Tampilkan postingan dengan label Bulan Kitab Suci 2011. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bulan Kitab Suci 2011. Tampilkan semua postingan

Seputar Kitab Suci

Kitab Suci atau Alkitab adalah kumpulan buku atau semacam perpustakaan kecil yang memuat kesaksian tentang Sabda Allah, dari berbagai penulis/pengarang, yang ditulis dalam kurun waktu lebih dari 2000 tahun. Proses penulisan dan penyusunan buku-buku melibatkan banyak penulis dan membutuhkan waktu yang sangat panjang sampai beberapa generasi dari pengolahan sampai penyalinan. Bisa dibayangkan betapa rumitnya proses terjadinya Kitab Suci atau Alkitab ini.

Kitab Suci ditulis oleh manusia yang mendapat penerangan dari Roh Kudus. Allah berkomunikasi menyatakan diri-Nya pada manusia dengan bahasa yang dimengerti manusia. Maka isi Kitab Suci berkisar pada kehidupan manusia, mengenai ajaran, larangan etis atau perintah, petunjuk untuk beribadat, ritus upacara, hukum-hukum, lagu pujian, dll.

Kata”Kitab Suci” lebih akrab di telinga umat Katolik. Allah dan Sabda-Nya adalah suci, maka kitab yang memuat Sabda-Nya disebut Kitab Suci; dan Kitab Suci itu menyucikan manusia untuk memperbarui dan meningkatkan hidup moralnya.

“Alkitab” berasal dari kata Arab dan biasa diucapkan oleh umat Kristen. Kata “Alkitab” berarti sang kitab, artinya kitab yang paling luhur diantara kitab-kitab yang lain.

Terdiri dari Kitab Apa Saja?

Kitab Suci terdiri dari 72 Buku: Perjanjian Lama (45 buku) & Perjanjian Baru (27 buku).

Kitab Perjanjian Lama terdiri dari 5 bagian :
* 5 kitab Pentateukh ( 5 gulungan kitab atau hukum Musa)

Yaitu : Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan

* 15 kitab Sejarah (kitab Ezra & Nehemia dijadikan satu)
Yaitu : Yosua, Hakim-Hakim, Ruth, 1 Samuel, 2 Samuel, 1 Raja-raja, 2 Raja-raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Ezra & Nehemia, Tobit, Yudit, Ester, 1 Makabe, 2 Makabe
* 7 Kitab Puitis dan Hikmat (Kebijaksanaan dan Mazmur)
Yaitu : Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkotbah, Kidung Agung, Keb. Salomo, Putera Sirakh

* 18 Kitab Para Nabi

Yaitu : Yesaya, Yeremia, Ratapan, Barukh, Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, Maleakhi

Kitab Perjanjian Baru terdiri dari :

* 4 Kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes)
* 1 Kisah Para Rasul
* 14 Surat Paulus (Roma, 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi,Kolose, 1 Tesalonika, 2 Tesalonika, 1 Timotius, 2 Timotius, Titus, Filemon, Ibrani). Surat yang terakhir, yaitu Ibrani digolongkan di sini, meskipun para ahli masih belum sependapat tentang penulis surat ini.
* 7 Surat Katolik dan 1 kitab Wahyu (Yakobus, 1 Petrus, 2 Petrus, 1 Yohanes, 2 Yohanes, 3 Yohanes, Yudas, Wahyu)

Sarana penulisan Kitab Suci

Kita membayangkan jaman purba dahulu belum ada alat tulis sehingga untuk menulis sesuatu atau tanda, orang-orang jaman purba memakai berbagai sarana, diantaranya :

1. Memakai tanah liat yang lunak untuk membuat tanda sesuatu. Tulisan pada tanah liat itu disebut ‘Cuneiform’ artinya berbentuk irisan karena tanda- tanda atau tulisannya seperti irisan-irisan yang disebabkan oleh alat yang dipakai.
2. Memakai lempengan-lempengan logam yang tipis, namun sarana ini tidak praktis karena berat, tidak mudah dibuka
3. Memakai kulit binatang atau disebut perkamen / vellum, kulit binatang disamak sampai halus baru dipakai untuk menulis. Perkamen ini yang paling banyak digunakan karena lebih tahan lama dan mudah digulung.
4. Memakai papirus, sejenis tanaman pandan air yang dianyam dan dihaluskan. Namun papirus mudah/ cepat rusak.

