Tampilkan postingan dengan label Liturgi Ekaristi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liturgi Ekaristi. Tampilkan semua postingan

CINTA YANG BESAR DIBALIK SETIAP ATURAN GEREJA


Aturan lain boleh dibuat untuk dilanggar, tapi aturan Gereja Katolik selalu berhubungan erat dengan imannya yang harus dijaga dan dilestarikan dengan cinta dan kebijaksanaan.

Merelativir aturan adalah jalan yang terbuka kepada penyalagunaan bahkan penghancuran hukum itu sendiri, bahkan dalam konteks iman, umat semakin dijauhkan umat dari Yesus.

Yesus tidak membenci aturan, tapi Ia mencela mereka yang menerapkan aturan dengan cara yang tidak bijaksana. Apakah engkau tidak berpikir bahwa Yesus pun mencela mereka yang melanggar aturan?

Kalau engkau berpikir bahwa demi alasan apapun aturan gereja dilonggarkan sehingga membuat aturan sendiri, apakah engkau tidak berpikir bahwa ada iman Bunda Gereja yang besar dibalik setiap perumusan aturan yang ada di dalam tubuhnya?

Taatilah aturan agar imanmu tetap terpelihara.


SUMBER: FACEBOOK GEREJA KATOLIK
SIGNATURE: ***Duc in Altum***

Bulan Liturgi hari ke 15: Pencampuran Air ke dalam Anggur

15. Pencampuran Air ke dalam Anggur

Pada waktu persiapan persembahan imam selalu mencampurkan sedikit air ke dalam anggur: Putra altar maju membawa ampul berisi air, imam memberkati air, lalu mencedoknya sedikit dan mencampurkannya ke dalam anggur yang ada pada piala; dapat juga imam langsung mengambil ampul dan menuangkan sedikit air ke dalam piala anggur. “Kemudian diakon, atau imam, menuangkan anggur dan sedikit air ke dalam piala sambil berkata dengan suara lembut.” 59

Sebagaimana dilambangkan oleh percampuran air dan anggur ini, semoga kami boleh mengambil bagian dalam keallahan Kristus, yang telah berkenan menjadi manusia seperti kami.

Pencampuran ini adalah tindakan simbolis, yakni lambang dari penjelmaan Sang Sabda: Allah menjadi manusia; penjelamaan ini dapat dilihat juga sebagai pencampuran antara yang ilahi dan yang insani, antara Allah dan insan. Simbolisme ini dimanfaatkan imam untuk memohon agar jemaat (manusia) diperkenankan ambil bagian dalam keallahan Kristus. Hal ini jelas dari teks doa yang ia ucapkan: Semoga kami diikutsertakan dalam keallahan Kristus yang berkenan menjadi manusia seperti dilambangkan oleh percampuran air dan anggur ini.

Pendalaman
1. Apa makna pencampuran air ke dalam anggur?
2. Apa dampaknya bagi kehidupan Anda sehari-hari?





59 lihat TPE


Sumber: Mengenal, Mendalami, Mencintai Ekaristi- Ernest Mariyanto

Menggali Makna Bagian-bagian Misa: Doa Syukur Agung (Permohonan dan Doxologi Penutup)

Permohonan

Doa Syukur Agung [DSA] juga memuat doa permohonan. Tapi doa permohonan dalam DSA berbeda dengan doa umat. Doa permohonan dalam DSA terutama untuk mendoakan kepentingan seluruh Gereja, baik pimpinan, umat yang berkumpul, maupun seluruh anggota Gereja, baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal.

Doa permohonan dalam DSA meliputi: (1) doa untuk Paus sebagai pemimpin Gereja seluruh dunia dan wakil Kristus di dunia. Dengan menyebut nama Paus, kita menyatakan kesatuan dengan seluruh umat beriman yang disatukan oleh Paus; (2) menyebut uskup setempat. Ini mengungkapkan kesatuan dengan Gereja setempat yang dipimpin uskup; (3) doa untuk para imam, diakon, yang ditahbiskan untuk membantu uskup; (4) doa untuk seluruh umat beriman; (5) doa untuk umat beriman yang sudah meninggal. Dalam DSA II dan III, disebutkan nama orang-orang yang sudah meninggal yang secara khusus didoakan dalam Ekaristi; agar mereka diperkenankan menikmati kebahagiaan abadi di surga.

