Penggunaan Syahadat Para Rasul dan Syahadat Nikea-Konstantinopel dalam Perayaan Ekaristi



Pengakuan iman kita mulai dengan Allah, karena Allah adalah "Yang Pertama" dan "Yang Terakhir" (Yes 44:6), Awal dan Akhir segala sesuatu. Syahadat mulai dengan Allah Bapa, karena Bapa adalah Pribadi pertama Tritunggal Maha Kudus; ia mulai dengan penciptaan langit dan bumi karena penciptaan adalah awal dan dasar segala karya Allah. (Katekismus Gereja Katolik, 198)   

 


 

 Sejak awal Gereja perdana, orang-orang Kristen mengembangkan pengakuan iman yang singkat dan sederhana. Pernyataan singkat ini dikenal sebagai kredo. Kata 'kredo' berasal dari kata Latin credo, yang berarti 'aku percaya'.

 
Di dalam Gereja Katolik mengenal bermacam rumusan syahadat, namun dua yang terkenal adalah Syahadat Para Rasul dan Syahadat Nikea-Konstantinopel.  Dua kredo khususnya dikembangkan pada abad-abad awal Gereja, yang tetap penting bagi Gereja dan secara teratur digunakan dalam ibadat kita hari ini.

Orang-orang yang bersiap untuk pembaptisan pada abad-abad awal Gereja Kristen mempelajari syahadat singkat yakni Syahadat Para Rasul, dalam iman para rasul itulah orang-orang Kristen dibaptis.

Oleh karena itu, Syahadat Para Rasul merupakan ringkasan dari apa yang Gereja ajarkan, dan dari apa yang diyakini bersama oleh orang-orang Kristen. Mengucapkan Syahadat mengikat orang-orang Kristen bersama sebagai komunitas yang percaya, melintasi tradisi dan praktik yang berbeda.

 Syahadat Para Rasul (Syahadat Apostolik) dipandang sebagai rangkuman setia dari iman para Rasul, yang telah digunakan dalam pengakuan Baptisan dalam Gereja Roma. Sedangkan Syahadat Nikea-Konstantinopel juga mempunyai otoritas yang besar, karena dihasilkan oleh kedua konsili ekumenis yang pertama (tahun 325 dan 381).

  Dalam Syahadat Nikea-Konstantinopel dihasilkan oleh Konsili Nikea I (325), yang dipanggil guna menghadapi bidaah Arius, yang pada dasarnya menyangkal keallahan Kristus. Di sini, konsili hendak mengajarkan dengan sangat jelas bahwa Yesus Kristus adalah “sehakikat” dengan Bapa, dengan kodrat ilahi yang sama; bahwa Ia dilahirkan, bukan dijadikan; dan bahwa Perawan Maria mengandung dari kuasa Roh Kudus, dan melalui dia, Yesus Kristus, sungguh Allah, juga menjadi sungguh manusia

  Saat kita mengucapkan Syahadat, kita bergabung dengan orang-orang Kristen dulu dan sekarang, dan dari seluruh dunia, dalam mewartakan iman kita bersama. Pokok dari obyek iman bukanlah syahadat, tetapi Allah. Syahadat memberi definisi apa yang kita percaya tentang Allah. (Mereka tidak memberi definisi tentang Allah itu sendiri. Allah tidak bisa didefinisikan. Hanya benda yang terbatas yang bisa didefinisikan.) Katekismus mengatakan: “Kita tidak percaya kepada rumus-rumus, tetapi kepada kenyataan yang diungkapkannya…” (Katekismus Gereja Katolik 170). Santo Thomas Aquinas mengatakan: “Tindakan iman orang yang percaya tidak berakhir dalam proposisi tetapi didalam realitas.” Syahadat seperti peta jalan yang akurat; mereka diperlukan tetapi mereka tidak cukup. Melihat peta jalan bukanlah pengganti untuk melakukan perjalanan.

 Dalam prakteknya , kita yang di Indonesia biasa atau selalu menggunakan Syahadat Para Rasul, jarang atau tidak sama sekali menggunakan Syahadat Nikea-Konstantinopel, meskipun dari tahun 2013 kami dalam mempersiapkan teks Misa Minggu dan Hari Raya mulai menggunakan Syahadat Nikea-Konstantinopel hingga sekarang, terutama di luar Masa Prapaskah dan Paskah. - Karena di dalam buku TPE Umat ada teks kedua Syahadat tersebut maka hendaknya: kita mulai menggunakan juga Syahadat Nikea-Konstantinopel (mulai dari misa komunitas/seminari/ kategorial/paroki) di luar masa Prapaskah dan Paskah, sebagaimana lazimnya digunakan pada Perayaan Ekaristi di seluruh Gereja Katolik di seluruh dunia, kecuali di Indonesia.


'Syahadat ini adalah segel spiritual, meditasi hati kita dan penjaga yang selalu hadir; itu, tidak diragukan lagi, adalah harta jiwa kita. '

- Santo Ambrosius.