“Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa,” (Ibr 2:5-12; Mzm 8:5-9; Mrk 1:21b-28)


“Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya. Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: "Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya." Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea” (Mrk 1:21b-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Sediki bicara banyak bekerja itulah salah satu ciri khas orang-orang bijak dan berwibawa, sebagaimana kita imani para gembala kita senantiasa menyampaikan kata-kata atau ajaran-ajaran yang penuh kuasa, sehingga apa yang dikatakan atau diajarkan pada umumnya diikuti banyak orang dan dihayatinya dalam cara hidup dan cara bertindak. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan anda sekalian untuk berusaha seoptimal mungkin entah kata-kata atau tindakan kita penuh kuasa dalam hal mengusir atau memberantas aneka bentuk kejahatan. Untuk itu pertama-tama kita sendiri harus senantiasa hidup dan bersatu dengan Tuhan, karena hanya Tuhan lah yang mampu mengalahkan aneka kejahatan atau mengusir setan. Kami berharap kepada para orangtua berusaha agar kata-kata atau nasihatnya didengarkan dan dihayati oleh anak-anaknya, dan untuk itu orangtua harus berusaha satu dalam kata dan tindakan, artinya yang saya katakan juga sekaligus saya lakukan. Orangtua hendaknya dapat menjadi teladan dalam hal kesatuan kata dan tindakan bagi anak-anaknya, sehingga anak-anak pun kelak tumbuh berkembang sebagai pribadi yang konsekwen dengan kata-katanya, apa yang mereka katakana juga mereka lakukan. Para pemimpin atau atasan dalam hidup dan kerja bersama kami harapkan juga dapat menjadi teladan kesatuan kata dan tindakan, sehingga semua arahan, nasihat dan saran dari pemimpin atau atasan sungguh didengarkan dan dilaksanakan oleh para anggota atau bawahan. Semoga semua kata-kata kita bagaikan tombol mesin ketika ditekan langung mesin hidup dan fungsional, atau bagaikan pikiran kita yang sangat berpengaruh dalam cara hidup dan cara bertindak kita.

· "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat, segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kaki-Nya."(Ibr 2:6-8). Segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah ciptaan Allah dan “takluk di bawah kakiNya”, serta dimahkotai “dengan kemuliaan dan hormat”. Maka marilah kita sebagai umat manusia senantiasa saling memuliakan dan menghormati, tidak saling melecehkan dan merendahkan. Salah satu bentuk kegiatan atau perilaku sebagai bukti atau wujud bahwa kita saling memuliakan dan menghormati adalah tidak marah, mengeluh atau menggerutu terhadap orang lain, pribadinya maupun tindakannya. Maka jika perilaku atau tindakannya baik, hendaknya yang bersangkutan dipuji, sedangkan ketika perilaku atau tindakannya tidak baik, hendaknya diampuni, dan sekiranya mungkin dituntun dengan rendah hati untuk memperbaiki perilaku atau tindakannya yang tidak baik. Allah telah menciptakan segala sesuatu baik adanya, maka jika ada yang tidak baik adalah karena dosa atau perilaku manusia yang melanggar perintah atau kehendak Allah. Sebagai warga Negara Indonesia marilah kita hayati sila kedua dari Pancasila, yaitu “Peri-kemanusiaan yang adil dan beradab”. Sebagai bangsa yang beradab marilah kita wujudkan cita-cita Proklamasi, yang mendambakan kemerdekaan sejati. Kita tidak lagi dijajah oleh bangsa lain secara fisik, namun rasanya penjajahan dalam bentuk lain masih berlangsung, misalnya dalam hal ekonomi dan budaya. Demikian juga penjajahan yang dilakukan oleh rekan warganegara sendiri kiranya juga masih berlangsung, antara lain dalam bentuk imbal jasa atau gaji bagi para pekerja atau buruh yang tidak memadai. Tindakan korupsi hemat saya juga merupakan salah satu bentuk penjajahan bangsanya sendiri. Sekali lagi saya ajak: Marilah kita wujudkan bersama cita-cita bangsa yang adil dan beradab.

“Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang;burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan” (Mzm 8:5-9)

Selasa, 15 Januari 2013

Romo Ignatius Sumarya, SJ