tetapi di atas semua, merampok kebebasan kita.

Paus asal Argentina ini melanjutkan untuk menjelaskan kejahatan uang, kekuasaan, dan kesombongan.

Uang:

Meskipun uang memiliki kekuatan untuk melakukan banyak kebaikan, termasuk menyediakan kebutuhan bagi keluarga seseorang, kata beliau, uang berbahaya karena banyak orang yang menjadi terobsesi dengannya. "Jangan membangun hidup Anda di atas timbunan kekayaan," beliau memperingatkan.
Kekayaan yang digunakan pada investasi, beliau mencatat sebagai contoh, akan hangus tidak tersisa jika pasar saham guncang.

Kesombongan:

Kesombongan berkaitan dengan keinginan seseorang untuk "gengsi" dan "untuk dilihat," memiliki sebuah pamor untuk dilihat, "kata beliau, menambahkan bahwa Yesus" selalu mengutuk kesombongan. "
Memperhatikan para ahli Taurat dalam Kitab Suci sebagai sebuah contoh dari kesombongan, kata beliau mereka berpuasa, memberi sedekah, atau berdoa, mereka melakukannya hanya "untuk dilihat."
Kesombongan, beliau menegaskan, "tidak ada gunanya," seperti "berakhir." Mengutip St Bernardus, beliau berkata: "'Keanggunan Anda akan berakhir menjadi makanan cacing.'"

Kekuasaan:

Menggunakan bacaan pertama untuk menggambarkan bagaimana kekuasaan tiba-tiba bisa berakhir, Paus mencatat tumbangnya Ratu Atalya yang kejam, yang memerintah selama tujuh tahun, dan kemudian dibunuh. "Kekuasaan berakhir!" Beliau memperingatkan: "Berapa banyak laki-laki dan wanita ternama yang angkuh karena kekuasaan berakhir dalam anonimitas (tanpa nama), dalam kemiskinan atau dalam penjara."

Harta Surga:

Setelah memperingatkan umat beriman, Paus menyimpulkan dengan apa yang Tuhan mminta kita untuk kumpulkan: "harta surga," bukan "harta" uang, kesombongan, dan kekuasaan yang sulit dipahami.

Sumber: http://www.zenit.org/en/articles/pope-at-morning-mass-delight-in-treasures-of-above
~Dv

Homili Paus Fransiskus dalam Misa Harian Pagi: Orang yang Korup harus bertobat

Pada Misa pagi di Casa Santa Marta, Selasa, Paus Fransiskus kembali ke tema korupsi dalam Gereja dan dalam masyarakat, mengatakan mereka yang melakukan kejahatan ini harus memohon pengampunan Allah.

Mengulangi pesannya dari misa hari Senin, beliau menegaskan selalu mereka yang miskin yang harus membayar harga dari korupsi yang orang lain lakukan.

Pada bacaan hari ini berlanjut dengan kisah Raja Ahab, yang dengan bantuan istrinya Izebel, telah membunuh Nabot sehingga dapat mengambil kepemilikan tanahnya. Dalam perikop hari ini, Raja Ahab bertobat setelah menerima peringatan dari Nabi Elia.

Ketika kita memulai jalan korupsi, Paus mengatakan, kita kehilangan kemanusiaan kita dan menjual diri kita sendiri, seperti yang nabi Elia katakan pada Ahab, "Memang sekarang aku mendapat engkau, karena engkau sudah memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN."

Ini adalah definisi korupsi, Paus menegaskan, itu adalah komoditas yang kita beli dan jual.

Mengingatkan kembalipada homili kemarin di mana beliau mengidentifikasi tiga bidang korupsi - dalam politik, dalam bisnis/ekonomi dan di Gereja - kata beliau ketiganya menyakiti kaum miskin yang harus selalu membayar harga bagi keuntungan pihak lain. Untuk semua orang-orang ini, Paus mencatat, Tuhan berkata dengan jelas bahwa ia akan mendatangkan malapetaka atas mereka dan keluarga mereka. Korupsi, katanya mengganggu Allah dan menghebohkan orang-orang karena korupsi mengeksploitasi, memperbudak, bahkan membunuh yang rentan, tetapi mereka yang melakukan kejahatan ini hanya berfokus pada uang dan kekuasaan.

Para koruptor, Paus mengatakan, adalah pengkhianat yang mencuri dan membunuh, yang mengeksploitasi orang yang tidak bersalah, tetapi mereka melakukannya di kejauhan dengan sarung tangan sehingga mereka tidak perlu mendapatkan tangan mereka kotor.

Orang-orang ini, kata beliau, dikutuk oleh Allah, tetapi seperti Ahab merobek pakaiannya dan berpuasa dan merendahkan diri di hadapan Tuhan, maka para koruptor harus bertobat dan menebus kesalahan atas apa yang telah mereka lakukan.

Tugas kita sebagai umat Kristen, Paus menyimpulkan, adalah untuk memohon pengampunan dari Tuhan bagi orang-orang yang kita baca di koran, untuk berdoa bagi pertobatan hati mereka dan bagi rahmat bagi kita semoga kita tidak pernah menjadikan diri kita korup.


Homili Paus Fransiskus Selasa, 17 Juni 2014
Bacaan Liturgi: 1Raj. 21:17-29; Mzm. 51:3-4,5-6a,11,16; Mat. 5:43-48
  
~Dv/fans of iman katolik

Ketika para Klerus korup, umat yang tidak mendapatkan katekese yang menderita, kata Paus Fransiskus


Orang-orang miskin adalah orang-orang yang akhirnya membayar kerusakan yang ditimbulkan oleh korupsi oleh mereka yang kuat/berkuasa, kata Paus Fransiskus. Dan satu-satunya cara untuk mengalahkan dosa korupsi adalah pelayanan kepada orang lain yang memurnikan hati.

Paus melakukan pengamatan ini hari ini selama misa pagi nya di Casa Santa Marta, menarik dari bacaan yang menceritakan kisah Nabot, pemilik kebun anggur yang merupakan warisan turun temurun keluarganya selama beberapa generasi.

Ketika Raja Ahab - yang namanya berarti "untuk memperluas kebunnya sedikit," - meminta Nabot untuk menjualnya, Nabot menolak karena dia tidak berniat untuk melepaskan "warisan nenek moyangnya." Raja menerima penolakan dengan sangat buruk, sehingga istrinya Izebel menyusun perangkap dengan bantuan saksi-saksi palsu, dan Nabot dirajam sampai mati. Pada akhirnya, Izebel memberikan kebun anggur yang diinginkan untuk suaminya, yang mengambil tanah dengan tenang, "seolah-olah tidak terjadi apa-apa."

Paus Fransiskus mengatakan, "Kisah ini secara terus menerus terulang kembali," di antara jajaran orang-orang, yang memegang kekuasaan, baik materi, politik atau spiritual:

"Di surat kabar kita baca banyak kali:" Ah, itu politikus yang menjadi kaya karena "sihir" telah dibawa ke pengadilan. Ada pemilik bisnis, yang telah menjadi kaya karena "sihir" - yaitu, dengan memanfaatkan para pekerjanya - telah diseret ke pengadilan. Kita mendengar terlalu banyak pembicaraan tentang uskup yang telah menjadi kaya juga, dan meninggalkan tugas pastoralnya untuk memelihara kekuasaannya. Jadi, para politisi yang korup, pengusaha yang korup dan para klerus yang korup, dapat ditemukan di mana-mana - dan kita harus mengatakan yang sebenarnya: korupsi justru merupakan dosa dari orang-orang yang memiliki kekuasaan - baik politik, ekonomi atau gerejawi - dibanding orang lain paling cekatan melakukannya. Kita semua tergoda untuk korupsi. Ini adalah dosa yang 'tangkas', selama, apabila seseorang memiliki otoritas, seseorang merasa berkuasa, orang merasa hampir seperti Allah. "

Bapa Suci melanjutkan dengan bertanya, "siapa yang membayar harga untuk korupsi?" Dan jawabannya adalah, pada kenyataannya, masyarakat miskin lah yang membayar harga:

"Jika kita berbicara orang-orang yang korup secara politik atau secara ekonomi : siapa yang membayar [korupsi mereka]? Pikirkan rumah sakit tanpa obat-obatan, pasien yang tidak menerima perawatan, anak-anak tanpa pendidikan. Mereka adalah para Nabot modern, yang membayar harga untuk korupsi dari orang-orang yang angkuh. Dan siapa yang membayar harga untuk korupsi seorang waligereja/prelat/uskup? Anak-anak membayar, yang tidak bisa membuat tanda salib, yang tidak tahu katekese, yang tidak diperhatikan. Orang sakit yang tidak dikunjungi, orang-orang di penjara, yang tidak menerima perhatian spiritual. Kaum miskin yang membayar. Korupsi dibayar oleh kaum miskin: baik yang miskin materi dan miskin secara rohani ".

Sebaliknya, kata Paus Fransiskus, "satu-satunya cara untuk menghindari korupsi, satu-satunya cara untuk mengatasi godaan untuk - dosa - korupsi, adalah pelayanan." Sebab, kata beliau, "korupsi adalah kesombongan, keangkuhan -. dan pelayanan merendahkan Anda" Ini adalah "amal yang rendah hati untuk membantu orang lain."

