“Hormatilah dan hargailah liturgi suci Gereja dan upacara-upacara perayaannya. Rayakanlah dengan setia. Tidakkah engkau melihat bahwa bagi kita manusia yang malang, bahkan apa yang paling mulia dan hebat pun harus kita tangkap melalui pancaindra?” — St. Josemaria Escriva

“Saya yakin bahwa tanggung jawab utama dari keruntuhan iman ini harus ditanggung oleh para imam. Kami tidak selalu mengajarkan doktrin di seminari-seminari dan universitas Katolik. Kami mengajarkan apa pun yang kami suka! Katekismus untuk anak-anak telah ditinggalkan. Pengakuan dosa diremehkan. Selain itu, tidak ada lagi imam di kamar pengakuan dosa! Karena itu sebagian dari kami bertanggung jawab atas keruntuhan ini. Khususnya pada tahun 1970-an dan 1980-an, setiap imam melakukan apa pun yang disukainya selama Misa. Tidak ada dua Misa yang sama: itulah yang membuat banyak umat Katolik enggan pergi ke gereja. Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa krisis liturgi menyebabkan krisis Gereja. Lex orandi, lex credendi: cara kita berdoa menunjukkan iman kita. Jika tidak ada lagi iman, liturgi direduksi menjadi pertunjukan, pertunjukan cerita rakyat, dan umat beriman berpaling. Kami mungkin bersalah karena kelalaian. Desentralisasi liturgi selalu memiliki konsekuensi yang serius. Kami ingin memanusiakan Misa, membuatnya dapat dipahami, tetapi hal itu tetaplah menjadi misteri di luar pemahaman [manusia]. Ketika saya mempersembahkan Misa, ketika saya memberikan absolusi, saya memahami kata-kata yang saya ucapkan, tetapi daya akal budi tidak dapat memahami misteri yang dihasilkan oleh kata-kata ini. Jika kami tidak adil terhadap misteri agung ini, kami tidak bisa menuntun orang-orang ke hubungan yang benar dengan Allah. Bahkan hari ini kami masih memiliki praktik pastoral yang terlalu horizontal: bagaimana kamu mengharapkan orang untuk berpikir tentang Allah jika Gereja disibukkan secara eksklusif dengan masalah sosial?” — Robert Kardinal Sarah

Prefasi Doa Syukur Agung IV merupakan satu kesatuan dengan DSA IV, tidak diperkenankan diganti dengan yang lain

Ciri khas dari Doa Syukur Agung IV terletak pada kesatuan alur gagasannya yang utuh dalam menghadirkan sejarah keselamatan Allah. DSA IV diolah berdasarkan tradisi Gereja Timur, khususnya tradisi Antiokhia dan juga liturgi Santo Basilius di Bizantin. Sebagai Anafora dari Liturgi Timur, DSA IV ini memiliki prefasi sendiri yang tidak pernah boleh diganti. Mengapa? Karena prefasi dalam DSA IV itu sudah merupakan satu kesatuan alur gagasan dan isi dengan seluruh bagian DSA IV. Dalam prefasi, hanya disinggung tema penciptaan pada umumnya dan penciptaan para malaikat pada khususnya. Lalu terbentanglah dari antara sesudah sanctus sampai eplikese konsekratoris, tahap-tahap sejarah keselamatan Allah, seperti penciptaan manusia, kejatuhan manusia ke dalam dosa, kesediaan Allah yang selalu menolong dan menawarkan ikatan perjanjian, hingga akhirnya mengutus Putra-Nya yang Tunggal, Tuhan Yesus Kristus, yang lahir, hidup dan berkarya, hingga wafat dan bangkit, serta mengutus Roh Kudus-Nya serta menyempurnakan karya Kristus di dunia.

Doa Syukur Agung IV dapat digunakan dalam setiap Misa yang tidak mempunyai prefasi khusus dan pada hari Minggu dalam masa biasa (PUMR 365, d) 
  
Sumber: E. Martasudjita, Pr; Ekaristi : Tinjauan Teologis,Liturgi, dan Pastoral