HOMILI: Hari Minggu Biasa XVII/A 1Raj 3:5.7-12; Mzm 119:57.72.76-77.127-130; Rm 8:28-30; Mat 13:44-52 (Mat 13:44-46).

" Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu".


Dalam ceritera wayang kita kenal adanya "Pendowo Limo", lima bersaudara yang jujur dan sakti. Dambaan mereka adalah hidup mulia dan bahagia sejati selama di dunia ini maupun kelak setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan. Pada suatu hari mereka menerima informasi dari 'sang guru' mereka bahwa 'air kehidupan sejati', yang menjamin hidup mulia dan bahagia berada di kedalaman Laut Selatan ('ing telenging samodra Kidul'). Untuk menuju laut orang harus melintasi hutan belantara yang penuh ancaman, demikian juga menemukan 'air kehidupan' di kedalaman laut. Mereka merasa apa yang ditawarkan sungguh berat dan harus menghadapi ancaman kematian di perjalanan dalam mengusahakan 'air kehidupan' tersebut. Namun salah satu dari mereka yaitu "Werkudoro" merasa tergerak untuk menemukan 'air kehidupan' tersebut, serta berniat untuk mengucahakannya. Dengan keras dan berat hati saudara-saudaranya melarang, namun Werkudoro tetap nekad untuk mengusahakannya, dan akhirnya ia meninggalkan saudara-saudaranya untuk mengusahakan 'air kehidupan' tersebut. "Ada tantangan dan kesulitan, tabrak atau hadapi saja", begitulah kiranya motto Werkudoro. Dan memang dalam perjalanan ia harus berperang melawan raksasa-raksasa, demikian pula ketika ia terjun di laut harus melawan ular naga raksasa. Akhirnya Werkudoro menemukan 'air kehidupan' , bertemu dengan 'Dewaruci', Hyang Tersuci. Werkudoro adalah seorang ksatria sejati yang suci. Bacaan Injil hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua agar kita senantiasa mengusahakan apa yang sungguh membahagiakan atau menyelamatkan jiwa kita pada saat ini sampai mati.

"Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu." (Mat 13:46)

Apa yang menjadi 'mutiara' atau 'air kehidupan' kita sebagai orang beriman atau beragama, sebagai yang telah dibaptis, sebagai imam, sebagai bruder atau suster, sebagai suami-isteri, sebagai pekerja atau pelajar ? Apa yang paling berharga di dalam kehidupan kita masing-masing? Sebagai orang beriman yang paling berharga adalah iman kita, sebagai yang telah dibaptis yang paling berharga adalah rahmat pembaptisan/janji baptis, sebagai imam yang paling berharga adalah janji imamat, sebagai biarawan-biarawati yang paling berharga adalah trikaul, sebagai suami-isteri yang paling berharga adalah janji perkawinan, sebagai pelajar atau pekerja yang paling berharga adalah janji pelajar atau janji pekerja, dst.. Maka baiklah kita persembahkan seluruh hidup kita guna menghayati janji tersebut di dalam hidup sehari-hari dimanapun dan kapanpun.

"Ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu", inilah yang hendaknya kita renungkan atau refleksikan. Yang menjadi milik kita pertama-tama adalah tubuh kita sendiri dengan segala keterampilan, bakat, kemampuan, bakat/hobby, harapan dan cita-citanya, sedangkan milik yang lain antara lain aneka jenis harta benda, uang, jabatan, fungsi dan kedudukan. Marilah dengan rendah hati dan sepenuh hati, jiwa, akal budi dan tenaga kita fungsikan semua milik kita untuk menghayati janji-janji yang telah kita ikrarkan atau ucapkan demi keselamatan dan kebahagiaan jiwa kita sendiri maupun saudara-saudari kita. Semuanya adalah anugerah Tuhan, maka selayaknya kita fungsikan agar kita semakin berbakti kepada Tuhan sebagai ucapan syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan melalui sesama atau saudara-saudari kita.

Kita semua dipanggil untuk menjadi orang yang benar, bukan jahat. Apa yang disebut benar senantiasa berlaku secara universal, kapan saja dan dimana saja. Orang benar juga berarti orang suci, orang yang berbudi pekerti luhur, sehingga dimana dan kapan saja akan fungsional bagi keselamatan jiwa dirinya sendiri maupun saudara-saudarinya. Kami berharap kepada para orangtua, guru/pendidik, pemimpin, atasan atau petinggi dalam kehidupan bersama dapat menjadi teladan dalam 'menjual milik lalu membeli mutiara', mempersembahkan diri seutuhnya demi keselamatan jiwa umat manusia. Keselamatan jiwa manusia hendaknya senantiasa menjadi tolok ukur atau barometer keberhasilan atau kesuksesan hidup dan kerja, pelaksanaan aneka tugas pekerjaan dan kewajiban. Jauhkan semangat atau sikap mental materialistis dalam hidup maupun kerja sehari-hari.