Dalam doa permohonan dikenangkan pula para kudus di surga. Ini menunjukkan kesatuan Gereja, yang terdiri dari mereka yang masih hidup dan berziarah di dunia, dan mereka yang telah meninggal. Kita membedakan mereka yang sudah meninggal dan membutuhkan doa-doa agar diterima di surga; dengan mereka yang sudah masuk surga, yaitu para kudus. Kita berharap agar para kudus mendoakan kita yang masih ada di dunia ini. Dari barisan para kudus di surga, yang disebut pertama adalah Santa Perawan Maria, Bunda Allah, karena Bunda Maria adalah orang yang paling dekat dengan Tuhan Yesus. [Fr. A. Pramono].

Doxologi Penutup

Bagian terakhir dari Doa Syukur Agung (DSA) adalah doxologi penutup. Doxologi berasal dari kata Yunani doxa, artinya: kemuliaan. Rumusan doxologi penutup semua sama dalam DSA. Imam menyanyikan/mengucapkan: “Dengan pengantaraan Kristus, bersama Dia dan dalam Dia, bagi-Mu Allah Bapa yang mahakuasa, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, segala hormat dan kemuliaan, sepanjang segala masa.” Umat menjawab dengan mantap dan meriah: “Amin”.

Kata “amin” berasal dari bahasa Ibrani “amen”, artinya: “Setuju, ya demikianlah”. Yang diamini adalah pujian syukur dan hormat kepada Allah Bapa melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus. Pujian syukur ini sebenarnya sudah dilambungkan umat sepanjang DSA. Tapi, di akhir DSA dilambungkan pujian syukur penutup. Itulah sebabnya maka disebut doxologi penutup. Jawaban “Amin” dari umat sebenarnya tidak hanya mengamini pujian syukur pada doxologi penutup ini saja, tetapi juga mengamini seluruh DSA yang telah didoakan oleh imam. [Fr. A. Pramono]

Sumber: Fr. Antonius Pramono
Rm. Martasudjita, E. Pr., Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius 2005.






Menggali Makna Bagian-bagian Misa: Percampuran Air dan Anggur; Pendupaan Saat Persiapan Persembahan (Edisi 12)

Pencampuran Air dan Anggur



Pada saat misa, imam menuangkan anggur ke dalam piala. Setelah menuangkan anggur, imam menuangkan sedikit air ke dalam piala. Sambil menuangkan air, imam berkata dalam hati atau suara lembut: “Sebagaimana dilambangkan oleh pencampuran air dan anggur ini, semoga kami boleh mengambil bagian dalam keallahan Kristus, yang telah berkenan menjadi manusia seperti kami”.

Pencampuran air dan anggur sebenarnya merupakan kebiasaan jaman dulu agar anggur tidak terlalu pekat. Dari kebiasaan ini, tradisi kristiani menafsirkan pencampuran air dan anggur memiliki makna teologis: (1) pencampuran air dan anggur melambangkan air dan darah yang mengalir dari lambung Kristus; (2) air dan anggur melambangkan keilahian dan kemanusiaan. Pencampuran anggur dan air mengungkapkan peristiwa Sang Putra menjadi manusia; yakni Yesus Kristus, dan partisipasi kita dalam keilahian Kristus. Makna partisipasi kita dalam keilahian Kristus sejalan dengan 2 Petrus 1:4: Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia; (3) pencampuran air dan anggur juga mengungkapkan makna kesatuan tak terpisahkan antara Kristus dan kita.


