Social Icons

HOMILI: Sabtu-Minggu, 30-31 Oktober 2010

Keb 11:22-12:2 ; 2Tes 1:11-2:2 ; Luk 19:1-10

"Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham“

Menjadi pegawai perpajakan di Indonesia konon termasuk bekerja di lahan yang cukup basah alias orang akan dengan cepat menjadi kaya. Tentu saja mayoritas kekayaan yang diperolehnya bukan karena balas jasa atau gaji resmi yang diterimanya, melainkan karena korupsi atau manipulasi yang dilakukan. Maklum hampir semua urusan izin dan perpajakan di negeri ini kalau tidak pakai uang pelicin atau sogokan tak akan diurus atau diselesaikan. Dengan kata lain semua pegawai perpajakan mau tak mau jika tetap bekerja pasti terlibat di dalam ketidak-adilan struktural tersebut. Orang jujur pasti akan hancur, begitulah yang berlaku dalam jajaran pegawai yang berurusan dengan aneka jenis pajak atau perizinan. Namun yang benar adalah orang jujur memang akan hancur sesaat dan kemudian akan berjaya serta selamat dan mulia selamanya, itulah kiranya yang terjadi dalam diri Zakheus, kepala pemungut cukai atau pajak, orang yang kaya raya, sebagaimana diwartakan dalam Injil hari ini. Maka marilah kita renungkan pengalaman dan dialog Zakheus dalam kisah warta gembira hari ini.
"Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." (Luk19:8)
Kata-kata Zakheus kepada Yesus di atas ini kiranya telah tersimpan lama dalam lubuk hati Zakheus. Dengan kata lain Zakheus sebagai kepala pemungut cukai atau pajak, yang terjebak dalam tindakan korupsi secara struktural, merasa tidak enak dan tidak nyaman atas pekerjaan maupun balas jasa yang diterimanya. Dari lubuk hatinya yang terdalam ada kerinduan untuk membebaskan diri dari lumpur korupsi, maka ketika mendengar bahwa Yesus akan lewat, tanpa malu sebagai pejabat ia memanjat pohon untuk melihat Yesus. Bayangkan seorang pejabat yang kaya memanjat pohon hanya untuk melihat orang yang mau lewat! Bukankah hal itu menunjukkan kejujuran dan kesederhanaan yang masih hidup dalam lumpur korupsi. Ketidak-maluan, kejujuran dan kesederhanaan Zakheus diketahui dan dilihat oleh Yesus, maka Ia berkata kepadanya: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.". Zakheus pun akhirnya turun dari pohon dan menerima Yesus di rumahnya. Sapaan dan sentuhan Yesus membuat Zakheus bertobat, dan pertobatannya antara lain berupa membagikan kekayaan yang telah diperolehnya dengan tidak wajar kepada para pemiliknya, yaitu orang-orang miskin serta mengembalikan empat kali lipat atas apa yang telah diperasnya.

Pengalaman Zakheus kiranya baik menjadi bahan refleksi atau permenungan bagi siapapun yang kaya akan harta benda atau uang. Marilah kita imani bahwa selama masih ada orang-orang miskin dan menderita berarti masih terjadi ketidak-adilan dan keserakahan atau korupsi yang dilakukan oleh orang-orang tertentu. Ingatlah dan hayatilah bahwa kekayaan, harta benda dan uang , yang anda miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini tidak terlepas dari pengorbanan, kerja keras dan perjuangan orang-orang miskin atau rakyat kebanyakan. Sebagai contoh: produsen mie instant pasti kaya raya, darimana asal kekayaan mereka? Memang kerja keras pengusaha juga berperan, namun rasanya partisipasi para konsumen cukup besar dalam memperkaya produsen. Konsumen mie instant adalah rakyat kecil dan miskin; mereka harus membayar harga mie instant berapapun tak pernah mengeluh atau menggerutu. Bukankah sedikit banyak boleh dikatakan bahwa kekayaan produsen berasal dari pemerasan terhadap rakyat kecil atau miskin? Contoh produsen dan konsumen lainnya cukup banyak, misalnya minyak, obat-obatan dst.. Maka dengan ini kami berharap kepada orang-orang kaya untuk meneladan Zakheus dengan berkata dan berbuat seperti Zakheus “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.".

Kita semua mungkin mengakui diri sebagai umat beriman, ‘keturunan Abraham, bapa umat beriman’, maka baiklah sebagai sesama umat beriman kita bangun dan perdalam persaudaraan atau persahabatan sejati, dengan kata lain kita sadari bahwa ketika masih ada orang-orang miskin dan berkekurangan berarti kita kurang setia pada iman kita, kurang menghayati iman dalam hidup sehari-hari. Marilah kita hayati salah satu motto umat beriman, khususnya para pengikut Yesus Kristus, yaitu “preferential for/ with the poor” keberpihakan pada mereka yang miskin dan berkekurangan, meneladan Yesus, yang meskipun kaya telah menjadi miskin untuk memperkaya mereka yang miskin dan berkekurangan.
“Kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu” (2Tes1:11)
Marilah kita saling mendoakan dan mendukung “supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilanNya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu”. Berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan iman hemat saya bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan. Perbuatan baik merupakan perwujudan iman dan sekaligus memperkuat, memperteguh dan memperdalam iman, dengan kata lain semakin beriman berarti semakin berbuat baik. Beriman pertama-tama dan terutama terjadi atau terwujud dalam tindakan atau perilaku bukan omongan atau wacana. Perbuatan baik disertai dengan doa akan handal dan meyakinkan.
“Sebab seperti sebutir debu dalam neraca, demikian seluruh jagat raya di hadapan-Mu, atau bagaikan setetes embun pagi yang jatuh ke bumi. Akan tetapi justru karena Engkau berkuasa akan segala sesuatu, maka semua orang Kaukasihani, dan dosa manusia tidak Kauperhatikan, supaya mereka bertobat. Sebab Engkau mengasihi segala yang ada, dan Engkau tidak benci kepada barang apapun yang telah Kaubuat. Sebab andaikata sesuatu Kaubenci, niscaya tidak Kauciptakan” (Keb 11:22-24),
demikian kata penulis kitab Kebijaksanaan. “Semua orang Kaukasihani, dan dosa manusia tidak Kauperhatikan, supaya mereka bertobat”, inilah yang baik kita renungkan atau refleksikan. Marilah kita sadari dan hayati kasih dan perhatian Allah yang begitu melimpah ruah pada diri kita masing-masing melalui siapapun yang telah berbuat baik dan mengasihi kita. Jika kita jujur mawas diri kiranya kita akan menyadari dan menghayati diri sebagai ‘yang terkasih’ artinya orang yang telah menerima kasih melimpah ruah.

Bermodalkan kasih Allah yang melimpah ruah tersebut kita diharapkan bertobat atau memperbaharui diri terus menerus, antara lain dengan senantiasa berbuat baik kepada saudara-saudari atau sesama kita. Dengan kasih Allah marilah kita sempurnakan segala pekerjaan iman kita, kehendak untuk berbuat baik, dengan terus meneruskan melakukan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama bagi jiwa-jiwa manusia. Marilah kita sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita diciptakan oleh Allah sesuai dengan gambar atau citra-Nya, artinya dari diri kita masing-masing tercermin kehendak atau karya Allah, sehingga siapapun yang bertemu atau bergaul dengan kita semakin mempersembahkan diri kepada Allah, semakin beriman, semakin suci, semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia.

“TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya. Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu” (Mzm145:8-11)

Jakarta, 31 Oktober 2010


Romo Ign Sumarya SJ