Terjadinya Kitab Suci Perjanjian Lama

Kitab Suci Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mempunyai sejarah terpisah; masing-masing mempunyai sejarahnya sendiri. Kitab Perjanjian Lama terbentuk melalui proses yang sangat panjang, lebih rumit dan memakan waktu yang jauh lebih lama daripada Perjanjian Baru. Sejarah penyelematan mulai dengan pilihan Allah terhadap Abraham pada abad 19 SM. Munculnya Kitab Perjanjian Lama tidak bisa dilepaskan dari zamannya dan memuat keprihatinan untuk menjawab kebutuhan umat. Inti pokok Kitab Perjanjian Lama adalah iman bangsa Israel dengan Allah atau Yahwe. Iman mereka diuji ketika bangsa Israel mengembara di padang gurun dan harus menghadapi berbagai bahaya alam (pegunungan, sungai, laut), bahaya, cuaca (panas, dingin, angin), bahaya fisik (kekurangan air, kelaparan kekurangan makanan, di hadang musuh). Dari iman yang dihayati ini bangsa Israel mempercayai bahwa semua tantangan bahaya kehidupan bisa diatasi karena adanya campur tangan dari Allah. Mereka menceritakan pengalaman kehidupan mereka turun temurun sehingga menjadi tradisi lisan, dan oleh beberapa orang bangsa Israel, cerita-cerita tersebut mulai dicatat. Tradisi menceritakan turun temurun dan mencatat inilah merupakan suatu proses pewarisan iman dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pola penulisan Kitab Suci ini dari penghayatan iman, ke pengungkapan iman yaitu perumusan dan penulisan.

Kitab Suci menjadi pewartaan dan penerusan wahyu secara tertulis. Kitab Suci menjadi ungkapan iman umat beriman. Allah yang mewahyukan diri ditanggapi oleh umat beriman di dalam bentuk tulisan. Jadi isi Kitab Suci adalah pergulatan iman umat beriman dalam usaha menanggapi wahyu Allah. Dalam Kitab Suci dapat dilihat Wahyu Allah yang ingin menyelamatkan manusia, yang sudah dimulai sejak Perjanjian Lama dan wahyu Allah itu berpuncak dalam diri Yesus yang tertuang dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama diungkapkan pergulatan iman Bangsa Israel sebagai umat pilihan yang menjadi jalan rencana keselamatan Allah. Dalam Perjanjian Baru diungkapkan pergulatan iman Gereja Perdana dalam menanggapi Sang Wahyu itu sendiri, yaitu Yesus Kristus. Bangsa Israel dan Gereja Perdana menjadi saksi akan karya keselamatan Allah. Kesaksian inilah yang diungkapkan dalam Kitab Suci. Oleh karena itu, dapat dikatakan Kitab Suci adalah kitab kesaksian akan kasih Allah yang ingin menyelamatkan umat manusia.

Yang menjadi kekhasan dari Kitab Suci adalah Sabda Allah sendiri. Kitab Suci disebut sebagai Sabda Allah karena ada unsur inspirasi ilahinya. Namun hal ini tidak dapat dipahami sebagai Allah sendiri yang menulis Kitab Suci atau Allah yang mendiktekan kepada penulis. Dengan bantuan Roh Kudus (DV, art. 11), Allah memberikan ilham kepada penulis Kitab Suci, sehingga penulisan Kitab Suci menjadi sungguh-sungguh penulisan Sabda Allah sendiri, bukan pikiran penulis sendiri. Oleh karena itu Kitab Suci juga dijamin kebenarannya, tidak dapat sesat, karena dijamin oleh inspirasi ilahi. Kitab Suci menjadi wahyu Allah yang tertulis, agar ada dasar tertulis yang bisa menjadi dasar dan tiang iman umat beriman. Pengalaman Para Rasul ketika bersama Yesus diabadikan oleh Gereja Perdana dalam Perjanjian Baru sehingga bisa menjadi dasar pula bagi perkembangan Tradisi selanjutnya. Kitab suci merupakan jalan masuk untuk sampai kepada wahyu asali. Kitab Suci menjadi dasar dan sumber bagi perkembangan tradisi.

Kitab Suci yang kita terima dalam gereja bukanlah kitab yang tiba-tiba jatuh dari langit begitu saja, melainkan terbentuk dalam sejarah dan tradisi Gereja. Bukan pula hanya berisi sekedar kitab sejarah kronologis umat manusia, melainkan lebih merupakan inspirasi iman berkat karunia Roh Kudus melalui para penulis yang merefleksikan misteri keselamatan Allah bagi umat manusia.

Sebelum terbentuk Kitab Suci yang ada saat ini, dulu ada banyak juga tulisan-tulisan yang mencoba mengungkapkan pengalaman iman menangkap wahyu Allah, yang biasa disebut sebagai kitab-kitab apokrip. Akan tetapi gereja perlu menentukan kriteria-kriteria kanonisasi supaya terjamin otentisitas dan kebenarannya, sehingga terciptalah Kitab Suci kita sekarang ini. Adapun kriteria-kriteria tersebut antara lain: 1.) berciri apostolis, yaitu berasal dari para rasul, orang-orang rasuli atau yang disahkan oleh mereka. 2.) memiliki sumber inspirasi dari Roh Kudus.