"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara" (Rm 8:28-29)

Baiklah apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Roma di atas ini juga kita jadikan keyakinan iman kepercayaan kita. "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia", inilah yang hendaknya kita hayati. Allah bekerja dalam aneka tumbuh-tumbuhan/tanaman, binatang, dan manusia serta dalam situasi dan kondisi atau lingkungan hidup manapun demi kebaikan seluruh umat manusia di bumi ini. Marilah kita temukan dan hayati kehadiran dan kerja-Nya dalam seluruh ciptaan-Nya agar kita semakin menyerupai Yesus atau layak disebut sebagai gambar atau citra Allah.

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus kita dipanggil untuk menyerupai Dia, dengan menghayati sabda-sabda-Nya serta meneladan cara hidup dan cara bertindakNya, sehingga kita juga layak disebut sebagai sahabat-sahabat Yesus. Maka marilah dengan rendah hati dan keterbukaan kita baca, renungkan dan hayati sabda-sabda-Nya sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci; marilah meneladan cara hidup dan cara bertindak-Nya sebagaimana diwartakan oleh para penulis Kitab Suci: bagaimana ketika Ia haus atau lapar, ketika ia menghadapi pendosa, anaak-anak kecil, orang munafik, perempuan, orang sakit, orang miskin dst…

Sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah atau orang beriman, entah agamanya apapun, kita dipanggil untuk menjadi gambar atau citra Allah, sehingga siapapun yang bertemu atau bergaul dengan kita terpanggil dan tergerak untuk semakin beriman kepada Allah serta menjiwai cara hidup dan cara bertindaknya setiap hari dengan imannya. Iman tanpa dilakukan atau dilaksanakan bagaikan gong yang berbunyi nyaring saja, terdengar sebentar dan segera menghilang, tak berbekas; iman harus menjadi nyata dalam tindakan atau perilaku. Hendaknya sebagai orang beriman dalam doa-doa atau dambaan kita meneladan Salomo, raja bijaksana, yang berdoa "Berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?" (1Raj 3:9). Hendaknya senantiasa mendambakan 'hati yang faham menimbang perkara', bukan kekayaan, umur panjang maupun nyawa musuh. Kerajaan Allah atau kerajaan orang beriman adalah kerajaan hati, maka marilah kita usahakan agar hati kita cerdas, sehingga mampu membedakan apa yang baik dan jahat serta kemudian memilih dan mengusahakan apa yang baik dalam aneka perkara atau masalah dalam kehidupan bersama pada masa kini.

"Itulah sebabnya aku mencintai perintah-perintah-Mu lebih dari pada emas, bahkan dari pada emas tua. Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu; segala jalan dusta aku benci. Peringatan-peringatan-Mu ajaib, itulah sebabnya jiwaku memegangnya. Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh." (Mzm 119:127-130)


Minggu, 24 Juli 2011


Romo Ign Sumarya, SJ

"Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya”.

Kel 20:1-17; Mzm 19:8-11; Mat 13:18-23.


“ Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku." Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya." Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” (Mat 13:28-33), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St. Maria Magdalena hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Ragi yang berjumlah kecil diaduk ke dalam adonan tepung terigu serta kemudian dibiarkan saja, maka tepung terigu akan menjadi makanan yang enak dan lezat. Hal itu memang pada umumnya dilakukan oleh rekan-rekan perempuan. Maka pada pesta St. Maria Magdalena hari ini perkenankan saya secara khusus mengajak rekan-rekan perempuan untuk mawas diri atau berrefleksi: sejauh maka sepak terjang atau kehadiran saya dimanapun dan kapanpun senantiasa membuat lingkungan hidup menjadi enak dan nikmat untuk ditinggali, karena memang mempesona dan menarik. Dalam Injil, Maria Magdalena dikenal sebagai perempuan cantik, pendosa yang bertobat serta mensyukuri rahmat pertobatan atau kasih pengampunan Allah dengan mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah melalui pelayanan bagi sesamanya. Memang perempuan cantik senantiasa menarik dan mempesona bagi rekan-rekan laki-laki, maka laki-laki beriman pasti akan memuji dan bersyukur kepada Allah ketika melihat perempuan cantik, sedangkan laki-laki tak bermoral pasti akan menjadikan perempuan cantik sebagai pemuas nafsu seksualnya, entah hanya secara impian atau sungguh nyata dalam tindakan. Kepada rekan-rekan perempuan yang dianugerahi kecantikan oleh Allah kami ajak untuk bersyukur dan berterima kasih, dan semoga juga cantik dalam hati, jiwa dan budinya juga, sehingga kecantikannya menjadi lebih sempurna. Kami percaya kecantikan luar-dalam macam itu pasti akan membuat lingkungan hidup menjadi enak dan nikmat, karena kehadirannya bagaikan ragi yang merasuki seluruh adonan tepung terigu sehingga menjadi roti yang enak dan lezat. Kepada rekan-rekan laki-laki ketika melihat perempuan cantik kami harapkan tidak tergoda untuk berdosa, melainkan tergerak untuk semakin memuji, memuliakan dan menghormati serta mengabdi Tuhan melalui cara hidup dan cara bertindaknya.

