Tampilkan postingan dengan label Surat Gembala Prapaskah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Gembala Prapaskah. Tampilkan semua postingan

Surat Gembala Prapaskah 2016 bagi Umat Katolik Keuskupan Agung Semarang

“Diutus menjadi garam dan terang bagi masyarakat”
Saudara-saudariku yang terkasih
Memasuki tahun 2016, umat Allah KAS telah memiliki ARDAS VII untuk periode 2016-2020. Dalam semangat ARDAS yang baru ini, kita ingin menapaki peziarahan iman, dengan bergotong royong memperjuangkan Peradaban Kasih melalui hidup bersama yang sejahtera, bermartabat dan beriman, sebagaimana dicita-citakan dalam Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS) 2016-2035. Apa yang kita cita-citakan ini tentulah bagian dari perwujudan iman kita. Kita hidup bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga diutus hadir dan tinggal bersama warga masyarakat lainnya. Secara istimewa pada Tahun Yubileum Kerahiman Allah ini, kita diutus menampilkan Wajah Kerahiman Allah. Dia sungguh baik, peduli dan penuh kasih.
Bacaan-bacaan yang kita dengarkan hari ini menegaskan arti perutusan. Allah memilih dan mengutus beberapa orang memberi­takan kabar baik dan memberi kesaksian akan kebaikan hati-Nya di tengah kehidupan nyata. Nabi Yesaya memiliki ketakutan dan tidak siap mengemban perutusan hidup di tengah-tengah suasana yang muram. “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, Tuhan semesta alam” (Yes 6:5). Yesaya merasa tidak pantas menjadi seorang utusan, namun akhirnya dengan penuh iman berkata: “Inilah aku, utuslah aku!” (Yes 6:8).
Perasaan yang serupa juga dialami oleh para murid Yesus. Simon dipilih dan dipanggil oleh Yesus untuk ikut serta dalam karya-Nya. Merasa diri lemah dan tak layak mengemban perutusan, Simon menjawab: “Tuhan, pergilah dari padaku sebab aku ini orang berdosa” (Luk 5:8). Akan tetapi Yesus menguatkan hati Simon dengan berkata: “Jangan takut! Mulai sekarang engkau akan menjala manusia” (Luk 5:10).
Saudari-saudara yang terkasih
Kadang kita pun merasa tidak pantas untuk mengemban tugas perutusan. Kita disadarkan bahwa justru dalam pengakuan akan kelemahan dan keterbatasan tersebut, kita merasakan kekuatan Allah yang berkarya. Seperti nabi Yesaya yang tinggal di tengah bangsa yang suram, kita juga tinggal di tengah-tengah bangsa yang masih diwarnai oleh kesuraman karena berbagai masalah, antara lain pemaksaaan kehendak dan kekerasan, pengrusakan alam, dan korupsi serta lemahnya penegakan hukum. Dalam situasi seperti itu Yesus menghendaki kita bertolak ke tempat yang dalam (Luk 5:4), agar hidup semakin bermak­na dan berbuah.
Sebagai umat beriman, kita disadarkan akan hakikat kita sebagai garam dan terang dunia (Mat 5:13-14). Sabda Yesus kepada para murid inilah yang dijadikan tema Aksi Puasa Pembangunan 2016: “Akulah garam dan terang dunia”. Tema ini menyadarkan jati-diri kita sebagai murid Yesus yang siap diutus untuk menaburkan garam kebaikan di tengah masyarakat sehingga kehidupan bersama tidak terasa hambar; untuk membawa terang sehingga memungkinkan setiap orang menemukan kebenaran dan jalan keselamatan. Seperti Simon dan Yesaya, semoga kita, murid Tuhan ini, juga berani menanggapi panggilan Yesus dengan memberikan jawaban: “Inilah aku; utuslah aku menjadi garam dan terang dunia”.
Kita yakin bahwa panggilan dan perutusan kita sebagai garam dan terang dunia akan semakin meman­tap­kan iman kita. Dengan iman yang mantap itu kita memberi kesaksian melalui keteladan dan perbuatan yang berkenan kepada Allah serta berguna bagi masyarakat. Gagasan Romo Albertus Soegijapranata SJ tentang lingkungan, sewaktu masih berkarya di Bintaran pada tahun 1934, mendorong umat katolik untuk hadir dan terlibat dalam kehidupan bermasya­rakat. Romo Soegija mengung­kap­kan: “Alangkah baiknya kalau dalam setiap wilayah pemukiman terdapat ‘seorang pribumi yang bersemangat’ yang dapat mengumpulkan orang-orang katolik, supaya orang katolik tidak ‘berkedudukan’ di luar lingkungan hidup mereka (berkumpul pada hari Minggu di gedung gereja), melainkan supaya orang katolik tinggal di tengah-tengah masyarakat, sebagai orang beriman menjadi satu dengan hidup sosial”. Pemikiran itulah yang kemudian melahirkan sistem lingkungan dalam tata penggembalaan umat di paroki-paroki dan sangat khas di Jawa. Sistem lingkungan bukan semata-mata sistem administrasi, melainkan sebagai sarana keterlibatan sosial, supaya iman kristiani benar-benar berakar di masyarakat. Melalui karya nyata dalam keterli­batan sosial di tengah masyarakat, kita mengem­ban tugas perutusan sebagai garam dan terang dunia.
Aneka karya karitatif dan pemberdayaan bagi umat dan masyarakat, perlu terus ditingkatkan. Tindakan nyata memba­ngun budaya transparansi dan akuntabilitas sebagai upaya mela­wan tindak korupsi, tentu sangat bermanfaat. Budaya memilah dan meletak­kan sampah pada tempatnya, membuat sumur resapan, dan memanfaatkan air hujan merupakan sarana kepedulian terhadap lingkungan hidup dan kelestariannya. Hal ini merupakan tindakan bijaksana yang perlu terus dikembang­kan. Selain itu, dengan rendah hati, kita mau belajar pada komunitas lain yang mempunyai kepedulian dan bertindak secara nyata demi kebaikan bersama (bonum commune).
UU RI Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, mendorong kita untuk ikut serta membangun dan mengembangkan desa dengan cara kita masing-masing. Pada pasal 18 UU itu ditegaskan bahwa kewenangan Desa meliputi kewenangan di bidang Penyeleng­garaan Pemerintahan Desa, Pelaksanaan Pembangunan Desa, Pem­bi­naan Kemasya­ra­katan Desa, dan Pemberdayaan Masyara­kat Desa. Dengan memahami dan mendalami apa yang tertuang dalam UU itu, serta dalam semangat kerjasama yang sinergis dengan berbagai pihak, Pengurus Dewan Paroki bersama umat Katolik dapat mengambil bagian dalam salah satu bidang tersebut guna mewujudkan diri sebagai garam dan terang di tengah masyarakat.
Saudari-saudara yang terkasih
Saya, bersama Kolegium Konsultor Keuskupan, mengucap­kan terima kasih kepada seluruh umat, komunitas Hidup Bakti, dan paguyuban-paguyuban atas partisipasi­nya mengembang­kan Ge­re­­ja KAS. Kita yakin, usaha kecil dan sederhana yang telah dilakukan menjadi cahaya dalam kehi­dupan yang masih diliputi kesuraman. Kita terus berdoa agar umat Allah KAS, dalam terang Rencana Induk Keuskupan 2016-2035 dan semangat ARDAS KAS 2016-2020, semakin meneguh­­kan peran sebagai garam dan terang dunia. Rama Kardinal Darmajuwana menegaskan: “Tidak ada tenaga yang tidak berguna meski kecil sekalipun, asal mau. Meski kita lemah namun Tuhan memberi kekuatan. Tuhan memilih yang lemah untuk memberi hikmah kepada yang kuat”.
Mari kita saling mendoakan dan meneguhkan. Kita berdoa dan memberi perhatian bagi para ‘Adi Yuswa’ dan yang sedang sakit di manapun berada, agar rahmat Tuhan menguatkan mereka; bagi yang difabel, agar diberi anugerah penghibur­an dan pertolongan; bagi keluarga-keluarga, agar senantiasa mengupayakan keru­kun­an, damai dan sejahtera. Pintu Kerahiman Allah dan belaskasih-Nya diwujudkan dan dinyatakan dalam cara bertin­dak dengan saling memberi perha­­tian dan dukungan.
Sebagai umat Allah KAS, mari kita bergerak bersama agar sebagai garam tetap mampu memberikan rasa asin, meskipun harus melarutkan diri dan tidak kelihatan dalam kehidupan bersama. Dan sebagai terang mampu menjadi cahaya di tengah kegelapan.