Berkat kanonisasi tersebut kini kita memperoleh Kitab Suci yang ada hingga saat ini, yang terbagi dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, Kitab Suci Perjanjian Baru, dan juga Deuterokanonika. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, tata keselamatan yang diramalkan, diceritakan dan diterangkan oleh para nabi dan pengarang Kitab Suci yang merupakan Sabda Allah yang benar (DV, art. 14). Dalam Injil seluruh pewartaan Kitab Suci Perjanjian Lama ditampung sepenuhnya dan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru memperoleh dan memperlihatkan maknanya yang penuh. Dan sebaliknya Kitab Suci Perjanjian Lama pun menyinari/menjelaskan Kitab Suci Perjanjian Baru.

“Injil” berasal dari kata Yunani euanggelion, suatu kata majemuk: eu (baik) dan anggelion (kabar). Dalam Perjanjian Baru (PB), artinya ialah (memberitakan) kabar baik tentang dekatnya Kerajaan Allah (Mrk 1:14); kabar tentang kemenangan Allah yang datang menegakkan pemerintahan-Nya guna membawa keselamatan bagi manusia. Yesus “memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu” (Mat 4:23).

Memberitakan Injil artinya memberitakan Yesus Kristus (Kis 5:42; Rom 15:19). Injil mencakup seluruh kabar baik tentang kelahiran, karya, penderitaan, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Injil dalam Perjanjian Baru tidak hanya suatu berita dalam arti pemberitahuan atau informasi, tetapi suatu berita yang penuh kuasa, suatu kabar yang berdaya penyelamatan. “Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rom 1:16; 1Kor 15:2).

Cara paling sederhana untuk membaca Kitab Suci secara rutin adalah mulai dengan membaca Injil. Di dalam Injil, kita akan bertemu dengan hidup, karya, dan ajaran Yesus, yang tak lain adalah Terang, Kebenaran dan Firman Allah sendiri. Bukankah melalui pengantaraan-Nya dan bersatu dengan Dia kita menuju Bapa? Pada Dia-lah iman kita bergantung!

Sebagian orang mulai dengan menekuni kitab Perjanjian Lama dari halaman pertama dan seterusnya. Harus diakui, Perjanjian Lama memuat banyak hal yang bisa memperkaya iman kita. Namun, cara pemahaman kita pasti akan berbeda dan pasti juga akan lebih mendalam apabila kita sudah terlebih dahulu mendengar, membaca dan mengenal kisah Yesus.

Sebagian orang suka membaca Kitab Suci secara acak. Mereka beranggapan bahwa perikop atau kisah yang mereka temukan secara acak itu akan atau dapat memberikan jawaban terhadap kebutuhan hidup nyata mereka pada saat atau hari itu. Benar, Allah mungkin saja menjawab persoalan hidup seseorang dengan cara begitu, tetapi Allah tidak pernah menyampaikan komitmen untuk berkomunikasi dengan kita melalui cara demikian.

Adalah sungguh berguna apabila kita membaca terlebih dahulu kitab-kitab Perjanjian Baru secara berurutan, sekurang-kurangnya sekali. Mulailah dengan Injil, lalu berlanjut dengan Kisah Para Rasul dan terus ke surat-surat para murid Yesus pada gereja perdana. (Akan sangat membantu apabila kita juga membaca pengantar sederhana kepada keempat Injil atau surat-surat itu). Mulailah menekuni dengan rutin, menyisihkan waktu yang tetap pada setiap hari. Jangan malu bertanya pada orang yang tepat di saat kita menemukan kesulitan atau hal yang tidak kita mengerti. Apabila kita dapat komit untuk melakukannya, niscaya kita akan lebih dalam lagi mengenal Yesus, Tuhan kita. Lantas, iman kita pun semakin bertumbuh. Bersyukurlah kalau ternyata hal itu berpengaruh pada cara hidup kita. Dengan begitu, kita pun menuju hidup yang semakin menyerupai hidup Yesus.

__________________


Daftar Pustaka :


1. A Catholic Guide of the Bible (Father Oscar Lukefahr, C.M)

2. Membaca Kitab Suci, Mengenal Tulisan-tulisan Perjanjian Lama (I. Suharyo, Pr)

3. Membaca Kitab Suci, Mengenal Tulisan-tulisan Perjanjian Baru (I. Suharyo, Pr)

4. Awal Persahabatan dengan Kitab Suci (I. Marsana Windhu)

5. Pengantar Kitab Suci Perjanjian Baru (P.Hendrik Njiolah, Pr)

6. Seluk Beluk Kitab Suci (St. Darmawijaya, Pr)

Pertemuan II BKSN 2011: Perumpamaan anak yang hilang

“Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."(Luk 15:20-32), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Dari perumpamaan ‘anak hilang’ tersebut ada tiga tokoh yang layak menjadi permenungan kita:
(1) anak bungsu yang berfoya-foya
(2) anak sulung yang merasa setia pada bapa dan
(3) bapa yang baik hati, penuh belas kasih. Maka kiranya masing-masing dari kita dapat bercermin pada tiga tokoh tersebut:

