HOMILI: Hari Minggu Biasa XIV (Yeh 2:2-5; Mzm 123:1-2a.2bcd.3-4; 2Kor 12:7-10; Mrk 6:1-6)

"Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya."

Di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara pada umumnya yang terpilih menjadi kepada daerah atau pemerintahan adalah putera/puteri daerah yang terbaik. Sebaliknya yang menjadi pastor kepala paroki belum tentu putera daerah atau bahkan berasal dari daerah jauh, maklum fungsi atau peran pastor paroki kiranya berbeda dengan kepala daerah. Pastor paroki memiliki panggilan kenabian dalam fungsi dan tugasnya, yaitu menyampaikan dan memperjuangkan kebenaran-kebenaran sebagaimana diwahyukan oleh Tuhan melalui aneka pembelajaran dan permenungan atas apa yang tertulis di dalam Kitab Suci. Perbedaan pemimpin agama dan pemimpin daerah ini sering kelihatan jelas, misalnya saat Paus Yohanes Paulus II berkunjung ke Yogyakarta bagi umat wilayah Keuskupan Agung Semarang khususnya dan warga propinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang dalam waktu berhimpitan ada kunjungan kerja Presiden RI di Semarang dalam rangka membuka Lokakarya Kebudayaan Jawa. Kunjungan Paus meskipun ada beberapa yang menentang, namun lebih banyak orang atau warga masyarakat ikut menikmati buahnya, yaitu kesejahteraan, sementara dalam kunjungan Presiden di Semarang cukup banyak warga masyarakat, khususnya mereka yang miskin, para tukang becak dan asongan di pinggir jalan tak boleh bekerja alias harus berpuasa.

"Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya." (Mrk 6:5)

Karena seorang nabi memiliki tugas pengutusan untuk mewartakan kebenaran-kebenaran atau pembaharuan cara hidup dan cara bertindak, maka jika yang terpanggil untuk menjadi ‘nabi’ adalah teman yang telah lama dikenal pada umumnya orang kurang percaya kepadanya. Menghormati rekan sendiri memang lebih sulit daripada menghormati orang lain, namun hemat saya jika kita terhadap saudara-saudari dekat tidak dapat saling menghormati, maka menghormati orang lain yang jauh merupakan pelarian tanggungjawab. Marilah dengan rendah hati kita saling menghormati saudara-saudari kita yang setiap hari hidup dan bekerja bersama dengan kita.

Jika salah seorang dari saudara atau kenalan dekat kita terpanggil untuk menjadi orang baik, apalagi tokoh penting dalam masyarakat atau bangsa atau agama, hendaknya kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan dan secara konkret menghormati orang yang bersangkutan selayaknya. Kami berharap kita mendoakan saudara-saudari kita yang terpanggil menjadi ‘nabi’ karena yang bersangkutan pasti harus menghadapi tantangan dan hambatan berat dalam rangka memperjuangkan kebenaran-kebenaran, mengingat dan mempertimbangkan kebohongan-kebohongan masih merebak di sana-sini dalam hidup dan bekerja bersama. Sebaliknya kepada mereka yang terpanggil menjadi ‘nabi’ dan kurang atau tidak dihormati oleh saudara-saudari serta kenalan-kenalan dekatnya, kami harapkan untuk tetap tabah dan setia mengemban tugas panggilan kenabian.

Dalam hidup dan bekerja bersama yang masih sarat dengan kebohongan dan perilaku amoral seperti korupsi masa ini menghayati rahmat atau panggilan kenabian sungguh penting dan mendesak. Sebagai umat beriman kita semua memiliki tugas panggilan kenabian, maka kami harapkan kita senantiasa setia pada panggilan ini, meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Miliki keteguhan hati dalam mengemban tugas panggilan kenabian, dan pecayalah dengan keteguhan hati anda pasti sukses menghayati panggilan kenabian, dan mungkin kesuksesan tidak sempat kita nikmati, melainkan orang lain yang akan menikmatinya. Nasib seorang nabi memang pada umumnya dibenci dan dikejar-kejar untuk disingkirkan dan ada kemungkinan juga dibunuh secara halus, sebagaimana pernah dialami oleh ‘Munir’ yang diracun dalam perjalanan dengan pesawat Garuda ke luar negeri. Darah nabi akan menjadi pupuk yang menyuburkan iman umat Allah.

"Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” (2Kor 12:9-10)

Kutipan dari surat Paulus kepada umat di Korintus di atas ini kiranya dapat menjadi pegangan atau kekuatan kita dalam penghayatan iman yang ditandai oleh tugas pengutusan kenabian. “Aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus (Tuhan)” ,kata-kata inilah yang selayaknya menjadi pedoman atau pegangan cara hidup dan cara bertindak kita sebagai umat beriman. Hidup dan terpanggil menjadi nabi memang harus mengandalkan sepenuhnya pada kekuatan dan rahmat Tuhan serta tidak mengandalkan atau menyombongkan kekuatannya sendiri, yang sebenarnya lemah dan rapuh.

Bersama dan bersatu dengan Tuhan kita pasti akan mampu mengatasi aneka tantangan, masalah dan hambatanm, bahkan baik tantangan, masalah dan hambatan justru akan semakin membuat diri kita lebih handal dalam menghayati panggilan kenabian, sebagaimana ‘Pendowo Limo’(Lima bersaudara): Puntodewo, Werkudoro, Janoko, Nakulo dan Sadewo yang dibuang dan disiksa di tengah hutan belantara oleh saudara-saudaranya di Astino, tidak hancur melainkan justru semakin handal dan tangguh sebagai kesatria. Maka jika anda baik, benar, jujur dan tulus hati harus menghadapi masalah, tantangan dan hambatan, hendaknya hal itu dijadikan wahana untuk semakin mendewasakan diri dan membuat diri semakin handal dan tangguh.

"Hai anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak yang telah memberontak melawan Aku. Mereka dan nenek moyang mereka telah mendurhaka terhadap Aku sampai hari ini juga.Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus engkau dan harus kaukatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH. Dan baik mereka mendengarkan atau tidak -- sebab mereka adalah kaum pemberontak -- mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah mereka.” (Yeh 2:3-5), demikian firman Tuhan Allah kepada nabi Yeheskiel, yang kiranya juga baik kita jadikan firmanNya kepada kita semua, umat beriman. Marilah kita hadapi dan sikapi orang yang keras kepala dan tegar hati dengan lemah lembut dan rendah hati seraya mengandalkan rahmat dan kekuatan Tuhan. Sekeras kepala dan setegar hati apapun jika kita dekati dengan lemah lembut, rendah hati dan kasih pasti akan takluk. Bukankah binatang buas pun dapat ditaklukkan dengan kasih dan lemah lembut, apalagi manusia.

“ Kepada-Mu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang bersemayam di sorga. Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita. Kasihanilah kami, ya TUHAN, kasihanilah kami, sebab kami sudah cukup kenyang dengan penghinaan;jiwa kami sudah cukup kenyang dengan olok-olok orang-orang yang merasa aman, dengan penghinaan orang-orang yang sombong.”

(Mzm 123)


Minggu, 8 Juli 2012


Romo Ignatius Sumarya, SJ