MARILAH KITA MENJAGA EKARISTI DARI UPAYA PROFANISASI


Paus Yohanes Paulus II:

61. Misteri Ekaristi – kurban, kehadiran, perjamuan – ‘takkan memberi ruang kepada penyempitan atau pemerasan’. Misteri ini harus dialami dan dihayati dalam integritasnya, baik dalam perayaan maupun dalam kemesraan dialog dengan Yesus, yang terjadi sesudah komuni atau pada saat doa penyembahan Ekaristi di luar Misa. Inilah saat Gereja dibangun dengan kukuh, dan jati dirinya pun menjadi jelas: satu, kudus, katolik dan apostolik; umat, baik dan keluarga Allah; tubuh dan pengantin Kristus, yang diberi ragi oleh Roh Kudus; sakramen penyelamatan universal dan persekutuan yang berstruktur hirarkhi.

Langkah yang dilakukan oleh Gereja tahun-tahun awal millennium ketiga adalah juga ‘langkah komitmen pembaharuan Ekumene’. Dekade-dekade terakhir dari millennium kedua, memuncak pada Yubileum Agung, telah menyertai kita sepanjang langkah ini dan menggugah setiap orang terbaptis untuk menanggapi doa Yesus “semoga mereka menjadi satu” (Yoh 17:11). Jalan itu sendiri panjang dan bertebar hambatan, mengatasi daya kemanusiaan belaka kita, namun kita mempunyai Ekaristi, dan dalam kehadirannya, kita dapat mendengar di dalam batin, seolah diarahkan kepada kita, kata-kata yang sama dari Nabi Elia: “Bangunlah dan makan, sebab perjalananmu akan terlalu jauh bagimu” (1 Raj 19:7). Harta Ekaristi, yang ditaruh oleh Tuhan di hadapan kita, mendorong kita untuk saling berbagi secara penuh dengan saudara-saudari kita, karena dengan mereka kita dipersatukan oleh baptisan. Namun, untuk tidak meremehkan harta kekayaan ini, kita harus menghormati tuntutan yang berasal dari adanya sakramen persekutuan dalam iman dan dalam kesinambungan rasuli.

Dengan mengakui kemuliaan yang pantas kepada Ekaristi, dan demi menjaga dengan cermat agar jangan sedikit pun dimensi dan tuntutannya terabaikan, kita nyatakan bahwa kita sungguh sadar akan keagungan karunia ini. Kita terpaksa berbuat demikian oleh tradisi yang tak terputus, yang dari abad-abad awal dan seterusnya melihat bahwa komunitas kristiani senantiasa awas dalam menjaga “harta kekayaan” ini. Terdorong oleh kasih, Gereja sangat berhati-hati dalam meneruskan iman dan ajarannya tanpa cacat kepada generasi Kristen yang akan datang, khusus mengenai misteri Ekaristi. Segala yang berlebihan tak boleh terdapat dalam pemeliharaan misteri ini, sebab “dalam sakramen ini tercantumlah seluruh misteri penyelamatan kita.” [St. Thomas Aquinas, ‘Summa Theologiae’, III, q. 83, a. 4c].

-----------
[Dikutip dari Ensiklik Paus Yohanes Paulus II, ECCLESIA DE EUCHARISTIA (Ekaristi dan Hubungannya dengan Gereja), Vatikan: Roma, 2003. Diterjemahkan oleh Mgr. Anicetus B. Sinaga OFM.Cap dan diterbitkan oleh Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2004].