(1) Anak bungsu/yang hilang: mungkin kita seperti anak bungsu yang telah berfoya-foya memuaskan diri dengan kekayaan yang telah kita miliki misalnya untuk judi, pelacuran, mabuk-mabukan dst.., tetapi mungkin juga telah menghamburkan/boros waktu atau tenaga untuk sesuatu yang kurang berguna bagi kesehatan, keselamatan, kesejahteraan atau kebahagiaan sejati hidup kita, marilah dengan besar hati kita mengaku dosa alias bertobat. Tidak perlu malu-malu minta maaf kepada sesama maupun mengakukan dosa secara pribadi kepada imam yang bertugas. Tidak ada kata terlambat untuk bertobat.

(2) Anak sulung: rasanya kebanyakan dari kita merasa diri seperti ‘anak sulung’ -> nampak dengan setia dan taat dalam bekerja maupun hidup bersama, rajin, baik-baik saja, tetapi mungkin dalam hati sebenarnya yang dicari adalah pujian untuk menyombongkan diri bahwa dirinya orang yang baik dan hebat, tidak merasa dan tidak menghayati bahwa semuanya itu dapat terjadi karena kasih karunia Allah melalui sesama kita, orangtua, kakak-adik, sahabat dan kenalan atau rekan-rekan. Dengan kata lain menjadi seperti ‘anak sulung’ adalah seperti orang Farisi yang tak tahu terima kasih dan syukur dan pada umumnya mengasingkan diri alias kurang pergaulan (hanya bergaul dengan orang-orang tertentu saja). Perasaan dan penghayatan macam itulah yang menjadi akar kesombongan atau dosa; orang sombong memang tidak mau ‘menyatu’ dengan teman-teman atau sahabat-sahabat melainkan menyendiri, sebagaimana dalam perumpamaan Injil hari ini ‘anak sulung’ diminta menggabungkan diri dalam pesta pertobatan adiknya, saudaranya tidak memberi tanggapan, ngambeg, tidak mau bergabung. Orang yang demikian memang sulit menyadari diri sebagai yang berdosa, padahal ‘cara hidup atau cara bertindaknya’ telah menjadi batu sandungan bagi sesamanya, dengan kata lain ia telah menyebabkan orang lain berdosa (antara lain ngrasani atau ngrumpi). Cara hidup atau cara bertindak ini pada umumnya terjadi pada orang dewasa, senior, pemimpin atau atasan, pandai, berkedudukan, berpangkat, kaya dst…

(3) Bapa yang penuh belas kasih: bapa yang penuh belas kasih, dengan gembira, hati dan tangan terbuka menyambut anaknya yang ‘hilang’ pulang kembali memang merupakan gambaran dari Allah yang Maha Kasih dan Maha Pengampun. Sebagai umat beriman, orang yang beriman pada Yesus Kristus, kiranya kita semua dipanggil untuk menjadi ‘gambar Allah Pengasih dan Pengampun’., bukan hanya pada imam/pastor yang berada di dalam kamar pengakuan saja. “Berkat kuasa-Mu juga, cinta mengalahkan kebencian, ampun menaklukkan balas dendam, dan saling kasih mengenyahkan perselisihan” (Prefasi DSA VI) Kasih pengampunan merupakan cirikhas hidup iman Kristiani, iman pada Yesus Kristus, maka marilah kita hayati dan wartakan kasih pengampunan dalam hidup kita sehari-hari di manapun dan kapanpun juga.

“Marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk”

Para pendatang pada umumnya lebih sukses dan berhasil dalam usaha dan kerjanya daripada para penduduk asli. Penduduk asli sering merasa diri sebagai yang berkuasa dan terpilih di daerah atau tempat tinggalnya serta ada kecenderungan untuk menjadi sombong. Dengan dan dalam perasaan macam itu penduduk asli juga merasa yang terbaik atau lebih baik daripada pendatang. Perasaan sebagai yang terbaik juga dialami oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, sebagaimana digambarkan sebagai anak sulung dalam perumpamaan ‘anak hilang’, sebagaimana dikisahkan di dalam Warta Gembira hari ini. Warta Gembira hari ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi bagi siapapun yang bersikap mental Farisi atau merasa diri yang terbaik.

“Bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka” (Luk 15:2).

