"Mengapa kamu memikirkan hal yang jahat di dalam hatimu?” (Am 7:10-17; Mzm 19:8-11; Mat 9:1-8)

“ Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni." Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: "Ia menghujat Allah." Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: "Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" -- lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu --: "Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" Dan orang itu pun bangun lalu pulang. Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia” (Mat 9:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Kebanyakan orang pada umumnya lebih berpikiran jahat atau jelek daripada berpikiran baik terhadap saudara-saudarinya, apalagi yang sering dilakukan oleh para pengawas atau peneliti agar kelihatan berwibawa senantiasa berusaha lebih melihat kekurangan dan kelemahan daripada kelebihan dan kekuatan. Berpikiran jelek atau jahat berarti hidup dan bertindak mengikuti bisikan dan dorongan setan atau roh jahat. Sebagai orang beriman berarti berusaha hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan dan untuk itu senantiasa melihat dan mencari karya penyelenggaraan Tuhan dalam ciptaan-ciptaan-Nya, terutama dalam diri manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Tuhan. Beriman memang berarti hidup dan bertindak dijiwai oleh karya penciptaan Tuhan, yang akhirnya senantiasa berusaha melihat apa yang baik dan berkembang dalam ciptaan-ciptaanNya. Marilah kita meneladan Yesus yang datang untuk mengampuni dosa manusia serta menggairahkan cara hidup dan cara bertindak manusia sesuai dengan kehendak dan perintah-Nya. Marilah kita senantiasa melihat apa yang baik, mulia, luhur dan indah dalam ciptaan-ciptaan-Nya, terutama dalam diri saudara-saudari kita, sesama manusia. Kami berharap meneladan juga para orangtua yang pada umumnya lebih melihat apa yang baik, mulia, luhur dan indah dalam diri anak-anaknya. Secara khusus kami berharap agar para guru, pendidik atau pembina dan pendamping anak-anak atau generasi muda untuk senantiasa melihat dan mengembangkan apa yang baik dalam diri anak-anak, peserta didik atau binaannya.

· "Aku harus mempersembahkan korban keselamatan, dan pada hari ini telah kubayar nazarku itu. Itulah sebabnya aku keluar menyongsong engkau, untuk mencari engkau dan sekarang kudapatkan engkau. Telah kubentangkan permadani di atas tempat tidurku, kain lenan beraneka warna dari Mesir. Pembaringanku telah kutaburi dengan mur, gaharu dan kayu manis” (Am 7:14-17). Kutipan ini kiranya baik kita renungkan dan dapat menjadi acuan atau pedoman dalam cara hidup dan cara bertindak kita, sebagai umat beriman. Suatu sikap positif terhadap orang lain itulah yang digambarkan dalam kutipan di atas ini, yang digambarkan sebagai seseorang yang sedang mempersiapkan tempat tidur bagi yang terkasih agar yang terkasih dapat tidur atau istirahat nyenyak; hal yang demikian ini kiranya juga sering dilakukan oleh pasangan suami-isteri yang baru saja menikah alias penganten baru di malam pertama maupun malam-malam berikutnya. Kami percaya bahwa dalam diri kita masing-masing lebih banyak apa yang baik daripada yang jelek, yang indah daripada amburadul, yang mulia daipada yang jorok dst.. Marilah kita hidup dan bertindak saling mengangkat dan memperkembangkan apa yang baik, indah, luhur dan mulia dalam diri kita masing-masing, sehingga kehidupan bersama sungguh memikat, menarik dan mempesona serta nikmat dan bahagia, damai sejahtera dalam hidup bersama. Dengan kata lain kita semua dipanggil untuk senantiasa hidup dan bertindak saling mengasihi satu sama lain dimana pun dan kapanpun dan dengan siapapun tanpa pandang bulu/SARA. Para pemimpin dalam hidup bersama dalam bentuk apapun kami harapkan senantiasa berusaha melihat dan mengangkat apa yang baik, mulia, luhur dan indah dalam diri mereka yang harus dipimpin serta kemudian memperkembangkannya. Berpikiran positif berarti ahli roh baik, sedangkan berpikiran jahat berarti ahli roh jahat.

Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah” (Mzm 19:8-11)



Kamis, 5 Juli 2012

Romo Ignatius Sumarya, SJ