"Hari ini, kita mempersembahkan misa untuk mereka - banyak, banyak dari mereka - yang membayar harga untuk korupsi, menanggung biaya hidup yang korup. Para martir dari korupsi politik, korupsi ekonomi, dan korupsi gerejawi. Kita berdoa untuk mereka. Semoga Tuhan membawa kita lebih dekat dengan mereka. Sesungguhnya Dia sangat dekat dengan Nabot, di saat ia dilempari batu sampai mati, sebagaimana Dia lakukan pada Stefanus. Semoga Tuhan menjadi dekat dan memberikan kekuatan [kepada mereka menanggung beban korupsi], sehingga mereka bisa maju dengan kesaksian mereka. "

Sumber: http://www.zenit.org/en/articles/when-clergy-are-corrupt-uncatechized-suffer-says-francis

Homili Paus Fransiskus Senin, 16 Juni 2014
Bacaan Liturgi: 1Raj. 21:1-16; Mzm. 5:2-3,5-6,7; Mat. 5:38-42.
  
~Dv / fans of iman katolik

HOMILI: Hari Raya Tritunggal Mahakudus (Kel. 34:4b-6,8-9; MT Dan. 3:52,53,54,55,56; 2Kor. 13:11-13; Yoh. 3:16-18)

Bacaan Injil tahun A bagi Hari Raya Tritunggal Mahakudus ialah Yoh 3:16-18. Intinya, Allah sedemikian mengasihi dunia sehingga mengutus Putra-Nya yang tunggal ke dunia untuk menyelamatkannya. Jadi bukan sebarang utusan. Inilah ungkapan kerahiman yang paling besar. Diungkapkan dalam ay. 16, “Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal.” Kesediaan Putra diutus ke dunia membuat semua ini sungguh terjadi. Dalam kata-kata Injil hari ini (ay. 17-18) “Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa yang tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”
  
Akan disinggung pada akhir ulasan ini kaitan dengan bacaan pertama, Kel 34:4b-6.8-9, yang menekankan bahwa “Tuhan itu Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (ay. 6).

TRITUNGGAL YANG MAHAKUDUS
   
Kesaksian yang terhimpun dalam ayat-ayat itu dapat membantu kaum beriman menyelami iman akan Tritunggal Mahakudus. Dahulu orang memandang dunia ini sebagai drama yang dilakonkan oleh Allah sendiri. Di dalam drama ini ada tiga pemeran. Allah Bapa berperan sebagai “pengasal” tindakan penyelamatan, Allah Putra sebagai “pelaksana”-nya, sedangkan Allah Roh Kudus “melanjutkannya”. Ketiga pelaku ini menjalankan peran yang berbeda-beda tapi dengan maksud dan tujuan yang sama, yakni penyelamatan dunia beserta isinya. Pelaku dalam lakon disebut “prosoopon” (Yunani) atau “persona” (Latin) yang diindonesiakan sebagai “pribadi”. Arti harfiah kata Yunani dan Latin ialah gambar wajah yang dikenakan pelaku sehingga para hadirin langsung menangkap peran mana sedang dijalankan. Cara berungkap dengan bahasa lakon seperti ini dulu mudah menghimbau perhatian orang banyak dan oleh karenanya dipakai untuk menjelaskan karya penyelamatan. Jalan pemikirannya demikian: karya penyelamatan itu berasal dari Bapa dan dilaksanakan oleh Putra yang diutus ke dunia, dan kemudian dijaga keberlangsungannya oleh Roh Kudus. Demikianlah disadari iman mengenai Tritunggal dalam hubungan dengan karya penyelamatan. Di situ dijelaskan inti keilahian pula. Kesatuan antara ketiga pribadi itu sedemikian mendalam sehingga keesaan Allah tidak berubah. Bapa, Putra dan Roh Kudus ialah tiga pribadi dari Allah yang satu.
   
Masih samakah makna iman akan Tritunggal itu bagi kita dalam masyarakat dewasa ini? Ya. Mereka dulu berusaha semakin mengenali karya penyelamatan di dalam macam-macam keadaan. Begitu pula kita. Yang beraneka ragam ujudnya ialah peluang nyata serta ungkapan untuk ikut serta membangun dunia yang baru, dunia yang bisa dikatakan “semakin diselamatkan” Allah. Percaya bahwa ada karya penyelamatan sendiri sebetulnya sudah dapat menjadi bentuk keikutsertaan dalam karya ilahi itu. Mengimani Tritunggal bukan hanya mengucapkan “aku percaya”, tapi juga ikut serta membangun dunia yang makin layak dan menjaganya agar tidak merosot. Itulah arti “selamat” dalam bahasa yang dimengerti orang sekarang. Pemahaman ini dapat membuat iman semakin hidup.
 
HIDUP KEKAL
  
Ketiga ayat yang dibacakan hari ini ialah kelanjutan pembicaraan Nikodemus, seorang ulama Yahudi, dengan Yesus (Yoh 3:1-15). Nikodemus percaya bahwa Yesus itu utusan Allah sendiri dan ingin mengenalnya lebih dalam. Yesus membantunya. Perhatian Nikodemus diarahkannya pada warta yang sejak awal disampaikannya kepada orang banyak, yakni Kerajaan Allah sudah datang di dunia dan orang diajak bersiap ikut serta di dalamnya. Kepada Nikodemus diterangkan, syarat untuk ikut serta di dalam Kerajaan Allah ialah dilahirkan kembali dalam air dan Roh. Maksudnya, dibaptis menjadi pengikut Yesus dan membiarkan diri dibawa oleh kekuatan-kekuatan ilahi sendiri – yakni Roh. Dialah yang bakal menuntun ke Kerajaan Allah. Dengan demikian pelbagai kepastian yang hingga kini dipegang erat-erat juga tidak terasa mengikat lagi. Karena Nikodemus tidak segera menangkap, Yesus menjelaskan hal ini dengan cara yang lebih mudah dipahami, dengan merujuk pada keinginan mencapai hidup kekal. Siapa saja yang memandangi yang datang dari atas sana, yakni Anak Manusia, dan percaya kepadanya akan mendapat hidup kekal. Tentu saja Nikodemus mengerti bahwa Anak Manusia ini ialah Yesus sendiri yang sudah dipercayanya sebagai utusan yang datang dari Allah sendiri. Tapi masih perlu satu langkah penting lagi: memulai hidup baru di dalam Kerajaan Allah. Itulah pokok pembicaraan dengan Nikodemus yang mendahului petikan yang dibacakan hari ini, yakni ay. 16-18.
   
Pembaca yang mengikuti pembicaraan tadi akan bertanya, apakah Kerajaan Allah yang diutarakan pada awal pembicaraan dengan Nikodemus tadi, ay. 3 dan 5, sama dengan kehidupan kekal yang disebut dalam ay. 15 dan 16? Yohanes memang bermaksud mengajak pembaca memikirkan pertanyaan itu. Bagi banyak orang “kehidupan kekal” itu gagasan yang langsung memberi isi pada paham keselamatan. Setiap orang mendambakannya. Tapi “Kerajaan Allah”? Hanya dikenal di antara para pengikut Yesus! Di luar itu boleh jadi hanya kalangan murid Yohanes Pembaptis sajalah yang pernah mendengarnya. Yesus mengajak orang bersiap-siap menyongsong Kerajaan Allah yang telah datang. Bagi pengikut-pengikutnya, keinginan yang terdalam tidak berhenti pada gagasan “keselamatan = hidup kekal”, melainkan lebih jauh dan terarah pada “keselamatan = ikutserta dalam Kerajaan Allah” bersama dengan Dia yang mengajarkan mengenai Kerajaan ini.
   
Hidup kekal dapat dititi dengan hidup beragama dan menjalankan ajaran agama dengan baik. Tetapi untuk mencapai kesempurnaan dalam arti masuk ke Kerajaan Allah, perlu ada bimbingan Roh. Begitulah, untuk mendapatkan hidup kekal, Nikodemus sendiri sudah tahu jalannya – sudah diajarkan Musa. Namun, untuk memasuki Kerajaan Allah, dibutuhkan penyerahan diri dan bimbingan Roh.
  
Pembicaraan dengan Nikodemus itu dapat menjadi cermin untuk mengamati diri: masih mengarah ke yang biasa, yakni “hidup kekal”, atau sudah mulai terbuka ke kesempurnaan dalam “Kerajaan Allah”? Yesus sang utusan ilahi memahami keterbatasan wawasan manusia yang sebijak dan sesaleh apapun – Nikodemus itu ulama besar!. Tetapi ia tetap mengajak melihat ke arah yang lebih sempurna, yakni memasuki Kerajaan Allah. Bagian Injil yang dibacakan hari ini sebetulnya berbicara mengenai keterbukaan pada kehidupan kekal sebagai jalan masuk untuk ikut serta di dalam Kerajaan Allah.
  
