HOMILI: Hari Raya Penampakan Tuhan (Yes 60:1-6; Mzm 72:7-8.10-11; Ef 3:2-3a.5-6; Mat 2:1-12)

"Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."

Kelahiran calon mahkota atau penerus tahta kerajaan senantiasa membuat daya tarik bagi banyak orang, sebagaimana terjadi di Kerajaan Inggris dll, atau di Indonesia di wilayah kesultanan, misalnya Daerah Istimewa Yogyakarta. Begitulah yang terjadi dengan kelahiran Yesus, Penyelamat Dunia: raja Herodes merasa akan tersaingi dan akhirnya membunuh semua anak-anak dibawah usia 2 (dua) tahun di kota Betlekem, sementara itu dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan ‘orang-orang majus atau bijak’ dari Timur Jauh tergerak untuk bersembah sujud kepada Bayi, Penyelamat Dunia yang baru saja dilahirkan. Dengan kata lain kelahiran Penyelamat Dunia begitu cepat tersiarkan, yang berarti si Bayi mungil telah memiliki cirikhas missioner. Hari ini oleh Gereja juga dijadikan “Hari Anak Misioner Sedunia”, dengan harapan agar kita sedini mungkin membina anak-anak dalam hal penghayatan semangat missioner, diutus atau dalam bahasa lain disebut “to man or woman with/for others”. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk senantiasa memberi perhatian yang memadai pada anak-anak kita, terutama anak-anak balita.

"Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." (Mat 2:2)

Kutipan di atas ini, pertanyaan dari orang-orang majus dari Timur kepada raja Herodes, hendaknya juga menjadi pertanyaan kita semua. Bagi kita hal itu berarti kita diajak untuk ‘bersembah-sujud’ kepada anak-anak. Marilah kita sadari dan hayati bahwa anak-anak lebih suci dari orangtuanya maupun orang-orang dewasa, dan dalam hidup beriman hemat saya mereka yang lebih suci selayaknya kepada mereka kita bersembah-sujud. Di beberapa gereja atau kapel sering secara khusus imam memberkati anak-anak sesudah penerimaan komuni kudus. Bukankah hal itu merupakan salah satu bentuk perhatian kepada anak-anak? Yesus sendiri juga mengasihi anak-anak, memangku dan menciumi, sementara orang-orang dewasa sering merasa terganggu dengan kehadiran anak-anak.

Marilah kita sadari bahwa anak-anak adalah masa depan kita; mereka lah yang akan meneruskan apa yang kita usahakan dan lakukan pada masa kini, maka tidak memperhatikan anak-anak hemat saya kita ‘bunuh diri’ pelan-pelan. Kami berharap kepada rekan-rekan imam, bruder dan suster sungguh memperhatikan anak-anak dalam karya pelayanan, selain memberi perhatian kepada mereka sekaligus promosi panggilan, siapa tahu dari anak-anak akhirnya tergerak untuk menjadi imam, bruder atau suster. Tentu saja pertama-tama dan terutama kami berharap kepada para orangtua yang memiliki anak-anak balita untuk sungguh memperhatikan mereka, berani ‘memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anak balita’, dan jangan dengan mudah menitipkan anak-anak balita kepada pengasuh anak-anak maupun neneknya, sebagaimana sering dilakukan keluarga muda berada atau kaya. Kepada para ibu kami harapkan memberi ASI secara memadai kepada anak-anaknya, tidak cukup menyusui hanya selama tiga bulan saja; kata seorang dokter anak-anak dan ibu, hendaknya menyusui bayi atau anak sampai kurang lebih selama satu tahun.

“Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagi sang surya menyinari dunia”, demikian bunyi syair lagu yang menggambarkan kasih ibu kepada anak-anaknya. Semoga kasih ibu kepada anak-anaknya tidak hanya memberi aneka macam sarana permainan, melainkan ‘boroskan waktu dan tenaga’ bagi anak-anak anda. Kasih yang dihayati oleh anak-anak kelak kemudian hari akan menjadi bekal dan modal yang mendorong anak yang bersangkutan berjiwa missioner. Jika anak-anak merasa kurang dikasihi oleh orangtuanya, maka anak-anak yang bersangkutan akan tumbuh-berkembang sebagai pribadi egois, yang hanya mengutamakan kepentingan pribadi, cari enaknya sendiri, yang pada giliranya akan membuat orangtua resah dan menderita di masa tuanya.

