“Hormatilah dan hargailah liturgi suci Gereja dan upacara-upacara perayaannya. Rayakanlah dengan setia. Tidakkah engkau melihat bahwa bagi kita manusia yang malang, bahkan apa yang paling mulia dan hebat pun harus kita tangkap melalui pancaindra?” — St. Josemaria Escriva

“Saya yakin bahwa tanggung jawab utama dari keruntuhan iman ini harus ditanggung oleh para imam. Kami tidak selalu mengajarkan doktrin di seminari-seminari dan universitas Katolik. Kami mengajarkan apa pun yang kami suka! Katekismus untuk anak-anak telah ditinggalkan. Pengakuan dosa diremehkan. Selain itu, tidak ada lagi imam di kamar pengakuan dosa! Karena itu sebagian dari kami bertanggung jawab atas keruntuhan ini. Khususnya pada tahun 1970-an dan 1980-an, setiap imam melakukan apa pun yang disukainya selama Misa. Tidak ada dua Misa yang sama: itulah yang membuat banyak umat Katolik enggan pergi ke gereja. Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa krisis liturgi menyebabkan krisis Gereja. Lex orandi, lex credendi: cara kita berdoa menunjukkan iman kita. Jika tidak ada lagi iman, liturgi direduksi menjadi pertunjukan, pertunjukan cerita rakyat, dan umat beriman berpaling. Kami mungkin bersalah karena kelalaian. Desentralisasi liturgi selalu memiliki konsekuensi yang serius. Kami ingin memanusiakan Misa, membuatnya dapat dipahami, tetapi hal itu tetaplah menjadi misteri di luar pemahaman [manusia]. Ketika saya mempersembahkan Misa, ketika saya memberikan absolusi, saya memahami kata-kata yang saya ucapkan, tetapi daya akal budi tidak dapat memahami misteri yang dihasilkan oleh kata-kata ini. Jika kami tidak adil terhadap misteri agung ini, kami tidak bisa menuntun orang-orang ke hubungan yang benar dengan Allah. Bahkan hari ini kami masih memiliki praktik pastoral yang terlalu horizontal: bagaimana kamu mengharapkan orang untuk berpikir tentang Allah jika Gereja disibukkan secara eksklusif dengan masalah sosial?” — Robert Kardinal Sarah

Empat nama Misa Natal

Untuk merayakan Natal, Liturgi Romawi menawarkan empat nama Misa. Pada 24 Desember dilaksanakan Misa Vigili Natal (Misa Sore Menjelang Hari Raya Natal). Sesudah Misa Vigili ada lagi tiga Misa Natal dengan sebutan khas: Misa Malam (in nocte), Misa Fajar (in aurora), dan Misa Siang (in die). Tiga Misa itu adalah warisan kuno tradisi Liturgi Romawi. Sedangkan Misa Vigili Natal konon merupakan buah pembaruan liturgi pasca Konsili Vatikan II. 
  
Struktur dari empat Misa itu sebenarnya tak ada yang istimewa; wajar saja seperti Misa Hari Raya atau Hari Minggu Biasa. Dalam buku Misale Romawi berbahasa Latin tidak kita temukan struktur khusus untuk Misa Natal. Misale Romawi hanya menyediakan antifon, doa pemimpin, dan penjelasan seperlunya. Daftar bacaan pun dicantumkan terpisah dalam buku Tata Bacaan Misa dan setiap bacaannya dimuat dalam Leksionarium. Bacaan-bacaan untuk empat misa Natal itu berbeda. Teks-teks liturgis dari setiap Misa itu menegaskan kekhasan masing-masing Misa.
   
Semua antifon (pembuka dan komuni) dan bacaan (pertama, kedua, dan Injil) dari empat Misa itu bertema seputar kedatangan atau kelahiran Tuhan. Dibandingkan dengan ketiga Misa Natal sesudahnya, Misa Vigili seolah masih bernada antisipatif, bersiap menyongsong kelahiran Yesus. Lihatlah misalnya dari antifon pembuka: “Hari ini kamu akan tahu bahwa Tuhan akan datang menyelamatkan kita, dan besok pagi akan kamu saksikan kemuliaan-Nya.” Kendati demikian, Misa Vigili sudah termasuk Hari Raya Natal.
 
Begitulah kekhasan Misa Vigili, yang semestinya dirayakan sebelum atau sesudah Ibadat Sore. Sepertinya banyak Paroki sudah meniadakan Misa Vigili dan langsung merayakan Misa Malam Natal. Jika tidak dirayakan, bacaan-bacaan dari Misa Vigili bisa dimanfaatkan sebagai doa atau bahan meditasi untuk menyongsong perayaan Natal.
   
Kekhasan Misa Malam terutama terasa dari pemilihan waktu pelaksanaan: tengah malam, transisi ke 25 Desember. Seperti para gembala yang berjaga ketika semua orang tidur, kita pun berhimpun di gereja untuk merayakan kelahiran Yesus pada saat kita biasanya sudah dibuai mimpi. Kekhasan ini mungkin tidak akan kita rasakan jika Misa diadakan pada sore hari hingga malam yang masih riuh. Unsur spesial lain adalah Kalenda atau Maklumat Natal yang menggantikan “Saya mengaku” dan “Kyrie”. Kalenda ditampilkan untuk mengingatkan dimensi historis kelahiran Yesus, bahwa Dia memang sungguh hadir sebagai manusia pada masa penjajahan Romawi di bawah Kaisar Agustus.
     
Kalenda pun ditempatkan dalam struktur Ritus Pembuka, yakni sesudah kata pengantar dan sebelum “Kemuliaan”. Pada saat “Kemuliaan” dinyanyikan, anak-anak kecil dari pelbagai benua berarak sambil masing-masing membawa rangkaian bunga. Mereka menuju patung bayi Yesus yang diletakkan di depan panti imam. Lalu rangkaian bunga mereka taruh di sekeliling patung bayi Yesus. Cukup sederhana. Tak ada kandang atau gua di panti imam. Hanya patung bayi Yesus berbaring di palungan dengan latar belakang Injil terbuka dengan kutipan tentang kelahiran Yesus. Meskipun Misale Romawi tak memberi struktur seperti di atas, namun praktik yang biasa dilakukan Paus di Roma itu bisa ditiru pula oleh Gereja di seluruh dunia.

Misa Fajar terilhami dari reaksi para gembala yang melihat penampakkan para malaikat yang mewartakan kelahiran Yesus pada malam hari. Sebelum fajar, mereka bergegas ke Betlehem mencari bayi yang baru saja lahir seperti dikatakan malaikat. Misa Siang mengacu pada terang sinar matahari yang gemilang, melambangkan kemuliaan Putra Tunggal Allah. Namanya Misa Siang, namun biasa juga dilakukan hingga petang.

Setiap imam boleh merayakan semua Misa itu, entah sebagai selebran atau konselebran. Demikian seperti dulu, para Paus selalu merayakan seluruhnya. Tentu juga tidak dilarang jika umat mau hadir dalam tiga atau empat Misa itu. Namun biasanya, umat merasa cukup mengikuti salah satu. Sesudah setiap Misa itu berakhir kita dapat saling mengucapkan selamat. Keempat Misa itu sudah terhitung dalam Hari Raya Natal. Tak perlu ragu sampai menanti berganti hari, 25 Desember. Selamat Natal!
    
C.H. Suryanugraha OSC
Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 52 Tanggal 25 Desember 2016