· “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. Jangan membunuh. Jangan berzinah. Jangan mencuri.Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.” (Kel 20:12-16), demikian kutipan dari sepuluh perintah Allah kepada bangsa terpilih, yang sedang dalam perjalanan menuju tanah terjanji. Kita semua sedang berada di dalam perjalanan juga, perjalanan pelaksanaan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, maka baiklah saya mengajak kita semua untuk mawas diri bercermin pada kutipan dari sepuluh perintah Allah di atas ini. Pertama-tama dan terutama marilah kita hormati ayah dan ibu kita masing-masing yang telah menjadi pembantu Allah dalam menciptakan kita. Memang hendaknya penghormatan tidak hanya secara formal atau sopan santun saja, melainkan menjadi nyata dalam tindakan atau perilaku kita, yaitu berperilaku sebagai orang yang bermoral atau berbudi pekerti luhur, antara lain tidak membunuh, tidak berzinah, tidak mencuri dan tidak menjadi saksi dusta. Kebahagiaan sejati ayah-ibu atau orangtua kita masing-masing hemat saya ketika anak-anaknya atau kita tumbuh berkembang menjadi pribadi bermoral atau cerdas beriman. Perzinahan memang masih marak pada masa kini, entah secara spiritual atau phisik, demikian juga pembunuhan. Membunuh itu perilaku kasar, sedangkan yang paling lembut adalah mengeluh atau menggerutu. Orang yang mudah mengeluh atau menggerutu pada umumnya juga akan mudah berselingkuh atau berzinah, karena ia tidak pernah puas dan nikmat atas apa yang ada, yang disediakan secara baik dan tertib dan yang biasa-biasa saja, sehingga tergoda untuk mencari yang lain. Jauhilah aneka bentuk mengeluh dan menggerutu, dan nikmatilah apa yang ada di sekitar lingkungan hidup anda.

“Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah” (Mzm 19:8-11)


Jumat, 22 Juli 2011

Romo Ignatius Sumarya, SJ

“Siapa yang mempunyai kepadanya akan diberi sehingga ia berkelimpahan” ( Kel 19:1-2.9-11.16-20b; MT Dan 3:52-54.56; Mat 13:10-17)


“Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?" Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya” (Mat 13:10-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Orang yang cukup rajin, tekun, kerja keras, disipilin diri dst.. pada umumnya memiliki tugas pekerjaan atau tanggunjawab cukup banyak, dan meskipun demikian semua tugas dapat diselesaikan atau dikerjakan dengan baik dan sukses, sehingga yang bersangkutan juga semakin memiliki banyak keterampilan. Semua tugas pekerjaan yang diterimanya dikerjakan dengan semangat belajar dan rendah hati. Sebaliknya ada orang diberi satu tugas saja tidak pernah diselesaikan dengan baik. Orang yang merasa memiliki banyak waktu pada umumnya akan boros waktu, maka tugas yang diberikan senantiasa ditunda-tunda karena merasa memiliki banyak waktu. Sebaliknya orang yang merasa tidak memiliki banyak waktu akan menggunakan waktu seefisien dan seefektif mungkin, sehingga meskipun memiliki banyak tugas pekerjaan semuanya dapat diselesaikan dengan baik.

“Siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga berkelimpahan, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil daripadanya”
, demikian sabda Yesus. Sabda ini kiranya dapat difahami dan dihayati sebagai pegangan atau pedoman mereka yang rajin, ulet, tekun, kerja keras dan disiplin; yang bersangkutan memang memiliki aneka bakat atau anugerah serta kemudian memfungsikan bakat-bakat tersebut seoptimal mungkin, dan dengan demikian bakat-bakatnya semakin mantap dan berkembang serta handal maupun fungsional demi kepentingan bersama. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk dengan rendah hati mengoptimalkan fungsi mata dan telinga kita guna mempelajari aneka keterampilan dan ilmu yang fungsional demi keselamatan atau kebahagiaan bersama. Kami berharap agar anak-anak di dalam keluarga sedini mungkin dibiasakan memfungsikan waktu dan tenaga secara efisien, efektif dan affektif.