MEMAHAMI KERAHIMAN ILAHI
   
Dalam bacaan pertama Kel 34:4b-6.8-9 dikisahkan bagaimana Musa memahat dua loh batu untuk menuliskan kembali hukum-hukum yang tadinya termaktub dalam dua loh pertama yang dipecahkan Musa karena melihat umat menari-nari dan menyembah lembu emas (Kel 32:19-20). Pembaruan hukum ini memperlihatkan kebesaran Tuhan, seperti disebutkan dalam Kel 34:6, “Tuhan itu Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya”. Inilah yang kemudian menjadi dasar dari hukum agama dalam umat Perjanjian Lama selanjutnya. Tidak lagi ditekankan ancaman hukuman turun-temurun bagi mereka yang tidak setia dan menolaknya seperti dalam Kel 20:5 yang mengawali hukum-hukum yang disampaikan sebelum umat menjalankan tindakan penyembahan lembu emas. Ketika umat memang melakukan dosa, memang mereka terhukum. Namun justru dalam keadaan itu Yang Mahakuasa menunjukkan belaskasihan-Nya yang besar. Ancaman hukuman tidak langsung berlaku. Malah diberikan kesempatan untuk kembali. Inilah kebesaran-Nya.
   
Agama menunjukkan jalan mencapai “keselamatan” sehingga orang menemukan arti hidup dalam macam-macam keadaan, baik menyenangkan atau menyedihkan. Agama dan iman membuat orang menemukan diri sebagai makhluk di hadapan Yang Ilahi. Dalam pewartaan Yesus, masih ada kelanjutannya, yakni memasuki Kerajaan Allah. Di situ orang belajar mengenali Allah Pencipta sebagai “Bapa”, sebagai yang dekat, sebagai yang menghendaki yang terbaik. Dan yang mengajarkannya ialah Putra-Nya sendiri.
   
Bagi orang Yahudi pada waktu itu, ajaran ini mengejutkan. Mana bisa manusia membayangkan diri diperanakkan Allah! Dan memang inilah kendala warta Yesus. Ia disingkirkan oleh pemuka-pemuka agama Yahudi karena mengajarkan Allah itu Bapa, dan mengakui diri sebagai yang mengenal-Nya dari dekat. Bagi orang-orang saleh waktu itu semua ini terdengar sebagai hujatan dan pelecehan. Tetapi memang itulah warta Yesus. Ia menawarkan citra yang baru dari Allah. Yang Mahakuasa bisa didekati. Berada di dekat-Nya berarti ikutserta dalam Kerajaan-Nya.
   
Para murid Yesus yang pertama ialah orang-orang yang berminat akan warta ini walau belum sepenuhnya mengerti. Baru nanti setelah semuanya terpenuhi, yakni setelah Allah yang dipanggil Bapa oleh Yesus itu membangkitkannya dan memberinya hidup baru, gagasan bahwa Allah ialah Bapa yang Maharahim baru menjadi nyata bagi mereka. Yesus berani mengorbankan diri demi warta ini. Ia mempertaruhkan diri. Dan dia benar. Bapanya menerima dan menunjukkan diri kepada orang banyak bahwa Ia memang seperti yang diajarkan Yesus. Dalam arti inilah Yesus memperkenalkan kerahiman Allah dengan cara yang paling meyakinkan.
   
Perhatian dan kerahiman Allah memberi wajah baru kepada dunia. Yang bersedia menerima kerahiman ini akan berjalan menuju ke terang, ke ciptaan baru. Para pengikut Yesus dipanggil ke arah hidup kekal dan lebih jauh lagi, untuk menjadi orang-orang merdeka dari kekuatan yang mengekang, dari rasa waswas dan terancam. Kekuatan yang mengekang itu bukan saja dari alam gaib, melainkan amat nyata: ketakadilan, pembodohan, kemiskinan, perkosaan hak-hak azasi, kekerasan. Sebutkan saja kebalikan masing-masing dan di situ akan terlihat apa arti kemerdekaan hidup dalam Kerajaan Allah. Dan orang beriman diajak ikut serta ke sana.
Salam hangat,
A. Gianto

HOMILI: Hari Raya Pentakosta (Kis. 2:1-11; Mzm. 104: 1ab, 24ac, 29bc-30, 31, 34; 1Kor. 12:3b-7,12-13; Yoh. 20:19-23)

Rekan-rekan yang baik!

APA hubungan antara Kebangkitan, Kenaikan, dan Pentekosta? Dalam Injil Yohanes, ketiga-tiganya dipadatkan menjadi satu di dalam peristiwa penampakan Yesus yang telah bangkit kepada para murid yang sedang berkumpul (Yoh 20:19-23). Yang mereka lihat sekarang itu sama dengan dia yang telah wafat di kayu salib dan dimakamkan. Dalam hidup setelah kebangkitan, ia berbagi Roh kehidupan dengan para murid. Roh itulah yang menghidupkan semangat baru di antara mereka.

KEBANGKITAN – KENAIKAN – PENTEKOSTA

Pengalaman yang diungkapkan secara padat oleh Yohanes tadi ditampilkan dengan tiga puncak dalam Kisah Para Rasul, yakni Kebangkitan, Kenaikan, dan Pentekosta. Dari Kebangkitan hingga Kenaikan ada selang waktu 40 hari (Kis 1:1-3). Selama itu para murid mengalami pelbagai penampakan Yesus hingga percaya benar bahwa Yesus benar-benar hidup. Tenggang waktu 40 hari itu mematangkan pengalaman dengan Yesus yang telah bangkit itu. Murid-murid kini menyadari bahwa Yesus, seperti terungkap dalam Mat 28:18, telah menerima kuasa di surga dan di bumi. Kesadaran ini mereka alami sebagai Kenaikan Tuhan. Pada saat yang sama para murid merasa mendapat penugasan untuk mengisahkan pengalaman ini kepada siapa saja. Dalam kata-kata Lukas, ini disebut sebagai tugas menjadi saksi-saksinya (Kis 1:8), atau menurut Matius, menjadikan semua bangsa muridnya dan menerima mereka sepenuhnya dalam komunitas mereka lewat pembaptisan (Mat 28:19). Bagaimanapun juga, meskipun sudah ada kesadaran baru ini, mereka belum merasa cukup mampu menjalankan tugas dengan merdeka, tanpa merasa waswas atau rasa tertekan. Kekuatan yang memerdekakan baru mereka peroleh pada hari Pentekosta. Pada hari itulah mereka mendapatkan semangat untuk menceritakan pengalaman mereka kepada orang banyak.

Sekedar latar belakang. Di kalangan umat Perjanjian Lama, Pentekosta (artinya “hari ke-50″) dirayakan 7 minggu setelah panen gandum (Im 23:15-21 dan Ul 16:9-12). Dalam perkembangan selanjutnya, hari “ke-50″ ini dihitung mulai dari tanggal 14 Nisan, yaitu hari Paskah Yahudi. Pada hari ke- 50 ini kemudian diperingati pula turunnya Taurat kepada Musa. Di kalangan umat Kristen, “hari ke-50″ itu dirayakan 7 minggu setelah Kebangkitan Yesus untuk memperingati turunnya Roh Kudus kepada para murid. Jadi perayaan 7 minggu setelah panen dari dunia Perjanjian Lama itu diterapkan oleh Perjanjian Baru kepada panenan rohani yang kini mulai melimpah.

DATANGNYA ROH KUDUS

Bacaan pertama (Kis 2:1-11) berisi kisah mengenai hari Pentekosta. Suatu saat terdengar suara dari langit, menderu seperti taufan memasuki ruangan para murid berkumpul, dan muncullah lidah-lidah api menghinggapi mereka. Dan mereka mulai berbicara dalam banyak bahasa. Seperti itukah kejadiannya? Lukas sebetulnya hendak menggambarkan pengalaman batin para murid. Saat itu mereka secara bersama-sama merasakan adanya kekuatan yang membuat hati mereka bernyala berkobar-kobar. Kejadian ini sudah sedikit disinggung dalam cerita mengenai dua murid ke Emaus. Suatu ketika mereka saling berkata, “hati kita berkobar-kobar” (Luk 24:32), artinya pikiran (diungkapkan dengan “hati”) mereka tidak lagi memudar, melainkan menyala-nyala. Dan sekarang kejadian ini dialami semua murid yang lain dalam kebersamaan.

Juga orang banyak yang ada di sekitar para murid ikut menyaksikan perubahan ini. Roh Kudus itu kekuatan mempersaksikan. Roh Kudus membuat para murid dimengerti siapa saja, baik yang sama agamanya, maupun yang lain. Tiap orang yang mendengar akan mendapatkan sesuatu. Inilah daya yang dianugerahkan kepada Gereja, ke dalam maupun ke luar. Ke dalam bila memahami apa itu menjadi pengikut dia yang telah bangkit dan mulia itu. Ke luar bila mempersaksikan cara hidup baru ini kepada orang banyak.