Semarang, 25 Januari 2016,  pada Pesta Bertobatnya St. Paulus Tahun Luar Biasa Yubileum Kerahiman Allah.
Salam, doa dan berkah Dalem,
Sukendar Wignyosumarta, Pr Administrator Diosesan KAS.
Lampiran Surat Gembala Prapaskah 2016 PERATURAN PUASA DAN PANTANG TAHUN 2016
Mengacu Statuta Keuskupan Regio Jawa 1995 pasal 136 peraturan puasa dan pantang ditetapkan sebagai berikut:

  1. Hari Puasa tahun 2016 ini dilangsungkan pada hari Rabu Abu tanggal 10 Februari 2016, dan Jumat Agung tanggal 25 Maret 2016. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.
  2. Yang wajib berpuasa ialah semua Orang Katolik yang berumur 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua Orang Katolik yang berumur genap 14 tahun ke atas.
  3. Puasa dalam arti yuridis, berarti makan kenyang hanya sekali sehari. Pantang dalam arti yuridis, berarti memilih tidak makan daging atau ikan atau garam, atau tidak jajan atau merokok.
Karena peraturan puasa dan pantang cukup ringan, maka kami anjurkan, agar secara pribadi atau bersama-sama, misalnya dalam keluarga, atau seluruh lingkungan/wilayah, atau komunitas pastoran/ biara atau komunitas seminari menetapkan cara puasa dan pantang yang dirasakan lebih sesuai dengan semangat tobat dan matiraga yang ingin dinyatakan sebagai jati diri murid-murid Kristus“Akulah garam dan terang dunia”.
Sebagai sikap pertobatan nyata, beberapa hal dapat dibuat dan sangat kami anjurkan, antara lain:

  1. Dalam keluarga, pertemuan lingkungan atau komunitas, dicari bentuk-bentuk pantang dan puasa yang cocok dengan jenjang usia, sebagai bagian dari pembinaan iman menurut usia: usia dini dan anak, remaja dan orang muda, dewasa dan lansia.
  2. Pada hari Jumat dan hari lain yang ditentukan, setiap keluarga/ komunitas mengganti makanan pokok yang disukai dengan makanan pengganti dari bahan makanan lokal dengan satu macam lauk (sebagaimana sudah muncul sebagai gerakan di beberapa paroki atau komunitas selama peringatan Hari Pangan Sedunia – HPS).
  3. Selama empat puluh hari dalam masa Prapaskah secara pribadi atau dalam keluarga atau komunitas biara/pastoran/seminari memilih tindakan tobat yang lebih berdaya guna untuk mewujudkan tindakan kasih, sekaligus memulai mewujudkan Peradaban Kasih.
  4. Menentukan gerakan pemberberdayaan dan tindakan nyata yang berdampak luas bagi lingkungan alam serta masyarakat sekitar sebagai wujud solidaritas. Hal ini sekaligus menjadi pintu masuk untuk mulai mewujudkan Peradaban Kasih di Indonesia dalam unsur “kesejahteraan”, misalnya dengan gerakan jimpitan beras untuk kepentingan dana pendidikan dan upaya lain memberi makan bagi saudari-saudara yang membutuhkan.
  5. Hendaknya juga diusahakan agar setiap orang beriman kristiani baik secara pribadi maupun bersama-sama mengusahakan pembaharuan hidup rohani, misalnya dengan rekoleksi, retret, latihan rohani, ibadat jalan salib, pengakuan dosa, meditasi, adorasi dan sebagainya.
  6. Salah satu ungkapan tobat bersama dalam masa Prapaska ialah Aksi Puasa Pembangunan (APP), yang diharapkan mempunyai nilai dan dampak untuk pembaruan pribadi, serta mempunyai nilai dan dampak bagi peningkatan solidaritas pada tingkat paroki, keuskupan dan nasional.
Tema APP tahun 2016 ini adalah:
“Akulah garam dan terang dunia” sebagaimana diuraikan dalam buku-buku yang diterbitkan oleh Panitia APP Keuskupan Agung Semarang.
Semarang, 25 Januari 2016, pada Pesta Bertobatnya St. Paulus Tahun Luar Biasa Yubileum Kerahiman Allah. Salam, doa dan Berkah Dalem,

Sukendar Wignyosumarta, Pr
Administrator Diosesan KAS

Surat Gembala Prapaska 2014 Keuskupan Agung Semarang

dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 1-2 Maret 2014 di wilayah Keuskupan Agung Semarang
  

“Allah peduli dan kita menjadi perpanjangan tangan kasih-Nya untuk melayani”

Saudari-saudaraku yang terkasih, 

Tidak lama lagi kita akan memasuki masa Prapaskah, masa penuh rahmat yang setiap tahun kita jalani. Masa Prapaskah menjadi penuh rahmat karena kita mengalami bahwa Allah sungguh baik kepada kita dan memberi kesempatan untuk membangun pertobatan terus menerus.

Ada kisah-kisah kehidupan yang menampakkan solidaritas dan belarasa yang nyata dari situasi banjir ataupun bencana yang terjadi pada hari-hari ini. Namun yang lebih keras terdengar adalah situasi kehidupan harian yang diwarnai dengan korupsi, aneka bentuk keserakahan, egoisme, dan orang mengejar segala kepentingan diri dengan pelbagai cara. Akibatnya orang tidak lagi peduli dengan kesengsaraan banyak orang. Orang hidup untuk dirinya sendiri. Orang menjadi mudah cemas, kuatir, terutama terhadap pemenuhan kebutuhan jasmani. Kekuatiran itu membuat orang tidak mudah bersyukur atas apa yang diterimanya, juga tidak mudah untuk mengambil penderitaan orang lain sebagai tanggung jawabnya. Dalam dunia yang semacam itu, sabda Tuhan memberi peneguhan dan pengharapan. Kasih Allah akan mengatasi segala kekuatiran kita. ”Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian?” (Mat 6:25). Kasih Tuhan melebihi kasih seorang ibu “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau” (Yes 49:15). Kasih-Nya memberi pengharapan pada semua orang dalam perjuangan hidupnya. Ia akan menerangi dalam setiap langkah hidup kita, terutama saat hidup ada dalam kegelapan (bdk. 1Kor 4:5).

Saudari-saudara terkasih, Belum lama ini Paus Fransiskus mengeluarkan surat apostolik “Evangelii Gaudium”. Dalam suratnya itu, Paus meneguhkan iman kita semua bahwa Allah sungguh mencintai semua orang. Melalui Yesus Kristus, Ia menyelamatkan kita bukan janya orang perorangan, tetapi dalam relasi sosial dengan semua orang (Evangelii Gaudium art. 178). Ia berharap agar iman akan Allah yang begitu mengasihi dibangun terus menerus, sehingga kita bisa bersyukur dalam keadaan apapun dan tidak mudah kuatir; kita bisa terus tergerak untuk membantu orang lain, meringankan beban mereka yang menderita dan mau berkorban tanpa pamrih, walaupun kita hidup di dalam masyarakat yang banyak egois, mengejar kepentingan diri. Semua itu karena kita tidak berpusat pada diri sendiri, tetapi pada Allah yang dengan cara-Nya akan mencukupi segala kebutuhan dan keselamatan kita.

Saudari-saudara terkasih,

Untuk mengembangkan iman yang demikian, Keuskupan Agung Semarang menjadikan tahun 2014 sebagai Tahun Formatio Iman. Formatio Iman adalah pembinaan atau pendampingan iman yang terus menerus kepada semua orang beriman dalam setiap jenjang usia, mulai dari usia dini sampai usia lanjut. Pembinaan itu melibatkan keluarga, sekolah maupun paroki. Harapannya, melalui pendampingan iman yang terus menerus, kita semua bisa menjadi orang-orang katolik yang beriman cerdas, tangguh dan misioner. Cerdas karena kita mampu memahami dan mempertanggungjawabkan imannya. Tangguh karena kita tetap bisa bertahan dan berkembang dalam iman walaupun ada dalam pergulatan hidup yang berat dan tantangan iman yang semakin kompleks. Dan misioner karena iman mengajak kita bergerak keluar untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tengah Gereja dan masyarakat.

Iman yang cerdas, tangguh dan misioner itu terumuskan secara jelas dalam tema APP 2014, ”Berikanlah Hatimu untuk Mencintai dan Ulurkanlah Tanganmu untuk Melayani”. Tema itu tidak hanya menyapa sisi manusiawi kita, tetapi juga menyapa iman kita. Pengalaman akan Allah yang mengasihi, meneguhkan dan mengorbankan diri-Nya membuat kita juga mampu mencintai sesama dan mengulurkan tangan-tangan kita untuk melayani orang lain, terutama yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Keprihatinan sosial yang ada sekarang ini menjadi kesempatan kita untuk memberikan kesaksian iman.