· "Pergilah kepada bangsa itu; suruhlah mereka menguduskan diri pada hari ini dan besok, dan mereka harus mencuci pakaiannya. Menjelang hari ketiga mereka harus bersiap, sebab pada hari ketiga TUHAN akan turun di depan mata seluruh bangsa itu di gunung Sinai.” (Kel 19:10-11), demikian firman Tuhan kepada Musa, yang memiliki tugas pengutusan untuk mendampingi perjalanan bangsanya kembali ke tanah terjanji. Marilah firman di atas ini kita hayati sebagai firman kepada kita semua yang sedang dalam perjalanan melaksanakan aneka tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi atau jabatan kita masing-masing. Dalam atau selama melaksanakan tugas pengutusan atau pekerjaan kita semua diharapkan untuk senantiasa dalam keadaan bersih alias kudus atau suci. Dengan kata lain hendaknya tidak pernah menyeleweng atau selingkuh dalam melaksanakan tugas pekerjaan atau menghayati panggilan; hendaknya jangan melakukan korupsi dalam bentuk apapun dalam melaksanakan tugas pekerjaan. Melakukan korupsi berarti melakukan pembusukan lingkungan hidup dan kerja, sehingga lingkungan hidup dan kerja tak sedap, tak nikmat, tak enak lagi untuk dilihat, ditinggali dst… Marilah kita senanitiasa dalam kesiap-siagaan untuk mendengarkan suara Tuhan dalam perjalanan tugas dan panggilan kita, agar kita tetap dapat menjaga diri dalam keadaan bersih atau suci. Suara Tuhan antara lain menggejala atau menjadi nyata dalam aneka saran, harapan, perintah, arahan, nasihat dst.. dari saudara-saudari kita, yang hidup dan bekerja bersama dengan kita. Semoga lingkungan hidup dan lingkungan kerja kita bagaikan lingkungan tempat beribadat, sehingga mereka yang ada di dalamnya dalam melaksanakan aneka tugas apapun sebagai ibadat kepada Tuhan.

"Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah nenek moyang kami, yang patut dihormati dan ditinggikan selama-lamanya. terpujilah nama-Mu yang mulia dan kudus, yang patut dihormat dan ditinggikan selama-lamanya. Terpujilah Engkau dalam Bait-Mu yang mulia dan kudus, Engkau patut dinyanyikan dan dimuliakan selama-lamanya. Terpujilah Engkau di atas takhta kerajaan-Mu, Engkau patut dinyanyikan dan ditinggikan selama-lamanya” (Dan 3:52-54)


Kamis, 21 Juli 2011


Romo Ign Sumarya, SJ

Novena Santo Antonius dari Padua di Jakarta (26 Juli - 20 September 2011)

Akan diselenggarakan NOVENA SANTO ANTONIUS dari PADUA selama 9 ( Sembilan ) hari Selasa berturut-turut dimulai Selasa, 26 Juli 2011 dan berakhir Selasa, 20 September 2011 diadakan di :

1. Gereja Hati Kudus , Jl. Kramat Raya 134 – Jakarta
Misa Pkl. 14.30; Pkl.17.00; Pkl. 19.30

2. Gereja St.Paskalis, Jl. Letjen Suprapto Kav. C1/23, Jakarta
Misa Pkl. 17.30 ; Pkl. 19.30

3. Gereja St. Antonius, Jl. Otista Raya 76 A , Jakarta Timur
Misa Pkl. 17.30 & Pkl. 19.30

Temu Raya Orang Muda Katolik se-Keuskupan Agung Semarang

Komisi Kepemudaan KAS bersama Penerbit-Percetakan Kanisius, mengajak para OMK untuk berkumpul pada :
TEMU RAYA ORANG MUDA KATOLIK se-KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG
Minggu, 21 Agustus 2011 jam 08.00-17.00 WIB
di Taman Komunikasi Kanisius, Jl. Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta

Bersama kita akan melaksanakan Upacara Bendera, Lomba 17-an, sharing OMK dan Ekaristi Kaum Muda.
Tunjukkan Merahmu, Buktikan Putihmu! 100% INDONESIA, 100% KATOLIK!

Santo Antonius dari Padua

Sebagaimana banyak para kudus lain, Antonius Padua juga memberikan contoh yang paling radikal bagaimana mengikuti Kristus dan menjadi suci bak malaikat. Lahir di Portugal pada 1195 dari kalangan bangsawan kaya raya, ia meninggalkan semuanya dan menjadi Fransiskan yang hina dina.

Ia mengambil keputusan ini pada 1220, ketika secara langsung ia menyaksikan tubuh fisik para Fransiskan yang meninggal sebagai martir di Maroko pada tahun itu juga.

Tetapi, Antonius Padua berbeda dari santo lainnya. Ia mendapatkan penampakan Kanak-Kanak Yesus dan Santo Fransiskus Asisi. Dalam hidupnya ia memberikan banyak mukjizat hingga akhir hayatnya pada 1231. Apa rahasia kesucian Antonius Padua?

Di satu pihak, ia sama dengan mukjizat pada umumnya, yaitu hasil tindakan yang bisa didengar, dilihat, dan dirasakan. Di lain pihak, mukjizat dalam Gereja Katolik berbeda dengan mukjizat sebagaimana kita lihat dan dengar yang dikerjakan oleh tukang sulap, dukun atau orang pintar lainnya. Semuanya ini bukanlah hasil usaha manusiawi semata. Ia berasal dari kekuatan Allah melalui orang kudus. Ia melampaui kekuatan manusia.

Antonius Padua adalah orang saleh yang dalam hidupnya selalu bermimpi untuk menderita demi Kristus dan berharap gugur sebagai seorang martir. Ia tidak pernah bercita-cita menjadi orang pandai atau menjadi selebriti karena kepandaiannya berkhotbah. Keinginannya adalah hidup hening dan berdoa sendirian serta akrab dengan Tuhan.

