Tampilkan postingan dengan label Masa Prapaskah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masa Prapaskah. Tampilkan semua postingan

Peraturan Puasa dan Pantang Regio Jawa Tahun 2026

 

PERATURAN PANTANG & PUASA REGIO JAWA TAHUN 2026

(Dibacakan sesudah pembacaan Surat Gembala Prapaskah)


Sesuai dengan Ketentuan Pastoral Keuskupan Regio Jawa 2017, Pasal 138 No. 2.b Tentang Hari Tobat, peraturan puasa dan pantang ditetapkan sebagai berikut :

    Hari Puasa tahun 2026 ini, dilangsungkan pada Hari Rabu Abu tanggal 18 Februari 2026, dan Hari Jumat Sengsara dan Wafat Tuhan (Jumat Agung), tanggal 3 April 2026. Hari Pantang dilangsungkan pada Hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaskah sampai dengan Jumat Sengsara dan wafat Tuhan.
 
    Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berumur 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Sedangkan yang wajib berpantang ialah semua orang katolik yang berumur genap 14 tahun ke atas.
 
    Puasa dalam arti yuridis, berarti makan kenyang hanya sekali (satu kali) sehari. Pantang dalam arti yuridis berarti tidak makan daging atau makanan lain yang disukai, dan tidak merokok. Berhubung peraturan puasa dan pantang cukup ringan, maka sebaiknya agar secara pribadi atau bersama-sama (dalam keluarga, biara, pastoran, lingkungan, seminari), menyepakati cara puasa dan pantang yang dirasa lebih sesuai dengan semangat tobat dan matiraga yang mau dinyatakan.
 
    Hendaknya diusahakan agar setiap orang beriman kristiani, baik secara pribadi maupun bersama-sama, mengusahakan pembaharuan hidup rohani, misalnya dengan rekoleksi, retret, latihan rohani, tekun dalam ibadat jalan salib, meditasi, pengakuan dosa, adorasi, dan tekun mendalami materi APP.

    Salah satu ungkapan tobat ialah Aksi Puasa Pembangunan (APP) yang diharapkan mempunyai nilai pembaharuan pribadi dan nilai solidaritas tingkat lingkungan, paroki, keuskupan, dan nasional. Hendaknya di setiap paroki berdasarkan masukan dari lingkungan mengadakan kegiatan sosial konkret yang membantu masyarakat, misalnya donor darah, pasar murah, dan lain-lain.

 

Masa Prapaskah dan Matiraga

Masa Prapaskah merupakan suatu tradisi dalam Gereja Katolik untuk mempersiapkan diri menyambut Hari Raya Paskah. Apakah Masa Prapaskah ditetapkan oleh Tuhan Yesus sendiri? Jawabannya adalah tentu tidak. Namun demikian, sebagai umat Katolik kita mengimani bahwa Gereja Katolik yang dilembagakan oleh Kristus sendiri, berhak untuk menetapkan segala sesuatu yang bertujuan untuk membangun iman umatnya. Gereja Katolik bagaikan ibu kita yang menyediakan segala fasilitas yang diperlukan bagi anaknya untuk menjalani hidup yang utuh dan bahagia.

Masa Prapaskah berawal dari (t)radisi mempersiapkan katekumen (calon baptis) yang hendak menerima Sakramen Baptis pada Malam Paskah. Pada zaman dahulu, penerimaan Sakramen Baptis hanya dilangsungkan pada Malam Paskah, mengingat hubungan yang erat antara sakramen ini dengan Paskah Kristus. Orang yang menerima Sakramen Baptis, dikuburkan bersama Kristus dan bangkit kembali untuk menerima hidup baru. Seiring berjalannya waktu, periode persiapan bagi katekumen ini berkembang menjadi suatu periode mati raga/mortifikasi (penyangkalan diri) selama 40 hari yang di dalamnya termasuk Tri Hari Suci. Perlu dijernihkan di sini bahwa "Tri Hari Suci berlangsung mulai Misa Perjamuan Tuhan sampai Ibadat Sore Minggu Paskah" (DIREKTORIUM TENTANG KESALEHAN UMAT DAN LITURGI No.140). Ibadat Sore yang dimaksud di sini adalah Ibadat Harian dari buku Brevir. Jadi, Tri Hari Suci terdiri dari Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci. Adapun Misa Malam Paskah sudah tidak termasuk ke dalam Masa Prapaskah, melainkan peralihan ke Hari Raya Paskah.

Pantang dan puasa di luar hari Rabu Abu dan Jumat Agung dapat kita lakukan setiap hari selama Masa Prapaskah, KECUALI pada hari Minggu (karena kita SELALU merayakan hari Minggu sebagai HARI RAYA dan pangkal segala pesta, walaupun hari-hari Minggu Prapaskah tetap bernuansa pertobatan). Mengapa Masa Prapaskah terdiri dari periode 40 hari? Angka “40” dalam Kitab Suci muncul dalam berbagai peristiwa. Musa berada di Gunung Sinai selama 40 hari 40 malam, Elia melakukan menempuh perjalanan ke Gunung Horeb selama 40 hari 40 malam, dan Yesus sendiri berpuasa 40 hari 40 malam. Inti dari semua peristiwa itu sama. Ada suatu “perjalanan rohani” dalam periode tersebut. Hal ini tepat sejalan dengan dokumen gerejawi LITTERÆ CIRCULARES DE FESTIS PASCHALIBUS PRÆPARANDIS ET CELEBRANDIS atau PERAYAAN PASKAH DAN PERSIAPANNYA (PPP) No. 6 dikatakan bahwa “Masa Prapaskah tahunan adalah masa rahmat, karena kita mendaki Gunung Suci Hari Raya Paskah”. Maka dari itu, Masa Prapaskah tepat sekali kita manfaatkan untuk “menjadi manusia yang lebih baik”.

Dalam sejarah Gereja, banyak umat, baik secara individu maupun kelompok, melakukan upaya-upaya mati raga secara lahiriah. Seperti mencambuki diri sendiri dengan cambuk kecil, melakukan puasa yang ekstrim, memakai pakaian dari karung goni, dan sebagainya. Semua upaya mati raga ini dilakukan sebagai bentuk pertobatan. Saat ini, praktik-praktik mati raga semacam itu sudah tidak lazim dilakukan dalam Gereja (walaupun Gereja tidak melarang secara eksplisit, karena bagaimanapun bentuk-bentuk mati raga itu merupakan suatu devosional, sesuatu yang bersifat pribadi). Kini, mati raga kita bukan lagi “mencari penderitaan”, karena penderitaan selalu ada dalam kehidupan kita. Lalu bagaimana kita menjalani mati raga dalam Masa Prapaskah ini? Berikut tips-tips yang mungkin bisa diterapkan.

1. Pertama sekali, kita harus menyadari kehidupan rohani kita. Apakah kehidupan kita lebih baik dari tahun lalu atau malah lebih buruk? Apapun itu, kita bertekad untuk menjadi lebih baik melalui sarana Masa Prapaskah yang ditetapkan oleh Gereja.

2. Apakah dosa yang kita sering akui dalam Sakramen Tobat? (atau bahkan malah jangan-jangan kita sudah lama sekali tidak menerima Sakramen Tobat?) Dosa yang sering kita akui menunjukkan bagian mana dalam diri kita yang masih harus diperbaiki.

3. Tidak membuat komitmen mati raga yang “wah”. Buatlah komitmen yang sederhana tapi “berdaya guna”. Gereja Katolik mewajibkan PANTANG BERIKUT PUASA HANYA PADA hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Namun demikian, adalah baik bila kita tetap melakukannya pada hari-hari lain juga selama Masa Prapaskah. PUASA berarti makan kenyang sekali sehari pada satu jam makan. Pada jam makan lain kita mengurangi porsi makan kita sambil mengingat orang-orang yang berkekurangan. PANTANG berarti tidak melakukan yang kita sukai DENGAN DILANDASI MOTIVASI ROHANI, dengan kata lain sebagai KORBAN ROHANI. Seseorang yang karena satu dan lain hal harus mengurangi konsumsi gula karena diabetes, misalnya, tidak bisa berkata “Saya pantang gula” (karena memang pada dasarnya orang itu harus mengurangi gula demi kesehatan). Orang seperti ini sebaiknya mencari bentuk pantang lain. Lain halnya apabila seseorang “kecanduan” mengonsumsi gula, maka pantang gula bisa dilakukan, demi mengurangi “kelekatan” terhadap konsumsi gula. Demikian juga mereka yang sudah terbiasa menjadi vegetarian, tidak bisa berkata "saya pantang daging" pada Masa Prapaskah, namun ia bisa melakukan pantang yang lain.

4. Bentuk pantang tidak terikat, melainkan kita mencari sendiri bentuk-bentuk yang memupuk pertobatan batin. Berikut usulan pantang/komitmen sederhana yang dapat dilakukan sebagai bentuk mati raga :

a. mengurangi segala bentuk “kelekatan” (atau “kecanduan”, misalnya dalam hal merokok, konsumsi makanan tertentu, main games, media sosial internet ) dan menggantinya dengan kegiatan postif seperti menghadiri Misa harian, membaca dan merenungkan Kitab Suci, berdoa rosario, dan sebagainya

b. pantang mengawali dan mengakhiri hari tanpa doa (dengan kata lain, berkomitmen untuk berdoa setiap hari).

c. pantang datang terlambat menghadiri Misa (dengan kata lain, berkomitmen untuk datang lebih awal untuk berdoa Rosario sebelum Misa misalnya).

d. pantang mengeluh (ketika kesulitan datang tidak mengeluh melainkan mempersembahkan kesulitan itu “demi Yesus dan bagi keselamatan jiwa-jiwa”)

e. pantang menghamburkan uang dengan berkomitmen menyisihkan uang jajan atau biaya transport yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan (misalnya jika ke tempat kerja sebenarnya bisa menggunakan kendaraan umum, maka tidak perlu naik taksi), untuk diserahkan ke Gereja sebagai Aksi Puasa.

f. pantang cemberut (berkomitmen untuk tersenyum SEKALIPUN kita disakiti).

g. pantang menggunakan tas plastik ketika belanja (berkomitmen "think globally, act locally")


Apabila mati raga yang kita lakukan selama Masa Prapaskah kemudian terus berlanjut menjadi kebiasaan baik setelah Masa Prapaskah selesai, maka diharapkan kita menjadi manusia yang sedikit lebih baik daripada sebelumnya.