Kepada semuanya kami harapkan untuk memperhatikan pembinaan kader dalam diri anak-anak. Kader sejati adalah orang yang fungsional menyelamatkan lingkungan hidupnya, maka hendaknya anak-anak sedini mungkin dididik dan dibina untuk fungsional dalam lingkungan keluarganya. Dengan kata lain jangan pernah memanjakan anak-anak, ajak dan didiklah anak-anak sedikit demi sedikit berfungsi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari di dalam keluarga, misalnya mematikan lampu yang tak terpakai, mematikan kran air, menyapu dst..

“Memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu,yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu” (Ef 3:2-3a)

Anak-anak adalah kasih karunia Allah, dan kiranya dalam diri anak-anak terkandung aneka harapan, dambaan dan cita-cita, sebagaimana menjadi nyata dalam pemberian nama pada anak-anak yang dianugerahkan oleh Allah, yang dilakukan oleh orangtuanya. Rahasia yang terkandung dalam diri anak-anak pelan-pelan akan terkuak alias dapat kita ketahui jika anak-anak diberi kemungkinan dan kesempatan untuk tumbuh berkembang dalam semangat ‘cintakasih dan kebebasan Injili’. Maka dengan ini kami berharap kepada para orangtua untuk senantiasa memberi aneka kesempatan dan kemungkinan pada anak-anaknya seluas mungkin, agar anak-anak dapat mengembangkan bakat, keterampilan serta anugerah Allah yang telah diterimanya. Kami berharap kepada para orangtua untuk tidak memproyeksikan dirinya kepada anak-anaknya.

“Semangat cintakasih dan kebebasan Injili” hendaknya juga menjiwai para pengelola dan pelasakna karya pelayanan pastoral pendidikan di sekolah-sekolah. Memang untuk itu di sekolah-sekolah perlu disediakan aneka kemungkinan dan kesempatan bagi para peserta didik untuk mengembangkan dan memperdalam bakat, keterampilan dan anugerah Allah, maka hendaknya anggaran belanja untuk pendidikan atau sekolah sungguh memadai. Kepada mereka yang kaya akan harta benda atau uang kami ajak untuk dengan besar hati memberi sumbangan kepada sekolah-sekolah yang sungguh membutuhkan. Ingat, sadari dan hayati bahwa anda dapat tumbuh berkembang sebagai orang kaya kiranya antara lain karena jasa pelayanan sekolah dimana anda pernah belajar, terutama pendidikan dasar, Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Pertama.

Kepada para penyelenggara dan pelaksana pemerintahan alias para petinggi Negara dan penentu kebijakan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, kami harapkan mengalokasikan dana anggaran untuk pendidikan yang memadai dan tentu saja juga tidak dikorupsi sebagaimana masih berlangsung sampai saat ini. Saya sungguh prihatian dan sedih jika mendengar dan melihat tindakan korupsi di jajaran Departemen Pendidikan di negeri tercinta ini. Semangat atau sikap mental ‘proyek’ kiranya masih menjiwai para pejabat dan petinggi di Negara kita ini: sudah menerima imbal jasa atau gaji cukup besar masih melakukan korupsi dengan topeng ‘proyek’. Jika departemen yang membina manusia saja sarat dengan korupsi apa yang dapat diharapkan di negeri kita ini?

Di semua jenjang dan jalur pendidikan atau sekolah hendaknya dibiasakan penghayatan keutamaan jujur dan disiplin. “Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata benar apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkoban untuk kebenaran”, sedangkan “berdisiplin adalah kesadaran akan sikap dan perilaku yang sudah tertanam dalam diri sesuai dengan tata tertib yang berlaku dalam suatu keteraturan secara berkesinambungan yang diarahkan pada suatu tujuan atau sasaran yang telah ditentukan” (lih: Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10 dan 17).

“Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan! Kiranya ia memerintah dari laut ke laut, dari sungai Efrat sampai ke ujung bumi! kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya” (Mzm 72:7-8.10-11)

Minggu, 6 Januari 2013


Romo Ignatius Sumarya, SJ