Antonius menghadapi apa yang dialami banyak manusia biasa. Yaitu, hidup manusia ke depan lebih banyak ditentukan oleh ’kecelakaan’, peristiwa yang hadir tidak tersangka-sangka, daripada terarah sesuai dengan apa yang direncanakan oleh manusia itu sendiri. Ia diminta pembesarnya menjadi dosen teologi dan pengkhotbah bagi banyak umat. Ia pun taat meski ini sungguh tidak sesuai dengan mimpi dan harapannya. Ia taat pada kehendak Tuhan lewat pembesarnya. Demikianlah kesuciannya menjadi nyata.

Meninggalkan impiannya untuk hidup berdoa dan bertapa sendiri, ia malah hadir ke dunia ramai. Ajaibnya, ia justru menjadi Fransiskan yang efektif dan berbuah banyak. Ia menjadi seorang pengkhotbah yang sangat ulung, dengan artikulasi yang menarik, dilengkapi dengan pengetahuan iman yang mendalam. Dengan demikian, ia mampu membawa banyak orang mendekat pada Tuhan. Justru dalam dunia riil, kesuciannya menjadi semakin memancar dan mukjizat demi mukjizat lahir dari dalam dirinya.

Benarlah Sabda Yesus kepada Petrus, ”Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kau kehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kau kehendaki” (Yoh 21:18). Benarlah bahwa kesucian dan kemampuan membuat mukjizat memang perjuangan manusia untuk mengalahkan diri sendiri. Sekaligus, pada saat yang sama, ia adalah rahmat dan berkah dari Allah semata.

Sumber: http://www.hidupkatolik.com/2011/07/19/antonius-padua

Homili Bukan Talk Show

Dalam liturgi Katolik, khususnya dalam Perayaan Ekaristi, ada bagian homili setelah bacaan Injil. Dalam dokumen-dokumen resmi Gereja, dipakai kata homili dan bukan khotbah. Homili diambil dari bahasa Yunani, homilia, yang berarti percakapan atau homileo, yang berarti bercakap-cakap. Tujuannya adalah menanggapi bacaan liturgi, khususnya bacaan Injil, sebagai pengantar pada perayaan.

Dalam homili, imam menyampaikan sapaan kepada umat untuk menyantap Sabda Allah. Homili mempertemukan umat dengan Allah dan sekaligus membangun iman jemaat. Oleh karena itu, sifat homili adalah biblis, liturgis, kerygmatis, dan dari hati ke hati. Homili memang sangat berbeda dengan khotbah dari agama-agama lain yang cenderung hanya memberikan nasihat-nasihat moralistis. Homili menjadi penting pula, karena hanya pada kesempatan itulah umat meningkatkan imannya di tengah kesibukan sehari-hari.

Ditegaskan oleh Konsili Vatikan II: ”Homili sebagai bagian liturgi sendiri sangat dianjurkan. Di situ hendaknya sepanjang tahun liturgi diuraikan misteri-misteri iman dan kaidah-kaidah hidup kristiani berdasarkan teks Kitab Suci. Oleh karena itu, dalam Misa hari Minggu dan hari Raya Wajib yang dihadiri umat, homili jangan ditiadakan, kecuali bila ada alasan yang berat” (SC, 52). Bahwa homili adalah bagian integral dari perayaan liturgi, ditegaskan lagi, antara lain oleh Hukum Kanonik 767, PUMR No 65 dan Sacramentum Caritatis No 46: ”Homili adalah bagian dari kegiatan liturgis”.

Jelaslah, untuk berhasil membawakan homili, pertama sekali imam harus sungguh menghayati Perayaan Ekaristi sambil didukung sebelumnya oleh renungan Kitab Suci secara pribadi, studi, dan doa. Namun tetap diingat, Kitab Suci yang ditafsir secara ilmiah maupun renungan pribadi, sangat berbeda ketika Kitab Suci itu disampaikan dalam homili sebagai kegiatan liturgis. Karena homili meneruskan Sabda Allah yang dibacakan dan didengarkan dalam liturgi, dan sekaligus menafsirkannya demi pertumbuhan iman umat yang berdoa dalam Perayaan Ekaristi. Sabda Allah dalam homili disantap oleh umat, menjadi bagian hidupnya, dan meresap ke dalam jiwa raganya. Oleh karena itu, homili hendaknya didukung oleh sikap doa. ”Jika tanpa pengalaman rohani pribadi akan Allah, terlebih dalam doa, setiap homili hanya akan menjadi suatu kata-kata kering, tanpa daya pewartaan dan hanyalah suatu teori kosong belaka” (Krispuwarna Cahyadi SJ, Benediktus XVI, Yogyakarta: Kanisius, 2010, hal. 165).