Saudari-saudara yang terkasih

Kita menjadikan masa Prapaskah menjadi masa untuk formatio iman, yakni masa untuk mengolah iman secara terus menerus sampai akhirnya kita merasakan bahwa iman adalah rahmat yang membawa hidup penuh berkat; iman adalah keyakinan bahwa Allah berkarya dalam hidup kita; iman adalah penyerahan yang membuat kita tidak kuatir dalam segala hal. Iman adalah kesadaran bahwa hidup ini semakin berarti saat hati bisa mencintai dan tangan bisa melayani. Maka formatio iman tidak bisa dilepaskan dengan pertobatan dan pembaruan. Pertobatan adalah kesediaan diri untuk mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah, sehingga kita tidak kuatir karena Allah bersama kita dan mencukupkan segala kebutuhan kita. Pertobatan juga merupakan penyangkalan diri untuk mewujudkan kasih dalam kehidupan bersama. Pertobatan itu kita bangun melalui puasa, pengakuan dosa dan amal kasih. Puasa menjadi bentuk pengendalian diri dan penyangkalan diri; pengakuan dosa menjadi bentuk kerendahan hati bahwa kita masih lemah dan membutuhkan pengampunan dan pertolongan Tuhan. Amal kasih menjadi tindakan nyata bahwa kita bisa ambil bagian dalam kasih dan kepedulian Allah untuk umat manusia. Dengan demikian, pertobatan membawa pembaruan relasi kita dengan Allah dan sesama.

Saudari-saudara yang terkasih

Secara tulus saya mengucapkan banyak terima kasih kepada ibu, bapak, saudari-saudara, anak-anak, remaja, orang muda, para Romo, Bruder, Suster, Frater yang dengan berbagai macam cara terlibat dalam formatio iman, mengembangkan pelayanan kasih, tiada henti mewujudkan persaudaraan sejati di antara sesama pemeluk agama dan pelayanan lain di Keuskupan Agung Semarang. Saya yakin bahwa usaha dan niat-niat baik Anda akan berbuah bagi terwujudnya tatanan kehidupan yang semakin beriman, bersaudara dan manusiawi.

Secara khusus saya berdoa bagi Anda yang sedang sakit, menanggung beban-beban kehidupan yang berat, berada di Lembaga Pemasyarakatan, menjadi korban penyalahgunaan Narkoba, difabel atau berkebutuhan khusus serta yang lanjut usia; semoga Tuhan yang Mahakasih memberikan keteguhan iman kepada Anda semua dan diantara umat dapat saling menghibur-meneguhkan. Tuhan yang Mahamurah senantiasa melimpahkan berkat bagi keluarga dan komunitas Anda.

Salam, doa dan Berkah Dalem,
Semarang, 22 Februari 2014, pada Pesta Takhta Santo Petrus, Rasul

+ Johannes Pujasumarta Uskup Keuskupan Agung Semarang

Nawala Prapaskah 2012 Keuskupan Agung Semarang

Dina Minggu, Tanggal 18/19 Februari 2012



Katolik Sejati Kudu Preduli lan Rila Andum Rejeki

“Tindakna Pakaryan Becik Sanadyan Mung Cilik lan Prasaja”



Para ibu, Bapak, Suster, Rama, Bruder, para mudha, para putra

lan para sadulur kabèh kang kinasih ing Gusti



1. Dina Rebo ngarep, tanggal 22 Februari 2012, awaké dhéwé bakal miwiti mangsa pamartobat, utawa mangsa prapaskah. Kanggo awaké dhéwé, mangsa prapaskah dadi mangsa kang mirunggan amarga uga bisa diarani dadi wektu kanggo “retret agung umat”. Mangsa prapaskah uga dadi wektu kang prayoga kanggo naliti urip. Apa uripé awaké dhéwé wus salaras karo karsa Dalem Gusti. Wektu iku uga dadi wektu kang kebak atur panuwun. Awaké dhéwé kaajak ngaturaké atur panuwun marang Gusti amarga awaké dhéwé minangka titah kang sèkèng lan saben-saben tumiba ing dosa, ananging tetep trinresnan déning Gusti. Katresnan Dalem Gusti iku kagambaraké ing Kitab Nabi Isaias kang kawaos ing dina iki,”Saka karsa-Ku pribadi Aku ora arep ngéling-éling dosa-dosamu manèh” (Is 43:25). Sabda Dalem Gusti iki dadi pepéling tumrap awaké dhéwé supaya bisa mbangun sikap pamartobat kang sejati. Gusti ora paring paukuman ananging paring kalodhangan supaya padha mbangun sikap pamartobat.



Mbangun sikap pamartobat kang sejati tegesé wani miwiti urip anyar, ninggal cara urip lawas ngrasuk urip anyar. Kanggo miwiti urip anyar iku lumantar Nabi Isaias Gusti paring sabda,“Ora perlu mung ngéling-éling sing uwis-uwis, lan mandheg nggagas sing wis klakon” (Is 43:18). Ana ing Injil cetho banget urip anyar iku dialami déning wong lumpuh kang banjur bisa mlaku (kat. Mrk 2:1-12). Iku mau kabèh amarga saka katresnan Dalem Gusti Yésus marang wong lumpuh mau. Mula saka iku awaké dhéwé tansah kaajak mbuka ati marang tuntunan Dalem Gusti supaya bisa miwiti urip kang anyar ninggal sakèhing dosa lan kadurakan.



Para sedulur kang kinasih ing Sang Kristus,



2. Ana rong prekara wigati kang kudu digegulang ana ing mangsa pamartobat, yaiku: sepisan ngéling-éling lan nyawisaké baptis, kapindo nggegulang laku tobat (Konstitusi Liturgi, 109). Manawa rong prakara iki digegulang temenan aku yakin yèn uripé awaké dhéwé bakal ngetokaké woh kang migunani kanggo urip bebarengan ana ing madyaning pasamuan suci lan masyarakat.



3. Linambaran sabda Dalem Gusti kang diwartaaké dina iki awaké dhéwé diajak kanthi manteb padha nggegulang urip karohanèn ing sajroning mangsa prapaskah. Salah sawijiningwoh kang bisa kapethik saka laku tobat iki, yaiku semangat gotong-royong, lung tinulung kanthi tulus lan preduli marang liyan. Semangat, mrentul saka ati lan preduli kang kaya mangkéné iki kang kacritakaké ana ing Injil dina iki. Nalika weruh wong kang lumpuh arep sowan Gusti Yésus, wong-wong ing sakiwa tengen kono padha awèh pitulungan. Kang nrenyuhaké dicritakaké mangkéné ”Sarèhné ora bisa nyowanaké ingarsané Gusti marga saka akèhing wong, mula banjur mbukak payon. Sawisé menga, lincaké si lumpuh diudhunaké” (Mrk 2:4). Nyata banget apa kang dadi sedyané wong-wong mau. Kang bakal kagayuh mung siji, yaiku kepriyé supaya wong lumpuh mau bisa sowan ingarsané Gusti Yésus lan bisa mlaku.



4. Nyawang wong kang lumpuh wong-wong mau banjur cancut tali wanda tumandang gawé awèh pitulungan. Ora ana kang dhawuh nanging thukul saka ati kang burus. Anggoné padha tumandang mau marga kinanthèn pangandel. Ana ing Injil dikandhakaké, ”Gusti Yésus priksa pangandelé wong-wong mau, mula banjur ngandika,’ngGèr, dosamu kaapura” (Mrk 2:5). Wong-wong padha awèh pitulungan amarga pancèn ana kawigatèn, rasa tulus lan rasa kamanungsan marang pepadha. Iki bisa dadi panjurung kanggo awaké dhéwé, apa kang kudu daktindakaké yèn ana wong mbutuhaké pitulungan.