Yesus adalah Penyelamat Dunia, yang datang untuk menyelamatkan dunia, maka Ia senantiasa berusaha untuk mencari dan menyelamatkan orang berdosa atau ‘yang hilang’. Ia duduk dan makan bersama dengan para pendosa, yang dalam ‘mind set’ masyarakat waktu itu orang berdosa berarti harus disingkiri dan dijauhkan dari pergaulan bersama. Mungkin sebagian dari kita juga memiliki ‘mind set’ macam itu, sehingga enggan atau tidak bersedia bergaul dengan para pendosa atau mereka yang terbuang. Dalam tampilan SCTV beberapa waktu yang lalu antara lain disiarkan seorang yang berjiwa sosial di Tasikmalaya, Jawa Barat, yang dengan penuh cinta kasih dan pengorbanan merawat dan mengurus saudara-saudarinya yang bernyakit jiwa serta menggelandang. Ia membuat asrama sederhana dan menyisihkan kekayaannya untuk mengurus dan merawat puluhan pasien sakit jiwa. Diceriterakan juga bahwa beberapa temannya berkomentar “Untuk apa kamu mengurus orang-orang macam itu?”. Komentar macam itu rasanya mirip dengan ‘sungut-sungut orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat’ ketika mereka melihat Yesus duduk dan makan bersama para pendosa.

“Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia” (Luk15:28-30), begitulah gambaran orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang diperankan oleh ‘anak sulung’: sombong dan melecehkan orang lain, yang memang lebih jelek dan berdosa. Kepada mereka yang masih bersikap mental Farisi kami ajak untuk bertobat dan belajar rendah hati, sebagaimana dihayati oleh ‘anak hilang’.

“Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa” (Luk 15:21) .

Jika kita jujur mawas diri atau melihat diri sendiri, kiranya kita semua akan menyadari dan menghayati diri sebagai yang berdosa, seperti ‘anak hilang’. Jika kita mengaku tidak pernah berdosa, maka berarti kita berdusta terhadap diri kita sendiri. Berdosa memang memiliki dimensi vertical dan horisontal, ada hubungannya dengan Tuhan dan sesama manusia maupun lingkungan hidupnya.

Kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang berdosa identik dengan kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang beriman; semakin beriman berarti semakin menyadari dan menghayati diri sebagai yang lemah dan rapuh serta dikasihi oleh Tuhan. Orang-orang terpilih di dalam Gereja Katolik, misalnya para uskup, senantiasa menyatakan diri sebagai yang hina dina dan berdosa, yang dipanggil Tuhan untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya, maka selayaknya kita meneladan mereka. Menyadari dan menghayati diri sebagai yang berdosa tidak berarti lalu diam saja, melainkan berarti senantiasa membuka diri untuk ditumbuh-kembangkan alias dibina dan dididik terus menerus. Dengan kata lain orang bersikap mental ‘ongoing formation/ongoing education’ . Orang yang bersikap mental demikian ini pada umumnya juga dapat menjadi pendamai dan pengampun, meneladan ‘bapa yang baik’.

“Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria” (Luk15:22-24).

Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk menghayati iman kita antara lain dengan menjadi saksi dan menyebarluaskan kasih pengampunan dan pendamaian, sebagaimana dikatakan Paulus kepada umat di Korintus : ”Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami” (2Kor 5:19). Segala kesalahan, pelanggaran dan dosa-dosa kita tidak pernah diperhitungkan atau diingat-ingat lagi oleh Tuhan, dan mungkin juga oleh saudara-saudari kita, maka marilah hal itu kita syukuri dengan menjadi saksi kasih pengampunan dan pendamaian.

Gerakan kasih pengampunan dan pendamaian kiranya sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini, mengingat dan memperhatikan masih maraknya aneka balas dendam dan kemarahan sebagai wujud konkret kesombongan. Marilah kita pro-aktif: dimanapun dan kapanpun kita melihat dan mendengar terjadi permusuhan, balas dendam dan kemarahan, marilah segera kita datangi untuk diajak berdamai. Kita dapat meneladan ‘bapa yang baik’, yang tidak memperhitung-kan serta mengingat-ingat kesalahan, dosa dan kekurangan orang lain, dan ketika ada orang bertobat dan berdamai hendaknya segera kita ajak bersukaria dan bergembira ria. Baiklah saya angkat lagi pesan Perdamaian Paus Yohanes Paulus II dalam rangka memasuki Millenium Ketiga :”There is no peace without justice, there is no justice without forgiveness” (= Tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilan tanpa kasih pengampunan). Berbuat adil antara lain menjunjung tinggi, menghormati dan menghargai harkat martabat manusia, sebagai ciptaan Allah terluhur dan termulia di dunia ini, demikian juga mengampuni mereka yang bersalah atau berdosa.

“Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku” (Mzm 34:2-5).


(Romo Ignatius Sumarya, SJ)

Pertemuan I BKSN 2011: Perumpamaan orang Samaria yang baik hati


Pengantar Singkat

Awal Bulan Kitab Suci Nasional adalah keprihatinan Gereja bahwa umat kurang akrab dengan kitab suci. Tahun 1975 Lembaga Biblika Indonesia menyarankan agar tiap paroki mengadakan misa Syukur dalam bulan Agustus untuk menyambut terbitnya Alkitab ekumenis. Di tahun 1976 ditentukan Minggu Kitab Suci yang tahun itu jatuh pada tanggal 24/25 Juli 1976. Selanjutnya sidang MAWI 1977 menetapkan hari minggu pertama bulan September sebagai Hari Minggu Kitab Suci Nasional (HMKSN). Dalam perkembangannya satu minggu dalam setahun dirasakan kurang, maka ditetapkanlah bulan September sebagai Bulan Kitab Suci Nasional, yang diisi dengan pelbagai kegiatan bersangkutan dengan Kitab Suci. Hal ini masih berlangsung sampai sekarang.

