“Hormatilah dan hargailah liturgi suci Gereja dan upacara-upacara perayaannya. Rayakanlah dengan setia. Tidakkah engkau melihat bahwa bagi kita manusia yang malang, bahkan apa yang paling mulia dan hebat pun harus kita tangkap melalui pancaindra?” — St. Josemaria Escriva

“Saya yakin bahwa tanggung jawab utama dari keruntuhan iman ini harus ditanggung oleh para imam. Kami tidak selalu mengajarkan doktrin di seminari-seminari dan universitas Katolik. Kami mengajarkan apa pun yang kami suka! Katekismus untuk anak-anak telah ditinggalkan. Pengakuan dosa diremehkan. Selain itu, tidak ada lagi imam di kamar pengakuan dosa! Karena itu sebagian dari kami bertanggung jawab atas keruntuhan ini. Khususnya pada tahun 1970-an dan 1980-an, setiap imam melakukan apa pun yang disukainya selama Misa. Tidak ada dua Misa yang sama: itulah yang membuat banyak umat Katolik enggan pergi ke gereja. Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa krisis liturgi menyebabkan krisis Gereja. Lex orandi, lex credendi: cara kita berdoa menunjukkan iman kita. Jika tidak ada lagi iman, liturgi direduksi menjadi pertunjukan, pertunjukan cerita rakyat, dan umat beriman berpaling. Kami mungkin bersalah karena kelalaian. Desentralisasi liturgi selalu memiliki konsekuensi yang serius. Kami ingin memanusiakan Misa, membuatnya dapat dipahami, tetapi hal itu tetaplah menjadi misteri di luar pemahaman [manusia]. Ketika saya mempersembahkan Misa, ketika saya memberikan absolusi, saya memahami kata-kata yang saya ucapkan, tetapi daya akal budi tidak dapat memahami misteri yang dihasilkan oleh kata-kata ini. Jika kami tidak adil terhadap misteri agung ini, kami tidak bisa menuntun orang-orang ke hubungan yang benar dengan Allah. Bahkan hari ini kami masih memiliki praktik pastoral yang terlalu horizontal: bagaimana kamu mengharapkan orang untuk berpikir tentang Allah jika Gereja disibukkan secara eksklusif dengan masalah sosial?” — Robert Kardinal Sarah

Perayaan Ekaristi: 15 - 16 Februari 2014 (I)

PENGANTAR
I. Moralitas hidup mengarahkan orang agar dapat menjalani hidup ini dengan baik dan sesuai dengan aturan-aturan yang ada. Sejak kecil kita diarahkan untuk dapat berkembang dan berperilaku baik. Namun, hal itu tidak terjadi dengan tiba-tiba. Kita harus mengatakan, mengajari, mengusahakan dan mengembangkannya. Tetapi tangan Tuhan itu kuat. Setiap pribadi digerakkan oleh Roh Kudus untuk melakukan yang baik. Bagaimana dengan diriku mendengarkan suara hatiku? Mampukah aku mendengarkannya? 

DOA PEMBUKA 
I. Marilah kita berdoa: (Hening sejenak)
I. Ya Allah, Engkau telah bersabda bahwa Engkau akan tinggal dalam hati yang lurus dan murni. Semoga dengan pertolongan rahmat-mu kami hidup menurut Sabda-Mu agar kami pantas menjadi tempat kediaman-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.
U. Amin. 

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN
I. Kami mohon, ya Allah, semoga persembahan ini menyucikan dan membarui kami, sehingga kami yang melaksanakan kehendak-Mu akan memperoleh anugerah hidup abadi. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.
U. Amin. 
    
DOA SESUDAH KOMUNI
I. Marilah kita berdoa:
I. Ya Allah, kami telah disegarkan oleh makanan surgawi. Bangkitkanlah kerinduan kami akan makanan sejati, yang menguatkan kami untuk senantiasa hidup jujur dan benar. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa, sepanjang segala masa. 
U. Amin.