Pengalaman wong lumpuh ing Injil dina iki pranyata bisa kelakon ing jaman saiki. Durung suwé iki, ana dokter kang nyritakaké pengalamané marang aku mengkéné: “Sawijining dinten, griya sakit kula nampi satunggiling pasien, “Bu Fatimah” asmanipun; dipun dhèrèkaken satunggaling nèm-nèman. Kawontenanipun Bu Fatimah awon sanget: badan kera, mambet, sakit gangren, pasuryanipun pucet lan ketinggal kawratan sanggan. Nèm-nèman wau ngendika dhateng perawat: „Punika sanès Ibu kula nanging kula manggihaken Ibu punika wonten ing alun-alun. Kula dhèrèkaken dhateng griya sakit punika awit kula pitados griya sakit punika temtu purun paring pitulungan dhateng Ibu punika.. Sasampunipun dipun rimat sawetawis dinten, Ibu punika tilar donya kanthi tentrem. Amargi boten dipun mangertosi sanak kadangipun, Ibu punika dipun rukti déning pihak griya sakit. Nalika badhé dipun sarèkaken nèm-nèman wau dhateng kaliyan pacanganipun lan pranyata piyambakipun sampun maringi arta dhateng Ibu wau kanggé ragat sadangunipun Ibu Fatimah karimat wonten ing griya sakit. Sawetawis dinten, nalika nèm-nèman wau tindhak dhateng kitha lan langkung wonten ing alun-alun, manggihaken malih Bu Fatimah sanès ingkang mbetahaken pitulungan. Kanthi raos welas asih, nèm-nèman ndhèrèkaken Bu Fatimah dhateng griya sakit ingkang tebihipun 40 km saking griyanipun”.



Minangka murid-murid Dalem Gusti Yésus, awaké dhéwé uga bisa ngatonaké pakaryan becik ing sakiwa tengené awaké dhéwé kaya nom-noman mau. Sanadyan ora padha persis karo nom-noman mau, nanging aku yakin pakaryan becik kang katindakaké, sanadyan mung cilik lan prasaja, bakal migunani banget tumrap pepadha. Kaya kang kacritakaké ing Injil mau, marga padha preduli lan tansah nggatèkaké marang liyan, sanadyan ngadhepi kangèlan tetep mbudidaya gawé kabecikan kanggo pepadha. Kang dadi berkahé, wong lumpuh mau bisa pinanggih Gusti Yésus lan bisa mlaku. Sikap, semangat preduli lan ati kang tulus iki kang kudu dijaga lestariné supaya uripé awaké dhéwé dadi berkah kanggo sapa baé. Wong papat kang nggotong wong lumpuh mau ora mung mikir butuhé dhéwé, nanging uga mikiraké butuhé wong liya, luwih-luwih marang wong kang ora bisa tumindak apa-apa. Semono uga nom-noman mau: ora duwé rasa risi marang kahanané Bu Fatimah. Nom-noman mau bisa gawé Bu Fatimah „pinanggih karo Gusti Kang Murbeng Dumadi. kanthi tentrem lan urmat.



Para sedulur kang kinasih ing Sang Kristus,



5. Apa kang katindakaké déning wong-wong marang wong lumpuh lan nom-noman marang Bu Fatimah mau bisa kanggo pangéling-éling tumrap awaké dhéwé manawa urip bebarengan ana ing madyaning masyarakat iki kudu tansah lung tinulung lan samad sinamadan. Awaké dhéwé ora bisa mung meneng baé yèn ana kahanan kang isih mrihatinaké. Awaké dhéwé kudu wani gawé kabecikan. Sanadyan apa kang katindakaké iku mung barang sepélé nanging aku yakin bakal gedhé pigunané.



Lan apa kang katindakaké iku mbok manawa ora ketara, ora bisa gawé awaké dhéwé misuwur lan kondhang jenengé, malah kepara dianggep golèk kawigatèn. Nindakaké pakaryan becik mono ora kanggo golèk pangalembana, utawa kanggo golèk suwuring dhiri. Nindakaké kabecikan pancèn wus dadi sesanggemané awaké dhéwé minangka pandhèrèk Dalem Sang Kristus kang kudu preduli marang sapa baé. Iki kabèh minangka kautaman kang kudu katindakaké luwih-luwih kanggo sanak kadang kang sèkèng, miskin, kasingkir lan difabel.



6. Linambaran pangandel lan sabda Dalem Gusti dina iki, aku ngajak para sadulur kabèh miwiti mangsa prapaskah lan nglelimbang téma Aksi Puasa Pembangunan taun 2012, yaiku Katolik Sejati Kudu Preduli lan Rila Andum Rejeki. Aku ngajak sapa baé tansah mbudidaya bisaa ngatonaké urip katolik kang sejati. Tanpa wigah-wigih suka paseksèn minangka pandhèrèk Dalem Sang Kristus ana ing madyaning masyarakat. Nindakaké kabecikan marang sapa baé tanpa mandhang drajat lan pangkat. Wani ninggal watak srakah lan ngemungaké urip kang kebak ing panarimo lan atur panuwun marang Gusti kang tansah paring rejeki. Sikap lan kautaman kang kaya mangkéné iki kang saben taun bisa kawujud ana ing Aksi Puasa Pembangunan (APP).



APP kang wus nganti patang puluh taun kelakon, dadi tandha nyata manawa awaké dhéwé sejatiné bisa ngatonaké urip sejati. Mula nalika awaké dhéwé miwiti mangsa prapaskah lan nglelimbang APP, kang sepisanan dipikiraké dudu awaké dhéwé nanging wong-wong kang mbutuhake pitulungan. Anggone awaké dhéwé padha ngengurangi sajroné mangsa prapaskah wus dadi berkah kanggo wong akèh. Apa kang katindakaké iki sejatiné kang dadi piwulangé Pasamuan Suci kang kamot ing dokumèn Konsili Vatikan II. Ing kono kasebutaké, ”Laku tobat sajroné patang puluh dina prayoga banget yèn ora mung katindakaké sacara batin lan mung mligi kanggo pribadi ananging kudu mawujud sacara tata lair lan bisa dirasakaké ana ing masyarakat” (Konstitusi Liturgi, 110)



7. Wusana, para Ibu, Bapak, Suster, Rama, Bruder, para mudha, para putra lan para sadulur kabèh kang kinasih ing Gusti ayo kanthi bungahing ati lan manteb padha miwiti mangsa pamartobat, mangsa prapaskah. Muga-muga apa kang padha daklelimbang bebarengan ing lingkungan lan komunitas-komunitas apadéné ing kelompok kategorial sangsaya neguhaké jatining urip katolik kang sejati, yaiku kudu preduli lan rila andum rejeki. Lan kanthi mangkono panglimbangan kang dilakoni kanthi setya bisa ngétokaké woh kang migunani kanggo pepadha luwih-luwih kang kasrakat uripé. Berkah Dalem Gusti tansah rumentah kagem panjenengan kabèh, brayat-brayat, komunitas lan paguyuban. Gusti Allah neguhaké pakaryan becik sanadyan mung cilik lan prasaja.



Aku nutup nawala iki kanthi wangsalan cekak:

Lungguh dingklik nang ngisor wit waru

Sinambi ngisis ngicipi roti

Dadi wong katolik aja mangu-mangu

Kudu preduli lan rila andum rejeki






Semarang, 1 Februari 2012

Salam lan Berkah Dalem,





† Johannes Pujasumarta

Uskup Keuskupan Agung Semarang

Surat Gembala Prapaskah 2012

KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

Katolik Sejati Harus Peduli dan Berbagi


“Lakukanlah Pekerjaan Baik meski Kecil dan Sederhana Sekalipun”


Para Ibu, Bapak, Suster, Rama, Bruder, orang muda, remaja, anak-anak dan saudari-saudaraku yang terkasih dalam Tuhan,


1. Hari Rabu yang akan datang, tanggal 22 Februari 2012, kita akan memulai masa tobat atau masa prapaska. Bagi kita masa prapaska merupakan masa khusus dan istimewa, karena disebut juga sebagai retret agung umat. Masa itu menjadi masa yang sangat baik untuk meneliti hidup kita, apakah hidup kita selaras dengan kehendak Tuhan. Masa prapaska juga menjadi kesempatan yang sangat istimewa untuk bersyukur kepada Tuhan, karena kita orang yang lemah dan berulang kali jatuh dalam dosa senantiasa dikasihi oleh Tuhan yang mahakasih. Cinta kasih Tuhan yang begitu dalam tersebut dikisahkan amat indah oleh nabi Yesaya yang diwartakan hari ini, ”Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.” (Yes 43:25). Sabda Tuhan ini mengingatkan kita, agar mau membangun pertobatan yang sejati. Tuhan tidak pernah menghukum, namun Tuhan selalu memberi kesempatan kepada kita untuk bertobat.