Pada tahun 2011 ini ada empat perumpamaan yang dipilih untuk dijadikan bahan renungan serta pembelajaran bersama dalam Bulan Kitab Suci ini, yaitu:

1. Orang Samaria Yang Baik Hati (Luk.10:25-37)
2. Anak Yang Hilang (Luk 15:1-32)
3. Lalang di Ladang Gandum (Mat. 13:24-30)
4. Pengampunan (Mat. 18:21-35).

Kedua perumpamaan yang pertama hanya terdapat di dalam Injil Lukas, sedang kedua perumpamaan terakhir hanya terdapat di dalam Injil Matius. Pemilihan keempat perumpamaan tersebut didasari oleh isinya yang relevan untuk situasi kita bersama saat ini. Kita mencoba bersama-sama menggali pesan-pesan perumpamaan dalam bentuk sharing, berbagi pengalaman dan berbagi pendapat. Bulan September ini kita memasuki bulan Kitab Suci, marilah setiap hari kita membaca dan merenungkan apa yang tertulis dalam Kitab suci, aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di lingkungan, wilayah maupun Sarasehan Kitab Suci yang diselenggarakan di Paroki dan kiranya juga dapat memanfaatkan tulisan-tulisan renungan yang ada di blog ini.

Pertemuan I. Perumpamaan orang Samaria yang baik hati


INJIL Lukas 10:25-37

Pada suatu ketika, seorang ahli kitab berdiri hendak mencobai Yesus, "Guru, apakah yang harus kulakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya, "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya, "Benar jawabmu itu. Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata lagi, "Dan siapakah sesamaku manusia?" Jawab Yesus, "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya, dan sesudah itu meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu. Ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu. Ketika melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datanglah ke tempat itu seorang Samaria yang sedang dalam perjalanan. Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasih. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya, 'Rawatlah dia, dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya waktu aku kembali.' Menurut pendapatmu siapakah di antara ketiga orang ini adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu, "Orang yang telah menunjukkan belas kasih kepadanya." Yesus berkata kepadanya, "Pergilah, dan lakukanlah demikian!"

***


Meskipun tidak jelas-jelas disebutkan, kisah orang Samaria yang baik hati dalam Luk 10:25-37 adalah sebuah perumpamaan. Yesus menampilkannya dalam pembicaraan dengan seorang ahli Taurat. Marilah kita simak latar perumpamaan ini.

HIDUP KEKAL = DASAR DIALOG IMAN?

Apa yang mesti dilakukan untuk memperoleh kehidupan kekal? Masalah yang diungkapkan ahli Taurat kepada Yesus ini menyuarakan pertanyaan dalam diri banyak orang. Orang merasa adanya kaitan antara kehidupan sekarang dan nanti. Bila orang dapat membiasakan diri menerima kehadiran Yang Mahakuasa, tentunya nanti dalam kehidupan selanjutnya ia akan diingat olehNya. Bila orang berusaha berbuat baik kepada orang lain, rasa-rasanya juga tidak akan terlantar bila sudah pindah ke dunia sana nanti. Meski tidak ada jaminan yang pasti, keyakinan seperti ini menjadi dasar iman dalam arti yang paling umum yang diajarkan tiap agama. Bila begitu, mengapa dialog antar iman yang kerap dilakukan di banyak tempat di negeri kita ini jarang menyentuh dasar yang paling umum dari iman sendiri? Sedemikian lumrah sehingga terabaikan? Pokok ini bisa juga menjadi dasar dialog iman tanpa segera mengarah pada perbedaan agama seperti bacaan hari ini.

Baik Yesus maupun ahli Taurat mempunyai jawaban yang sama bagi pertanyaan bagaimana memperoleh kehidupan kekal tadi. Memang disebutkan bahwa sang ahli Taurat bermaksud "mencobai" Yesus. Maksudnya untuk menguji apa guru dari kalangan bukan resmi ini juga paham apa masalahnya. Yesus menggulirkan pertanyaannya kembali kepadanya. Tentu ahli Taurat itu senang mendapat kesempatan mengutarakan tesis baru mengenai soal iman tadi. Begitulah dalam ayat 27 ("Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati, dengan segenap jiwamu, dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akalbudimu"), ia merumuskan kembali Ul 6:5 ("Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu") dan menggabungkannya dengan Im 19:8 ("Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."). Kedua perintah itu diketahui dan dipercaya orang, tetapi gabungan antara keduanya sebagai jalan emas untuk mencapai kehidupan kekal belum biasa terdengar di antara orang Yahudi. Lagipula apa hubungan antara keduanya, yang satu mewujudkan yang lain, atau dua hal terpisah dijalankan bersama?

