Tampilkan postingan dengan label Bulan Maria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bulan Maria. Tampilkan semua postingan

Maria Bunda Gereja

Perbedaannya: Maria, Maria, dan Maria

Sering kita mendengar, bahwa tiga hal yang paling membedakan antara kita umat Katolik dengan saudara- saudari kita yang Kristen non- Katolik, adalah ajaran tentang Maria, Maria, dan Maria. Sesungguhnya ini adalah fakta yang cukup ironis, justru karena seharusnya Bunda Maria dapat mempersatukan kita sebagai satu saudara. Mengapa? Karena melalui rahmat Pembaptisan yang satu (lih. Ef 4:5) kita dijadikan anak- anak angkat Allah di dalam Kristus (lih. Ef 1:4-5), dan oleh karena itu, kalau Bunda Maria adalah Bunda Kristus, maka ia adalah Bunda kita juga. Ya, Maria adalah Bunda Gereja, ibu rohani bagi semua umat beriman.

1. Dasar penghormatan umat Katolik: Maria adalah Bunda Allah dan Hawa yang baru

Jadi dasar penghormatan umat Katolik kepada Bunda Maria adalah, karena Tuhan telah terlebih dahulu memilihnya sebagai Bunda Allah; sebab Kristus yang dikandung dan dilahirkannya adalah Allah. Itulah sebabnya di dalam Kitab Suci, Maria disebut sebagai Bunda Allah (lih. Luk 1:43, 35, Gal 4:4). Jika kita merenungkan bagaimana malaikat Tuhan menyapa Bunda Maria pada saat ia memberitakan kabar suka cita, kita akan melihat betapa Allah sendiri -melalui malaikat utusan-Nya- menghormati Maria, dengan menyapanya, “Hail, full of grace/ Salam, hai engkau yang dikaruniai” (Luk 1:28). Kata aslinya menurut Vulgate adalah kecharitomene, yang lebih tepat untuk diterjemahkan sebagai “Salam, hai engkau yang penuh rahmat”. Sapaan semacam ini tidak pernah ditujukan kepada tokoh manapun di dalam Alkitab. Dan kata “penuh rahmat” ini menjadi salah satu dasar yang dipandang oleh para Bapa Gereja untuk mengatakan bahwa sudah sejak awal hidupnya dalam kandungan ibunya, Maria sudah dipenuhi dengan rahmat Allah. Oleh karena tugas yang diembannya sebagai Bunda Allah, maka Maria dibebaskan dari noda dosa.

Ditulis oleh: Ingrid Listiati
Sumber: www.katolisitas.org
Selengkapnya baca di link berikut http://santoantonius.blogspot.com/2011/05/maria-bunda-gereja_01.html

Bulan Mei: Bulan Maria

Secara tradisi, Gereja Katolik mendedikasikan bulan- bulan tertentu untuk devosi tertentu. Bulan Mei yang sering dikaitkan dengan permulaan kehidupan, karena pada bulan Mei di negara- negara empat musim mengalami musim semi atau musim kembang. Maka bulan ini dihubungkan dengan Bunda Maria, yang menjadi Hawa yang Baru. Hawa sendiri artinya adalah ibu dari semua yang hidup, “mother of all the living” (Kej 3:20). Devosi mengkhususkan bulan Mei sebagai bulan Maria diperkenalkan sejak akhir abad ke 13. Namun praktek ini baru menjadi populer di kalangan para Jesuit di Roma pada sekitar tahun 1700-an, dan baru kemudian menyebar ke seluruh Gereja.

Pada tahun 1809, Paus Pius VII ditangkap oleh para serdadu Napoleon, dan dipenjara. Di dalam penjara, Paus memohon dukungan doa Bunda Maria, agar ia dapat dibebaskan dari penjara. Paus berjanji bahwa jika ia dibebaskan, maka ia akan mendedikasikan perayaan untuk menghormati Bunda Maria. Lima tahun kemudian, pada tanggal 24 Mei, Bapa Paus dibebaskan, dan ia dapat kembali ke Roma. Tahun berikutnya ia mengumumkan hari perayaan Bunda Maria, Penolong umat Kristen. Demikianlah devosi kepada Bunda Maria semakin dikenal, dan Ketika Paus Pius IX mengumumkan dogma “Immaculate Conception/ Bunda Maria yang dikandung tidak bernoda” pada tahun 1854, devosi bulan Mei sebagai bulan Maria telah dikenal oleh Gereja universal.

Paus Paulus VI dalam surat ensikliknya, the Month of Mary mengatakan, “Bulan Mei adalah bulan di mana devosi umat beriman didedikasikan kepada Bunda Maria yang terberkati,” dan bulan Mei adalah kesempatan untuk “penghormatan iman dan kasih yang diberikan oleh umat Katolik di setiap bagian dunia kepada Sang Ratu Surga. Sepanjang bulan ini, umat Kristen, baik di gereja maupun secara pribadi di rumah, mempersembahkan penghormatan dan doa dengan penuh kasih kepada Maria dari hati mereka. Pada bulan ini, rahmat Tuhan turun atas kita … dalam kelimpahan.” (Paus Paulus VI, the Month of May, 1)

Sumber: www.katolisitas.org