Membangun pertobatan sejati berarti berani memulai hidup baru, dengan meninggalkan cara hidup lama. Untuk memulai hidup baru, melalui nabi Yesaya Tuhan mengingatkan kita, ”Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala” (Yes 43:18). Dalam bacaan Injil hari ini wujud hidup baru tersebut tampak jelas dalam peristiwa penyembuhan orang yang tadinya lumpuh, dapat berjalan (bdk. Mrk. 2:1-12). Hal itu terjadi karena kehendak dan cinta kasih Yesus sendiri kepada orang lumpuh yang berharap akan belas kasih Tuhan. Maka, kita semua diajak untuk membuka diri terhadap bimbingan Tuhan, agar bisa hidup secara baru meninggalkan dosa-dosa kita.

Saudari-saudaraku yang terkasih

2. Ada dua hal penting untuk dihayati selama masa prapaska sebagaimana ditegaskan oleh Konsili Vatikan II, “dua ciri khas masa ‘empat puluh hari’, yakni terutama mengenangkan dan menyiapkan baptis dan membina pertobatan” (Sacrosanctum Concilium 109). Jika dua hal itu dihayati dalam hidup, saya yakin masa prapaska akan menghasilkan buah yang sangat berguna bagi kehidupan kita bersama di tengah-tengah Gereja dan masyarakat.

3. Dengan diterangi sabda Tuhan hari ini dengan mantab kita menghayati hidup kerohanian kita selama masa prapaska. Salah satu buah yang dapat kita petik dari pertobatan kita adalah semangat gotong-royong, tulus menolong dan tumbuh suburnya kepedulian terhadap sesama. Semangat, ketulusan dan solidaritas seperti itu-lah yang diceritakan di dalam Injil hari ini. Ketika melihat orang lumpuh yang akan berjumpa dengan Yesus, orang-orang di sekitarnya dengan rela hati mem-berikan pertolongan. Yang sangat mengharukan dari kutipan tersebut diceritakan dengan amat indah, ”Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepadaNya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atasNya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu” (Mrk 2:4). Meski ada kendala, mereka tidak menyerah. Hanyalah satu hal keinginan mereka, orang lumpuh itu sampai di depan Yesus, sembuh dan bisa berjalan.

4. Melihat orang yang lumpuh, mereka bergegas memberikan pertolongan; tidak ada yang menyuruh atau meminta tetapi keluar dari ketulusan hati. Mereka bertindak karena didorong oleh iman. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Yesus kepada orang lumpuh itu, ”Hai anakKu, dosamu sudah diampuni” (Mrk 2:5). Orang-orang memberikan pertolongan karena kepedulian, ketulusan dan solidaritas kemanusiaan kepada sesama. Hal ini menjadi daya dorong bagi kita semua untuk melakukan sesuatu, jika ada orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan.

Kisah seperti dalam Injil tadi ternyata masih dapat dijumpai saat ini. Beberapa waktu yang lalu saya mendapat sharing dari seorang dokter: “Suatu hari rumah sakit kami menerima seorang pasien, “Bu Fatimah”; diantar oleh seorang pemuda. Keadaannya sangat buruk: badan kurus, berbau, luka gangren, wajah pucat dan tampak depresif. Pemuda itu berkata kepada perawat: ‘Ini bukan Ibu saya tetapi saya menemukannya dari alun-alun kota. Saya membawanya ke sini karena rumah sakit ini pasti mau menolong Ibu ini’. Setelah dirawat beberapa hari Ibu itu mengembuskan nafasnya dengan tenang. Karena tidak ada identitas apa pun, pemakaman Bu Fatimah diurus oleh pihak rumah sakit. Pada saat pemakaman pemuda itu datang bersama pacarnya dan ternyata ia telah memberikan beberapa rupiah kepada Ibu itu untuk biaya perawatan. Bebe¬rapa hari kemudian, waktu ia bermobil lewat di pinggir alun-alun kota, ia jumpai lagi "Bu Fatimah" yang lain tergeletak di sana. Dengan rasa kasih, pemuda itu memasukkan Ibu itu ke dalam mobilnya, dan dibawa ke rumah sakit yang berjarak 40 km dari alun-alun kota tempat tinggalnya”.

Sebagai murid-murid Yesus Kristus kita masih bisa menghadirkan karya baik di sekitar kita seperti pemuda tadi. Meski tidak persis sama seperti pemuda itu, namun saya yakin karya baik yang kita lakukan meski kecil dan sederhana sekalipun akan sangat berguna bagi sesama. Seperti yang diceritakan di dalam Injil hari ini, karena ada kepedulian dan perhatian kepada sesama, maka meski ada kendala, tetap ada juga usaha berbuat kebaikan bagi orang lain. Berkat kebaikan itu orang lumpuh bertemu dengan Yesus dan dapat berjalan. Sikap, semangat peduli, dan ketulusan hati inilah yang harus kita jaga kelestariannya, agar hidup kita menjadi berkat bagi sesama. Empat orang yang mengusung orang lumpuh tadi tidak hanya memikirkan kebutuhan mereka sendiri, namun memikirkan kebutuhan orang lain lebih-lebih orang yang tidak bisa berbuat apa-apa. Demikian juga pemuda tadi: ia tidak jijik dengan keadaan Bu Fatimah. Ia telah membuat Bu Fatimah ‘bertemu dengan Sang Penciptanya’ secara tenang dan bermartabat.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

5. Apa yang dilakukan empat orang terhadap si lumpuh dan pemuda terhadap Bu Fatimah mengingatkan kita, bahwa tolong-menolong, saling peduli menjadi keutamaan hidup yang harus tetap dipupuk dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat. Kita tidak bisa tinggal diam, jika masih melihat keadaan yang memprihatinkan. Kita harus berani berbuat sesuatu demi kebaikan. Meskipun yang kita perbuat itu hal yang sangat kecil dan sederhana, namun pasti sangat berguna. Apa yang kita perbuat itu bisa jadi tidak kelihatan atau tidak membuat kita menjadi populer dan terkenal, bahkan oleh orang-orang tertentu dianggap cari perhatian. Berbuat baik tidak untuk mencari pujian atau mencari popularitas diri. Kita berbuat baik karena didorong iman kita, dan sebagai bentuk kesaksian sebagai murid-murid Yesus Kristus. Sebagai murid-murid Yesus Kristus kita melakukan perbuatan baik, terutama bagi mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel.

6. Dilandasi oleh iman dan sabda Tuhan hari ini, saya mengajak para Ibu/Bapak/Suster, Bruder/Rama/orang muda/ remaja dan anak-anak untuk memasuki masa prapaska dan merenungkan tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) tahun 2012, yaitu Katolik Sejati Harus Peduli dan Berbagi. Saya mengajak Anda semua untuk terus mengupayakan hidup kekatolikan kita. Tanpa ragu-ragu memberikan kesaksian hidup sebagai murid-murid Yesus Kristus di tengah-tengah masyarakat. Berbuat kebaikan bagi siapa saja tanpa memandang pangkat dan kedudukan. Berani meninggalkan sikap serakah dan mengutamakan sikap bersyukur. Karena bagi kita lebih baik menderita karena berbuat baik daripada menderita karena berbuat jahat. Sikap dan keutamaan hidup seperti inilah yang selalu kita wujudkan setiap tahun dalam gerakan APP.

APP yang sudah berjalan selama empat puluh tahun ini menjadi contoh konkret, bahwa kita selalu peduli kepada sesama. Maka ketika kita memasuki masa prapaska dan mengadakan APP bukan diri kita sendiri yang pertama-tama dipikirkan, namun orang lain yang lebih membutuhkan. Puasa dan pantang kita telah berbuah bagi sesama. Apa yang kita lakukan selama ini dalam rangka prapaska sebenarnya menjadi penegasan apa yang disampaikan oleh para pemimpin Gereja. Di dalam dokumen Konsili Vatikan II ditegaskan, ”Pertobatan selama empat puluh hari itu hendaknya jangan hanya bersifat batin dan perorangan, melainkan hendaknya bersifat lahir dan sosial kemasyarakatan” (Sacrosanctum Concilium 110)

7. Akhirnya, para Ibu, Bapak, Suster, Rama, Bruder, orang muda, remaja dan anak-anak yang terkasih, dilandasi iman yang teguh marilah dengan gembira hati dan mantab kita mulai masa tobat, masa prapaska ini. Semoga apa yang kita renungkan bersama di lingkungan-lingkungan dan komunitas-komunitas maupun di dalam kelompok kategorial semakin meneguhkan jatidiri kita sebagai orang Katolik sejati, yaitu peduli dan rela berbagi. Dengan begitu permenungan yang kita jalani dengan setia bisa menghasilkan buah melimpah-limpah bagi banyak orang yang susah dalam hidupnya. Berkat Tuhan senantiasa melimpah bagi Anda semua, keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas dan paguyuban Anda. Tuhan meneguhkan karya baik Anda semua, meski sederhana dan kecil sekalipun.


