Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya? (Kej. 2:18-24; Mzm. 128:1-2,3,4-5,6; Ibr. 2:9-11; Mrk. 10:2-16)

"Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?"

Dari pasangan hidup suami-isteri, yang sering dengan mudah menceraikan pasangannya pada umumnya adalah pihak suami, karena pada umumnya juga laki-laki lebih mudah tergoda dengan jenis lain, apalagi jika pelayanan sang isteri dalam berbagai hal kurang memuaskan. Pendek kata pada umumnya penyebab perceraian suami-isteri adalah sang suami. Kasus yang sering saya dengar, misalnya: suami berselingkuh dengan perempuan lain dan pada suatu saat sang isteri tahu, maka sang isteri pun muak dan tergerak untuk bercerai dengan suaminya, juga ada alasan bercerai karena tidak mau dimadu. Itulah gejala umum yang terjadi di masyarakat, maka tidak mengherankan juga diangkat dalam Kitab Suci dalam rangka mengajarkan perkawinan atau hidup suami-isteri yang benar dan baik. Maka marilah kita renungkan dan hayati apa yang disabdakan oleh Yesus di bawah ini, khususnya anda semua yang hidup berkeluarga sebagai suami isteri.

“Pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya,sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mrk 1:6-9)

Hidup berkeluarga sebagai suami-isteri diikat oleh cintakasih, dan cintakasih tersebut berasal dari Allah dan Allah adalah ‘Alpha dan Omega’, awal dan akhir. Dengan kata lain ikatan suami-isteri diawali oleh Allah dan diakhiri oleh Allah juga, manusia tidak boleh mengakhiri seenaknya menurut keinginan sendiri atau selera pribadi. “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia”, demikian jawaban Yesus menanggapi pertanyaan orang-orang yang mempertanyakan perihal perceraian antara suami-isteri. Memang orang pada umumnya menceraikan pasangan hidupnya karena kedegilan hatinya, karena keras hatinya atau tertutup hatinya.

Setelah menjadi suami-isteri, laki-laki dan perempuan ‘menjadi satu daging’, karena mereka saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga/tubuh, sehingga mereka sehati, sejiwa, seakal budi dan setubuh: persetubuhan atau hubungan seksual antara suami-isteri merupakan wujud saling mengasihi yang handal dan mendalam. Kesatuan mereka karena kasih tiada sesuatu pun yang ditutupi antar mereka, bahkan karena kasih mereka saling menghadirkan diri dalam keadaan telanjang bulat tidak malu, bahkan kasih mereka semakin akurat, mendalam dan handal. Kami berharap keterbukaan secara fisik untuk bukan formalitas belaka atau permainan sandiwara.

Buah persatuan antar suami-isteri antara lain adalah ‘anak’ sebagai buah kasih atau yang terkasih. Kasih sebagaimana saya katakan di atas tiada awal dan akhir. Kasih hemat saya juga merupakan ajaran semua agama, maka kami harapkan para pengkotbah atau pemuka agama senantiasa dalam kasih menyampaikan ajaran-ajaran atau kotbah-kotbahnya. Ada pepatah ‘dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu’. Kiranya hanya orang yang memiliki kasih dan senantiasa hidup saling mengasihi akan tahu dalamnya hati, hatinya sendiri maupun hati orang lain. Hanya dalam dan oleh kasih kita dapat tumbuh berkembang dengan baik, sebagaimana dikehendaki oleh Allah yang telah menciptakan kita karena kasihNya. Jenis kehidupan lain, selain manusia, yang ada di permukaan bumi ini, juga dapat hidup, tumbuh dan berkembang karena kasih.

Hidup saling mengasihi hemat saya mudah dilakukan atau dihayati, jika kita menyadari dan menghayati diri sebagai ‘yang terkasih’ atau buah kasih. Karena masing-masing dari kita adalah ‘yang terkasih’ maka bertemu dengan orang lain, siapapun, secara otomatis akan saling mengasihi. Kami berharap anak-anak di dalam keluarga dididik dan dibina sedini mungkin hidup saling mengasihi dengan teladan konkret dari orangtua. Tawuran sampai pembunuhan antar pelajar sebagaimana terjadi akhir-akhir ini, hemat saya karena mereka tidak merasa dikasihi atau kurang kasih dari orangtuanya. Tak jemu-jemunya saya mengingatkan bahwa salah satu wujud kasih yang penting dan utama adalah ‘boros waktu dan tenaga’ bagi yang terkasih, sehingga terjadi tatap muka, percakapan dan curhat bersama. Hemat saya aneka sarana tehnologi modern saat ini, seperti HP, Ipad, Internet dst.. merupakan godaan hebat atau gangguan dalam saling mengasihi dengan benar dan baik, dimana orang malas untuk bertatap muka, silaturahmi, bercurhat dengan orang lain, melainkan menyibukkan diri dengan sarana-sarana komunikasi tersebut. Semoga anak-anak diingatkan perihal bahaya dan ancaman dari sarana-sarana komunikasi modern dan canggih secara teknologi masa kini.

“Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia. Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah -- yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan --, yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara” (Ibr 2:9-11).

Sebagai orang beriman kita semua adalah saudara. Bukankah dalam menyapa orang lain yang belum kenal kita juga menyapanya dengan kata ‘saudara’? Yesus, Allah yang menjadi manusia seperti kita, kecuali dalam hal dosa, memperlakukan kita, yang beriman kepada-Nya, sebagai saudara, dan Ia memimpin kita, saudara-saudari-Nya ‘kepada kemuliaan, dengan penderitaan’. Memang untuk hidup bahagia dan damai sejahtera orang harus melalui penderitaan, kerja keras dan pengorbanan. Demikian juga hidup bersaudara atau bersahabat dengan orang lain, tanpa pandang bulu.

Laki-laki dan perempuan pada masa pacaran atau tunangan kiranya masing-masing sungguh rela berkorban dan menderita bagi kekasihnya, namun sering ketika sudah menjadi suami-isteri dapat terjadi kemerotosan dalam hal berkorban dan berjuang. Kami berharap anak-anak di dalam keluarga sedini mungkin dibina dan di didik dalam hal berkorban dan berjuang demi kebahagiaan atau kesejahteraan sejati, jauhkan aneka macam pemanjaan yang akan mencelakakan dirinya maupun anda sebagai orangtuanya. Sebagai orang katolik atau kristen kami percaya bahwa anda memasang salib di kamar, entah kamar tamu atau kamar lainnya, maka pandanglah dan renungkanlah salib yang anda pasang setiap hari. Dan tentu saja kami berharap anda yang percaya kepada Yesus Kristus dengan jiwa besar dan hati rela berkorban meneladan penderitaan dan pembaktian Diri-Nya demi keselamatan umat manusia.

"Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.” (Kej 2:18-19). Kutipan ini kiranya mengingatkan kita semua, bahwa sebagai manusia kita harus bersahabat atau bersaudara dengan siapapun, demikian juga dengan “segala binatang hutan dan segala burung di udara”. Tentu pertama-tama saya mengingatkan kita semua agar kaum laki-laki dan kaum perempuan tidak saling melccehkan atau merendahkan, melainkan saling bekerja sama. Aneka perbedaan yang ada antar laki-laki dan perempuan hendaknya dihayati sebagai daya tarik, daya pikat atau daya dorong untuk bersahabat atau bersaudara. Selanjutnya marilah kita semua membangun dan memperdalam persahabatan dengan aneka binatang di darat maupun di laut dan burung di udara.

“Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.” (Mzm 128:1-4)

Minggu, 7 Oktober 2012


Romo Ignatius Sumarya, SJ