Pendupaan Saat Persiapan Persembahan

Pada hari-hari besar seperti Paskah, Natal, hari-hari raya Gereja, diadakan pendupaan atas bahan-bahan persembahan. Dalam liturgi Gereja, pendupaan melambangkan penghormatan, pemberkatan dan pengudusan. Pendupaan atas bahan-bahan persembahan melambangkan “persembahan dan doa Gereja yang naik ke hadirat Allah seperti kepulan asap dupa”.

Imam juga mendupai salib dan altar selain mendupai bahan-bahan persembahan. Setelah selesai mendupai bahan-bahan persembahan, salib, dan altar, imam juga didupai. Pendupaan kepada imam ini karena pelayanan kudus yang ia sandang; yakni martabatnya sebagai in persona Christi dan pelayan Gereja. Umat juga didupai karena martabat luhurnya yang diperoleh melalui pembaptisan. Sebelum dan sesudah pendupaan, imam atau misdinar yang mendupai selalu membungkuk khidmat ke arah barang atau orang yang didupai. Hanya saja saat mendupai altar dan bahan persembahan, imam tidak perlu membungkuk hormat terlebih dahulu. [Fr. A. Pramono].

Sumber:
Martasudjita, E. Pr., Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius 2005.
Fr. Antonius Pramono, www.reginacaeli.org

Menggali Makna Bagian-bagian Misa: Persiapan Persembahan dan Mempersiapkan Altar (Edisi 10)

Persiapan Persembahan

‘Persiapan Persembahan’ merupakan bagian yang mengawali Liturgi Ekaristi. Liturgi Ekaristi terdiri dari: Persiapan Persembahan, Doa Syukur Agung, Komuni. Dalam Persiapan Persembahan, dipersiapkan bahan-bahan : roti, anggur, dan air yang dibawa ke altar. Ada sebagian orang yang masih berpandangan bahwa Liturgi Ekaristi dibuka dengan ‘Persembahan’. Ada imam yang memberi pengantar sesudah doa umat selesai dengan berkata: “Marilah kita sekarang memasuki Liturgi Ekaristi dengan persembahan”. Lalu ada petugas yang mengumumkan ‘Lagu Persembahan’. Petugas pun kadang keliru dalam mengumumkan lagu. Seharusnya diumumkan: ‘Lagu Persiapan Persembahan’. Kebiasaan yang keliru masih mengikuti TPE (Tata Perayaan Ekaristi) lama [1979]. Dalam TPE tersebut, bagian sebelum Doa Syukur Agung disebut ‘Persembahan’.

Di TPE yang baru, bagian pertama dari Liturgi Ekaristi lebih tepat disebut ‘Persiapan Persembahan’. Alasan teologis yang paling utama adalah peristiwa persembahan yang sungguh-sungguh baru terjadi pada saat Doa Syukur Agung; pada saat persembahan sejati dan tak bercela, yaitu kurban Salib Kristus, dikenangkan dan dihadirkan.



Mempersiapkan Altar

‘Persiapan Persembahan’ dapat dimulai dengan kolekte dan mempersiapkan altar. Sementara umat memberikan kolekte, imam atau diakon mempersiapkan altar, yaitu mengatur piala, buku Misa, roti, anggur, dsb di meja altar. Bila ada perarakan bahan persembahan (lilin, bunga, buah), imam menyambut di depan altar.

Altar merupakan tempat yang sentral dalam gereja. St. Paulus menyebutnya “meja Tuhan” (1Kor 10:21). Kesucian altar disebabkan karena Tuhan dengan seluruh kurban-Nya hadir dalam Ekaristi. Altar harus ditempatkan di panti imam sehingga menjadi pusat perhatian seluruh umat beriman. Altar hendaknya diberi taplak kain putih untuk menghormati perayaan kenangan akan Tuhan dan perjamuan Tubuh dan Darah Kristus. Di atas altar cukup diletakkan salib dan lilin. Saat Liturgi Ekaristi: piala, sibori berisi hosti kecil, patena berisi hosti besar, kain piala, palla, korporal, dan buku-buku Misa seperti TPE, serta buku doa lainnya.