Dalam menyampaikan homili, cukup saja imam berdiri di mimbar. Homili disampaikan dengan bahasa kata, dengan sintaksis kalimat tunggal. Sintaksis kalimat majemuk bisa membingungkan dan mengaburkan maknanya. Bahasa kata bisa sedikit dibantu dengan bahasa badan (mimik dan pantomimik). Tidak perlu terlalu banyak gerak, apalagi mondar-mandir ke sana-kemari, sampai turun dari panti imam. Tidak perlu menggunakan LCD, karena homili bukan ceramah. Tidak perlu meniru cara ”talk show”, karena liturgi bukan untuk show. Tak perlu diganti dengan drama, karena bukan pentas seni. Homili dalam liturgi Katolik tidak sama dengan khotbah dalam kebaktian ekumenis dan sangat berbeda dengan khotbah Perayaan Idul Fitri. Hanya uskup, imam, dan diakon boleh menyampaikan homili. Berdirinya imam di mimbar sudah merupakan simbol tersendiri.

Umat pun mendengarkan homili dengan sikap doa. Mereka merayakan Kristus yang hadir dan bersabda kepada mereka. Liturgi adalah tempat yang tepat untuk mendengarkan Sabda Tuhan. Dan, jika liturgi sungguh dihayati, maka sulit sekali umat memberikan evaluasiterhadap homili. Evaluasi terhadap homili setelah Misa, cenderung rasionalisasi. Maka, kita pun tidak menerima begitu saja setiap kritik negatif dari umat terhadap homili. Mungkin saja umat keliru membandingkan homili dengan khotbah dalam agama-agama lain. Mungkin saja umat tidak menempatkan homili sebagai bagian integral dalam Perayaan Ekaristi.

Keberhasilan homili adalah berkat kuasa Allah; bukan karena sesuai selera umat; bukan pula karena kehebatan public speaking seorang imam. Rasul Paulus mengingatkan: ”Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti bahwa Roh berkuasa, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah” (I Kor. 2:4-5).

Kalau imam menyampaikan homili dengan sikap doa dan umat pun mendengarkan homili sebagai doa, maka hasilnya adalah pujian dan syukur kepada Allah. Karena keberhasilan homili tidak terletak pada kehebatan seorang imam, tetapi pada kekuatan Allah.

Oleh Romo. Jacobus Tarigan, Pr -- imam Praja Keuskupan Agung Jakarta
http://www.hidupkatolik.com/2011/06/13/jacobus-tarigan-prhomili-bukan-talk-show

"Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka" (Kel 16:1-5.9-15; Mzm 78:18-19.23-28; Mat 13:1-9)

"Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!" (Mat 13:1-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Orang bijak atau pandai sejati pada umumnya menyampaikan pesan-pesan atau ajarannya secara sederhana, tidak berbelit-belit, sehingga dapat ditangkap dan difahami oleh semua orang yang mendengarkannya. Begitulah yang disampaikan oleh Yesus dalam pengajaran-pengajaranNya; ia menggunakan perumpamaan-perumpamaan atau aneka peristiwa yang terjadi setiap hari, yang hidup di antara para pendengarNya, lebih-lebih di antara orang-orang kecil atau sederhana. Ia sering menggunakan contoh aneka tanaman atau yang terkait dengan pertanian, yang menjadi kesibukan masyarakat setiap hari. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan para orangtua, guru/ pendidik, atasan atau pemimpin agar dengan sederhana ketika memberi nasihat, mengajar atau member arahan kepada anak-anak, peserta didik atau bawahan/anggota, sehingga dapat dimengerti dan ditangkap dengan baik dan dengan demikian segera dihayati atau dilaksanakan oleh mereka yang mendengarkannya. Apa yang anda katakan ketika dapat dimengerti dan ditangkap oleh para pendengar akan mempengaruhi cara hidup dan cara bertindaknya sehingga apa yang anda katakan segera menghasilkan buah sebagaimana diharapkan. Jika yang dapat mendengarkan dan menangkap banyak orang, maka hasilnya atau buahnya akan sungguh berlipat ganda, sebagaimana disabdakan oleh Yesus, "ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat". Sabda Yesus hari ini juga mengajak dan mengingatkan kita semua agar dapat menjadi pendengar-pendengar yang baik, maka marilah kita dengarkan dengan rendah hati dan terbuka aneka saran, nasihat, ajaran dan segera kita laksanakan apa yang kita dengarkan.