Perkenankan saya menutup surat ini dengan berpantun,

Lungguh dingklik nang ngisor wit waru
Sinambi ngisis ngicipi roti
Dadi wong Katolik aja mangu-mangu
Kudu peduli lan rila andum rejeki



Semarang, 1 Februari 2012


Salam, doa dan Berkah Dalem,


† Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Surat Gembala Prapaska 2011

SURAT GEMBALA PRAPASKA 2011
KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG



Hari Minggu Biasa IX Tahun A/I, Tanggal 5 – 6 Maret 2011

“Orang Katolik Sejati Melakukan Kehendak Bapa”


Saudari-saudaraku yang terkasih,

Rabu Abu menjadi pintu masuk bagi kita semua ke dalam masa Pra Paska, yang dalam tradisi Gereja dijadikan masa untuk “retret agung”. Disebut “retret agung” karena selama 40 hari kita diajak oleh Gereja untuk mengikuti Yesus Tuhan kita semakin dekat, mengenal-Nya semakin dalam, dan mencintai-Nya semakin mesra. Saya anjurkan seluruh umat Katolik sungguh menggunakan masa retret agung untuk keperluan tersebut, secara pribadi maupun bersama, agar iman berkembang semakin mendalam dan tangguh, dan dengan demikian menjadi orang Katolik sejati.

Selama masa Pra Paska 2011 kita diajak untuk merenung, berdoa, dan membicarakannya dalam pertemuan umat dengan tema “Inilah orang Katolik Sejati”. Di manakah terletak kesejatian kita sebagai orang Katolik? Pada nama baptis Katolik yang dipasang melengkapi nama diri? Tentu tidak. Pada keterangan agama yang kita anut, yang tercantum pada KTP? Tidak juga. Pada cara seruan ketika kita berdoa? Pada kutipan Injil hari ini Tuhan Yesus bersabda, ‘Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat. 7: 21) Bukan pada cara seruan kita berdoa, tetapi pada rahmat yang memampukan kita melakukan kehendak Bapa di sorga terletak kesejatian kita sebagai orang Katolik.

Dengan pernyataan tersebut, dapat kita mengerti pula bahwa ‘kekatolikan’ memuat pemahaman tentang iman yang terbuka, bahwa siapa pun yang melakukan kehendak Bapa di sorga dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Katolik merupakan suatu nama yang memuat ajakan agar kita diperkenankan mengalami Allah yang sejati. Pada zaman kita ajakan tersebut menjadi sungguh berat karena kita hidup dalam berbagai arus yang berlawanan secara ekstrim. Ada arus tak peduli pada keberadaan Allah dan perannya bagi keselamatan manusia karena manusia merasa semakin mampu mengusahakan keselamatan sendiri. Ada juga arus fanatisme beragama yang dipeluk oleh orang-orang yang berseru “Tuhan, Tuhan”, namun perilakunya tidak sesuai dengan seruannya, karena merusak milik orang lain, dan bahkan membinasakan kehidupan manusia.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Dalam kehidupan beragama kerap kita jumpai praktek-praktek keagamaan yang tidak selaras dengan pengalaman akan Allah yang sejati, karena bukan Allah yang kita muliakan, melainkan kepentingan diri sendiri yang kita penuhi. Kita beranggapan bahwa pelaku utama keselamatan itu diri manusia, diriku, dan bukan Allah. Dalam seruan kepada Allah, kerap kita berpendapat yang harus terjadi adalah kehendakku, bukan kehendak Bapa yang di sorga. Ranah keagamaan telah kita jadikan tempat berjualan, dan bukan lagi menjadi tempat doa. Kita ciptakan ilah-ilah baru yang muncul dari kepentingan diri kita sendiri untuk memenuhi kepentingan diri kita sendiri pula.

Ketidakberesan dalam ranah keagamaan ini menjadi sumber aliran-aliran arus yang bermuara pada ruang publik yang tuna adab. Intoleransi yang akhir-akhir ini menjadi-jadi, kebohongan publik yang merambah ke setiap sudut ruang kehidupan masyarakat, korupsi, ketidakadilan, kekerasan yang merajalela, bahkan telah masuk dalam keluarga-keluarga kita adalah buah-buah dari hidup keagamaan yang tidak benar, karena yang kita sembah sebenarnya bukan Allah sejati, melainkan ilah-ilah ciptaan kita sendiri.

Permenungan kita mengenai “Inilah orang Katolik sejati” merupakan ajakan pertobatan, agar kita meninggalkan kegelapan untuk masuk dalam terang. Kita buka hati kita agar Roh Kudus, Roh Penasihat, menasihati kita agar menjadi trampil melaksanakan pembedaan roh-roh (Inggris: “discernment of spirits”, Latin “discretio spirituum”). Dalam ulah rohani ini kita kenal langkah-lagkah rohani untuk “necep sabda, neges karsa, ngemban dhawuh”. Langkah-langkah itulah yang dapat kita lakukan untuk mengisi masa Pra Paska kita menjadi masa retret agung.

Dalam langkah “necep sabda”, kita buka telinga kita untuk mendengarkan sabda Allah, yang bersabda melalui Kitab Suci. Sabda itu terasa manis karena meneguhkan perbuatan baik kita, namun sabda itu bisa pahit kalau mengkritik perbuatan salah kita. Seharusnya sebagai orang Katolik sejati kita biarkan daya kekuatan sabda itu mengubah hati kita. Dalam langkah “neges karsa” kita menjajagi apa kehendak Tuhan bagi hidup kita, membeda-bedakan mana kehendak Tuhan, mana kehendak kita; dan kemudian menegaskan bahwa kehendak Tuhanlah yang harus kita utamakan dalam kehidupan kita. Dalam langkah “ngemban dhawuh”, kita bangun kehendak hati dan budi kita karena kita bertekad melaksanakan kehendak Tuhan “ngemban dhawuh Dalem Gusti” dalam kehidupan kita.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Saya yakin, langkah-langkah itu dapat membantu kita menjadi bijaksana untuk mendirikan rumah di atas batu, sebagaimana dikatakan Tuhan, "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Mat. 7:24-25).

Sebagai orang Katolik sejati, marilah kita juga bersedia diantar oleh Maria, bunda Allah dan bunda Gereja, kepada Yesus, “per Mariam ad Jesum”. Maria telah menjadi teladan beriman kita. Seluruh hidupnya telah menjadi kesempatan untuk menyimpan segala peristiwa dan merenungkannya dalam hatinya. Setiap kali kita berdoa rosario, dalam sinar peristiwa-peristiwa Tuhan: gembira, terang, sedih dan mulia, kita diajak untuk merenungkan peristiwa-peristiwa hidup kita sendiri sebagai peristiwa-peristiwa keselamatan yang dilaksanakan oleh Allah sendiri.

Allah yang telah memulai pekerjaan-pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6).



Salam, doa dan Berkah Dalem,

Semarang, 25 Februari 2011


+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Surat Gembala Prapaska KAS 13-14 Februari 2010

SURAT GEMBALA PRAPASKA

13-14 FEBRUARI 2010

Para Ibu dan Bapak, Para Suster, Bruder, Rama,

Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus.

1. Sebentar lagi kita memasuki masa Prapaska. Pada masa Prapaska kita diajak untuk membangun sikap tobat. Sikap tobat yang benar diwujudkan dalam pilihan hidup yang mengandalkan Tuhan. Orang yang diberkati adalah orang yang mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan pada-Nya. Demikian Nabi Yeremia menghayati Sabda Tuhan: “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!” (Yer 17:7). Sedangkan orang yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan hatinya menjauh dari Tuhan adalah orang yang terkutuk. Orang-orang yang terberkati diibaratkan pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air. Membangun sikap tobat yang benar berarti senantiasa menempatkan kekuatan sendiri dalam sumber air sejati, Tuhan yang berbelaskasih.