Akhir kata, segala perbuatan baik kita sebenarnya tidak membenarkan diri kita di hadapan Allah. Bapa hanya menerima perbuatan baik kita hanya kerena Kristus. Maka, jangan lupa untuk mempersembahkan segala mati raga (baca: korban rohani) kita kepada Bapa dengan menyatukannya dalam Korban Kristus dalam Ekaristi, misalnya dengan berdoa singkat atau berkata dalam hati, “Bapa, terimalah korban rohaniku yang kupersatukan dengan Kurban Kristus di altar.”

Semoga berguna. Mari kita bersama-sama berjuang hingga Hari Raya Paskah yang cerah!



~IOJC (tu scis quia amo te)~ Facebook Gereja Katolik

HOMILI: Rabu Abu (Yl 2:12-18; Mzm 51:3-4.5-6a.12-13.14.17; 2Kor 5:20 - 6:2; Mat 6:1-6.16-18)

"Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Mulai hari ini kita memasuki Masa Prapaskah, Masa Puasa atau Masa Retret Agung Umat dalam rangka mempersiapkan diri puncak iman kristiani, yaitu Hari Raya Trihari Suci, Wafat dan Kebangkitan Yesus, Penyelamat Dunia. Selama masa ini kita diajak untuk menerungkan tema "Makin Beriman, Makin Bersaudara, Makin Berbelarasa". Dengan kata lain sebagai umat beriman kita diajak dan dipanggil untuk hidup dalam persaudaraan sejati dan secara khusus memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan dalam lingkungan hidup dan kerja kita masing-masing. Selama masa Puasa kita juga diajak mawas diri perihal keutamaan "matiraga", yang secara harafiah berarti mematikan kebutuhan raga atau anggota tubuh, yang dapat diartikan mengendalikan derap langkah atau gerak raga atau anggota tubuh kita sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kehendak Allah. Kegiatan mawas diri ini kiranya dapat dilakukan secara pribadi atau bersama-sama (dalam keluarga, tempat kerja atau lingkungan umat). Hemat saya di masing-masing keuskupan pada umumnya juga menerbitkan panduan pendalaman iman selama Masa Puasa atau Masa Prapaskah, maka baiklah panduan kita gunakan dan kita berpartisipasi dalam pendalaman iman bersama.

"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."(Mat 6:1-4)

Kutipan sabda di atas ini mengajak dan mengingatkan kita semua agar dalam berbuat kepada orang lain tidak perlu berkoar-koar agar diketahui banyak orang dan dengan demikian menerima pujian dan sanjungan yang melimpah ruah, melainkan secara diam-diam saja. "Bapamu (Allah) yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu", demikian sabda Yesus. Demikian juga dalam rangka melakukan matiraga, lakutapa atau berpuasa hendaknya juga diam-diam saja.

Matiraga atau lakutapa masa kini sungguh mengalami kemerosotan atau erosi, mengingat semangat hedonis dan materialistis begitu menjiwai banyak orang, demikian juga budaya instant, terutama di kalangan generasi muda atau remaja. Bagi generasi muda atau remaja rasanya hal itu bukan karena kesalahan mereka, namun karena orangtua mereka yang tidak tahu bagaimana mendidik dan mendampingi anak-anaknya dalam menghadapi perubahan dan perkembangan zaman. Sebagai contoh HP (hand phone), yang menurut data statistik di Indonesia pada tahun 2010 ada sekitar 180 juta pemakai HP. Menurut pengamatan saya HP tanpa sadar membentuk pribadi pemakainya memiliki semangat instant atau apa yang diinginkan harus segera dilayani, dengan kata lain hilang keutamaan kesabaran berproses maupun pengalaman `kegagalan atau keterbatasan'.

Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua, umat beriman, untuk memberi sedekah, dan tentu saja perlu dijiwai pengorbanan diri atau matiraga atau lakutapa. Selama masa Prapaskah kiranya juga diselenggarakan kegiatan Aksi Puasa Pembangunan, entah itu berupa kegiakan fisik dengan bergotong-royong guna memperbaiki sarana-prasarana masyarakat yang rusak, menyisihkan sebagai harta benda atau uang untuk kemudian disalurkan bagi mereka yang miskin dan berkekurangan, pendalaman iman dst.. Kami harapkan anda semua berpartisipasi dalam aneka kegiatan tersebut, dan tentu saja jangan melupakan anak-anak dan generasi muda untuk berpartisipasi di dalamnya, karena kegiatan ini juga mengandung pendidikan atau pembinaan matiraga atau lakutapa. Didiklah dan binalah anak-anak dan generasi muda dalam hal matiraga atau lakutapa, "to be man/woman with/for others". Kepekaan sosial, saling membantu sama lain hendaknya dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak dan generasi muda, terutama membantu mereka yang miskin dan berkekurangan.

"Tetapi sekarang juga," demikianlah firman TUHAN, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh." Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu" (Yl 2:12-14)

Selama masa Prapaskah kita diharapkan mawas diri, terutama atau lebih-lebih apa yang ada di dalam hati kita. Kiranya yang mengetahui isi hati saya adalah saya sendiri, sedangkan orang lain hanya menduga-duga saja. "Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan", demikian peringatan bagi kita semua. Memang apa yang ada dalam hati kita, yang kemudian muncul dalam pikiran, yang menentukan cara hidup dan cara bertindak kita, maka bukalah, koyakkan hati anda, agar anda sendiri juga mengetahui dengan benar dan tepat apa yang ada di dalam hati anda.

Di dalam doa malam, doa harian, ada `pemeriksaan batin/hati', yang berarti kita diharapkan setiap hari memeriksa hati atau batin kita masing-masing. Dalam hati kita pasti ada yang baik dan buruk, namun pada umumnya lebih banyak apa yang baik daripada apa yang buruk. Maka pertama-tama hendaknya dicari dan ditemukan apa-apa yang baik yang ada di dalam hati kita, agar dengan demikian kita memiliki kekuatan dan keberanian untuk melihat dan mengakui apa yang buruk yang ada di dalam hati kita. Hendaknya kita tidak takut dan tidak malu mengakui apa yang buruk yang ada di dalam hati kita, toh kiranya kita semua tidak ada satu pun yang sungguh memiliki hati bersih dan jernih, karena kita adalah orang-orang yang lemah dan rapuh.

Kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang lemah, rapuh dan berdosa rasanya identik dengan kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang sungguh beriman, mengingat dan memperhatikan bahwa iman merupakan anugerah Allah, dan kita kita sungguh beriman berarti menerima anugerah Allah melimpah ruah. "Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (2Kor 5:20-21), demikian kesaksian iman Paulus. Kesaksian iman Paulus ini kiranya dapat menjadi teladan dan cermin bagi kita semua.

"Dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah", inilah kiranya yang baik kita renungkan atau refleksikan. Jika ada yang benar dan baik dalam diri kita tidak lain adalah terutama karena Allah, buah jerih payah atau usaha kita, dan kita hanya pekerjasama yang lemah dan rapuh. Kami berharap dalam aneka kegiatan selama masa Prapaskah kita semakin memahami dan menghayati kebenaran tersebut, dan akhirnya kita juga dapat berkata seperti Paulus "Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami". Jika kita mampu menasihati saudara-saudari kita tidak lain karena Allah dan kita hanyalah perantara atau penyalur kehendak dan sabda Allah, maka semakin bijak seseorang pada umumnya yang bersangkutan juga semakin rendah hati, lemah lembut.

"Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa" (Mzm 51:3-6a)

Rabu, 13 Februari 2013

Romo Ignatius Sumarya, SJ 

Peraturan Pantang dan Puasa 2012

PERATURAN PUASA DAN PANTANG 2012

Mengacu Statuta Keuskupan Regio Jawa 1995 pasal 136 peraturannya ditetapkan sebagai berikut:

1. Hari Puasa tahun 2012 ini dilangsungkan pada hari Rabu Abu tanggal 22 Februari, dan Jumat Agung tanggal 6 April. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.

2. Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berumur 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berumur genap 14 tahun ke atas.

3. Puasa dalam arti yuridis, berarti makan kenyang hanya sekali sehari. Pantang dalam arti yuridis, berarti memilih tidak makan daging atau ikan atau garam, atau tidak jajan atau merokok.

Karena peraturan puasa dan pantang cukup ringan, maka kami anjurkan, agar secara pribadi atau bersama-sama, misalnya oleh seluruh keluarga, atau seluruh lingkungan, atau seluruh wilayah, ditetapkan cara puasa dan pantang lebih berat, yang dirasakan lebih sesuai dengan semangat tobat dan matiraga yang ingin dinyatakan. Tentu saja ketetapan yang dibuat sendiri tidak mengikat dengan sanksi dosa. 10

4. Hendaknya juga diusahakan agar setiap orang beriman kristiani baik secara pribadi maupun bersama-sama mengusahakan pembaharuan hidup rohani, misalnya dengan rekoleksi, retret, latihan rohani, ibadat jalan salib, meditasi, dan sebagainya.

5. Salah satu ungkapan tobat bersama dalam masa Prapaska ialah Aksi Puasa Pembangunan atau APP, yang diharapkan mempunyai nilai dan dampak pembaharuan pribadi, serta mempunyai nilai dan dampak peningkatan solidaritas pada tingkat paroki, keuskupan dan nasional.

Tema APP tahun 2012 ini berbunyi: “KATOLIK SEJATI HARUS PEDULI DAN BERBAGI” sebagaimana diuraikan dalam buku-buku yang diterbitkan oleh Panitia APP Keuskupan Agung Semarang.

Dalam rangka APP tersebut semua dana yang diperoleh dari aksi pengumpulan dana selama masa Prapaska dari paroki, lembaga hidup bakti, lembaga-lembaga gerejawi, pendidikan dan kelompok-kelompok kategorial lainnya, termasuk kolekte Minggu Palma tanggal 31 Maret/1 April 2012, sesuai dengan Pedoman Keuangan dan Akuntansi Paroki Keuskupan Agung Semarang 2008 Pasal 3 ayat 2, Pasal 5 ayat 3.2, Pasal 10 ayat 1.2, dan surat Uskup Keuskupan Agung Semarang kepada 11

Majelis Pendidikan Katolik, No. 052/A/XI/11/02, tanggal 28 Januari 2002, ditetapkan: 25% tinggal di paroki / masing-masing sekolah 75% dikirim kepada:

PANITIA APP KAS

Jl. Imam Bonjol 172, Semarang 50132 Jikalau dikirim melalui bank, harap melalui:

1. BANK SAHABAT PURBA DANARTA,

Jl. Veteran 7, Semarang 50231 Rekening No.: 1 0 0 0 0 2 9 8 6 2 a/n. Delsos Keuskupan Agung Semarang

2. BANK CIMB NIAGA – Jl. Pemuda, Semarang

RC. No. 015-01-65089-12-6 a/n. Keuskupan Agung Semarang QQ. Komisi PSE Selanjutnya, dana 75% tersebut di atas akan disalurkan oleh Panitia APP KAS: 25% untuk kevikepan masing-masing; 20% untuk Panitia APP KAS; dan 30% untuk dana APP Nasional / DSAK.