Hiasan bunga hendaknya tidak diletakkan di atas altar, karena dapat menghalangi pandangan umat pada altar. Bunga sebaiknya diletakkan di sekitar altar.


Sumber: Fr. Antonius Pramono, Paroki Regina Caeli PIK
Martasudjita, E. Pr., Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius 2005.


Bagikan

Menggali Makna Bagian-bagian Misa: Doa Umat dan Liturgi Ekaristi (Edisi 9)

Doa Umat

Melalui doa umat, umat beriman berdoa bersama secara resmi bukan hanya untuk diri sendiri dan kelompok, tapi untuk kepentingan seluruh Gereja semesta. Imam membuka dan menutup doa umat. Pada umumnya urutan doa umat mencakup 4 hal:


  • Ø Doa bagi Gereja, khususnya pemimpin Gereja
  • Ø Doa bagi pemimpin masyarakat dan keselamatan dunia.
  • Ø Doa bagi orang-orang yang sedang menderita.
  • Ø Doa bagi jemaat setempat (paroki, stasi, wilayah, lingkungan).
Dalam perayaan khusus, urutan doa umat dapat disesuaikan menurut tema dan kebutuhan. Yang perlu diperhatikan ialah bahwa doa umat bukanlah sebuah renungan singkat, atau pernyataan iman yang pendek. Doa umat juga bukan berita yang diambil dari surat kabar atau majalah, juga bukan komentar atau doa yang bermakna sebagai renungan yang menyayat hati.

Doa umat boleh digubah secara bebas, tapi harus disusun dengan baik, singkat, dan mengungkapkan ujud permohonan umat yang sesuai dengan kondisi aktual. Doa umat dibawakan dari mimbar atau tempat lain yang sesuai oleh petugas; entah diakon, lektor, atau petugas awam lainnya. Selama doa umat, umat berdiri. [Fr. A.Pramono]

Liturgi Ekaristi

Liturgi Ekaristi merupakan pusat seluruh Perayaan Ekaristi, karena di sini terdapat Doa Syukur Agung yang merupakan pusat dan puncak Perayaan Ekaristi. Suatu perayaan tidak dapat disebut Perayaan Ekaristi, jika tanpa Liturgi Ekaristi. Dalam Liturgi Ekaristi inilah terletak kekhasan dan keagungan Perayaan Ekaristi Gereja Katolik.

Asal-usul bentuk susunan Liturgi Ekaristi adalah perjamuan malam terakhir yang diadakan Yesus bersama para murid-Nya. Perayaan Ekaristi diadakan dan dilaksanakan dalam Gereja atas perintah Tuhan sendiri: “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku” (Luk 22:19; 1Kor 11:24-25). Untuk mengenangkan karya penyelamatan Allah melalui sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan Yesus, Gereja dengan setia merayakan Ekaristi.

Dalam Perjanjian Baru, ada 4 teks yang berbicara mengenai Kisah Institusi Ekaristi, yaitu: Mrk 14:22-25; Mat 26:26-29; Luk 22:15-20; 1Kor 11:23-26. Saat perjamuan malam terakhir Yesus dengan para murid merupakan pesta perjamuan sebelum wafat-Nya. Sifat pesta itu tampak dalam data: (1) pesta diadakan di sebuah ruangan atas yang besar dan lengkap (Mrk 14:15), (2) penggunaan anggur (Mrk 14:23; Luk 22:17). Sedangkan sifat perpisahan terungkap dalam kata-kata perpisahan Yesus (Luk 22:16.18), “pernyataan wasiat” (Luk 22:28-30), dan perintah untuk mengadakan Ekaristi (Luk 22:19; 1Kor 11:24-25). Jadi, Yesus meringkas seluruh karya hidup-Nya dalam perjamuan malam terakhir, dan menganugerahkan berkat-Nya kepada para murid. Berkat itu adalah warisan-Nya untuk para murid dan berlaku untuk masa datang. [Fr. A.Pramono]

Sumber: Martasudjita, E. Pr., Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius 2005. www.reginacaeli.org



Bagikan