· "Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak. Dan pada hari yang keenam, apabila mereka memasak yang dibawa mereka pulang, maka yang dibawa itu akan terdapat dua kali lipat banyaknya dari apa yang dipungut mereka sehari-hari." (Kel 16:4-5), demikian firman Tuhan kepada Musa untuk menguji bangsanya yang bersungut-sungut dalam perjalanan menuju tanah terjanji. "Apakah mereka hidup menurut hukumKu atau tidak" , inilah yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan. Kita semua telah menerima makanan dan minuman secara melimpah ruah melalui orang lain yang telah berbaik hati dan mengasihi kita; mereka ini adalah "tangan-tangan Tuhan" yang mengulurkan kasih dan perhatianNya. Dengan kata lain apakah kita menyadari dan menghayati segala sesuatu yang kita terima dari orang lain sebagai anugerah Tuhan? Tuhan begitu Maha Murah dan Maha Kasih, maka marilah kita tanggapi kemurahan dan kasihNya dengan mentaati dan melaksanakan hukum yang telah disampaikan oleh Tuhan kepada kita masing-masing. Pertama-tama marilah kita lihat hukum Tuhan yang menjadi nyata dalam hukum alam. Sebagai contoh Tuhan telah menciptakan aneka jenis tanaman dan binatang, yang memang sering nampak saling menghancurkan, namun karena manusia begitu serakah mengkomsumsi atau mematikan salah satu jenis tanaman atau binatang, maka terjadilah kekacauan atau sesuatu yang merusak. Dalam dunia pertanian misalnya dengan serakah orang membasmi hama dengan racun, maka ada jenis binatang yang seharusnya tidak boleh mati ikut mati, dan gilirannya adalah muncullah hama yang tak terkendali. Itu semua terjadi karena manusia tidak menghormati hukum alam. Ada orang yang juga mempercepat pertumbuhan binatang maupun tanaman dengan aneka obat, maka buahnya adalah tidak sehat alias penyakit. Marilah kita ikuti proses kehidupan semua ciptaan Tuhan dengan rendah hati, demi keselamatan dan kebahagiaan kita bersama.

"Mereka mencobai Allah dalam hati mereka dengan meminta makanan menuruti nafsu mereka. Mereka berkata terhadap Allah: "Sanggupkah Allah menyajikan hidangan di padang gurun?" (Mzm 78:18-19)

Rabu, 20 Juli 2011

Romo Ign Sumarya, SJ

"Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!” (Kel 14:21 – 15:1; MT Kel 15:8-10.12.17; Mat 12:46-50)


“ Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Maka seorang berkata kepada-Nya: "Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau." Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: "Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?" Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku." (Mat 12:46-50), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:Rata Penuh

· KKN = Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, itulah yang sering disebut sebagai sumber kehancuran hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, termasuk juga sering terjadi dalam hidup menggereja dengan semua pelayanan pastoralnya. Hemat saya kolusi dan nepotisme tidak apa-apa alias baik saja asal tidak korupsi. Koruptor tidak layak disebut sebagai ‘saudara atau ibu Yesus’. Yang dimaksudkan dengan ‘saudara dan ibu Yesus’ hemat saya adalah orang yang baik dan berbudi pekerti luhur, tidak berbuat jahat sedikitpun, antara korupsi yang masih marak di negeri tercinta ini. Melakukan korupsi berarti membuat busuk hidup bersama, dan dengan demikian hidup bersama tidak enak dan tidak nikmat lagi. Maka dengan ini kami mengajak dan menngingatkan segenap umat beriman untuk sungguh menghayati imannya di dalam hidup sehari-hari dimanapun dan kapanpun, hidup dan bertindak dengan berbudi pekerti luhur, yang antara lain memiliki cirikhas sebagai berikut: “bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggungjawab, bertenggangrasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tetap janji, terbuka, ulet” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit : Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal ix-xi). Dari cirikhas tersebut di atas kiranya yang mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini adalah jujur. Maka marilah kita jujur terhadap diri sendiri, sesama, lingkungan hidup kita, dst..

· “ Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan TUHAN terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada TUHAN dan mereka percaya kepada TUHAN dan kepada Musa, hamba-Nya itu.” (Kel 14:31). Musa adalah utusan Tuhan untuk menuntun bangsanya kembali ke tanah terjanji, maka marilah kita juga percaya kepada utusan-utusan Tuhan masa kini. Hemat saya semua orang yang berkehendak baik adalah utusan-utusan Tuhan, yang mengajak dan membantu kita untuk senantiasa berbuat baik, hidup baik dan berbudi pekerti luhur. Maka marilah kita saling melihat, mendengarkan dan mengimani kehendak baik yang ada dalam diri kita masing-masing, serta kemudian kita sinerjikan kehendak baik kita untuk bersama-sama menuju ke ‘tanah terjanji’. Kiranya kita semua mendambakan kembali ke tanah terjanji, yaitu setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan kita langsung menikmati hidup mulia atau berbahagia selamanya di sorga bersama Tuhan, serta para santo-santa yang menjadi pelindung kita masing-masing, yang telah mendahului kembali ke sorga. Maka sekiranya layak dan baik jika masing-masing dari kita juga mengenal secara mendalam santo atau santa yang menjadi pelindung kita, yang menandai nama baptis kita. Marilah kita meneladan cara hidup dan cara bertindaknya ketika mereka masih hidup di dunia ini. Secara khusus kami mengajak dan mengingatkan segenap anggota lembaga hidup bakti untuk sungguh mengenal dan memahami serta menghayati charisma pendiri lembaga hidup bakti masing-masing. Hendaknya antar anggota lembaga hidup bakti sungguh terjadi persaudaraan atau persahabatan sejati, dan tentu saja dengan sesama anggota lembaga hidup bakti yang lain demikian juga, karena para pendiri lembaga hidup bakti menghidupi dirinya dari sumber yang satu, yaitu Yesus Kristus. Semoga kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus merupakan kebersamaan hidup yang penuh dengan persaudaraan atau persahabatan sejati, dan kita semua adalah sahabat serta layak disebut sebagai sahabat Yesus.