Perayaan Ekaristi: Hari Rabu Abu 9 Maret 2011

RITUS PEMBUKA

LAGU PEMBUKA

TANDA SALIB DAN SALAM

PENGANTAR

SERUAN TOBAT
I. Saudara-saudari marilah mengakui bahwa kita telah berdosa supaya layak merayakan peristiwa penyelamatan ini.
I+U. Saya mengaku kepada Allah yang mahakuasa dan kepada Saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa. Oleh sebab itu saya mohon kepada Santa Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus dan kepada Saudara sekalian, supaya mendoakan saya pada Allah Tuhan kita.
I. Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal.
U. Amin.

TUHAN KASIHANILAH KAMI

DOA PEMBUKA
I. Marilah kita berdoa
I. Allah Bapa kami yang maharahim, perkenankanlah semua pengikut Kristus memasuki masa Prapaska ini. Kuatkanlah kami agar mampu menentang kuasa kejahatan. Semoga kami dapat menyangkal diri dan menemukan kekuatan karena berpuasa dan berpantang. Demi Yesus Kristus, Putera-Mu, Tuhan kami yang bersama Dikau dan Roh Kudus hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa.
U. Amin.

LITURGI SABDA

BACAAN PERTAMA (Yl 2:12-18)

"Sekarang juga, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh."

Pembacaan dari Kitab Nubuat Yoel:
"Sekarang," beginilah firman Tuhan, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan mengaduh. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, lalu meninggalkan berkat menjadi kurban sajian dan kurban curahan bagi Tuhan, Allahmu. Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang lanjut usia, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah pengantin laki-laki keluar dari kamarnya, dan pengantin perempuan dari kamar tidurnya. Baiklah para imam, pelayan-pelayan Tuhan, menangis di antara balai depan mezbah, dan berkata, "Sayangilah, ya Tuhan, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa-bangsa: Di mana Allah mereka?" Maka Tuhan menjadi cemburu karena tanah-Nya dan menaruh belas kasihan kepada umat-Nya.

Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN (PS 813)
Ref. Mohon ampun kami orang berdosa. Ya Tuhanku, hapuslah dosaku.
Ayat Mazmur:
1. Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu menurut besarnya rahmat-Mu hapuskanlah pelanggaranku. Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!
2. Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, dosaku selalu terbayang di hadapanku. Terhadap Engkau sendirilah aku berdosa, yang jahat dalam pandangan-Mu kulakukan.

BACAAN KEDUA (2Kor 5:20 - 6:2)

"Berilah dirimu didamaikan dengan Allah, sesungguhnya hari ini adalah hari penyelamatan."

Pembacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus:
Saudara-saudara, kami ini adalah utusan-utusan Kristus; seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami. Dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Kristus yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihati kamu supaya kamu jangan membuat sia-sia kasih karunia Allah yang telah kamu terima. Sebab Allah berfirman, "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau." Camkanlah, saat inilah saat perkenanan itu; hari inilah hari penyelamatan itu.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

BAIT PENGANTAR INJIL (PS 965)
Refr. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Solis. Hari ini kalau kamu mendengar suara-Nya janganlah bertegar hati!

BACAAN INJIL (Mat 6:1-6.16-18)

"Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan mengganjar engkau."

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:
Dalam khotbah di bukit Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, "Hati-hatilah, jangan sampai melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat. Karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong supaya dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri di rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu, 'Mereka sudah mendapat upahnya.' Tetapi jika engkau berdoa masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu, dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu, 'Mereka sudah mendapat upahnya.' Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."
I. Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

HOMILI

DOA BERKAT ATAS ABU

I. Saudara-saudari terkasih, dengan rendah hati marilah kita mohon kepada Allah Bapa yang maharahim, agar berkenan melimpahkan rahmat-Nya dan memberkati abu ini. Abu ini akan ditandakan pada dahi kita, sebagai tanda tobat, sesal atas segala dosa dan kelalaian di masa lalu, dan tekad merasuk manusia baru dalam Roh-Nya

(hening sejenak)

I. Allah Bapa yang mahakudus, langit dan bumi adalah karya tangan-Mu. Semuanya itu akan berlalu. Hanya Engkaulah yang tetap sama dalam belas kasih cinta-Mu kepada umat manusia. Kasihanilah kami, sebagaimana dahulu mengasihani Ninive yang bertobat kepada-Mu. Baharuilah hati kami, dan jadikanlah suci. Kembalikanlah kepada kami kebahagiaan dan berkat keselamatan, karena kami merendahkan diri di hadapan-Mu.
Berkatilah abu ini,
menjadi tanda pembawa selamat, karena kami lemah dan umur kami singkat. Ciptakanlah kami lagi, menjadi manusia baru seturut citra Yesus Al masih, yang datang untuk menjadikan kami putera-puteri-Mu, dalam masa Prapaska ini. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami.
U. Amin.

PEMBAGIAN ABU

(Kemudian, abu dibagikan kepada umat, dengan menaburkan di ubun-ubun atau menerakan "tanda salib dengan abu" pada dahi sambil berkata:)

P. "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil"
U. Amin.

(Selama penerimaan abu, instrumentalia atau lagu iringan yang sesuai dapat dinyanyikan)

DOA UMAT
(ada beberapa pilihan lain)

I. Marilah memohon kepada Bapa kita di surga supaya mengutus Roh Kudus, agar kita ditobatkan dan diperbaharui. Marilah kita berseru:
U. Tuhan, perbaruilah kami dengan Roh-Mu.

L. Bagi Gereja: Ya Bapa, semoga Gereja menyuarakan sabda Allah yang menantang dengan seutuh-utuhnya. Marilah kita berdoa:
U. Tuhan, perbaruilah kami dengan Roh-Mu.

L. Bagi para pemimpin bangsa: Ya Bapa, semoga para pemimpin bangsa kami menjadi semakin sadar akan tanggung jawab mereka dalam mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat. Marilah kita berdoa:
U. Tuhan, perbaruilah kami dengan Roh-Mu.

L. Bagi semua orang yang mengandalkan kenikmatan material dan melimpahkannya kepada mereka: Ya Bapa, semoga semua orang menaruh harapannya hanya pada harta surgawi. Marilah kita berdoa:
U. Tuhan, perbaruilah kami dengan Roh-Mu.

L. Bagi mereka yang hanya memperhatikan kesenangan mereka sendiri dan yang hanya mengikuti keinginan mereka sendiri: Ya Bapa, semoga mereka mulai membuka hati bagi kepentingan sesama dan menghargai pendapat orang lain. Marilah kita berdoa:
U. Tuhan, perbaruilah kami dengan Roh-Mu.

L. Bagi mereka yang kehilangan iman kepada Tuhan dan yang kecewa dalam hidup ini: Ya Bapa, semoga perkataan dan perbuatan kami menunjukkan karya cinta kasih-Mu, sehingga dapat menyemangati mereka kembali. Marilah kita berdoa:
U. Tuhan, perbaruilah kami dengan Roh-Mu.

I. Allah Bapa kami, jadikanlah kami hari ini keselamatan; jadikanlah masa ini masa ini masa berahmat. Jadikanlah Putra-Mu sinar terang bagi seluruh dunia, dan bebaskanlah kami semua dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami.
U. Amin.

LITURGI EKARISTI

LAGU PERSIAPAN PERSEMBAHAN


DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN

I. Berdoalah, Saudara-saudari, supaya persembahanku dan persembahanmu berkenan pada Allah, Bapa yang mahakuasa.
U. Semoga persembahan ini diterima demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita serta seluruh umat Allah yang kudus.
I. Allah Bapa yang maharahim, pada permulaan masa tobat ini kami mempersembahkan roti dan anggur dan mohon kepada-Mu kekuatan agar mampu mengekang keinginan jahat dengan usaha tobat dan amal kasih. Bersihkanlah kiranya kami dari segala dosa, supaya layak merayakan sengsara Kristus, Tuhan, dan pengantara kami.
U. Amin.

KUDUS
DOA SYUKUR AGUNG
BAPA KAMI
ANAK DOMBA ALLAH
KOMUNI

DOA SESUDAH KOMUNI
I. Marilah kita berdoa:
I. Allah Bapa di surga, sumber belas kasih, kami bersyukur telah menerima sakramen-Mu pada masa awal tobat ini. Berilah kami bantuan-Mu, agar pantang dan puasa kami berkenan di hati-Mu serta berguna bagi keselamatan kami. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami.
U. Amin.

RITUS PENUTUP

BERKAT

LAGU SYUKUR

Jadwal Perayaan Ekaristi Rabu Abu



RETRET AGUNG “PER MARIAM AD IESUM”


RETRET AGUNG
“PER MARIAM AD IESUM”



Keuskupan Agung Semarang


Saudari-saudaraku terkasih dalam Tuhan,

Mengakhiri Surat Gembala Pra-Paska 2011 Keuskupan Agung Semarang saya menyampaikan ajakan saya, “Sebagai orang Katolik sejati, marilah kita juga bersedia diantar oleh Maria, bunda Allah dan bunda Gereja, kepada Yesus, “per Mariam ad Iesum”. Maria telah menjadi teladan beriman kita. Seluruh hidupnya telah menjadi kesempatan untuk menyimpan segala peristiwa dan merenungkannya dalam hatinya. Setiap kali kita berdoa rosario, dalam sinar peristiwa-peristiwa Tuhan: gembira, terang, sedih dan mulia, kita diajak untuk merenungkan peristiwa-peristiwa hidup kita sendiri sebagai peristiwa-peristiwa keselamatan yang dilaksanakan oleh Allah sendiri.”

Yang diharapkan terjadi selama 40 hari itu saya utarakan, “Dalam waktu 40 hari masa Pra-Paska, dengan berdoa dan berpuasa, kita masuk ke dalam misteri hidup, sengsara dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus, pokok keselamatan dan andalan hidup kita. Di dalam misteri Kristus kita tenggelamkan hidup kita dengan segala dimensinya, dalam realitas konkrit, dalam jaringan relasi segala arah. Dengan kekuatan Roh Kudus yang kita sadari bekerja dalam diri kita, kita akan menjadi semakin siap untuk menjadikan hidup kita berkat bagi yang lain, terutama bagi mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel.”