DARI PERSPEKTIF PERJANJIAN LAMA

Perintah mengasihi Tuhan itu bagian dari ungkapan "Syema' Israel" ("Dengarkanlah hai Israel!") yakni ungkapan kepercayaan atau syahadat mereka, "Dengarkanlah hai Israel, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa!" (Ul 6:4) dan dalam ayat selanjutnya (Ul 6:5) dilanjutkan dengan kata-kata yang dikutip ahli Taurat tadi, yakni "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu." Teks ini menyebut tiga unsur yang dijelaskan dengan kata "segenap". Ahli Taurat tadi menambahkan hal keempat, yakni "segenap akalbudi" (Luk 10:27; Yesus juga menyebutkannya dalam Mrk 12:30 juga dalam Mat 22:37, walaupun Matius tidak menyebutkan "dan dengan segenap kekuatanmu"). Masalah teks ini tidak sukar dijelaskan. Dalam alam pikiran Ibrani, "hati" aslinya ialah tempat bernalar, jadi sama dengan akalbudi. Namun kemudian "hati" juga dimengerti sebagai tempat afeksi, termasuk iba hati, yang dulu-dulunya dibayangkan bertempat di perut. Beriba hati diungkapkan dengan "rahimnya tergetar", "isi perutnya terpilin-pilin", tergerak hatinya, seperti orang Samaria dalam Luk 10:33. Karena perkembangan itu maka dalam penerusan ayat tadi sering ditambahkan penjelasan mengenai yang sesungguhnya dimaksud dengan "segenap hati" tadi, yakni "seluruh akalbudi". Penjelasan ini ditaruh pada akhir ayat sehingga tidak memecah rumusan asli.

Mengasihi Tuhan dengan segenap hati maksudnya ialah memikirkannya dengan sungguh, mencari tahu sampai ke dasar-dasarnya, mempelajari siapa Dia itu, mencoba mengerti kebesaranNya, juga dengan filsafat. Dengan "segenap jiwa" artinya tidak berpura-pura, di luar tampaknya penuh perhatian tapi di dalamnya tak peduli, atau ada udang di balik batu, ada agenda tersembunyi. Orang sekarang akan merumuskannya dengan gagasan "integritas". Akhirnya, "segenap kekuatan" berarti kekayaan, harta, kedudukan, kepandaian, ketrampilan, apa saja yang dimiliki yang dapat membuat orang jadi terpandang. Semua hal yang ada pada manusia itu, hati/budi, integritas, kemampuan dapat diamalkan sehingga ungkapan "mengasihi Tuhan" makin berarti. Jadi mengasihi Tuhan itu sama dengan menjadi manusia yang makin utuh.

TASIR MENGASIHI SESAMA

Bagian kedua dari kutipan ahli Taurat tadi merujuk kepada Im 19:18, yakni mengasihi sesama "seperti dirimu sendiri". Apa artinya? Mengasihi orang lain dengan cara seperti layaknya kita memperhatikan diri kita sendiri, seperti yang ada dalam petuah emas "lakukan kepada orang lain seperti apa yang kauinginkan terjadi padamu"? Memang sering ditafsirkan demikian. Namun kalimat itu sebenarnya lebih sederhana: kasihilah sesamamu mengingat sesama itu ya seperti kamu-kamu juga. Sama-sama butuh keselamatan, sama-sama mau mendapat kebahagiaan dalam hidup kekal nanti. Jadi di sini ada ajakan menumbuhkan solidaritas di antara orang-orang yang berkemauan baik.

MENENGOK INJIL MARKUS

Apa arti penggabungan perintah mengasihi sesama dalam Im 19:18 dengan perintah mengasihi Tuhan dalam Ul 6:5 tadi? Inilah pokok masalah yang sebenarnya ingin diajukan ahli Taurat tadi. Ia ingin tahu apa Yesus paham perkaranya. Apa bagi Yesus perintah yang pertama belum cukup dan harus digabung dengan yang kedua? Atau yang pertama itu mengharuskan yang kedua? Atau yang pertama itu bisa dilaksanakan dengan yang kedua, jadi yang kedua itu bentuk nyata dari yang pertama? Ahli Taurat itu mau tahu apa Yesus memiliki kemampuan berteologi atau hanya tahu abece katekismus saja.