Dalam bahasa zaman ini, kekuatan itu terletak dalam kemampuan untuk menerangkan iman kepercayaan dengan cara yang bisa dimengerti oleh orang yang bukan dari kalangan sendiri. Tidak hanya dengan perkataan, melainkan juga dengan sikap hidup dan tindakan. Bagaimana dengan keadaan di Indonesia? Boleh jadi Pentekosta ini menjadi kekuatan baru untuk tetap memilih hidup beradab dan tidak membiarkan masyarakat dihanyutkan kekuatan-kekuatan yang memerosotkan kemanusiaan. Ini pilihan sederhana. Tapi juga pilihan yang membuat Gereja tampil sebagai komunitas orang-orang yang setia pada kemanusiaan dan hormat pada keilahian.

Boleh jadi itulah yang dimaksud Lukas ketika mengatakan para murid mulai berbicara dalam pelbagai bahasa dan para pendengar merasa mendengar dalam bahasa mereka sendiri. Tentunya tidak sama dengan yang dimaksud oleh Markus “bicara dalam bahasa-bahasa baru” (Mrk 16:17) atau yang disebut Paulus sebagai “bahasa lidah” (1Kor 14). Yang terakhir ini biasanya terjadi dengan gumaman yang bukan terarah kepada sesama melainkan kepada Tuhan (1Kor 14:2-4). Dibutuhkan orang yang dapat menjelaskan apa yang sedang terjadi. (1Kor 14:5-19 dan 27). Bahasa lidah ini tanda kehadiran roh bagi orang yang belum beriman (1Kor 14:22), bukan bagi mereka yang sudah mulai beriman

GEREJA PERDANA

Orang-orang yang percaya kepada Yesus dan dibaptis dalam namanya itu hidup dalam lindungan kekuatan yang datang dari atas, dari tempat Yesus kini berada. Itulah kehadiran Roh Kudus. Kekuatan ini memberi kebijaksanaan, membuat budi bening dan menuntun orang di jalan yang benar. Roh Kudus ini jugalah yang memimpin para rasul ke seluruh penjuru dunia. Roh yang sama itulah yang kini ada di tengah-tengah orang-orang yang percaya. Orang tidak lagi perlu merasa terancam daya-daya gelap yang pergi datang begitu saja. Ada arah baru yang tak terpikirkan sebelumnya. Ini membuat alam pikiran orang zaman itu berubah. Terbuka alam baru. Dan ini akan terus berkembang sampai Yesus datang kembali. Inilah gagasan pokok yang disampaikan Lukas dalam Kisah Para Rasul. Para murid generasi pertama itu kemudian menjadi makin peduli akan keadaan orang-orang di semakin mengerti penderitaan orang lain dari kalangan sederhana. Mereka sudah merasa bebas dan bisa berbuat banyak. Mereka itu orang-orang yang peduli akan keadaan di masyarakat luas. Dalam banyak arti mereka itu juga membangun keadaban baru yang memungkinkan orang berkembang sebagai manusia utuh. Inilah buah pertama dari hadirnya Roh Kudus.

ROH KUDUS DAN KUASA MENGAMPUNI

Menurut Injil Yohanes, Roh Kudus diterima para murid ketika mereka sedang berkumpul dan sedang gelisah. Dalam keadaan itulah Yesus menampakkan diri dan mengembusi mereka. Ia menghadirkan Roh Kudus di tengah-tengah mereka. Kehadiran Roh di tengah para murid itu bukan berarti mereka kini lebur ke dalam Roh, bukan pula merasuknya Roh ke dalam batin masing-masing murid. Kenyataannya lebih sederhana, lebih apa adanya. Roh Kudus hadir di tengah-tengah kumpulan murid itu. Para murid masih tetap manusia, tidak menjadi “setengah Roh”. Kekuatan yang kemudian membuat mereka berani bersaksi itu bukannya karena mereka kini manusia super yang diisi Roh. Mereka itu kuat karena disertai Roh Kudus, bukan karena dirasuki-Nya.

Setelah berkata “Terimalah Roh Kudus”, Yesus menambahkan, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang terap ada, dosanya tetap ada” (Yoh 20:23). Jelas bukan hanya mengampuni kesalahan ini atau itu, hal yang lazim dilakukan dalam hidup sehari-hari, melainkan mengampuni penolakan mendasar terhadap kehadiran Yang Ilahi. Itulah yang dimaksud dengan “dosa”. Tidak menggubris Yang Ilahi. MenganggapNya sepi. Dalam alam pikiran Yohanes, menutup diri ini ialah sikap khas dunia yang memusuhi Yang Ilahi. Maka dari itu dunia tetap dirundung kekuatan yang gelap, dan bahkan menjadi tempat daya-daya yang jahat. Dengan demikian dunia akan lenyap dengan sendirinya karena kini terang sudah datang. Satu-satunya pembebasan dari kuasa gelap ialah menerima terang. Ikut masuk ke dalam Kerajaan Allah, ke dalam wahana ilahi. Dalam pembicaraan dengan Nikodemus ditegaskan oleh Yesus bahwa orang hanya mungkin memasukinya bila lahir kembali dalam Roh, bukan lahir bagi dunia yang menolak kehadiran ilahi (Yoh 3:5-8).

Mendapat kuasa untuk mengampuni dosa atau menyatakannya tetap ada berarti memikul tanggung jawab untuk menentukan apakah penolakan terhadap Tuhan masih bertahan atau sudah mulai lepas. Tanggung jawab ini besar dan berat. Berat karena murid-murid diserahi urusan yang sebetulnya hanya dapat dilakukan Tuhan sendiri, yakni mengampuni dosa. Besar karena kini mereka ikut dalam penyelenggaraan ilahi untuk mengubah jagat ini menjadi terang, menjadi ciptaan yang baru. Dan tanggung jawab seperti ini diserahkan kepada para murid sebagai kesatuan, bukan urusan orang perorangan. Bila Gereja memahami diri sebagai kelanjutan para murid tadi, maka kuasa serta tanggung jawab itu terletak pada kebersamaan, bukan hanya pada pemimpin Gereja saja. Dan sebagai kesatuan, Gereja dapat mengajak orang-orang berkemauan baik mengembangkan kemanusiaan yang peduli akan keadaban. Itulah pelaksanaan dari kuasa mengampuni atau menyatakan dosa tetap ada.

Salam hangat,
A. Gianto

Homili: Hari Minggu Paskah VII (Kis. 1:12-14; Mzm. 27:1,4,7-8a; 1Ptr. 4:13-16; Yoh. 17:1-11a)

Rekan-rekan yang budiman!

Pada hari Minggu Paskah VII tahun A ini dibacakan bagian awal doa Yesus bagi para murid (Yoh 17:1-11a; bagian akhir doa Yesus, ay. 20-26, dibacakan pada hari Minggu Paskah VIItahun C). Hari-hari ini saya menanyakan beberapa pokok dalam ay. 1-11a kepada yang tahu menahu tentang perkara itu. Khusus saya tanyakan arti “memuliakan” (ay. 1,4,5,10). Tentunya yang dirujuk ialah peristiwa salib dan kebangkitan, pokok yang sudah lama digeluti oleh para teolog. Tapi seluk beluknya belum sepenuhnya jelas. Berikut ini saya teruskan jawabannya apa adanya. Beliau tidak berkeberatan suratnya ikut dibaca rekan-rekan.

Minggu 1 Juni 2014 ini juga ditetapkan sebagai liturgi perayaan hari Komunikasi sedunia. Memang komunikasi itu lahir dari keakraban antara mereka yang saling berkomunasi. Doa Yesus dalam Injil Yohanes tadi mengungkapkan keakraban batin antara Yesus dengan Bapa. Dan para murid diajak belajar dari doa itu agar dapat mengakrabi Yang Ilahi sendiri sehingga orang berani ikut menyapa-Nya “Bapa”.

Akan ditambahkan beberapa catatan mengenai bacaan pertama (Kis 1:12-14) pada akhir surat-menyurat ini.

Selamat mengikuti!

A. Gianto



================

Gus yang baik!

Dalam bab 17 itu kucatat doa Yesus kepada Bapanya pada malam sebelum ia berpisah dengan para murid. Mereka ini tentunya ikut mendengar isi doa Yesus. Oleh sebab itu, mereka dapat juga merasakan keakraban yang ada di antara Yesus dengan Yang Mahakuasa yang sudah beberapa lamanya diperkenalkannya sebagai Bapa itu. Bagi para murid, ikut merasakan betapa dekatnya Yesus dengan Bapanya itu termasuk khasiat langsung doa itu. Yesus mengajarkannya bukan dengan serangkai penjelasan melainkan dengan doa dan mengikutsertakan mereka dalam pengalamannya sendiri. Ia berani meminta agar Bapanya memperhatikan dan memberikan hal-hal yang paling dibutuhkan.

Sebelum menjawab pertanyaanmu mengenai apa artinya “memuliakan”, marilah sebentar kita ingat hal yang tentunya tak amat asing lagi, yakni kemiripan doa Yesus di sini dengan doa Bapa Kami yang kalian kenal dari Luc dan Matt. Dalam Yoh 17:1-2 Yesus mengutarakan permohonan agar Bapa memuliakan dirinya supaya nanti ia juga dapat memuliakan Bapanya. Permintaan itu mengingatkan pada kata-kata “Bapa Kami yang ada di surga, dimuliakanlah (harfiahnya “dikuduskanlah” Luk 11:2 dan Mat 6:9) namaMu, datanglah kerajaanMu.”