Melalui media ini saya tawarkan cara sederhana, agar retret agung tersebut dapat dilakukan di tengah kesibukan kerja yang padat. Tentu sangat berguna menyisihkan waktu untuk berdoa hening dalam hari-hari kehidupan kita. 24 jam sehari, 7 hari seminggu telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Dan agar keseimbangan hidup terjadi ada satu hari Tuhan, “Dies Dominica”, yang kita khususkan untuk Tuhan. Kenyataannya, di antara pekerjaan-pekerjaan kita ada waktu untuk hening tersebut. yang kita luangkan untuk Tuhan. Dalam bahasa Latin biasa disebut “vacare Deo”.

Selama retret ini kita didampingi, dan diantar oleh Maria agar semakin dekat mengikuti Yesus, semakin dalam mengenal-Nya, dan semakin mesra mencintai-Nya dengan berdoa ROSARIO. Sebut saja retret jenis ini dengan nama “RETRET AGUNG PER MARIAM AD IESUM”. Sambil mendaraskan rosario, kita renungkan peristiwa-peristiwa hidup, sengsara dan kebangkitan Tuhan: Peristiwa Gembira, Peristiwa Terang, Peristiwa Sedih, dan Peristiwa Mulia.

Sepanjang hidup kita pun kita alami peristiwa-peristiwa serupa. Dalam meditasi tentang peristiwa-peristiwa hidup kita, kita dapat menemukan, mengakui, melukiskan peristiwa-peristiwa tersebut dengan penuh syukur karena Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Lukisan peristiwa-peristiwa hidup dapat dikembangkan menurut cara seorang wartawan melengkapi berita, dengan menjawab WHAT ?, WHO?, WHEN?, WHERE? WHY?, HOW?.

Langkah-langkah:

PERSIAPAN:

1. Hadirlah pada perayaan Ekaristi hari Sabtu/Minggu menjelang Rabu Abu. Dengarkan baik-baik Surat Gembala Pra-Paska yang ditulis untuk mengantar umat memasuki masa persiapan merayakan Paska Kristus. Biasanya Uskup diosesan menulis Surat Gembala Pra-Paska yang dibacakan bagi umat.

2. Hari-hari berikutnya menjelang Rabu Abu digunakan untuk mempersiapkan diri, agar hati terbuka terhadap bimbingan Roh Kudus untuk melaksanakan retret ini.

3. Siapkan beberapa perlengkapan untuk retret, misalnya: Kitab Suci, Rosario, Buku untuk membuat Catatan Harian Retret Agung Per Mariam Ad Iesum, alat tulis, dll.

4. Hadirlah pada perayaan Ekaristi Rabu Abu, untuk menerima abu, tanda pengingat bahwa kita manusia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah.

PELAKSANAAN:

1. 40 hari Retret Agung Per Mariam Ad Iesum kita isi dengan doa ROSARIO, sambil merenungkan peristiwa Yesus dan peristiwa kita dalam dua hari, secara berkelanjutan sampai selesai. Satu peristiwa direnungkan dalam dua hari, dengan membanding-bandingkan peristiwa Yesus dan peristiwa kita. Dua hari pertama dimulai dengan renungan peristiwa gembira 1. a. Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel (Luk 1:26-38), yang dibandingkan dengan renungan peristiwa gembira kita 1. b. Ibu saya menerima kabar gembira bahwa saya dikandungnya, misalnya. Begitu seterusnya sampai 20 peristiwa Yesus dan peristiwa kita selesai direnungkan selama 40 hari

2. Renungan dimulai dengan doa singkat untuk menghaturkan syukur kepada Tuhan, dan mohon rahmat agar dapat merenungkan bahan retret dengan baik.

3. Dalam ulah rohani ini kita kenal langkah-lagkah rohani untuk “necep sabda, neges karsa, ngemban dhawuh”. Langkah-langkah itulah yang dapat kita lakukan untuk mengisi masa Pra Paska kita menjadi masa retret agung.


a. Dalam langkah “necep sabda”, kita buka telinga kita untuk mendengarkan sabda Allah, yang bersabda melalui Kitab Suci. Sabda itu terasa manis karena meneguhkan perbuatan baik kita, namun sabda itu bisa pahit kalau mengkritik perbuatan salah kita. Seharusnya sebagai orang Katolik sejati kita biarkan daya kekuatan sabda itu mengubah hati kita.

b. Dalam langkah “neges karsa” kita menjajagi apa kehendak Tuhan bagi hidup kita, membeda-bedakan mana kehendak Tuhan, mana kehendak kita; dan kemudian menegaskan bahwa kehendak Tuhanlah yang harus kita utamakan dalam kehidupan kita.


c. Dalam langkah “ngemban dhawuh”, kita bangun kehendak hati dan budi kita karena kita bertekad melaksanakan kehendak Tuhan “ngemban dhawuh Dalem Gusti” dalam kehidupan kita.

4. Bahan renungan: peristiwa-peristiwa dalam doa rosario dan peristiwa hidup kita: Peristiwa Gembira; Peristiwa Terang; Peristiwa Sedih; Peristiwa Mulia (Lihat. http://id.wikipedia.org/wiki/Doa_Rosario)


5. Catatlah butir-butir renungan dalam Catatan Harian Retret Agung Per Mariam Ad Iesum. Akan sangat bermakna bagi pengembangan hidup rohani, bila buah renungan tersebut dapat di-sharing-kan dengan teman/sahabat kepercayaan.

6. Hadirilah pertemuan-pertemuan pendalaman iman umat selama masa Pra-Paska. Barangkali bila ada pertemuan pendalaman iman umat lingkungan, buah-buah renungan tersebut dapat di-sharing-kan pula sesuai situasi dan kondisi.

Silakan menggunakan waktu retret agung selama 40 hari untuk mengikuti Yesus Tuhan kita semakin dekat, mengenal-Nya semakin dalam, dan mencintai-Nya semakin mesra.

Salam, doa ‘n Berkah Dalem,

Semarang, 5 Maret 2011

+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Rabu Abu, permulaan Masa Prapaskah

Rabu Abu adalah permulaan Masa Prapaskah, yaitu masa pertobatan, pemeriksaan batin dan berpantang guna mempersiapkan diri untuk Kebangkitan Kristus dan Penebusan dosa kita.

Mengapa pada Hari Rabu Abu kita menerima abu di kening kita? Sejak lama, bahkan berabad-abad sebelum Kristus, abu telah menjadi tanda tobat. Misalnya, dalam Kitab Yunus dan Kitab Ester. Ketika Raja Niniwe mendengar nubuat Yunus bahwa Niniwe akan ditunggangbalikkan, maka turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. (Yunus 3:6). Dan ketika Ester menerima kabar dari Mordekhai, anak dari saudara ayahnya, bahwa ia harus menghadap raja untuk menyelamatkan bangsanya, Ester menaburi kepalanya dengan abu (Ester 4C:13). Bapa Pius Parsch, dalam bukunya "The Church's Year of Grace" menyatakan bahwa "Rabu Abu Pertama" terjadi di Taman Eden setelah Adam dan Hawa berbuat dosa. Tuhan mengingatkan mereka bahwa mereka berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu. Oleh karena itu, imam atau diakon membubuhkan abu pada dahi kita sambil berkata: "Ingatlah, kita ini abu dan akan kembali menjadi abu" atau "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil".
Abu yang digunakan pada Hari Rabu Abu berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telah dibakar. Setelah Pembacaan Injil dan Homili abu diberkati. Abu yang telah diberkati oleh gereja menjadi benda sakramentali.

Dalam upacara kuno, orang-orang Kristen yang melakukan dosa berat diwajibkan untuk menyatakan tobat mereka di hadapan umum. Pada Hari Rabu Abu, Uskup memberkati kain kabung yang harus mereka kenakan selama empat puluh hari serta menaburi mereka dengan abu. Kemudian sementara umat mendaraskan Tujuh Mazmur Tobat, orang-orang yang berdosa berat itu diusir dari gereja, sama seperti Adam yang diusir dari Taman Eden karena ketidaktaatannya. Mereka tidak diperkenankan masuk gereja sampai Hari Kamis Putih setelah mereka memperoleh rekonsiliasi dengan bertobat sungguh-sungguh selama empat puluh hari dan menerima Sakramen Pengakuan Dosa. Sesudah itu semua umat, baik umum maupun mereka yang baru saja memperoleh rekonsiliasi, bersama-sama mengikuti Misa untuk menerima abu.

Sekarang semua umat menerima abu pada Hari Rabu Abu. Yaitu sebagai tanda untuk mengingatkan kita untuk bertobat, tanda akan ketidakabadian dunia, dan tanda bahwa satu-satunya Keselamatan ialah dari Tuhan Allah kita.

Selamat memasuki Masa Prapaskah.


sumber : Catholic Online Lenten Pages; www.catholic.org/lent/lent.html &
Ask A Franciscan; St. Anthony Messenger Magazine; www.americancatholic.org

Mengapa salib ditutup dengan kain ungu?

Berikut ini adalah terjemahan dari “Saint Joseph Catholic Manual” (copyright 1956)

Masa Sengsara Yesus:

Masa Sengsara Yesus dimulai pada Minggu ke- 5 Masa Prapaska, yang dikenal sebagai Minggu Sengsara, dan dari hari itu sampai Paska, Gereja masuk lebih dalam lagi ke dalam Kisah Sengsara Tuhan Yesus dan membawa sengsara-Nya lebih dan lebih dalam lagi ke hadapan umat-Nya. Liturgi mengesampingkan semua lambang suka cita dan menampilkan dalam kata dan perbuatan, kesedihan dan penitensi yang harus mengisi setiap jiwa orang Kristen pada saat merenungkan peristiwa- peristiwa akhir dalam kehidupan Penyelamat kita di dunia ini.

