“Sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan”

(2Tim 4:1-8; Mzm 71:14-17; Mrk 12:38-44)

“Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: "Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat." Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya." (Mrk 12:38-44), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Dalam kehidupan bersama bidang pelayanan atau kebersamaan macam atau jenis apapun sering diadakan gerakan pengumpulan dana atau sumbangan, sebagai wujud penghayatan sosial, demi kepentingan atau kebutuhan bersama. Pada umumnya orang-orang kaya atau berduit secara nominal akan memberi dana atau sumbangan lebih besar daripada orang-orang miskin dan berkekurangan akan harta benda atau uang, atau bahkan mereka tidak mampu memberikan sumbangan harta benda atau uang melainkan tenaga dan waktunya. Hemat saya persembahan tenaga dan waktu memang sulit diuangkan begitu saja, maka benarlah apa yang disabdakan oleh Yesus bahwa “janda miskin sungguh memberikan persembahan seluruh nafkahnya dan kebanyakan orang lain hanya sebagian kecil dari kekayaan atau hartanya”. Maka dengan ini kami mengharapkan anda sekalian untuk meneladan janda miskin yang memberi dari kekurangannya bukan dari kelebihannya dalam rangka memberi sumbangan atau derma. Memberi drri kelebihan berarti membuang sampah, dengan kata lain menjadikan si penerima sebagai tempat sampah. Secara khusus kami mengajak rekan-rekan imam atau pastor untuk memberikan diri dari kekurangannya, dengan kata lain secara total mempersembahkan diri kepada umat yang harus dilayani.

· “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya” (2Tim 4:6-8), demikian sharing iman Paulus kepada Timoteus, kepada kita semua umat beriman. “Aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman”, inilah yang kiranya baik untuk kita renungkan atau refleksikan. Memelihara iman sampai garis akhir bagi kita berarti senantiasa mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui saudara-saudari kita sampai mati atau dipanggil Tuhan. Dengan kata lain hidup dan bertindak kapan pun dan dimana pun senantiasa dijiwai oleh iman. Dijiwai oleh iman berarti senantiasa setia melaksanakan atau menghayati perintah-perintah atau sabda-sabda Tuhan, antara lain sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Maka marilah kita baca dan renungkan serta kita hayati apa yang tertulis di dalam Kitab Suci kita masing-masing. Bacalah Kitab Suci dari halaman pertama sampai halaman terakhir dengan penuh khidmat disertai dengan doa-doa. Kita semua dipanggil sebagai orang-orang yang merindukan kedatanganNya, maka cara hidup dan cara bertindak kita hendaknya senantiasa layak untuk didatangi oleh Tuhan, yang berarti senantiasa dalam keadaan baik dan berbudi pekerti luhur, tidak pernah menyakiti dan mengecewakan orang lain sedikitpun. Kepada para orangtua kami harapkan senantiasa berusaha agar anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan senantiasa diusahakan selamat dan bahagia, sesuai dengan panggilan dan jati diri masing-masing. Kebahagiaan sejati orangtua terhadap anak-anak hemat saya adalah jika anak-anak bahagia dan sejahtera dalam hidup dan panggilannya, maka untuk itu perlu disiapkan atau dididik sedini mungkin dalam hal panggilan hidup, yang sesuai dengan bakat dan rahmat yang dianugerahkan oleh Tuhan bagi anak-anak.

“Aku senantiasa mau berharap dan menambah puji-pujian kepada-Mu; mulutku akan menceritakan keadilan-Mu dan keselamatan yang dari pada-Mu sepanjang hari, sebab aku tidak dapat menghitungnya. Aku datang dengan keperkasaan-keperkasaan Tuhan ALLAH, hendak memasyhurkan hanya keadilan-Mu saja! Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib” (Mzm 71:14-17)

Sabtu, 9 Juni 2012

Romo Ignatius Sumarya, SJ