Kemudian dalam ay. 4-5 Yesus mempersembahkan semua yang dilakukannya sebagai pemenuhan tugas yang diberikan Bapa sendiri kepadanya sejak dulu. Kalian akan ingat ungkapan “jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga.” Selanjutnya dari ay. 6-11 kita tahu Yesus membuat kita mengenal Bapa yang berfirman kepada kita semua lewat Yesus sendiri. Jelas yang dibawakan Yesus itulah rezeki hari demi hari yang membuat kita tetap hidup. Erat kaitannya dengan permohonan “berilah kami rezeki pada hari ini.” Kita ini kan hidup dari firmannya (Ul 4, Mat 4:4). Dalam ay. 15 yang tak ikut kalian bacakan, Yesus berkata, “…supaya Engkau (Bapa) melindungi mereka (para murid) dari yang jahat.” Doa ini amat mirip dengan “Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat” yang mengakhiri doa Bapa Kami. Jadi dalam saat-saat terakhir bersama murid-muridnya itu Yesus mengucapkan doa dengan sikap batin yang sudah sejak lama diajarkannya kepada murid-muridnya.

Boleh jadi rekan-rekanmu akan terbantu bila Yoh 17 diterangkan dengan rujukan kepada doa Bapa Kami seperti tadi. Sikap batin seperti itu dapat membuat kalian semakin meresapi arti “memuliakan” tadi. Bila berguna, pahami gagasan “memuliakan” dalam teks Injil Yohanes sebagai “Bapa membiarkan Putra menunjukkan kebesaran dirinya” sehingga nanti Putra dapat “menunjukkan kemuliaan Bapa”. Kucoba jelaskan berikut ini.

Yesus memohon agar Bapanya tetap mendampinginya pada hari-hari terakhirnya. Kami tahu Yesus minta kekuatan agar tak mundur menghadapi penolakan dari pihak orang-orang yang didatanginya. Ia mohon agar tidak dibiarkan sendirian ketika diperlakukan dengan buruk, dipersalahkan, dan bahkan sampai dihukum mati. Perhatian Bapa di dalam penderitaan yang mesti dilalui sampai akhir itulah yang diminta Yesus ketika ia berdoa agar Bapa memuliakan Putra. Ada satu hal yang perlu kutekankan. Permohonan Yesus agar disertai Bapa itu tidak dimaksud untuk meminta Bapa menyingkirkan penderitaan dari dirinya. Ia bahkan sudah berniat menjalani apa saja hingga selesai. Mengapa?

Kudalami perkara itu cukup lama. Satu ketika aku menduga bahwa Yesus yakin Bapanya di surga itu bisa tiba-tiba menyuruh malaikat-malaikat datang menolong Putra terkasih-Nya yang mendapat perlakuan buruk di dunia ini. Inilah yang digelisahkan Yesus. Ia khawatir Bapanya tak bisa menerima perlakuan tadi dan mengirim balatentara surga meremukkan lawan-lawan. Gus, mungkin tak pernah kau berpikir ke situ. Tapi itulah kiranya yang membuat Yesus memohon kepada Bapa agar dibiarkan menjalani semua itu sampai tuntas, sampai “sudah terlaksana” di kayu salib (Yoh 19:30). Yesus ingin agar dapat menunjukkan kepada dunia betapa Yang Ilahi tak segan mendekati dunia yang telah menyingkirinya.

Ia bahkan minta kepada Yang Mahakuasa agar membiarkannya mengalami jerih payah mempersaksikan hal ini. Inilah maksud Yesus ketika memohon kepada Bapa supaya Bapa “memuliakan” Putra, membiarkan Putra memperlihatkan kebesaran dirinya dalam penderitaan nanti. Ini semua perlu terjadi agar dunia tertebus dari kekuatan-kekuatan jahat. Yah, penebusan dunia itu kan yang sejak awal dimaui Yang Mahakuasa sendiri. Yesus mau memperlihatkan kepada dunia yang masih ada di bawah kuasa gelap bahwa Yang Mahakuasa tidak mundur dan melupakannya, tapi malah mendatanginya dan membawanya kembali di jalan benar menuju terang yang memberi hidup, dengan pengorbanan apapun. Begitulah pemahamanku mengenai permintaan Yesus agar Bapa memuliakan Putra.

Dengan cara tadi barulah kebesaran Bapa bisa ditunjukkan oleh Putra. Begitulah akan kelihatan bahwa Yang Mahakuasa itu bukan yang mau menang sendiri. Bila begitu dengan mudah semuanya bisa dijalankan. Tapi kerugiannya besar. Ia tidak akan tampil sebagai pribadi matang yang bisa menerima diri bahwa tidak sendirian lagi, dan menerima bahwa kebersamaan itu memiliki nilai tersendiri, sekalipun dapat menyakitkan. Rasa pilu melihat karya besarnya kini merosot ditanggungnya pula, juga kemarahan ditahanNya. Inilah kasih sayang yang menjadi inti kebesaran Yang Ilahi. Bila Ia tiba-tiba memasuki kembali jagat ini dan menatanya seperti dimauinya, maka manusia tidak ada harganya lagi. Sekedar barang mainan. Tapi bukan itulah maksudNya ketika Ia menciptakan kita. Bukankah Ia menjadikan manusia sebagai gambar dan rupa diriNya sehingga bisa menjadi “penerus”-nya di dunia ciptaan ini? Dan Putra yang diutusNya ke dunia itu, Putra terkasihnya itu, dialah yang bakal memungkinkan dunia melihat kebesaran Bapa yang demikian tadi.

Mudah-mudahan catatan di atas berguna. Jangan ragu-ragu bertanya lebih jauh. Bagiku juga hingga hari ini tetap ada sisi-sisi baru yang muncul.

Hans

================

Oom Hans yang baik!

Terima kasih buat masukan yang membuka pikiran itu. Ada pertanyaan lagi. Dalam ay. 3 tertulis kata-kata Yesus: “Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Heran, kok Yesus menyebut diri sebagai Yesus Kristus. Jangan-jangan ay. 3 itu Oom karang sendiri dengan maksud memberi catatan kaki pada ungkapan “hidup abadi” yang disebut Yesus dalam ay. 2?

Teriring salam, juga buat Oma Miryam, apa beliau senang bulan lalu sering dikirimi karangan bunga rosario ;-)?

Gus

================

Gus yang baik!

Memang Yoh 17:3 itu kumaksud untuk menjelaskan bagaimana orang bisa memperoleh hidup kekal yang disebut Yesus dalam ayat sebelumnya. Bukankah itu pertanyaan yang memenuhi batin orang banyak? Ingat pertanyaan orang kepada Yesus bagaimana caranya mencapai hidup kekal (Mrk 10:17, lihat juga Mat 19:16 Luk 18:18). Di situ Yesus mengajak orang yang amat teguh beragama itu untuk melangkah lebih jauh ke dalam kerohanian sejati dan menemukan pengetahuan mengenai inti keilahian sendiri. Dalam kisah yang dilaporkan ketiga rekan penginjil itu Yesus mengajarkan, kalau orang mau sampai tingkat sempurna, tinggalkan apa-apa yang dipunyai dan amalkan bagi orang lain, lalu ikuti dia. Inilah pengetahuan sejati tadi. Nah dalam hubungan itulah Yoh 17:3 menjelaskan bahwa hidup kekal timbul dari kemauan untuk mengenali satu-satunya Allah yang benar dan mengakui Yesus Kristus sebagai utusan-Nya. Jalan ke hidup kekal ialah mengikuti Yesus dengan batin merdeka. Namun, sekali lagi ini bukan pengetahuan di kepala melulu, bukan pula sekadar kemantapan batin semata-mata, melainkan kesatuan diri dengan Yang Ilahi tanpa lebur ke dalamnya, tetapi dalam bimbingan sang Putra. Ini spiritualitas yang mematangkan batin.

Tengok juga Yoh 17:10. Di situ Yesus menegaskan bahwa dirinya sudah dimuliakan di dalam mereka yakni dalam diri murid-murid yang didoakan kepada Bapa itu. Murid-murid menemukan jalan benar sampai ke Bapa lewat Yesus. Ia bisa mengajak orang sungguh mendekat kepada Bapa tanpa luluh tapi malah semakin menemukan diri, seperti ia sendiri.

Ma Mir titip ucapan terima kasih, ia terharu mendapat banyak kiriman bunga rosario bulan ini.

Sampai lain kali,

Hans

TAMBAHAN DARI BACAAAN PERTAMA

Dalam Kis 1:12-14 digambarkan bagaimana setelah menyaksikan kenaikan Yesus para rasul kembali ke kehidupan mereka sehari-hari di Yerusalem. Ada bersama dengan mereka juga beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus. Marilah kita rasa-rasakan keadaan mereka. Meskipun telah menyaksikan bagaimana Yesus kini terangkat mulia, mereka sendiri sebenarnya sadar masih berada di sini, di dunia. Menarik ditengok bagaimana nama kota Yerusalem di sini, pada ayat 12, dieja dalam teks Yunaninya, yakni Ierousaleem. Bila ditulis demikian maka hendak dikatakan wilayah yang telah menolak Yesus dulu, dan tentunya para rasul juga merasakan penolakan itu. Mereka kini berkumpul – tentu dengan rasa waswas bagaimana nanti bila terus menerus dimusuhi, bahkan bisa jadi dihabisi oleh pihak-pihak yang mau menumpas kelompok Yesus ini.