Sebelum Vespers pada hari Sabtu sebelum Minggu Sengsara, crucifix (salib Yesus), patung-patung dan gambar-gambar di altar dan di sekitar gereja ditutup dengan kain ungu polos, kecuali gambar-gambar Jalan Salib. Salib Tuhan Yesus ditutupi kain ungu sampai hari Jumat Agung, sedangkan patung- patung dan gambar- gambar lainnya tetap ditutup sampai pada saat Gloria pada Sabtu Suci. Patung-patung dan gambar- gambar para malaikat dan santa-santo ditutup, untuk menunjukkan bahwa Gereja membungkus dirinya sendiri dan berkabung saat Tuhannya sedang mempersiapkan Diri untuk mengalami kesengsaraan dan kematian untuk menebus dunia. Dengan semua tanda-tanda lahiriah dan upacara Masa Sengsara, umat beriman diingatkan bagaimana Tuhan dalam keilahian-Nya di sepanjang masa sengsara-Nya, dan dengan penglihatan dan pendengaran, para pendosa diingatkan agar bertobat dan menarik diri semakin jauh dari kesenangan- kesenangan duniawi, dengan mendevosikan diri semakin dalam kepada doa- doa Masa Prapaska dan merenungkan kisah sengsara Kristus yang telah wafat demi kasih-Nya kepada mereka.


Sumber: http://www.katolisitas.org/2010/03/06/mengapa-salib-ditutup-kain-ungu-mengapa-memanggil-bapa-pada-paus-pastor/

Surat Gembala Prapaska KAS 13-14 Februari 2010

SURAT GEMBALA PRAPASKA

13-14 FEBRUARI 2010

Para Ibu dan Bapak, Para Suster, Bruder, Rama,

Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus.

1. Sebentar lagi kita memasuki masa Prapaska. Pada masa Prapaska kita diajak untuk membangun sikap tobat. Sikap tobat yang benar diwujudkan dalam pilihan hidup yang mengandalkan Tuhan. Orang yang diberkati adalah orang yang mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan pada-Nya. Demikian Nabi Yeremia menghayati Sabda Tuhan: “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!” (Yer 17:7). Sedangkan orang yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan hatinya menjauh dari Tuhan adalah orang yang terkutuk. Orang-orang yang terberkati diibaratkan pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air. Membangun sikap tobat yang benar berarti senantiasa menempatkan kekuatan sendiri dalam sumber air sejati, Tuhan yang berbelaskasih.

2. Masa Prapaska juga merupakan masa yang penuh rahmat. Dengan senantiasa mentautkan diri pada sumber air sejati yakni Tuhan yang berbelas kasih, hidup kita selalu diperbarui. Pembaruan hidup orang beriman digambarkan oleh Nabi Yeremia: “...daunnya tetap hijau, ... tidak kuatir dalam tahun kering dan ... tidak berhenti menghasilkan buah” (Yer 17:8). Santo Paulus menghayati pembaruan hidup dengan keyakinan yang mendalam akan Kristus yang senantiasa hidup: “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati.” (1Kor 15:20). Pembaruan hidup yang dikerjakan oleh rahmat Allah membuat hidup kita selalu menghasilkan buah, kendati berada dalam ‘tahun kering’ dan ‘panas terik’.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

3. Tahun kering dan panas terik kehidupan kita sering membuat orang tidak berdaya, putus asa, mudah menyerah, patah semangat, tidak menghasilkan buah kehidupan. Tahun kering dan panas terik kehidupan masyarakat kita saat ini mendambakan tatanan hidup bersama yang menyejahterakan semakin banyak orang, penghormatan terhadap martabat pribadi manusia, pengelolaan lingkungan hidup yang manusiawi. Bacaan Injil hari ini memberikan inspirasi bagi kita untuk ‘tidak berhenti menghasilkan buah’. Tahun kering dan panas terik kehidupan saat ini bukan hambatan bagi orang beriman. Tahun kering dan panas terik kehidupan bukan alasan untuk menangisi keadaan. Tahun kering dan panas terik adalah kesempatan untuk membarui hidup dan menghasilkan buah pertobatan. Kemiskinan membangkitkan semangat untuk berbagi. Kelaparan membangkitkan semangat untuk berbela rasa. Kesedihan dan tangis membangkitan semangat untuk melayani dengan tulus hati. Kebencian dan kejahatan membangkitkan semangat untuk membalas kejahatan dengan kebaikan.

4. Karena itu, masa Prapaska bukan hanya kegiatan ritual belaka, tetapi gerakan rohani yang diwujudkan dalam aksi. Kita biasa menyebutnya dengan Aksi Puasa Pembangunan (APP). Gerakan APP di Keuskupan Agung Semarang sudah berusia 40 tahun. Tema APP tahun ini adalah BERSYUKUR DENGAN BERTOBAT DAN BERBAGI BERKAT. Aksi Puasa Pembangunan pada tahun 2010 ditempatkan dalam Tahun Syukur Keuskupan Agung Semarang: syukur atas Arah Dasar 2006-2010 yang menumbuhkan habitus baru, syukur atas Keuskupan Agung Semarang yang berulang tahun ke 70 dan syukur atas Tahun Imam yang saat ini diisi dengan gerakan rohani: retret imam dalam hidup sehari-hari. Bacaan Injil Lukas meneguhkan pertobatan kita sebagai bentuk keikutsertaan menghayati solidaritas Kristus yang bersengsara dan wafat di kayu salib demi keselamatan semua orang. Kegiatan-kegiatan selama masa APP mengajak kita untuk semakin menyerupai Kristus. Pembaruan hidup umat beriman menjadi semakin serupa dengan Kristus, hanya akan terjadi kalau dapat melihat Kristus yang bangkit dalam diri saudari-saudara kita yang miskin, lapar, menangis, dibenci, dikucilkan, dicela.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

5. Pertobatan yang benar dihayati dengan mengandalkan Tuhan yang penuh rahmat sehingga menghasilkan gerakan syukur dan berbagi berkat. Syukur karena mengandalkan Tuhan. Bersama Tuhan yang berbelas kasih itu kita menemukan kesempatan untuk berbagi berkat. Tahun kering dan panas terik tidak memadamkan kebahagiaan kita dalam mewujudkan semangat berbagi berkat. Dalam diri yang miskin, lapar, menangis, dibenci, dikucilkan, dicela tetap ditemukan pijar-pijar kebahagiaan karena setiap orang dimampukan membangun sikap tobat dengan bersyukur dan berbagi berkat. Buah pertobatan dan habitus baru yang telah mulai tumbuh di Keuskupan Agung Semarang dan pantas diyukuri antara lain: meningkatnya solidaritas antar paroki, solidaritas antar anak sekolah, solidaritas melalui APP, gerakan peduli lingkungan, gerakan peduli pendidikan, gerakan peduli bencana. Masih perlu dirancang aksi yang berkelanjutan untuk mengembangkan semangat berbagi berkat dan habitus baru sekaligus mengisi Tahun Syukur Keuskupan Agung Semarang, misalnya pembentukan Panitia APP di setiap paroki dengan kinerja yang makin efektif.

6. Akhirnya saya mengucapkan selamat memasuki masa Prapaska. Semoga pembaruan rohani kita sungguh menjadi pengalaman pribadi, keluarga dan komunitas. Semoga usaha-usaha kita untuk membangun gerakan kepedulian baik secara pribadi, keluarga, kelompok dan komunitas mendapat peneguhan dari rahmat Allah. Semoga perayaan 70 tahun Keuskupan Agung Semarang, 40 tahun gerakan APP dan tahun syukur Arah Dasar semakin mengembangkan kita semua dalam semangat berbagi berkat. Saya mengucapkan terima kasih atas keterlibatan seluruh umat dalam membangun dan mengembangkan Umat Allah Keuskupan Agung Semarang sesuai dengan kemampuan dan kesempatan masing-masing. Salam dan berkat Tuhan bagi para Ibu, Bapak, Suster, Bruder, Rama serta seluruh keluarga, kelompok dan komunitas. Semoga Tuhan memberkati niat-niat baik kita.

Semarang, 2 Februari 2010

Pius Riana Prapdi, Pr

Administrator Diosesan KAS

PERATURAN PUASA DAN PANTANG 2010

Mengacu Statuta Keuskupan Regio Jawa 1995 pasal 136 peraturannya ditetapkan sebagai berikut:

Hari Puasa tahun 2010 ini dilangsungkan pada hari Rabu Abu tanggal 17 Februari, dan Jumat Agung tanggal 2 April.

Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.

Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berumur 18 tahun sampai awal tahun ke-60.

Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berumur genap 14 tahun ke atas.

Puasa dalam arti yuridis, berarti makan kenyang hanya sekali sehari.

Pantang dalam arti yuridis, berarti memilih tidak makan daging atau ikan atau garam, atau tidak jajan atau merokok.

Karena peraturan puasa dan pantang cukup ringan, maka kami anjurkan, agar secara pribadi atau bersama-sama, misalnya oleh seluruh keluarga, atau seluruh lingkungan, atau seluruh wilayah, ditetapkan cara puasa dan pantang lebih berat, yang dirasakan lebih sesuai dengan semangat tobat dan matiraga yang ingin dinyatakan. Tentu saja ketetapan yang dibuat sendiri tidak mengikat dengan sanksi dosa.


Hendaknya juga diusahakan agar setiap orang beriman kristiani baik secara pribadi maupun bersama-sama mengusahakan pembaharuan hidup rohani, misalnya dengan rekoleksi, retret, latihan rohani, ibadat jalan salib, meditasi, dan sebagainya.

Salah satu ungkapan tobat bersama dalam masa Prapaska ialah Aksi Puasa Pembangunan atau APP, yang diharapkan mempunyai nilai dan dampak pembaharuan pribadi, serta mempunyai nilai dan dampak peningkatan solidaritas pada tingkat paroki, keuskupan dan nasional.

Tema APP tahun 2010 ini berbunyi:

“BERSYUKUR DENGAN BERTOBAT

DAN BERBAGI BERKAT”


Semarang, 2 Februari 2010

Pius Riana Prapdi, Pr

Administrator Diosesan KAS


---------------------------

NAWALA PRAPASKAH

13-14 FEBRUARI 2010

Para Ibu lan Bapak, Suster, Bruder, Rama,

Kadang mudha, remaja lan para putra kang kinasih ing Sang Kristus.

1. Sadhéla manèh awaké dhéwé miwiti mangsa Prapaskah, kanggo mbangun sikap pamartobat. Sikap pamartobat kang bener diwujudake kanthi nduwèni pilihan urip tansah ngendelake Gusti. Wong kang binerkahan yakuwi wong kang ngemungaké Gusti lan njagakaké Pangéran. Ya koyo mangkono anggèné Nabi Yérémias nuhoni sabda Dalem Gusti: “Rahayu wong kang precaya marang Yahwé, lan Yahwé sing jumeneng kapitayané!” (Yer 17:7). Suwaliké, wong kang ngendelaké kekuwatané dhéwé lan atiné ngadoh saka Gusti kuwi wong kang bilai. Wong-wong kang binerkahan, bisa kaibarataké kaya wit kang tinandur ing sapinggiring banyu, kang oyot-oyote mrambat ing tuking banyu. Mbangun sikap pamartobat kang bener ateges tansah nunggalaké kekuwatané dhéwé karo tuking urip sejati, Gusti kang kebak ing welas asih.