2. Masa Prapaska juga merupakan masa yang penuh rahmat. Dengan senantiasa mentautkan diri pada sumber air sejati yakni Tuhan yang berbelas kasih, hidup kita selalu diperbarui. Pembaruan hidup orang beriman digambarkan oleh Nabi Yeremia: “...daunnya tetap hijau, ... tidak kuatir dalam tahun kering dan ... tidak berhenti menghasilkan buah” (Yer 17:8). Santo Paulus menghayati pembaruan hidup dengan keyakinan yang mendalam akan Kristus yang senantiasa hidup: “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati.” (1Kor 15:20). Pembaruan hidup yang dikerjakan oleh rahmat Allah membuat hidup kita selalu menghasilkan buah, kendati berada dalam ‘tahun kering’ dan ‘panas terik’.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

3. Tahun kering dan panas terik kehidupan kita sering membuat orang tidak berdaya, putus asa, mudah menyerah, patah semangat, tidak menghasilkan buah kehidupan. Tahun kering dan panas terik kehidupan masyarakat kita saat ini mendambakan tatanan hidup bersama yang menyejahterakan semakin banyak orang, penghormatan terhadap martabat pribadi manusia, pengelolaan lingkungan hidup yang manusiawi. Bacaan Injil hari ini memberikan inspirasi bagi kita untuk ‘tidak berhenti menghasilkan buah’. Tahun kering dan panas terik kehidupan saat ini bukan hambatan bagi orang beriman. Tahun kering dan panas terik kehidupan bukan alasan untuk menangisi keadaan. Tahun kering dan panas terik adalah kesempatan untuk membarui hidup dan menghasilkan buah pertobatan. Kemiskinan membangkitkan semangat untuk berbagi. Kelaparan membangkitkan semangat untuk berbela rasa. Kesedihan dan tangis membangkitan semangat untuk melayani dengan tulus hati. Kebencian dan kejahatan membangkitkan semangat untuk membalas kejahatan dengan kebaikan.

4. Karena itu, masa Prapaska bukan hanya kegiatan ritual belaka, tetapi gerakan rohani yang diwujudkan dalam aksi. Kita biasa menyebutnya dengan Aksi Puasa Pembangunan (APP). Gerakan APP di Keuskupan Agung Semarang sudah berusia 40 tahun. Tema APP tahun ini adalah BERSYUKUR DENGAN BERTOBAT DAN BERBAGI BERKAT. Aksi Puasa Pembangunan pada tahun 2010 ditempatkan dalam Tahun Syukur Keuskupan Agung Semarang: syukur atas Arah Dasar 2006-2010 yang menumbuhkan habitus baru, syukur atas Keuskupan Agung Semarang yang berulang tahun ke 70 dan syukur atas Tahun Imam yang saat ini diisi dengan gerakan rohani: retret imam dalam hidup sehari-hari. Bacaan Injil Lukas meneguhkan pertobatan kita sebagai bentuk keikutsertaan menghayati solidaritas Kristus yang bersengsara dan wafat di kayu salib demi keselamatan semua orang. Kegiatan-kegiatan selama masa APP mengajak kita untuk semakin menyerupai Kristus. Pembaruan hidup umat beriman menjadi semakin serupa dengan Kristus, hanya akan terjadi kalau dapat melihat Kristus yang bangkit dalam diri saudari-saudara kita yang miskin, lapar, menangis, dibenci, dikucilkan, dicela.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

5. Pertobatan yang benar dihayati dengan mengandalkan Tuhan yang penuh rahmat sehingga menghasilkan gerakan syukur dan berbagi berkat. Syukur karena mengandalkan Tuhan. Bersama Tuhan yang berbelas kasih itu kita menemukan kesempatan untuk berbagi berkat. Tahun kering dan panas terik tidak memadamkan kebahagiaan kita dalam mewujudkan semangat berbagi berkat. Dalam diri yang miskin, lapar, menangis, dibenci, dikucilkan, dicela tetap ditemukan pijar-pijar kebahagiaan karena setiap orang dimampukan membangun sikap tobat dengan bersyukur dan berbagi berkat. Buah pertobatan dan habitus baru yang telah mulai tumbuh di Keuskupan Agung Semarang dan pantas diyukuri antara lain: meningkatnya solidaritas antar paroki, solidaritas antar anak sekolah, solidaritas melalui APP, gerakan peduli lingkungan, gerakan peduli pendidikan, gerakan peduli bencana. Masih perlu dirancang aksi yang berkelanjutan untuk mengembangkan semangat berbagi berkat dan habitus baru sekaligus mengisi Tahun Syukur Keuskupan Agung Semarang, misalnya pembentukan Panitia APP di setiap paroki dengan kinerja yang makin efektif.

6. Akhirnya saya mengucapkan selamat memasuki masa Prapaska. Semoga pembaruan rohani kita sungguh menjadi pengalaman pribadi, keluarga dan komunitas. Semoga usaha-usaha kita untuk membangun gerakan kepedulian baik secara pribadi, keluarga, kelompok dan komunitas mendapat peneguhan dari rahmat Allah. Semoga perayaan 70 tahun Keuskupan Agung Semarang, 40 tahun gerakan APP dan tahun syukur Arah Dasar semakin mengembangkan kita semua dalam semangat berbagi berkat. Saya mengucapkan terima kasih atas keterlibatan seluruh umat dalam membangun dan mengembangkan Umat Allah Keuskupan Agung Semarang sesuai dengan kemampuan dan kesempatan masing-masing. Salam dan berkat Tuhan bagi para Ibu, Bapak, Suster, Bruder, Rama serta seluruh keluarga, kelompok dan komunitas. Semoga Tuhan memberkati niat-niat baik kita.

Semarang, 2 Februari 2010

Pius Riana Prapdi, Pr

Administrator Diosesan KAS

PERATURAN PUASA DAN PANTANG 2010

Mengacu Statuta Keuskupan Regio Jawa 1995 pasal 136 peraturannya ditetapkan sebagai berikut:

Hari Puasa tahun 2010 ini dilangsungkan pada hari Rabu Abu tanggal 17 Februari, dan Jumat Agung tanggal 2 April.

Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.

Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berumur 18 tahun sampai awal tahun ke-60.

Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berumur genap 14 tahun ke atas.

Puasa dalam arti yuridis, berarti makan kenyang hanya sekali sehari.

Pantang dalam arti yuridis, berarti memilih tidak makan daging atau ikan atau garam, atau tidak jajan atau merokok.

Karena peraturan puasa dan pantang cukup ringan, maka kami anjurkan, agar secara pribadi atau bersama-sama, misalnya oleh seluruh keluarga, atau seluruh lingkungan, atau seluruh wilayah, ditetapkan cara puasa dan pantang lebih berat, yang dirasakan lebih sesuai dengan semangat tobat dan matiraga yang ingin dinyatakan. Tentu saja ketetapan yang dibuat sendiri tidak mengikat dengan sanksi dosa.


Hendaknya juga diusahakan agar setiap orang beriman kristiani baik secara pribadi maupun bersama-sama mengusahakan pembaharuan hidup rohani, misalnya dengan rekoleksi, retret, latihan rohani, ibadat jalan salib, meditasi, dan sebagainya.

Salah satu ungkapan tobat bersama dalam masa Prapaska ialah Aksi Puasa Pembangunan atau APP, yang diharapkan mempunyai nilai dan dampak pembaharuan pribadi, serta mempunyai nilai dan dampak peningkatan solidaritas pada tingkat paroki, keuskupan dan nasional.

Tema APP tahun 2010 ini berbunyi:

“BERSYUKUR DENGAN BERTOBAT

DAN BERBAGI BERKAT”


Semarang, 2 Februari 2010

Pius Riana Prapdi, Pr

Administrator Diosesan KAS


---------------------------

NAWALA PRAPASKAH

13-14 FEBRUARI 2010

Para Ibu lan Bapak, Suster, Bruder, Rama,

Kadang mudha, remaja lan para putra kang kinasih ing Sang Kristus.

1. Sadhéla manèh awaké dhéwé miwiti mangsa Prapaskah, kanggo mbangun sikap pamartobat. Sikap pamartobat kang bener diwujudake kanthi nduwèni pilihan urip tansah ngendelake Gusti. Wong kang binerkahan yakuwi wong kang ngemungaké Gusti lan njagakaké Pangéran. Ya koyo mangkono anggèné Nabi Yérémias nuhoni sabda Dalem Gusti: “Rahayu wong kang precaya marang Yahwé, lan Yahwé sing jumeneng kapitayané!” (Yer 17:7). Suwaliké, wong kang ngendelaké kekuwatané dhéwé lan atiné ngadoh saka Gusti kuwi wong kang bilai. Wong-wong kang binerkahan, bisa kaibarataké kaya wit kang tinandur ing sapinggiring banyu, kang oyot-oyote mrambat ing tuking banyu. Mbangun sikap pamartobat kang bener ateges tansah nunggalaké kekuwatané dhéwé karo tuking urip sejati, Gusti kang kebak ing welas asih.


