“Hormatilah dan hargailah liturgi suci Gereja dan upacara-upacara perayaannya. Rayakanlah dengan setia. Tidakkah engkau melihat bahwa bagi kita manusia yang malang, bahkan apa yang paling mulia dan hebat pun harus kita tangkap melalui pancaindra?” — St. Josemaria Escriva

“Saya yakin bahwa tanggung jawab utama dari keruntuhan iman ini harus ditanggung oleh para imam. Kami tidak selalu mengajarkan doktrin di seminari-seminari dan universitas Katolik. Kami mengajarkan apa pun yang kami suka! Katekismus untuk anak-anak telah ditinggalkan. Pengakuan dosa diremehkan. Selain itu, tidak ada lagi imam di kamar pengakuan dosa! Karena itu sebagian dari kami bertanggung jawab atas keruntuhan ini. Khususnya pada tahun 1970-an dan 1980-an, setiap imam melakukan apa pun yang disukainya selama Misa. Tidak ada dua Misa yang sama: itulah yang membuat banyak umat Katolik enggan pergi ke gereja. Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa krisis liturgi menyebabkan krisis Gereja. Lex orandi, lex credendi: cara kita berdoa menunjukkan iman kita. Jika tidak ada lagi iman, liturgi direduksi menjadi pertunjukan, pertunjukan cerita rakyat, dan umat beriman berpaling. Kami mungkin bersalah karena kelalaian. Desentralisasi liturgi selalu memiliki konsekuensi yang serius. Kami ingin memanusiakan Misa, membuatnya dapat dipahami, tetapi hal itu tetaplah menjadi misteri di luar pemahaman [manusia]. Ketika saya mempersembahkan Misa, ketika saya memberikan absolusi, saya memahami kata-kata yang saya ucapkan, tetapi daya akal budi tidak dapat memahami misteri yang dihasilkan oleh kata-kata ini. Jika kami tidak adil terhadap misteri agung ini, kami tidak bisa menuntun orang-orang ke hubungan yang benar dengan Allah. Bahkan hari ini kami masih memiliki praktik pastoral yang terlalu horizontal: bagaimana kamu mengharapkan orang untuk berpikir tentang Allah jika Gereja disibukkan secara eksklusif dengan masalah sosial?” — Robert Kardinal Sarah

Ekaristi: Inisiasi Orang Kristiani, Puncak Keselamatan


Kota Vatikan, 5 Februari 2014 (VIS) - Katekese Bapa Suci pada audiensi umum hari ini difokuskan pada "Ekaristi, pusat inisiasi orang Kristiani dan sumber kehidupan Gereja". "Sabda dan Roti, selama Misa, menjadi satu, seperti dalam Perjamuan Terakhir, ketika semua kata-kata Yesus, semua tanda-tanda yang Ia telah dibuat, yang memadat dalam sikap memecahkan roti dan menawarkan piala dalam mengantisipasi pengorbanan Salib ".

Paus Fransiskus mengatakan bahwa gerakan tubuh Yesus selama Perjamuan Terakhir adalah "pengucapan syukur yang tertinggi pada Bapa untuk kasih-Nya dan rahmat-Nya", dan mengingatkan bahwa "pengucapan syukur", dalam bahasa Yunani, adalah "eucaristia". Inilah sebabnya mengapa istilah Ekaristi meliputi semua gerakan tubuh ini, yang merupakan gerakan tubuh dari Allah dan manusia, sikap Yesus Kristus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia ".

Paus mengulangi bahwa setiap kali kita merayakan Sakramen ini, tidak sekedar berarti mengingat, melainkan berbagi dalam "misteri penderitaan Kristus, kematian dan kebangkitan". "Ekaristi", kata beliau, "adalah puncak dari aksi keselamatan Allah: Tuhan Yesus, membuat diri-Nya menjadi roti, dipecah bagi kita, bahkan menuangkan atas kita semua rahmat dan kasih-Nya, sehingga memperbaharui hati kita, keberadaan kita dan cara kita berhubungan dengan-Nya dan dengan saudara-saudara kita ".

Paus Fransiskus menyimpulkan dengan mengundang mereka yang hadir untuk berdoa kepada Tuhan agar "Sakramen ini dapat terus mempertahankan kehadirannya tetap hidup, di dalam Gereja, dan menjadi contoh komunitas kita dalam amal dan persekutuan, syang esuai dengan hati Bapa. Dan ini terus berlanjut sepanjang hidup kita, dimulai pada hari komuni pertama kita. Adalah penting bahwa anak-anak mempersiapkan diri dengan baik untuk Komuni pertama mereka dan bahwa setiap anak melakukannya, karena merupakan langkah pertama untuk sebuah ikatan kuat menjadi milik Yesus Kristus, menyusul Pembaptisan dan Penguatan ".

Sumber: Vatican Information Service
Diterjemahkan: Fans of Iman Katolik