2. Mangsa Prapaskah uga mangsa kang kebak nugraha Dalem Gusti. Kanthi tansah nunggalaké karo tuking urip sejati, yaiku Gusti kang kebak welas asih, urip tansah kabangun anyar. Urip anyar digambaraké dening Nabi Yeremias: “...gegodhongané tetep ijo, ... ing sajroning mangsa ketigo ora perlu ngrasa pakewuh lan ora pedhot ngetokake woh” (Yer 17:8). Santo Paulus nggilut urip anyar kanthi keyakinan kang jero mungguhing Sang Kristus kang Sugeng: “Sang Kristus wungu saka seda.” (1Kor 15:20). Urip anyar minangka pakaryan Dalem Gusti, ndadekake urip kita tansah ngetokake woh, sanadyan ing ‘mangsa ketigo’ lan ‘mangsa panas’.

Para sedulur kang kinasih ing Sang Kristus,

3. Mangsa ketigo lan mangsa panas sajroning urip bisa ndadèkaké kita kélangan kapitayan, nglokro, gampang kasoran, putung semangaté, ora ngétokaké woh ing sajroning urip. Mangsa ketigo lan mangsa panas ing sajroning masyarakat wektu iki ngantu-antu tatanan urip bareng kang murakabi wong akèh, ngurmati martabat pribadining manungsa, nata lingkungan urip kang luwih nguwongaké. Waosan Injil dina iki mènèhi suroso kanggo kita supaya tetep ngétokaké woh. Mangsa ketigo lan mangsa panas sajroning urip dudu alangan tumraping wong kang precaya marang Gusti. Mangsa ketigo lan mangsa panas sajroning urip dudu alesan kanggo nangisi kahanan. Mangsa ketigo lan mangsa panas iku kesempatan kanggo nganyaraké urip lan ngétokaké wohing pamartobat. Kahanan kesrakat nuwuhaké semangat gelem andum berkah. Kaluwèn nuwuhaké semangat bawa rasa. Rasa sedhih lan tetangisan nuwuhaké semangat ngladèni kanthi trusing ati. Rasa sengit lan tindak sing ora trep nuwuhaké semangat suko piwales apik marang kang tumindak culika.


4. Mula saka iku, mangsa Prapaskah iku dudu kegiatan rutin waé nanging gerakan rohani kang tundhoné tandang gawé. Awaké dhéwé kulina minggunakaké tembung Aksi Puasa Pembangunan (APP). Gerakan APP ing Keuskupan Agung Semarang wus dungkap 40 taun. Tema APP taun iki NGUNJUKAKE ATUR PANUWUN KANTHI PAMARTOBAT LAN ANDUM BERKAH. APP taun 2010 ana ing Taun Syukur Keuskupan Agung Semarang: atur panuwun awit Arah Dasar 2006-2010 kang nuwuhaké habitus anyar, atur panuwun awit Keuskupan Agung Semarang kang dungkap 70 taun lan atur panuwun awit Taun Imam kang wektu iki nganakake gerakan rohani: retret imam ing urip padinan. Waosan saka Injil Lukas neguhaké kegiatan APP minangka wujud anggoné awaké dhéwé nggilut marang Sang Kristus kang kerso nandhang sangsara sarta séda kasalib kanggo keslametané kabèh wong. Kegiatan sajroné APP ngajak kita supaya sangsaya ngèmperi Sang Kristus. Urip anyar, ngèmperi Sang Kristus, bisa kelakon manawa kita bisa nyumurupi Sang Kristus sing wungu ana ing sedulur-sedulur kang kesrakat, kaluwèn, nangis, disengiti, didohi, disiya-siya.

Para sedulur kang kinasih ing Sang Kristus,

5. Pamartobat kang sayekti diayahi kanthi ngendelaké Gusti kang kebak nugraha saéngga ngasilake gerakan atur panuwun lan andum berkah. Atur panuwun awit tansah ngendelaké Gusti. Kanthi berkah Dalem Gusti kang kebak ing welas asih iku, aku panjenengan nduwèni kesempatan kanggo andum berkah. Mangsa ketigo lan mangsa panas ora nyurutake pepénginan mujudaké semangat andum berkah. Kanggo sing kesrakat, kaluwèn, nangis, disengiti, didohi, disiya-siya, roso bungah ora bakal surut, nanging kepara murub amarga tetep ana daya kanggo mbangun sikap pamartobat kanthi atur panuwun lan andum berkah. Wohing sikap pamartobat lan habitus anyar tuwuh ngrembaka ing Keuskupan Agung Semarang, ing antarané: wujud solidaritas paroki, solidaritas ing antarané bocah-bocah sekolah, solidaritas lumantar APP, gerakan peduli lingkungan, gerakan peduli pendidikan, gerakan peduli bencana. Sabanjuré isih prelu dirancang aksi kanggo ngrembakané semangat andum berkah lan habitus anyar sisan gawé ngisi taun atur panuwun kanggo umat lan pasamuwan KAS, umpamané kanthi mbentuk Panitia APP ing saben paroki kang mempeng anggoné ngladèni umat.


6. Wusanané, aku panjenengan bisa miwiti mangsa Prapaskah kanthi ati sumadiyo. Muga urip anyar mungguhing karohanèn kita pancèn nyata dadi pengalaman pribadi, kulawarga, lan komunitas. Muga-muga pambudidaya kita kanggo mbangun gerakan kepedulian sacara pribadi, kulawarga, kelompok lan komunitas kateguhaké déning sih nugraha Dalem Gusti. Muga-muga pahargyan 70 taun Keuskupan Agung Semarang, 40 taun gerakan APP lan taun syukur Ardas sangsaya ngrembakaké kita kabèh mungguhing semangat andum berkah. Aku ngaturaké panuwun awit panyengkuyung saka kabèh umat sajroning mbangun lan ngrembakaké Pasamuwan Suci ing Keuskupan Agung Semarang miturut kabisané lan kesempatané dhéwé-dhéwé. Berkah Dalem Gusti kalubèraké kagem para Ibu, Bapak, Suster, Bruder, Rama sarta kulawarga, kelompok lan komunitas. Muga Gusti tansah mberkahi apa sing dadi niyat lan kesaguhan kita kabèh.

Semarang, 2 Fèbruari 2010

Pius Riana Prapdi, Pr

Administrator Diosesan KAS



Dalam Masa Prapaska kita diwajibkan :

• Berpantang dan berpuasa pada hari Rabu, 17 Februari dan hari Jumat Suci, 2 April 2010. Pada hari Jumat lain-lainnya dalam Masa Prapaska hanya berpantang saja.
• Yang diwajibkan berpuasa menurut Hukum Gereja yang baru adalah semua yang sudah dewasa sampai awal tahun ke enam puluh (KHK k.1252). Yang disebut dewasa adalah orang yang genap berumur delapanbelas tahun (KHK k.97 §1).
• Puasa artinya: makan kenyang satu kali sehari.
• Yang diwajibkan berpantang: semua yang sudah berumur 14 tahun ke atas (KHK k.1252).
• Pantang yang dimaksud di sini: tiap keluarga atau kelompok atau perorangan memilih sendiri sekurang-kurangnya satu dari kemungkinan-kemungkinan ini: pantang daging, pantang garam, pantang jajan, pantang rokok. Setiap orang Katolik sangat dianjurkan untuk memilih wujud pantangnya yang lebih tepat dan bermanfaat untuk membangun sikap tobat yang berguna untuk pengembangan imannya. Dengan demikian kita dijauhkan dari semangat legalistis dan minimalistis, dan dengan kesadaran pribadi berusaha mewujudkan hidup pertobatan kita, serta mengarahkan diri menuju hidup seorang beriman yang lebih berkualitas.
• Untuk menghormati dan mewujudkan maksud adanya masa khusus dalam Gereja, maka sangat dianjurkan agar perkawinan-perkawinan sedapat mungkin tidak dilaksanakan dalam masa Adven dan terutama Prapaska, kecuali ada alasan yang berat. Pastor paroki dimohon secara bijaksana mencermati dan mengambil kebijakan sebaik mungkin dalam situasi dan kebutuhan pelayanan umat ini.
• Bila ada perkawinan yang karena alasan yang bisa dipertanggungjawabkan dilangsungkan dalam masa Adven, atau khususnya Prapaska, atau pada hari lain yang diliputi suasana tobat, pastor paroki hendaknya rnemperingatkan para mempelai agar mengindahkan suasana tobat itu, misalnya jangan mengadakan pesta besar (Upacara Perkawinan, Komisi Liturgi 1976, hal.14), untuk mengurangi kemungkinan menimbulkan batu sandungan. Dimohon perhatian dan kepekaan serta kepedulian kita terhadap kebanyakan saudara-saudara kita yang sedang mengalami beban hidup saat ini.


Bagikan

Surat Gembala Prapaskah Kepausan 2010

Surat Gembala Prapaskah Kepausan 2010
“Kebenaran
Allah telah dinyatakan karena iman dalam Yesus Kristus”[1]



Saudara-saudari yang terkasih,
Setiap tahun, pada kesempatan Masa Prapaskah, Gereja mengundang kita untuk dengan tulus meninjau kembali hidup kita dalam cahaya Injil. Tahun ini, saya ingin menawarkan kepada Anda sekalian beberapa permenungan atas tema besar “keadilan”, dengan bertitik-tolak pada penegasan Paulus ini: “Kebenaran Allah telah dinyatakan karena iman dalam Yesus Kristus” (lih. Rom. 3:21-22).