“Karena nafas hidung-Mu segala air naik bertimbun-timbun; segala aliran berdiri tegak seperti bendungan; air bah membeku di tengah-tengah laut. Kata musuh: Aku akan mengejar, akan mencapai mereka, akan membagi-bagi jarahan; nafsuku akan kulampiaskan kepada mereka, akan kuhunus pedangku; tanganku akan melenyapkan mereka! Engkau meniup dengan taufan-Mu, laut pun menutupi mereka; sebagai timah mereka tenggelam dalam air yang hebat” (Kel 15:8-10)

Selasa, 19 Juli 2011


Romo Ign Sumarya, SJ

Misa Syukur Sewindu Metta FM


Perayaan Ekaristi Syukur Sewindu Metta FM.


Sambutan oleh Wakil Walikota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo.

“Sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!” (Kel 14:5-18; MT Kel 15:1-6; Mat 12:38-42)



“ Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu." Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!” (Mat 12:38-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Mereka yang tidak percaya kepada Yesus memang tak mungkin melihat ‘kebesaran dan kebijaksanaan’-Nya, sebagaimana ditanyakan oleh beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: ”Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu”, padahal Yesus “lebih dari pada Salomo”, yang dikenal sebagai raja paling bijaksana. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri: apakah saya sungguh percaya kepada Yesus atau seperti beberapa ahli Taurat dan orang Farisi. Kami berharap anda sungguh percaya kepada Yesus, sehingga mengimani kebijaksananNya yang melibihi kebijaksanaan raja atau pemimpin bangsa dimanapun, karena Ia adalah Allah yang menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa. Apa yang terjadi dalam diri nabi Yunus mengindikasikan siapa itu Yesus: Yunus dikenal sebagai orang yang tinggal selama tiga hari dalam perut ikan dan tidak mati, demikianlah halnya dengan yang akan terjadi dengan Yesus, yaitu Ia wafat di kayu salib, dimakamkan dan pada hari ketiga dibangkitkan dari mati. Kebijaksanaan-Nya nampak dalam mengalahkan kematian alias membangkitkan orang mati, menyembuhkan orang sakit, menghibur yang sedih, menggairahkan yang letih lesu dan putus asa, dst… Kita yang beriman kepadaNya dipanggil untuk meneladanNya, maka marilah mawas diri: sejauh mana cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun dapat menggairahkan mereka yang letih lesu dan putus asa, menyembuhkan mereka yang sakit (sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit tubuh), menghibur mereka yang berada dalam kesedihan? Orang yang sungguh bijaksana hemat saya adalah orang suci, yang peka akan suara atau bisikan Roh dalam hidup sehari-hari, terampil dalam pembedaan roh atau ‘spiritual discernment’; yang bersangkutan pada umunnya juga tidak melupakan doa harian, terutama pemeriksaan batin.

· "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja." (Kel 14:13-14)

· Kita dipanggil untuk berperang, melawan kejahatan atau roh jahat, yang menggejala dalam aneka bentuk, yang merusak hidup bersama dan lingkungan hidup. Maka dengan ini kami mengajak segenap umat beriman, entah agamanya apapun, untuk bersama-sama atau bergotong royong melawan kejahatan yang marak di lingkungan hidup kita, antara lain berupa perampasan hidup manusia beserta harta bendanya, penghancuran lingkungan hidup yang tak terkendali yang dilakukan orang-orang serakah dst.. Percayalah bahwa dalam iman kita pasti akan mampu mengalahkan aneka kejahatan, karena beriman berarti menyerahkan diri kepada Penyelenggaraan Ilahi, maka Allah sendiri yang akan memerangi kejahatan melalui diri kita yang lemah dan rapuh ini. Marilah dalam iman juga kita hadapi aneka serangan virus atau penyakit tanpa takut dan gentar, karena dengan demikian ketahanan tubuh kita juga semakin handal dan kita akan tahan terhadap aneka macam serangan virus penyakit. Dalam menghadapi serangan roh jahat atau godaan untuk berbuat jahat hendaknya “kamu akan diam saja”, artinya teguh beriman bahwa Tuhanlah yang akan mengalahkan setan atau godaan untuk berbuat jahat. “Diam saja” kiranya juga berarti kita tetap tinggal setia pada iman kita; ketegaran untuk setia dalam iman dapat kita hayati dengan diam, tanpa menanggapi godaan atau rayuan setan. Terhadap orang yang memarahi orang Jawa sering memberi nasihat “Diteke wae, mengko rak meneng dewe” (=Biarkan saja, jangan ditanggapi, nanti pasti berhenti sendiri).

"Baiklah aku menyanyi bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur, kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut. TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Ia Allahku, kupuji Dia, Ia Allah bapaku, kuluhurkan Dia. TUHAN itu pahlawan perang; TUHAN, itulah nama-Nya.” (Kel 15:1-3)

Senin, 18 Juli 2011


Romo Ignatius Sumarya, SJ