2. Mangsa Prapaskah uga mangsa kang kebak nugraha Dalem Gusti. Kanthi tansah nunggalaké karo tuking urip sejati, yaiku Gusti kang kebak welas asih, urip tansah kabangun anyar. Urip anyar digambaraké dening Nabi Yeremias: “...gegodhongané tetep ijo, ... ing sajroning mangsa ketigo ora perlu ngrasa pakewuh lan ora pedhot ngetokake woh” (Yer 17:8). Santo Paulus nggilut urip anyar kanthi keyakinan kang jero mungguhing Sang Kristus kang Sugeng: “Sang Kristus wungu saka seda.” (1Kor 15:20). Urip anyar minangka pakaryan Dalem Gusti, ndadekake urip kita tansah ngetokake woh, sanadyan ing ‘mangsa ketigo’ lan ‘mangsa panas’.

Para sedulur kang kinasih ing Sang Kristus,

3. Mangsa ketigo lan mangsa panas sajroning urip bisa ndadèkaké kita kélangan kapitayan, nglokro, gampang kasoran, putung semangaté, ora ngétokaké woh ing sajroning urip. Mangsa ketigo lan mangsa panas ing sajroning masyarakat wektu iki ngantu-antu tatanan urip bareng kang murakabi wong akèh, ngurmati martabat pribadining manungsa, nata lingkungan urip kang luwih nguwongaké. Waosan Injil dina iki mènèhi suroso kanggo kita supaya tetep ngétokaké woh. Mangsa ketigo lan mangsa panas sajroning urip dudu alangan tumraping wong kang precaya marang Gusti. Mangsa ketigo lan mangsa panas sajroning urip dudu alesan kanggo nangisi kahanan. Mangsa ketigo lan mangsa panas iku kesempatan kanggo nganyaraké urip lan ngétokaké wohing pamartobat. Kahanan kesrakat nuwuhaké semangat gelem andum berkah. Kaluwèn nuwuhaké semangat bawa rasa. Rasa sedhih lan tetangisan nuwuhaké semangat ngladèni kanthi trusing ati. Rasa sengit lan tindak sing ora trep nuwuhaké semangat suko piwales apik marang kang tumindak culika.


4. Mula saka iku, mangsa Prapaskah iku dudu kegiatan rutin waé nanging gerakan rohani kang tundhoné tandang gawé. Awaké dhéwé kulina minggunakaké tembung Aksi Puasa Pembangunan (APP). Gerakan APP ing Keuskupan Agung Semarang wus dungkap 40 taun. Tema APP taun iki NGUNJUKAKE ATUR PANUWUN KANTHI PAMARTOBAT LAN ANDUM BERKAH. APP taun 2010 ana ing Taun Syukur Keuskupan Agung Semarang: atur panuwun awit Arah Dasar 2006-2010 kang nuwuhaké habitus anyar, atur panuwun awit Keuskupan Agung Semarang kang dungkap 70 taun lan atur panuwun awit Taun Imam kang wektu iki nganakake gerakan rohani: retret imam ing urip padinan. Waosan saka Injil Lukas neguhaké kegiatan APP minangka wujud anggoné awaké dhéwé nggilut marang Sang Kristus kang kerso nandhang sangsara sarta séda kasalib kanggo keslametané kabèh wong. Kegiatan sajroné APP ngajak kita supaya sangsaya ngèmperi Sang Kristus. Urip anyar, ngèmperi Sang Kristus, bisa kelakon manawa kita bisa nyumurupi Sang Kristus sing wungu ana ing sedulur-sedulur kang kesrakat, kaluwèn, nangis, disengiti, didohi, disiya-siya.

Para sedulur kang kinasih ing Sang Kristus,

5. Pamartobat kang sayekti diayahi kanthi ngendelaké Gusti kang kebak nugraha saéngga ngasilake gerakan atur panuwun lan andum berkah. Atur panuwun awit tansah ngendelaké Gusti. Kanthi berkah Dalem Gusti kang kebak ing welas asih iku, aku panjenengan nduwèni kesempatan kanggo andum berkah. Mangsa ketigo lan mangsa panas ora nyurutake pepénginan mujudaké semangat andum berkah. Kanggo sing kesrakat, kaluwèn, nangis, disengiti, didohi, disiya-siya, roso bungah ora bakal surut, nanging kepara murub amarga tetep ana daya kanggo mbangun sikap pamartobat kanthi atur panuwun lan andum berkah. Wohing sikap pamartobat lan habitus anyar tuwuh ngrembaka ing Keuskupan Agung Semarang, ing antarané: wujud solidaritas paroki, solidaritas ing antarané bocah-bocah sekolah, solidaritas lumantar APP, gerakan peduli lingkungan, gerakan peduli pendidikan, gerakan peduli bencana. Sabanjuré isih prelu dirancang aksi kanggo ngrembakané semangat andum berkah lan habitus anyar sisan gawé ngisi taun atur panuwun kanggo umat lan pasamuwan KAS, umpamané kanthi mbentuk Panitia APP ing saben paroki kang mempeng anggoné ngladèni umat.


6. Wusanané, aku panjenengan bisa miwiti mangsa Prapaskah kanthi ati sumadiyo. Muga urip anyar mungguhing karohanèn kita pancèn nyata dadi pengalaman pribadi, kulawarga, lan komunitas. Muga-muga pambudidaya kita kanggo mbangun gerakan kepedulian sacara pribadi, kulawarga, kelompok lan komunitas kateguhaké déning sih nugraha Dalem Gusti. Muga-muga pahargyan 70 taun Keuskupan Agung Semarang, 40 taun gerakan APP lan taun syukur Ardas sangsaya ngrembakaké kita kabèh mungguhing semangat andum berkah. Aku ngaturaké panuwun awit panyengkuyung saka kabèh umat sajroning mbangun lan ngrembakaké Pasamuwan Suci ing Keuskupan Agung Semarang miturut kabisané lan kesempatané dhéwé-dhéwé. Berkah Dalem Gusti kalubèraké kagem para Ibu, Bapak, Suster, Bruder, Rama sarta kulawarga, kelompok lan komunitas. Muga Gusti tansah mberkahi apa sing dadi niyat lan kesaguhan kita kabèh.

Semarang, 2 Fèbruari 2010

Pius Riana Prapdi, Pr

Administrator Diosesan KAS



Dalam Masa Prapaska kita diwajibkan :

• Berpantang dan berpuasa pada hari Rabu, 17 Februari dan hari Jumat Suci, 2 April 2010. Pada hari Jumat lain-lainnya dalam Masa Prapaska hanya berpantang saja.
• Yang diwajibkan berpuasa menurut Hukum Gereja yang baru adalah semua yang sudah dewasa sampai awal tahun ke enam puluh (KHK k.1252). Yang disebut dewasa adalah orang yang genap berumur delapanbelas tahun (KHK k.97 §1).
• Puasa artinya: makan kenyang satu kali sehari.
• Yang diwajibkan berpantang: semua yang sudah berumur 14 tahun ke atas (KHK k.1252).
• Pantang yang dimaksud di sini: tiap keluarga atau kelompok atau perorangan memilih sendiri sekurang-kurangnya satu dari kemungkinan-kemungkinan ini: pantang daging, pantang garam, pantang jajan, pantang rokok. Setiap orang Katolik sangat dianjurkan untuk memilih wujud pantangnya yang lebih tepat dan bermanfaat untuk membangun sikap tobat yang berguna untuk pengembangan imannya. Dengan demikian kita dijauhkan dari semangat legalistis dan minimalistis, dan dengan kesadaran pribadi berusaha mewujudkan hidup pertobatan kita, serta mengarahkan diri menuju hidup seorang beriman yang lebih berkualitas.
• Untuk menghormati dan mewujudkan maksud adanya masa khusus dalam Gereja, maka sangat dianjurkan agar perkawinan-perkawinan sedapat mungkin tidak dilaksanakan dalam masa Adven dan terutama Prapaska, kecuali ada alasan yang berat. Pastor paroki dimohon secara bijaksana mencermati dan mengambil kebijakan sebaik mungkin dalam situasi dan kebutuhan pelayanan umat ini.
• Bila ada perkawinan yang karena alasan yang bisa dipertanggungjawabkan dilangsungkan dalam masa Adven, atau khususnya Prapaska, atau pada hari lain yang diliputi suasana tobat, pastor paroki hendaknya rnemperingatkan para mempelai agar mengindahkan suasana tobat itu, misalnya jangan mengadakan pesta besar (Upacara Perkawinan, Komisi Liturgi 1976, hal.14), untuk mengurangi kemungkinan menimbulkan batu sandungan. Dimohon perhatian dan kepekaan serta kepedulian kita terhadap kebanyakan saudara-saudara kita yang sedang mengalami beban hidup saat ini.


Bagikan