Keadilan: “memberikan kepada yang berhak menerimanya”
Pertama-tama saya ingin melihat arti istilah “keadilan”, yang pada umumnya mengandung pengertian “memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya”, menurut rumusan kesohor dari Ulpianus, seorang ahli hukum dari kota Roma pada abad ketiga. Namun, pada kenyataannya, definisi klasik ini tidak menspesifikasi, “hak” manakah yang harus diberikan kepada setiap orang itu. Apa yang paling dibutuhkan orang, tidak dapat dijamin oleh hukum. Agar supaya orang dapat hidup dengan sepenuhnya, dibutuhkanlah sesuatu yang lebih mendalam, yang dapat diberikan kepadanya hanya sebagai suatu pemberian: kita dapat mengatakan, bahwa seseorang hidup dari cinta-kasih itu, yang hanya bisa disampaikan oleh Allah, sebab Dialah yang menciptakan pribadi manusia sesuai dengan citra dan gambaran-Nya. Barang-barang duniawi memang berguna dan sungguh dibutuhkan, ─ sesungguhnya Yesus sendiri memang menaruh keprihatinan untuk menyembuhkan mereka yang sakit, memberi makan kepada orang banyak yang mengikuti-Nya, dan pastilah Dia mengutuk sikap tidak-mau-tahu, yang bahkan pada jaman sekarangpun telah menyebabkan rutusan juta orang mengalami kematian karena kekurangan makanan, air dan obat-obatan,─ namun “keadilan distributif” itu tetap saja tidak bisa memberikan kepada manusia seluruh kepenuhan “haknya”. Sebagaimana manusia membutuhkan makanan, demikian pula dia, malah lebih lagi, membutuhkan Allah. Santo Agustinus mencatat: seandainya “keadailan adalah keutamaan untuk memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya … lalu di manakah keadilan seseorang, apabila dia meninggalkan Allah yang benar?” (De Civitate Dei, XIX, 21).

Apakah Penyebab Ketidakadilan
Penginjil Markus melaporkan kata-kata Yesus berikut ini, yang disisipkannya di dalam perdebatan pada waktu itu tentang apa yang mencemarkan dan tidak mencemarkan orang: "Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya." Kata-Nya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat” (Mrk. 7:14-15.20-21). Lebih jauh dari masalah yang secara langsung menyangkut makanan, kita dapat menemukan dalam reaksi orang-orang Farisi di sana, hadirnya godaan yang selalu ada pada diri manusia: yakni untuk menempatkan asal-usul kejahatan di dalam sesuatu yang ada di luar manusia. Juga kini pun, jauh di dalam lubuk pemikiran-pemikiran modern adalah pengandaian ini: karena ketidakadilan datang “dari luar”, maka agar supaya keadilan berjaya, cukuplah kita menyingkirkan penyebab luaran yang menghalanginya itu. Yesus memperingatkan: cara berpikir yang seperti itu terlalu dangkal dan sempit. Ketidakadilan, sebagai buah dari yang jahat, tidak bersumber hanya pada yang luaran saja; asal-muasalnya terletak di dalam hati manusia itu sendiri, yang benih-benihnya berada secara tersembunyi di dalam kerja-sama manusia dengan yang jahat. Inilah juga yang dengan pahit diakui oleh si Pemazmur: “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku” (Mzm. 51:7). Memang benar, manusia sangat diperlemah oleh suatu pengaruh yang sangat besar, yang bahkan melukai kemampuannya untuk masuk ke dalam persekutuan dengan orang lain.

Sebenarnya pada dasarnya manusia memiliki keterbukaan untuk berbagi secara bebas dengan orang lain, namun didapatinya juga di dalam dirinya suatu kekuatan asing berupa suatu daya-tarik yang membuatnya berbalik kepada dirinya sendiri dan mengafirmasikannya di atas dan melawan orang lain: inilah egoism, buah dan akibat dari dosa asal. Adam dan Hawa, tergoda oleh dusta tipuan si Iblis, dengan memetik buah misterius itu yang bertentangan dengan perintah Allah, telah menggantikan cara berpikir logis untuk menaruh kepercayaan kepada Cintakasih dan menukarnya dengan pola pikir logis kecurigaan dan persaingan; menggantikan sikap menerima dan mengharapkan dengan penuh kepercayaan kepada Yang Lain itu, dan menukarnya dengan mengambil secara bernafsu dan bertindak dari dirinya sendiri (bdk Kej. 3:6), dan dengan demikian lalu mengalami perasaan kecemasan dan kegelisahan.

Bagaimana orang bisa melepaskan dirinya sendiri dari pengaruh egoism ini lalu membuka dirinya terhadap Kasih?

Keadailan dan Sedaqah
Di jantung kebijaksanaan Israel, kita mendapatkan kaitan yang mendalam antara iman kepercayaan kepada Allah yang “menegakkan orang yang hina dari dalam debu” (Mzm. 113:7) dan keadilan kepada sesamanya manusia. Kata bahasa Ibrani itu sendiri, sedaqah, yang menunjuk kepada keutamaan keadilan, juga mengungkapkan hal itu dengan sangat bagus. Pada kenyataannya, sedaqah, di satu pihak mengungkapkan penerimaan manusia pada kehendak Allah Israel, tetapi di pihak lain juga mengungkapkan kesetaraan hubungan seseorang dengan sesamanya (lih. Kel. 20:12-17), terutama orang miskin, orang asing, para yatim-piatu dan jada-janda (lih. Ul. 10:18-19). Kedua arti itu berkaitan satu sama lain, karena bagi orang Israel, memberi kepada orang miskin, tidak lain dan tidak bukan sama artinya dengan memberikan kembali kepada Allah apa yang telah mereka dapatkan dari Dia, yang dahulu telah menaruh belas-kasihan kepada kesengsaraan umat-Nya. Pastilah bukan suatu kebetulan, bahwa penyerahan dua loh batu berisi hukum kepada Musa di Gunung Sinai itu terjadi sesudah mereka menyebrangi Laut Merah. Mendengarkan Hukum itu mengandaikan iman kepercayaan kepada Allah yang mula-mula “mendengar keluh-kesah” umat-Nya, dan lalu “turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir” (lih. Kel. 3:8). Allah telah menaruh perhatian kepada seruan orang papa dan pada gilirannya Ia juga meminta supaya Dia didengarkan: dengan kata lain, Ia meminta sikap yang adil juga terhadap orang-orang papa (lih. Sir. 4:4-5, 8-9), terhadap orang-orang asing (lih. Kel. 22:20), terhadap budak-belian (lih. Ul. 15:12-18). Untuk dapat memasuki keadilan ini haruslah orang keluar dari dan meninggalkan rasa puas dirinya yang semu, yakni ketertutupannya yang mendalam, sebab justru itulah biang-keladi dari ketidakadilan. Dengan kata lain, yang sebenarnya dibutuhkan sekarang adalah suatu “exodus” yang lebih mendalam dari pada yang dahulu pernah dilakukan oleh Allah dengan Musa, yakni suatu pembebasan hati, yang tidak akan dapat dilakukan oleh Hukum itu dengan kekuatannya sendiri.

Kalau demikian, masih adakah bagi manusia harapan akan adanya keadilan?

Kristus, Keadilan Allah
Kabar Gembira kekristenan dengan sangat positif menjawab kehausan manusia akan keadilan itu. Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma menegaskan: “Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan … karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya” (lih. Rom. 3:21-25).

Kalau demikian, apakah keadilan Kristus itu? Di atas semauanya, keadilan itu adalah yang keluar dari rakhmat, karena bukan manusia sendirilah yang telah mengadakan perbaikan yakni menyembuhkan diri sendiri dan orang lain. Pada kenyataannya, seperti dikatakan, bahwa “jalan pendamaian” itu mengalir dari darah Kristus, berarti, bahwa sebenarnya bukan kurban dari manusia itu sendiri yang telah membebaskannya dari beban dosa-dosanya, melainkan justru perbuatan kasih Allah, yang bahkan telah membuka Diri-Nya sampai sehabis-habisnya, bahkan sampai pada titik menerima dalam diri-Nya sendiri, “kutuk” yang sebenarnya harus dijatuhkan kepada manusia, sehingga dengan demikian manusia dapat menghaturkan “berkat” yang menjadi hak Allah (lih, Gal 3:13-14). Tetapi justru dari sini langsung muncul keberatan: keadilan macam apakah ini, di mana justru orang yang adil harus mati bagi mereka yang bersalah dan orang yang bersalah malah menerima berkat yang sebenarnya menjadi hak orang yang adil? Apakah ini bukan berarti, bahwa masing-masing menerima apa yang sebenarnya bertentangan dengan yang menjadi “hak”-nya? Pada kenyataannya justru di sinilah kita mendapatkan keadilan Allah, yang begitu berbeda dengan keadilan menurut pemahaman manusia. Allah telah membayar uang tebusan bagi kita dalam diri Putra-Nya, suatu harga tebusan yang sungguh tak terhingga besarnya. Terhadap keadilan Salib seperti itu orang mungkin memberontak, tetapi itu justru menunjukkan betapa manusia adalah makhluk yang sama sekali tidak bisa mencukupi dirinya sendiri. Ia membutuhkan Seorang Lain untuk dapat membuka dirinya dengan sepenuh-penuhnya. Akhir-akhirnya, berbalik kepada Kristus, atau percaya kepada Injil, berarti ini saja: keluar dari kepercayaan-semu bahwa ia mampu mencukupi dirinya sendiri, sehingga ia mempu mendapatkan dan menerima apa yang menjadi kebutuhannya, ─yakni kebutuhan akan orang-orang lain dan Allah sendiri, kebutuhan akan pengampunan dan persahabatan-Nya.

Dengan demikian kita dapat memahami, betapa sama sekali berbedanya iman kepercayaan dengan sekedar perasaan nyaman yang alami. Inilah fakta nyatanya: kerendahan hati sungguh dibutuhkan untuk dapat menerima, bahwa saya membutuhkan Yang Lain untuk dapat membebaskan diri saya dari “apa yang menjadi hak saya” dan untuk dapat menyerahkan diri saya dengan kerelaan sepenuhnya kepada “apa yang menjadi hak-Nya”. Dan hal ini terjadi terutama di dalam Sakramen Rekonsiliasi dan Ekaristi. Syukur kepada karya Kristus, sehingga kita dapat masuk ke dalam keadilannya yang “tertinggi” yang adalah karya kasih-Nya (lih. Rom. 13:8-10), yakni keadilan yang sungguh menyadarkan kita, bahwa, dalam segala-galanya, kita ini lebih merupakan “debitor” dari pada “kreditor”[2], justru karena kita telah menerima lebih dari pada yang kita harapkan.

Dikuatkan oleh pengalaman ini Umat Beriman digerakkan untuk berkontribusi menciptakan masyarakat yang adil, di mana setiap orang menerima apa yang dibutuhkannya untuk hidup sesuai dengan martabatnya yang khas sebagai manusia yang berkepribadian, dan di mana keadilan itu sungguh dihidupi oleh cintakasih.

