“Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya” (Ul 4:1.5-9; Mzm 147:12-13.15-16.19-20; Mat 5:17-19)

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:17-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Jika dicermati dalam kehidupan bersama masa kini dapat kita temukan sekian banyak aturan atau tata tertib yang dibuat dan diberlakukan, namun pelaksanaannya boleh dipertanyakan. Sebagai contoh: rambu-rambu lalu lintas terpampang jelas di jalanan dan dengan demikian juga dapat dilihat dan dibaca dengan jelas, namun dengan seenaknya saja para pengguna jalan melanggar rambu-rambu tersebut. Apa yang terjadi di jalanan merupakan cermin kualitas bangsa atau warganegara, maka kiranya boleh disimpulkan bahwa pelaksanaan atau penghayatan tata tertib atau aturan di negeri kita ini sungguh memprihatinkan. Sabda Yesus hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua agar kita senantiasa lebih mengutamakan atau mengedepankan pelaksanaan atau penghayatan daripada wacana atau omongan, sedikit bicara banyak bertindak. Keunggulan hidup beragama atau beriman hemat saya terletak dalam pelaksanaan atau penghayatan, bukan dalam wacana, pengetahuan, diskusi atau omongan. “Cinta harus lebih diwujudkan dalam perbuatan daripada diungkapkan dalam kata-kata” (St Ignatius Loyola, LR no 230). Dalam hal cinta hal ini antara lain diwujudkan dalam pemborosan waktu dan tenaga bagi yang tercinta/terkasih, maka marilah kita saling memboroskan waktu dan tenaga kita bagi yang terkasih atau tercinta. Ketika di dalam tempat kerja atau tugas berarti harus memboroskan waktu dan tenaga untuk melaksanakan tugas/pekerjaan, ketika di sekolah sedang belajar berarti memboroskan waktu dan tenaga untuk belajar, dst… Ketika sedang membaca berarti mengarahkan waktu dan tenaga terhadap apa yang dibaca. Semoga mereka yang berpengaruh di dalam kehidupan bersama dapat menjadi teladan dalam pelaksanaan tata tertib atau aturan. Dan secara khusus kepada segenap umat Katolik kami ajak untuk mewujudkan tema APP tahun ini, yaitu berbagi dan peduli kepada mereka yang miskin dan berkekurangan.

· “Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya.Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi.” (Ul 4:5-6). Kutipan ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk senantiasa setia melaksanakan aneka ketetapan, peraturan atau tata tertib. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr Edi Sedyawati/ edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Sebagai orang yang telah dibaptis hendaknya kita setia pada janji baptis, sebagai orang yang berjanji saling mengasihi sebagai suami isteri, hendaknya setia saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati, sebagai orang yang telah berkaul triprasetia (keperawanan, ketaatan dan kemiskinan) hendaknya setia menghayati kaul, dst.. Hidup setia sebagai yang terpanggil pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan, dan hemat saya juga merupakan cara ‘marketing’ atau pewartaan yang handal. Kami berharap para bapak-ibu, sebagai suami-isteri dapat menjadi teladan kesetiaan pada anak-anaknya, para imam menjadi teladan kesetiaan pada umatnya, para pemimpin menjadi teladan kesetiaan bagi anggota atau bawahannya, dst…Hendaknya tidak melakukan pencurian, penyelewengan sedikitpun atas janji yang telah diikrarkan.

“Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu. Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari. Ia menurunkan salju seperti bulu domba dan menghamburkan embun beku seperti abu” (Mzm 147:12-13.15-16)


Rabu, 14 Maret 2012

Romo Ignatius Sumarya, SJ