Penulisan nama kota Yerusalem dalam karya Injil Lukas dan Kisah amat berperan. Disebutkan dalam Kis 1:3, Yesus yang telah bangkit mendatangi para rasul berulang-ulang selama 40 hari. Kemudian pada Kis 1:4 diceritakan bahwa ketika ia makan bersama mereka, ia pun melarang mereka meninggalkan Yerusalem – di sini dieja dalam satu bentuk Hierosolyma – untuk menantikan dipenuhinya janji Bapa tentang datangnya Roh Kudus bagi mereka. Bila dieja demikian, hendak ditampilkan wahana Yesus mendapatkan kemuliaan. Pada kesempatan itulah para rasul diminta agar tidak meninggalkan wahana seperti ini. Nanti ketika mereka melihat bagaimana Yesus diangkat ke surga, mereka diberitahu olehnya, Kis 1:8, bahwa mereka akan menerima kekuatan, yakni bila Roh Kudus turun ke atas mereka. Dan mereka akan menjadi saksi-saksinya di Yerusalem – dieja Ierousaleem – dalam arti lingkungan yang serba memusuhi

Nanti pada hari Roh Kudus turun ke atas para rasul, disebutkan dalam Kis 2:5 bahwa di Yerusalem – Ierousaleem – ada banyak orang Yahudi yang saleh yang berdatangan dari pelbagai penjuru bumi. Maksudnya, meski saleh mereka ini masih ada dalam pihak yang menolak. Kesalehan mereka bisa pula membuat mereka sendiri jauh bahkan menolak yang benar. Nanti dalam awal khotbah Petrus, Kis 2:14, mereka akan disapa demikian, dan sebentar kemudian mereka jadi sadar dan memilih ikut Yesus. Dan ini terjadi dalam kuasa Roh Kudus. Inilah konteks bacaan pertama hari Minggu ini.

Kelompok para rasul dan para perempuan yang dibicarakan dalam bacaan pertama kali ini mengujudkan komunitas orang-orang yang berada dalam wahana yang menerima Yesus yang bangkit. Mereka akan dikuatkan oleh Roh Kudus untuk tidak mundur hidup di lingkungan yang tidak selalu menerima dan bahkan memusuhi. Inilah warta bab-bab pertama dalam Kisah Para Rasul.

Salam hangat,

A. Gianto

Homili: Hari Minggu Paskah VI / A

Rekan-rekan yang baik!
 
Bacaan Injil Minggu Paskah VI tahun A ini (Yoh 14:15-21) dipetik dari "Wejangan-wejangan terakhir" Yesus yang tercantum dalam bab 14 Injil Yohanes. Minggu lalu telah dibacakan bagian pertama (Yoh 14:1-14). Di situ disampaikan bagaimana Yesus membesarkan hati para murid. Mereka diajak tetap berteguh pada jalan yang benar yang memberi hidup. Keteguhan inilah yang menumbuhkan iman. Hari ini dibacakan bagian kedua dari wejangan-wejangan itu. Gagasan pokoknya berkisar pada mengasihi. Memang keteguhan iman baru utuh bila ada kasih. Bacaan ini memberi pendalaman di seputar apa itu "kasih" dalam hubungan dengan keteguhan mempercayai Yesus tadi.
 
"Pesan-pesan terakhir" sebenarnya jenis tulisan yang pada zaman itu sudah umum dikenal. Tulisan seperti itu memuat ajaran seorang guru kebatinan bagi para murid yang sedang menghadapi saat-saat sulit. Yoh 14 termasuk teks yang dibuat dengan tujuan itu. Marilah kita dekati beberapa pokok sebagaimana terdapat dalam bacaan hari ini.
 
MENURUTI PERINTAH-PERINTAH?
 
Awal dan akhir petikan ini berbicara mengenai "menuruti perintah-perintahku". Disebutkan pada ayat 15, "Jikalau kamu mengasihi aku, kamu akan menuruti perintah-perintahku." Tentu saja kita akan bertanya perintah-perintah mana yang dimaksud. Namun sebelum melangkah lebih jauh, baiklah diteliti dulu pernyataan dalam ayat itu. Kalimat itu janganlah dimengerti sebagai "Bila kalian betul-betul mengasihiku, maka mestinya kalian menaati perintah-perintahku." Seolah-olah kecintaan terhadap guru perlu dibuktikan dengan melakukan hal-hal yang diperintahkan. Memang gagasan ini memiliki nilai sendiri, tapi bukan itulah maksud kalimat dalam ayat 15. Lalu apa? Kalimat itu justru menggarisbawahi kebalikannya. Ringkasnya, mengasihi Yesus itu bakal membuat orang dapat mengenal perintah-perintahnya dan menurutinya. Jadi mengasihi sang guru menjadi jaminan agar dapat memperhatikan perintah-perintah sang guru. Begitulah pada ayat 21 nanti terungkap bahwa siapa saja yang memegang dan menuruti perintah-perintahnya, dia itulah yang juga nyata-nyata mengasihinya. Oleh karena itu ia akan dikasihi Bapa dan Yesus sendiri.
 
Dalam ayat-ayat di atas "mengasihi" Yesus dipakai dalam arti mengakui kebesarannya dan meluangkan tempat bagi dia, setia kepadanya. Ini dari sisi murid. Dari sisi sang guru? Dikasihi oleh guru berarti menerima perlindungan darinya. Latar belakang ungkapan "mengasihi" ini ialah kehidupan umat Perjanjian Lama. Mereka dipilih, dikasihi, dilindungi, dipedulikan Allah, tapi sekaligus mereka diharapkan tetap setia dan memberi tempat pada-Nya..... Jadi mengasihi dalam pengertian itulah menjadi dasar bagi "menuruti perintah-perintah". Meskipun kata yang dipakai sama, ungkapan itu tidak hanya menunjuk kepada perintah yang pernah diucapkan sang guru. Oleh karena itu tidak juga melulu dipusatkan pada perintah saling mengasihi (Yoh 13:34 15:12). Patut dicamkan kata "perintah" di kedua ayat ini bentuknya tunggal sedangkan dalam Yoh 14:15 dan 21 jamak.
 
Yang dimaksud dengan "perintah-perintah" di dalam petikan ini ialah kekuatan-kekuatan yang menggerakkan dari dalam dan disadari datang dari hubungan batin dengan sang guru sendiri. Demikian maka tindakan para murid tidak bersumber dari diri dan kemauan mereka sendiri. Tindakan mereka dijiwai oleh kehadiran guru mereka dalam diri mereka. Orang banyak akan melihat perilaku dan tindakan-tindakan para murid Yesus menghadirkan kembali Yesus sendiri. Hidup mereka seakan-akan menyuratkan perintah dari atas yang dapat dibaca orang banyak. Dalam hal ini hidup mereka menjadi kesaksian. Tapi sebagai kesaksian bisa terjadi pula dalam hal-hal tertentu tindakan murid menghadirkannya, dalam hal lain kurang. Bahkan bisa jadi mereka kehilangan kepekaan akan "perintah-perintah" tadi dan berubah jadi orang yang tidak lagi bisa dikatakan murid, atau orang yang tidak lagi berhubungan dengan yang ilahi.
 
SANG PENOLONG DAN DAYA-DAYA BATIN
 
Dalam ayat 16 disebutkan Yesus akan minta kepada Bapa agar memberi Penolong yang lain yang menyertai murid-murid selamanya. Dalam bahasa Yunani Injil Yohanes, Penolong itu disebut "parakleetos", yakni dia yang selalu siap dipanggil datang membantu, memberi uluran tangan di saat-saat gelap, menuntun di jalan yang licin. Dialah yang akan dikirim dari atas sana menyertai murid-murid. Ia akan menunjukkan jalan ke pegangan yang sesungguhnya, yang bisa dipercaya, yang bukan tipuan dan mencelakakan. Maka ia disebut Roh Kebenaran. Jadi para murid boleh merasa aman? Ya. Bagaimana kehadiran Roh Kebenaran dapat dirasakan?
 
Bagaimana Penolong itu bertindak? Tentu dalam diri murid-murid sendiri, dalam ketajaman batin mereka masing-masing untuk membedakan yang benar dari yang keliru, dalam kepekaan hari nurani mereka dalam bertindak menurut kebenaran. Jadi semacam "discernment" membeda-bedakan pelbagai gerakan dalam batin. Dalam bahasa Injil Yohanes hari ini, gerakan-gerakan batin yang datang dari atas sana itu disebut "perintah-perintah". Jelas mengikat dan membawa orang bertindak. Sekali lagi perlu diingat bahwa dasarnya ialah "bila kalian mengasihi aku". Tanpa ini, gerakan-gerakan itu malah akan mengacaukan dan membuat orang mandul kerohaniannya, mlungker batinnya. Perintah-perintah yang datangnya bukan dari sana itu mengurangi kemerdekaan batin, dan bisa-bisa malah mencekik.
 