Saudara dan saudari yang terkasih,
Masa Prapaskah ini akan mencapai puncaknya dalam Tri Hari Suci Paskah, di mana, dalam tahun ini juga, kita akan merayakan keadilan Allah, yakni kepenuhan kasih-Nya, anugerah-Nya dan juga karya penebusan-Nya. Semoga bagi seluruh Umat Beriman masa tobat ini akan merupakan masa pertobatan yang otentik dan masa untuk memupuk pengenalan kita akan misteri Kristus, yang telah datang untuk memenuhi setiap keadilan. Dengan harapan-harapan ini, Saya dengan setulus hati memberikan kepada Anda semua: Berkat Apostolik Saya.

Dikeluarkan di Vatikan, 30 Oktober 2009.

Benediktus XVI,
Paus


[1] Secara hurufiah Surat Gembala Kepausan ini berjudul: “Keadilan Allah telah dinyatakan karena iman dalam Yesus Kristus” (lih. Rom. 3:21-22). Akan tetapi Kata Yunani dikaiosynè (“keadilan”; Bahasa Latin: iustitia, Inggris justice) dalam Alkitab Perjanjian Baru kita diterjemahkan dengan kebenaran, kecuali dalam 2Kor. 6:7; 1Tim. 6:11; 2Tim. 2:22; Ibr. 1:9; 2Ptr. 1:1 kata itu diterjemahkan dengan keadilan. Dalam Mat. kata itu malah diterjemahkan dengan kehendak Allah (3:15) dan hidup keagamaan (5:20), sedang Tit. 3:5 menerjemahkannya dengan perbuatan baik. Dalam terjemahan ini kata “iustitia” (Lat.) atau “justice” (Ingg.) dipertahankan dengan ungkapan keadilan dalam teks Surat Gembala Prapaskah Kepausan, meskipun teks Alkitab yang direferensikannya, dipertahankan juga istilah alkitabiah Idonesianya, yakni kebenaran. Harap pembaca maklum adanya.

[2] Santo Bapa sengaja mempergunakan kedua istilah “debet” dan “kredit” ini, berkaitan dengan gagasan “penebusan” yang sering juga dikonsepkan sebagai “uang tebusan” yang harus dibayar seperti pembahasan dalam alinea sebelumnya.



Bagikan

Masa Prapaska

A. Masa Liturgi Gereja:

1. Masa Adven
2. Masa Natal
3. Masa Biasa
4. Masa Prapaska
5. Trihari Paska
6. Masa Paska
7. Pentakosta
8. Masa Biasa

B. Apa itu Prapaska? Persiapan untuk Paska

C. Apa itu Paskah? Kenangan dan selebrasi akan apa yang diperbuat oleh Allah dalam Yesus Kristus. Apa dibuat Yesus?

  • Ia tinggal di antara kita, memberi kita visi akan hidup yang penuh (bukan hanya agama)
  • Ia menderita dan wafat di salib; bukan sebagai tanda kegagalan, melainkan sebagai kesaksiaan atas cinta yang terbesar yg dapat ditunjukkan seseorang bagi temannya: mati untuknya.

D. Mengapa Prapaskah selama 6 minggu?

Enam minggu adalah sekitar 40 hari; Yesus berpuasa 40 hari di padang gurun mempersiapkan diri untuk karya dan misiNya

E. Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk Paskah?

BERDOA

BERPUASA/BERPANTANG

MEMBERI SEDEKAH/MENDERMA

Praktek ini jamak dalam agama-agama besar: Yahudi, Hindu, Buddha, Islam dan Kristen.

1. Menurut Ajaran Gereja

  • Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) no. 1434-1439 terdapat aneka bentuk tobat dalam hidup Kristen. Kitab Suci dan para Bapa Gereja menggariskan tiga bentuk utama ungkapan tobat itu yakni puasa, doa dan amal atau derma atau sedekah. Ketiganya dilihat sebagai pernyataan pertobatan terhadap diri sendiri, terhadap Allah dan terhadap sesama. Jadi puasa adalah salah satu bentuk atau ungkapan tobat.
  • Dalam tradisi Gereja, puasa merupakan ibadat penting yang dilaksanakan umat sebagai persiapan untuk perayaan-perayaan besar khususnya Paska. Masa puasa yang secara resmi ditetapkan Gereja terkandung dalam masa Prapaska. Tetapi selama masa Prapaska itu hari puasa resmi dan pantang hanya dua hari, yakni hari Rabu Abu dan Jumat Agung sebagaimana tertuang dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) no. 1251. Karena itu, masa Prapaska, yang berlangsung selama 40 hari, bukan berarti masa puasa selama 40 hari pula. Maka boleh dikatakan bahwa masa Prapaska selama 40 hari bukan terutama menekankan masa puasanya selama 40 hari, melainkan masa tobat khusus untuk perayaan-perayaan Paska. Menurut Kitab Hukum Kanonik, masa dan hari pertobatan dalam seluruh Gereja ialah masa tobat (masa Prapaska) 40 hari dan hari Jumat sepanjang tahun sebagai kenangan akan kematian Tuhan (KHK 1250).
  • Namun demikian Gereja sangat menghargai warganya yang berpuasa penuh selama 40 hari dalam masa Prapaska meneladan cara berpuasa Musa, Elia dan terutama Yesus.
  • Di samping berpuasa, Gereja juga punya tradisi berpantang. Hari Jumat sepanjang tahun sebagai hari pertobatan merupakan hari pantang dari makan daging atau dari makanan lainnya, kecuali hari Jumat itu terhitung sebagai hari raya gerejawi, bukan hari raya umum (KHK 1251). Dan perlu diingat bahwa Gereja menetapkan pantang selama satu jam sebelum kita menyambut Sakramen Mahakudus.
  • Semua orang Katolik yang berumur 18 tahun sampai umur 59 tahun (awal tahun keenampuluh) wajib berpuasa; dan semua orang Katolik yang berumur genap 14 tahun ke atas wajib berpantang (bdk KHK 1252).
  • Apa arti puasa dan pantang ? Dalam arti yuridis, puasa berarti satu kali makan kenyang dan dua kali makan sedikit saja selama 24 jam. Minum air tidak dilarang dalam puasa. Pantang berarti memilih tidak makan daging atau ikan atau garam atau tidak jajan atau merokok, tidak minum gula atau tidak nonton televisi.
  • Orang lanjut usia dan anak-anak, orang sakit, ibu yang hamil, orang yang sedang mengadakan perjalanan jauh dan pekerja berat dikecualikan dari puasa. Namun para gembala umat dan orangtua diajak Gereja untuk membina mereka, yang karena usianya masih kurang dan karena itu tidak terikat dengan puasa dan pantang, ke arah semangat tobat yang sejati (KHK 1252).
  • Salah satu ungkapan tobat bersama dalam masa Prapaska adalah Aksi Puasa Pembangunan, yang diharapkan mempunyai nilai dan dampak pembaharuan pribadi, serta mempunyai nilai dan dampak peningkatan solidaritas pada tingkat paroki, keuskupan dan nasional.




2. Menurut Kitab Suci Mat 6:1-18.

Berdoa

Pada masa Yesus, orang Yahudi diharuskan berdoa tiga kali sehari pada jam tertentu yakni jam 9 pagi, tengah hari, dan jam 3 sore. Di mana pun mereka berada, mereka diharapkan melakukan hal itu dengan sikap tertentu yakni menjulurkan tangan di mana telapak tangan menghadap ke langit. Tetapi banyak orang Yahudi membuat hal itu justru di tempat ramai, di jalan yang ramai. Mereka berdoa di tempat seperti itu dengan suara lantang agar didengar, ditonton dan dipuji orang. Bahkan ada yang berdoa sampai mengganggu lalu lintas. Mereka berdoa hanya kalau dilihat orang lain. Itu namanya munafik. Dan Yesus jelas menolak sikap seperti itu. Doa yang dimaksud Yesus adalah doa yang disampaikan kepada Allah, bukan kepada orang agar dipuji. Doa yang benar menurut Yesus adalah doa yang ditujukan dari hati yang tulus dan terbuka kepada Allah. "Jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi" (Mat 6:6). Doa dan berdoa bukanlah sesuatu yang perlu dipamerkan. Bila seseorang tak bisa berdoa di gereja, karena alasan tertentu, ia bisa berdoa di rumah, di tempat tidur.

Berpuasa

Seperti doa, puasa adalah bagian yang penting dalam hidup kristen dan juga tanda pertobatan. Di Palestina pada masa Yesus, hari puasa adalah hari Senin dan Kamis, di mana pada hari itu juga hari pekan. Dengan wajah muram, orang memamerkan hidup keagamaannya di pasar agar dipuji orang. Itu tindakan munafik dan Yesus menolak tindakan seperti itu.

Yesus berkata: "Apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu, cucilah mukamu, supaya jangan diketahui orang bahwa engkau sedang berpuasa." Tuhan berharap bahwa kita menjalani puasa dengan ceria, dengan bebas, bukan dengan terpaksa dan dengan wajah loyo. Puasa tidak dimaksudkan agar orang lain yang tidak berpuasa terganggu. Dalam masa prapaskah kita pertama-tama diharapkan mau memerangi dosa dan kejahatan, baru menyusul pantang makanan. Inilah puasa yang mengandung pertobatan. Puasa dalam hal konsumsi tidak punya arti bila kita tidak memerangi dosa dan kejahatan. Who fasts, but does not other good, saves his bread but goes to hell.

Menderma

Ada orang yang memberi derma lalu menceritakan hal itu ke mana-mana agar dipuji orang. Itu manafik. Lalu Yesus memberi pedoman: "Bila engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu."

F. Penutup

Ibu Theresa pernah mengunjungi sebuah keluarga miskin yang sudah beberapa hari tidak makan. Ia membawa makanan secukupnya saja. Anak-anak makan dengan lahap, karena rasa lapar yang tak tertahankan. Tetapi ada seorang anak yang baru berumur sekitar 10 tahun menarik perhatian ibu Theresa. Ketika anak itu mendapat makanan, ia cepat-cepat membaginya menjadi dua bagian; yang satu bagian dimasukkannya ke dalam plastik, lalu dibawanya pergi. Ketika anak itu kembali, ibu Theresa bertanya "Dari mana kau, nak?" Anak itu menjawab "Aku baru saja mengantar sebagian dari makanan yang kuperoleh dari ibu untuk temanku yang sakit dan sudah beberapa hari tidak makan juga.”


Sumber: http://www.mudikamelbourne.com/index.php?option=com_content&view=article&id=48:muatan-masa-prapaskah&catid=2:berita-artikel&Itemid=15




Bagikan