HOMILI: Sabtu Malam Paskah, 23 April 2011

Kej 1:1-2:2; Mzm 104:1-2a.5-6.10.12.13-14.24.35c; Kel 14:15-15:1; MT Kel 15:1-2.3-4.5-6.17-18; Yes 55:1-11; Mzm 42:3.5bcd;43:3-4 atau MT Yeh 36:25-27; Rm 6:3-11; Mzm 118:1-2.16ab.17.22-23 Mat 28:1-10

"Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku."

Pertama-tama kami haturkan "SELAMAT PASKA", Selamat merayakan Hari Kemenangan atas dosa dan Menempuh Hidup Baru dengan semangat misteri kebangkitan Yesus. Pada malam ini kiranya tempat-tempat ibadat, gereja atau kapel, penuh meluber sampai di luar gedung umat Allah bersama-sama mengenangkan puncak iman kita, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Umat yang biasanya jarang hadir dalam Perayaan Ekaristi hari Minggu, kiranya pada malam ini terpanggil, bangkit kembali, untuk hadir dalam Perayaan Ekaristi Malam Paskah, dan semoga kebangkitan kembali ini tidak berhenti pada malam ini saja, melainkan berjalan terus sampai mati, dipanggil Tuhan. Maka marilah kita renungkan sabda-sabda yang akan kita dengarkan dan dibacakan dalam Perayaan Ekaristi Malam Paskah ini.

"Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku." (Mat 28:10)

Setelah peristiwa penyaliban Yesus di kayu salib, kiranya para murid berada di dalam ketakutan sambil berdoa; mereka takut jangan-jangan nanti akan diperlakukan seperti Yesus. Dalam suasana yang menakutkan ini pada umumnya mereka yang dipandang kuat dalam percaturan hidup bersama tidak berani tampil di permukaan, sementara itu mereka yang dipandang lemah tidak ada ketakutan sedikitpun. Itulah kiranya yang terjadi di malam Paskah, yang menjadi saksi kebangkitan pertama kali adalah wanita, yang sering dipandang lemah, bukan laki-laki, yang sering dipandang kuat. "Tiada rotan akar pun berguna", begitulah kata sebuah pepatah. Memang di dalam keadaan genting dan menakutkan pada umumnya yang maju, menjadi ujung tombak adalah mereka yang dipandang lemah dan tidak kuat secara social-organisatoris

"Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.", demikian sabda Yesus yang telah bangkit dari mati kepada Maria Magdalena dan Maria yang lain. Pesan "Jangan takut" juga disampaikan kepada Bunda Maria, teladan umat beriman serta para nabi, yang merasa kecil dan hina. Maria Magdalema bersama teman-temannya dipesan jangan takut dan diutus untuk mengatakan kepada para murid/rasul (catatan: para lelaki yang ketakutan) agar mereka menemui Yesus yang bangkit di Galilea. Galilea adalah tempat tinggal sehari-hari para murid sebelum mengikuti Yesus. Bagi kita semua `Galilea' berarti tempat tinggal atau tempat kerja kita sehari-hari, dimana setiap hari kita memboroskan waktu dan tenaga kita. Maka kita semua yang beriman kepada Yesus yang bangkit dipanggil untuk menemui-Nya di dalam tempat tinggal atau keluarga kita masing-masing maupun tempat kerja atau kesibukan kita setiap hari.

Menemui Yesus yang bangkit berarti melihat dan mengakui aneka keutamaan sebagai buah Roh Kudus yang kita hayati sendiri maupun dihayati oleh saudara-saudari kita. Keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh Kudus tersebut antara lain "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23), maka marilah kita lihat, akui dan imani keutamaan-keutamaan tersebut dalam diri saudara-saudari kita. Dengan kata lain kita dipanggil untuk tidak takut senantiasa berpikiran positif terhadap saudara-saudari kita, dalam keadaan atau situasi apapun. Maka marilah lebih-lebih atau terutama kita lihat dan perhatikan saudara-saudari kita terutama yang berada dalam ketakutan; kita kuatkan dan besarkan hati mereka agar tidak takut menghayati dan menyebarluaskan keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh Kudus tersebut. Marilah selanjutnya kita renungkan sapaan Paulus kepada umat di Roma di bawah ini.

"Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus."(Rm 6:10-11)

`Mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus', inilah yang hendaknya kita renungkan dan hayati dalam rangka menghayati misteri Paskah, kebangkitan Kristus Yesus, dalam hidup sehari-hari. Kita dipanggil untuk melakukan dosa sekecil apapun, sebaliknya senantiasa hidup bagi Allah dalam Yesus Kristus, yang berarti senantiasa menghayati sabda-sabda Yesus serta meneladan cara hidup dan cara bertindakNya setiap hari dimanapun dan kapanpun. Kita dipanggil untuk menghayati apa yang difirmankan Allah melalui nabi Yesaya ini: "Seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya" (Yes 55:10-11)

Apa yang dikehendaki oleh Allah dalam diri kita masing-masing harus berhasil alias menghasilkan buah sebagaimana dikehendaki oleh Allah. Kehendak Allah antara lain keadaan atau kondisi semua ciptaan-Nya ini baik adanya sebagaimana ketika baru saja diciptakan (lihat Kej 1:1-2:2). Semua ciptaan Allah dibumi ini ketika diciptakan baik adanya, maka ketika tidak ada yang baik berarti dirusak oleh manusia berdosa, karena manusia sebagai ciptaan terluhur di bumi ini dan berkuasa atas ciptaan-ciptaan lainnya. Segala macam penyakit, musibah dan bencana alam hemat saya terjadi karena dosa manusia, yang terwujud dalam aneka bentuk keserakahan dalam mengkomsumsi atau memanfaatkan ciptaan-ciptaan lainnya. Maka karena dalam kenyataan cukup banyak ciptaan yang tidak baik lagi alias tidak sebagaimana adanya ketika diciptakan berarti kita dipanggil untuk memberantas aneka bentuk keserakahan manusia.

Marilah masing-masing dari kita berusaha untuk menjaga dan mengelola hidup kita sendiri masing-masing senantiasa dalam keadaan dan kondisi yang baik, dan kemudian bersama-sama di dalam keluarga kita masing-masing kita bergotong-royong untuk membuat keluarga senantiasa dalam keadaan baik. Jika semua keluarga baik adanya, maka berarti hidup bersama kapanpun dan dimanapun akan baik adanya pula. Dengan kata lain masing-masing dari kita diharapkan mengerjakan sebaik mungkin aneka pekerjaan atau tugas yang ada di hadapan kita masing-masing atau diserahkan kepada kita. Hendaknya jangan membuang waktu dan tenaga untuk melihat dan memikirkan kesuksesan orang lain, melainkan jadikan kesuksesan orang lain sebagai motivasi atau dorongan agar kita mengerjakan sebaik mungkin apa yang menjadi tugas dan pekerjaan kita.

`SELAMAT PASKAH, SEMANGAT MERAYAKAN KEMENANGAN ATAS DOSA-DOSA"

"Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu" (Mzm 51:12-15)

Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab ia baik! Kekal abadi kasih setia-Nya. Biarlah Israel berkata, "Kekal abadi kasih setia-Nya. Tangan kanan Tuhan berkuasa meninggikan, tangan kanan Tuhan melakukan keperkasaan! Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan. Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di antara kita. (Mzm 118:1-2.16ab.17.22-23)

Jakarta, 23 April 2011


Romo Ignatius Sumarya, SJ