Social Icons

"Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" (Ul 31:1-8; MT Ul 32:3-4a.7-9.12; Mat 18:1-5.10.12-14)


“ Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka. lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga. "Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang." (Mat 18:1-5.10.12-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Yang terbesar dalam Kerajaan Sorga alias hidup beriman dan beragama hemat saya adalah yang tersuci. Tanpa bermaksud merendahkan mereka yang memang suci atau tersuci serta terpilih menjadi gembala atau teladan umat Allah, perkenankan saya mengingatkan bahwa anak-anak kecil tentu lebih suci daripada orang-orang dewasa atau orangtuanya; dengan kata lain secara umum boleh dikatakan yang lebih muda lebih suci. Mengapa? Karena tambah usia dan pengalaman pada umumnya orang juga bertambah dosa dan kekurangan, itulah kenyataan yang terjadi. “Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga”, demikian sabda Yesus. Sifat atau cirikhas anak kecil antara lain: ceria, gembira, dinamis, terbuka, menyerahkan diri kepada orang lain lebih-lebih yang mengasihi alias rendah hati, dst.. Dari sifat atau cirikhas anak kecil ini kiranya yang baik kita hayati adalah rendah hati. “Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Kerendahan hati adalah keutamaan yang paling utama dan dasar, maka jika kita ingin menjadi besar dan terhormat hendaknya hidup dan bertindak dengan rendah hati kapanpun dan dimanapun. Marilah kita meneladan serta mendukung para gembala kita, para uskup dan paus, yang senantiasa berusaha untuk rendah hati dalam melaksanakan tugas pengutusan dan menghayati panggilannya. Kami berharap kepada para orangtua untuk sedini mungkin mendidik anak-anaknya untuk rendah hati, dan jika perlu sebenarnya orangtua dapat ‘belajar dari’ anak-anak, yang rendah hati serta tidak pernah marah alias melecehkan orang lain.

· "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan masuk bersama-sama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka, dan engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya. Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.”(Ul 31:7-8), demikian kata Musa, yang telah lansia dan tidak lama lagi dipanggil Tuhan, kepada Yosua, yang harus melanjutkan tugas Musa dalam memimpin bangsanya menuju ‘tanah terjanji’. Kutipan ini hendaknya juga menjadi kata-kata orangtua atau generasi tua kepada anak-anaknya atau generasi muda. Dengan kata lain ‘regenerasi’ hendaknya diperhatikan dalam perjalanan hidup dan tugas. Secara khusus kami ingatkan kepada kita semua: marilah ketika kita menerima tugas pindah tugas atau pension dari pembesar segera kita laksanakan. Kepada orangtua atau generasi tua hendaknya jangan segan-segan memberi kesempatan kepada anak-anak atau generasi muda tugas-tugas yang diembannya untuk diteruskan. Saya prribadi merasa bersyukur dan berterima kasih sebagai imam Yesuit sejak ditahbiskan diberi kesempatan untuk belajar melayani dengan rendah hati, baik sebagai Direktur Perkumpulan Strada di Jakarta maupun Ekonom Keuskupan Agung Semarang. Kepada rekan-rekan generasi muda kami harapkan dengan rendah hati, terbuka dan siap sedia ketika diberi tugas penting oleh pembesar; hayati tugas tersebut sebagai pembelajaran: jiwailah kerja dan usaha anda dengan semangat belajar terus menerus.

“Ingatlah kepada zaman dahulu kala, perhatikanlah tahun-tahun keturunan yang lalu, tanyakanlah kepada ayahmu, maka ia memberitahukannya kepadamu, kepada para tua-tuamu, maka mereka mengatakannya kepadamu. Ketika Sang Mahatinggi membagi-bagikan milik pusaka kepada bangsa-bangsa, ketika Ia memisah-misah anak-anak manusia, maka Ia menetapkan wilayah bangsa-bangsa menurut bilangan anak-anak Israel. Tetapi bagian TUHAN ialah umat-Nya, Yakub ialah milik yang ditetapkan bagi-Nya” (Ul 32:7-9)

Ign 9 Agustus 2011