Hal ini sudah pernah muncul dalam Mrk 12:28-34 (lihat juga Mat 22:34-40). Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus manakah perintah yang utama. Jawab Yesus dalam Mrk 12:29-31 sama dengan kata-kata ahli Taurat dalam Luk 10:27 tadi. Dalam Mrk 12:32-33 sang ahli Taurat membenarkan Yesus dengan mengulang kedua perintah itu sambil menambahkan "[mengasihi Tuhan] dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya." Pernyataan "lebih utama" itu jelas terlihat dalam teks aslinya dimaksud sebagai predikat "mengasihi sesama..." Ini pernyataan yang amat berani. Ahli Taurat dalam Mrk 12:33 tadi menandaskan bahwa beragama itu intinya mengasihi sesama manusia - ini lebih utama dari pada semua praktek yang langsung meluhurkan dan mengasihi Tuhan, yakni segala macam kurban, segala macam upacara. Markus mencatat bahwa Yesus melihat ahli Taurat itu menjawab dengan bijaksana dan menyatakan bahwa ia tidak jauh dari Kerajaan Allah (Mrk 12:34).

Di kalangan orang Yahudi menjelang zaman Yesus ada pelbagai aliran kebatinan yang menekankan kesatuan antara kedua perintah tadi sambil menegaskan bahwa mengasihi sesama adalah jalan yang paling membuat orang sungguh mengasihi Tuhan. Pengajaran Yesus sendiri juga ada dalam arah itu. Nanti dalam ajaran mistik Yahudi dalam Abad Pertengahan, manusia kerap digambarkan sebagai percikan api yang asalnya dari Tuhan. Artinya dalam diri manusia ada secercah terang yang membawanya kembali kepadaNya, tanpa susah-susah, asal diterima. Jadi terimalah sesama karena ia juga mempunyai recikan keilahian yang sama, karena ia itu sesama itu gambar dan rupa ilahi. Sering ada ketegangan dengan mereka yang lebih melihat kedua perintah itu sebagai dua hal, bukan satu hal. Yesus mengatakan dalam Mrk 12:34 bahwa ahli Taurat yang bijaksana itu tidak jauh dari Kerajaan Allah, maksudnya, pemikiran ahli Taurat tadi amat dekat dengan warta Yesus sendiri. Pembicaraan dalam Luk 10:25-28 yang mendahului perumpamaan orang Samaria yang baik hati itu cerminan Mrk 12:28-34. Lukas mengolahnya dengan kisah orang Samaria yang baik hati.

ORANG SAMARIA

Ahli Taurat dalam Luk 10:25-37 itu mau tahu apakah Yesus paham di sini ada perkara teologis yang hanya bisa dipecahkan dengan kebijaksanaan seperti dalam Markus tadi. Apa Yesus itu orang yang hanya asal percaya huruf atau bisa dianggap kolega yang pintar berusaha mengerti ayat-ayat? Jawaban Yesus yang mengiakan itu memberi kesan seakan-akan ia tidak melihat apa yang diarah ahli Taurat tadi. Aha! Makin jelas perkaranya nih, begitu pikir sang ahli Taurat girang. Makin empuk mendekat ke pemecahan. Lalu kata Lukas yang sebenarnya memoderatori seminar antar pakar agama itu, ahli Taurat tadi bertanya lagi "untuk membenarkan dirinya" (ayat 28), dan mengungkapkan pokok masalah kedua: "Siapakah sesamaku manusia itu?"

Dengan bercerita mengenai orang Samaria yang baik hati itu Yesus menuntun ahli Taurat tadi sampai pada kebenaran. Tapi caranya khas. Ia dibawa ke arah yang berlawanan dan baru pada akhir orang dihadapkan pada jawaban sesungguhnya. Ahli Taurat itu mau tahu siapa sesama manusia dan perumpamaan itu pasti membuatnya mengira bahwa Yesus mau mengatakan bahwa sesama manusia ialah orang yang malang yang tak ditolong oleh kaumnya sendiri itu. Seolah-olah mau diajarkan bahwa pemuka Yahudi mestinya sadar bahwa mengasihi sesama itu mengasihi orang yang kena malang. Namun mereka sudah tahu. Pada akhir cerita itu (ayat 36) Yesus bertanya dan membuat orang sadar akan arah yang semestinya dipikirkan. Siapakah dari antara ketiga orang itu adalah sesama bagi orang malang itu? Tak bisa lagi dielakkan, sesama manusia bagi orang malang itu ialah orang Samaria tadi.

Orang dituntun beralih dari bertanya "Siapakah sesamaku?" menuju ke pemeriksaan diri "Aku ini sesama bagi siapa?" Kejujuran, kebaikan hati, kemauan menolong tidak menjadi pusat perhatian. Semua ini diandaikan ada. Yang mesti ditanyakan, semua ini kupunyai untuk siapa? Dengan semua ini aku bisa menjadi sesama bagi siapa? Lebih maju lagi, dengan menjadi "sesama" ini, bisakah aku makin menjadi jalan bagi sesama itu untuk tahu apa itu "mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan dan segenap akalbudi"? Bila orang sampai ke situ, boleh dibayangkan Yesus juga akan menyapanya dengan penuh pengertian, "Sana, jalankanlah!".

Salam hangat,

Romo. A. Gianto, SJ


(sumber renungan: www.mirifica.net)