PENGUTUSAN DAN PERUTUSAN KE "DUNIA"
 
Dalam Yoh 14:17 dikatakan bahwa "dunia" tidak dapat menerima Roh Kebenaran karena tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Ditegaskan selanjutnya bahwa para murid mengenal Dia sebab ia menyertai mereka dan akan tinggal di dalam diri mereka. Ayat ini sarat dengan muatan rohani.
 
Pertama-tama hendak disoroti bahwa menjadi murid Yesus itu berarti hidup mewaspadai gerak gerik kekuatan-kekuatan jahat, yakni "dunia". Dalam Injil Yohanes kata "dunia" (kosmos) dipakai dalam arti seperti itu. (Di dalam tulisan-tulisan Perjanjian Baru lainnya kata kosmos tampil lebih dalam arti netral, tempat manusia hidup.) Bagi Yohanes, tempat manusia hidup itu, dunia, sudah dikuasai kegelapan. Dunia tidak mengenal Sang Sabda lagi walaupun diciptakan olehNya. Jadi dunia itu menyangkal asal usulnya sendiri dan dengan demikian mengubah diri menjadi tempat kegelapan, bukan tempat terang yang diciptakan oleh Sabda pada hari pertama itu. Karena itulah dalam Yoh 14:17 dikatakan dunia tidak bisa menerima Roh Kebenaran. Dunia seperti itu tidak memiliki kepekaan akan kehadiran-Nya. Lebih buruk lagi, dunia tidak mengenal asal usulnya sendiri. Tidak tahu asal serta tujuannya. Ini penderitaan terbesar. Namun rupa-rupanya dunia yang demikian ini bahkan tidak tahu bahwa menderita kehilangan persepsi akan asal dan tujuan sendiri.
 
Semua ini disodorkan kepada murid bukan untuk mengecam dunia dan menghukumnya, melainkan agar mengasihaninya dan mencarikan jalan bagi yang ada dalam kegelapan. Dalam upaya inilah murid-murid akan dikuatkan oleh dampingan Roh Kebenaran dan bimbingan sang Penolong sendiri. Jadi pengetahuan bahwa sang Penolong datang itu bukan untuk ditimang-timang belaka dan menjamin rasa aman sendiri, melainkan agar diamalkan demi kembalinya dunia kepada terang. Jadi ada pengutusan dan perutusan yang besar bagi para murid. (Pengutusan = perihal mengutus; perutusan = bersangkutan dengan pengalaman diutus.)
 
Dalam cara berpikir Yohanes, para murid itu bahkan jadi tempat Roh Kebenaran tinggal. Seperti kemah tempat berlindung di padang gurun yang penuh bahaya. Sekali lagi gambaran ini membuat murid-murid menyediakan diri bagi orang-orang yang terancam kekuatan-kekuatan gelap "dunia" yang menolak kehadiran ilahi tadi.
 
PENERAPAN BAGI GEREJA
 
Bila "Pesan-pesan terakhir" Yesus yang disampaikan Yohanes itu berisikan pengutusan dan perutusan sebesar itu, bagaimana penerapannya bagi orang biasa yang hidup di zaman ini? Kan sudah lama kita sadar wahana kehidupan kita tidak intrinsik buruk, malah jadi kalangan yang bisa makin memanusiakan - eh - menyosialisasikan gereja, kalau kata itu belum terlalu menggelembung kena inflasi di Indonesia. (Atau malah sudah gembos?)
 
Peneliti teks dan pengintip makna seperti saya tidak bisa bicara mengenai kenyataan sehari-hari seperti orang lapangan. Namun demikian saya melihat pengutusan dan perutusan murid-murid bukan sebagai panggilan agar menjauhi dunia, seburuk apapun, melainkan untuk mencarinya dan mengajaknya bicara. Lambat laun nanti dunia yang macam apapun itu akan mulai samar-samar mendengar suara Penolong yang tinggal dalam diri murid-murid atau siapa saja yang merasa jadi murid Yesus. Banyak dari mereka saya lihat jadi pendidik, entah di ruang kelas atau di masyarakat. Pendidik seperti ini bahkan akan belajar banyak dari keanekaragaman masyarakat yang diterjuni. Dan dalam dialog seperti itu akan tercipta keadaan yang baru yang dapat menjadi alternatif "dunia" lama yang kacau karena kegelapan. Gereja akan mengubah diri menjadi kumpulan orang yang bisa berbicara dengan kekuatan-kekuatan segelap apapun dan mengajaknya berjalan ke terang.
 
Satu catatan lagi. Bila kita ikuti cara berpikir Oom Hans, maka hubungan dengan kebenaran itu terjadi bukan dengan meng-klaim kebenaran atau mempersaksikan diri demikian. Ini sering berakhir dengan silang pendapat. Oom Hans bicara mengenai mengasihi kebenaran, artinya membiarkan diri dengan ikhlas dirasuki kebenaran. Murid yang sampai pada taraf ini akan menikmati hadirnya Parakleetos dan memperoleh hikmat dari Roh Kebenaran.
 
 
Salam,
A.Gianto

Homili: Hari Minggu Paskah V (Yesus bersabda: “Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”))


Rekan-rekan yang budiman!
 
Dalam Injil Minggu Paskah V tahun A ini (Yoh 14:1-12) Yesus menghibur para murid, "Janganlah gelisah hatimu...!" (ay. 1). Tidak selalu mudah mengerti arah perkataannya itu. Yesus sendiri beberapa kali gundah. Perasaannya campur aduk ketika melihat Maria menangisi kematian Lazarus (11:33), ia gundah ketika menyadari bakal mengalami kematian di salib (12:27), dan dengan berat hati ia menyebutkan bahwa salah satu di antara mereka akan berkhianat (13:21). Mengapa ia menghibur murid-muridnya?
 
PERLINDUNGAN
 
Di dalam kesadaran orang pada zaman itu, pengalaman paling menyeramkan ialah merasa "tertinggal" di luar, tak ada yang mengurus. Dalam keadaan ini orang merasa seperti berada di luar pintu kota pada malam hari, sewaktu-waktu bisa dimangsa oleh penyamun dan serigala. Dengan latar inilah Injil Yohanes berbicara mengenai tempat yang paling memberi rasa aman. Tempat itu ialah kediaman Bapa sendiri. Di situ Yang Maha Tinggi berkuasa. Tak ada yang dapat mengganggu gugat mereka yang berdiam di dekatnya.
 
Dikatakan dalam Yoh 14:2 bahwa di sana ada banyak "tempat tinggal". Ini cara untuk mengatakan bahwa siapa saja boleh dan bisa menemukan ketenteraman dan perlindungan di dekat Yang Mahakuasa. Tidak lagi akan ada yang bakal merasa ditinggalkan. Tidak usah berebut dan waswas bakal tidak mendapat tempat.... Yesus datang memberitahukan hal itu. Seperti ditegaskannya dalam ay. 2, dia sendiri akan menyiapkan tempat itu, dan bila nanti ia sudah selesai ia akan kembali dan membawa murid-murid ke tempat yang aman itu tadi. Dan mereka takkan berpisah lagi dengannya. Murid-murid dikuatkan agar mantap hatinya. Itulah arti ajakan untuk mempercayai Bapa dan mempercayai Yesus dalam ay. 1.
 
JALAN, KEBENARAN, DAN KEHIDUPAN
 
Yesus memperhatikan keadaan murid-muridnya. Ia dapat dibayangkan sebagai "gembala yang baik". Ia juga berlaku sebagai "pintu". Begitulah petikan yang dibicarakan Minggu lalu. Kali ini ada kiasan lain untuk memperkenalkan siapa Yesus itu. Dipakai gagasan "jalan". Jalan ialah arah yang perlu dilalui, ditempuh agar sampai ke tujuan. Ada tumpang-tindih dengan kiasan "pintu". Kedua-duanya perlu dilalui agar sampai ke tujuan. Pintu titik awal dan di luar itu ada jalan yang perlu ditempuh. Di luar pintu itu banyak bahaya. Pada jalan yang benar ada jaminan akan sampai ke tujuan. Jalan yang sejati itu bukan barang yang berhenti, yang tinggal diam, melainkan jalan yang betul-betul bisa membawa ke tujuan. Jalan itu jalan yang hidup.
 
Tiga kiasan, yakni "jalan", "kebenaran", "hidup", diterapkan pada diri Yesus yang telah berjanji akan datang kembali untuk membawa murid-murid ke tempat mereka nanti dapat sungguh-sungguh berbagi kehidupan dengan Yang Mahakuasa sendiri. Ketiga kiasan itu ditampilkan untuk menjawab Tomas yang mengeluh bahwa murid-murid tidak tahu ke mana Yesus pergi (ay. 5). Murid-murid memang belum melihat jelas arah yang sedang dijalani Yesus. Bagaimana murid-murid bisa terus mengikutinya bila arah yang ditempuh Yesus tidak jelas bagi mereka? Itulah pertanyaan para pengikut Yesus, juga hingga hari ini.
 
