“Hormatilah dan hargailah liturgi suci Gereja dan upacara-upacara perayaannya. Rayakanlah dengan setia. Tidakkah engkau melihat bahwa bagi kita manusia yang malang, bahkan apa yang paling mulia dan hebat pun harus kita tangkap melalui pancaindra?” — St. Josemaria Escriva

“Saya yakin bahwa tanggung jawab utama dari keruntuhan iman ini harus ditanggung oleh para imam. Kami tidak selalu mengajarkan doktrin di seminari-seminari dan universitas Katolik. Kami mengajarkan apa pun yang kami suka! Katekismus untuk anak-anak telah ditinggalkan. Pengakuan dosa diremehkan. Selain itu, tidak ada lagi imam di kamar pengakuan dosa! Karena itu sebagian dari kami bertanggung jawab atas keruntuhan ini. Khususnya pada tahun 1970-an dan 1980-an, setiap imam melakukan apa pun yang disukainya selama Misa. Tidak ada dua Misa yang sama: itulah yang membuat banyak umat Katolik enggan pergi ke gereja. Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa krisis liturgi menyebabkan krisis Gereja. Lex orandi, lex credendi: cara kita berdoa menunjukkan iman kita. Jika tidak ada lagi iman, liturgi direduksi menjadi pertunjukan, pertunjukan cerita rakyat, dan umat beriman berpaling. Kami mungkin bersalah karena kelalaian. Desentralisasi liturgi selalu memiliki konsekuensi yang serius. Kami ingin memanusiakan Misa, membuatnya dapat dipahami, tetapi hal itu tetaplah menjadi misteri di luar pemahaman [manusia]. Ketika saya mempersembahkan Misa, ketika saya memberikan absolusi, saya memahami kata-kata yang saya ucapkan, tetapi daya akal budi tidak dapat memahami misteri yang dihasilkan oleh kata-kata ini. Jika kami tidak adil terhadap misteri agung ini, kami tidak bisa menuntun orang-orang ke hubungan yang benar dengan Allah. Bahkan hari ini kami masih memiliki praktik pastoral yang terlalu horizontal: bagaimana kamu mengharapkan orang untuk berpikir tentang Allah jika Gereja disibukkan secara eksklusif dengan masalah sosial?” — Robert Kardinal Sarah

Mazmur Tanggapan Minggu Prapaskah V - Tahun B (Koreksi)


PENTING bagi Pemazmur,
Berdasarkan surat nomor 005/L. MT/II/15 tertanggal 27 Februari 2015 dari Komisi Liturgi KWI pada Minggu Prapaskah V tahun B diharapkan untuk menggunakan Mazmur Tanggapan PS 826 (Koreksi atas Mazmur Tanggapan yang sebelumnya dicetak), notasi angka lengkap bagian ayat tersedia pada dokumen pada link yang tersedia dibawah , silahkan disimpan, dicetak dan ditempelkan pada buku Mazmur Tanggapan - Alleluya halaman 254 agar dapat digunakan setiap tahun liturgi B pada misa Minggu Prapaskah. Nyanyian Karna belas kasih-Mu (PS 811) dapat digunakan sebagai Nyanyian Pembuka, nyanyian Persiapan persembahan atau nyanyian Komuni selama masa Prapaskah, namun tidak lagi digunakan sebagai Mazmur Tanggapan lagi mengingat ayat dan ulangan tidak sesuai dengan Mazmur 51. 

https://docs.google.com/file/d/0B_7Xq1jBnG9WUWR2dmd1V0JEMkMyZDk5SE9XbUpGWnRPREpv/edit?usp=docslist_api