Keinginan mencapai hidup abadi dan bahagia memang menjadi dasar kehidupan ini. Namun demikian, sering jalan ke sana tidak pasti. Oleh karena itu banyak macam usaha. Dan "agama" ialah upaya menjawab kebutuhan akan jalan yang pasti itu. Dalam menjalani agama, orang yang percaya semakin mendekat kepada yang dituju. Perlahan-lahan orang terbawa ke sana. Dan nanti pada satu saat akan tercapai. Jadi tujuan menjadi makin nyata justru dalam berupaya menempuh jalan itu sendiri. Tujuan yang dimaksud bukanlah tempat yang ada di "sana", hanya tinggal diarah saja. Sebenarnya dapat dikatakan, tujuan itu sendiri makin ke-"sini". Inilah kiranya yang hendak diajarkan Yesus kepada Tomas.
 
FILIPUS DAN KENDALA KEPERCAYAAN
 
Dalam Yoh 14:9-14 ada penjelasan bagi Filipus yang mohon agar Yesus "menunjukkan Bapa". Seperti kebanyakan murid lain dan para pengikut Yesus sepanjang zaman, Filipus berharap bisa melihat dengan mata kepala sendiri tujuan yang mau dicapai tadi. Orang ingin mendapat pengalaman yang membuat tunduk dan mantap percaya. Inilah yang dimaksud Filipus ketika berkata, "itu sudah cukup bagi kami". Tapi ada kendala yang mengganjal.
 
Boleh dikata, agar percaya dibutuhkan kemantapan. Ini kendala yang bisa mengurung orang dalam lingkaran setan. Pemecahan yang terpikir biasanya seperti diusulkan Filipus tadi: biarkan kami melihat Bapa, dan akan mudah bagi kami untuk percaya. Tapi Filipus tidak sadar bahwa bila sudah melihat Bapa maka "percaya" sebetulnya tidak ada banyak artinya lagi. Justru percaya itu hidup dengan sisi-sisi yang tidak pasti. Menerima ketidakpastian itu dengan ikhlas, membuat orang menjadi orang yang "percaya".
 
Jawaban bagi kendala yang dialami Filipus tadi diberikan dalam ay. 9-14. Dikatakan, hendaknya cara berpikir seperti Filipus tadi tidak dijadikan cara untuk sampai kepada sikap percaya. Akan macet dan akan menuai kekecewaan. Malah orang akan kehilangan pegangan satu-satunya yang sudah ada, yakni Yesus sendiri yang akan membawa murid-murid kepada Bapa dan membawakan Bapa kepada mereka! Dia itu kan "jalan", ia itu kan "kebenaran", dan ia "hidup"! Pembaca yang jeli akan menangkap gema kata-kata Yesus kepada Tomas sebelumnya.
 
Uraian kepada Filipus itu bukan semata-mata ajaran di seputar kesatuan antara Yesus dan Bapanya, melainkan jawaban bagi masalah kepercayaan yang paling dalam dan paling sulit. Pada dasarnya jawaban itu seperti berikut. Bila mau percaya, hendaklah mulai dengan menjauhi kepercayaan yang dibuat sendiri, seperti halnya keinginan untuk melihat Tuhan dan menggapai-Nya! Ini gagasan semu dan akan membuat orang menangkap kekosongan. Tak bakal sampai. Mulailah dengan yang sudah ada di dekat tetapi yang bukan hasil buatan dan idam-idaman sendiri. Itulah kehadiran Yesus dalam hidup murid-murid. Kehadiran ini membukakan macam-macam dimensi dalam hidup ini. Dia itulah yang membuat tujuan yang rasanya mengawang tadi menjadi dekat, menjadi bagian dalam hidup. Yang muncul dalam keseharian.
 
PEKERJAAN-PEKERJAAN BESAR?
 
Ay. 12 menyebutkan bahwa siapa yang percaya kepada Yesus akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya, bahkan yang lebih besar daripada itu. Yang dimaksud bukanlah mengerjakan mukjizat, penyembuhan, membuat tanda-tanda yang membuat orang takluk. Dengan "pekerjaan-pekerjaan" di situ dimaksud hidup pribadi yang dapat mempersaksikan kepercayaan kepada Bapa yang hadir di dalam Yesus itu. Praktisnya, hidup dalam kumpulan orang yang percaya, yang merasa terpanggil untuk meluangkan tempat bagi kenyataan ilahi di dalam hidup ini dan mengakuinya di hadapan orang banyak. Itulah Gereja dalam arti yang paling apa adanya.
 
Gereja dapat melakukan hal-hal yang tak terpikirkan dan tak terbayangkan sebelumnya, yakni membawakan keilahian ke dunia ini. Keprihatinan utama bukan lagi untuk menggapai dan mencapai Yang Ilahi yang di "sana", melainkan membawakan-Nya ke "sini". Itulah yang dimaksud dengan "pekerjaaan-pekerjaan besar". Dan hingga hari ini Gereja tetap dipanggil untuk menjalankan pekerjaan-pekerjaan besar ini.
 
KOMITMEN SOSIAL GEREJA DAN KEHADIRAN SABDA
 
Dalam bacaan pertama (Kis 6:1-7) dikisahkan bagaimana komunitas para pengikut Yesus mulai berkembang. Dengan jumlah yang besar maka keragaman serta perbedaan kebutuhan makin terasa. Dan inilah yang terjadi. Ada sebagian yang merasa kurang mendapat perhatian para pemimpin yang karena keterbatasan manusiawi tidak begitu melihat kebutuhan mereka. Jalan keluarnya menarik. Dua cara ditempuh sekaligus. Yang pertama ialah mengatur, mengorganisir, membuat manajemen yang memadai kebutuhan. Kini tidak lagi pemimpin mengurus segala-galanya melainkan dibantu ketujuh diakon umat, yakni orang-orang yang bertugas melayani anggota yang kurang terjangkau. Yang kedua, ialah mengusahakan agar para rasul, para pemimpin, lebih memusatkan perhatian pada doa dan pelayanan sabda dan semakin merohanikan peran mereka. Begitulah dua cara ini, manajemen yang memadai dan pemantapan peran kerohanian para pemimpin berangsur-angsur memberi bentuk pada komunitas gerejawi yang semakin bertumbuh itu. Inilah sebabnya mengapa sejak awal gereja hingga kini ditandai dengan komitmen sosial yang penuh tetapi sekaligus juga menjadi penghadir kenyataan Sabda. Keduanya bahkan menjadi ukuran ketepercayaan gereja. Bila hanya ada salah satu maka sulit dikatakan gereja sungguh memungkinkan komunitas para pengikut Kristus hidup dan berkembang seperti dikehendakinya, yakni menghadirkan kemurahan Yang Maha Kuasa dan sekaligus mempercayai dia yang amat dekat dengan Yang Maha Kuasa yang diperkenalkannya sebagai Bapa.
 
MENEMUKAN JALAN YANG BENAR DAN YANG HIDUP
 
Di zaman kita ini makin tumbuh kesadaran bahwa ada pelbagai jalan yang mengarah ke tujuan yang sama. Lalu apakah praktisnya bisa dikatakan "banyak agama, tujuan sama"? Luruskah amatan ini? Pluralitas kepercayaan menjadi titik tolak? Perkara sensitif. Dan makin peka bila berkaitan dengan ajaran agama. Tetapi sering kita terpaksa mengakui seperti Tomas tidak tahu mana arah yang sesungguhnya. Syukurlah Tomas, dan siapa saya yang seperti Tomas, diajak melihat bahwa ada jalan, ada kebenaran, dan ada yang membawakan kehidupan.
 
Tersirat adanya pembedaan antara "jalan, kebenaran, dan hidup" dengan mereka yang menempuhnya. Orang-orang yang menempuh jalan mau tak mau akhirnya akan menemukan jalan yang satu-satunya bagi dia dan tidak merasa butuh berpindah-pindah lagi. Kebenaran justru akan makin ditemukan di dalam menempuh arah yang ditekuni itu. Dalam arti ini dapatlah dikatakan ia menemukan "jalan, kebenaran, dan hidup". Namun demikian, dalam menjalaninya akan berkembang juga keragaman, justru karena jalan itu jalan yang hidup, bukan jalan yang sudah selesai dan tinggal dilalui dan habis perkara. Bahkan yang dituju sendiri itu hidup, yakni Yang Ilahi sendiri. Apa yang paling berharga di dalam tiap tindakan menempuh jalan ini? Dalam bahasa sekarang, komitmen yang dijalani dengan tulus serta bertanggungjawab Itulah sikap keagamaan yang diajarkan kepada Tomas dan kepada Filipus dalam petikan Injil Yohanes yang dibacakan hari ini. Itu juga sikap yang diajarkan kepada pengikut Kristus. Dan kiranya masuk akal juga bila kumpulan orang dipanggil untuk percaya menawarkan sikap ini kepada semua orang yang berkemauan baik.
 
Salam hangat,
 
A. Gianto