HOMILI: Hari Raya Kelahiran St Yohanes Pembaptis (Yes 49:1-6; Mzm 139:1-3.13-14ab.14c-15; Kis 13:22-26; Luk 1:57-66.80)


"Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Kelahiran anak pertama pada umumnya sungguh menggembirakan orangtuanya serta sanak-saudaranya atau kerabat-kerabatnya. Jauh sebelum anaknya dilahirkan biasanya orangtuanya telah merencanakan nama anak yang masih di dalam rahim atau kandungan ibunya. Orangtuanya pun kiranya juga memiliki dambaan atau cita-cita mulia terhadap anak yang akan dilahirkannya. Para suami-isteri yang telah bertahun-tahun menikah dan tidak segera dianugerahi anak kiranya ketika dianugerahi anak oleh Tuhan sungguh luar biasa kegembiraannya. Kiranya pengalaman macam itulah yang terjadi dalam diri Zakharia dan Elisabeth ketika dalam lanjut usia dianugerahi seorang anak laki-laki oleh Tuhan. Menurut tradisi seorang anak laki-laki yang baru saja dilahirkan harus diberi nama sama seperti nama ayahnya, namun anak yang dilahirkan oleh Elisabeth telah diberi nama oleh Tuhan, sebelum anak dikandungnya, yaitu Yohanes. Maka gempar dan penuh keheranan sanak-kerabat dan saudara-saudarinya mendengar bahwa anak tersebut dinamai Yohanes, dan merekapun berkata :”Menjadi apakah anak ini nanti?”. Maka baiklah kita renungkan keheranan mereka atas kelahiran Yohanes ini.

“Menjadi apakah anak ini nanti?” (Luk 1:66)

Pertanyaan macam itu kiranya menjadi pertanyaan banyak orang terhadap seorang anak yang disertai oleh Tuhan, lebih-lebih bagi orang yang sungguh beriman. Anak yang baru saja dilahirkan kiranya masih bersih, suci, menarik dan mempesona, maka baiklah jika kita percaya bahwa Tuhan senantiasa menyertainya, marilah ia kita didik dan dampingi sedemikian rupa sehingga “anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya” . Dengan kata lain hendaknya anak-anak didik dan didampingi agar tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik dan berbudi pekerti luhur alias cerdas spiritual, tidak hanya sampai pada cerdas intelektual saja. Jika anak kelak kemudian hari tumbuh berkembang menjadi pribadi cerdas spiritual, percayalah ia pasti akan menjadi orang yang fungsional menyelamatkan lingkungan hidupnya dimanapun dan kapanpun, entah apapun pekerjaan atau tugasnya.

Bahwa anak bertambah besar secara phisik kiranya merupakan hal biasa, namun hendaknya juga diperhatikan perihal jenis makanan maupun minuman bagi anak. Pertama-tama kami berharap anak-anak/bayi dapat menerima ASI dari ibunya secara memadai, dan hemat saya minimal selama satu tahun anak menerima ASI, syukur lebih. Pemberian ASI bagi anak selain merupakan makanan/minuman bergizi juga berfungsi menjalin kasih mesra antara anak dan ibunya, dan secara inklusif juga mencerdaskan belahan otak kanan, yang erat kaitannya dengan kecerdasan spiritual (ingat: bukankah ibu menyusui anaknya pada umumnya lebih-lebih dengan buah dada kiri, yang berarti belahan otak kanan anak menempel di buah dada!). Buah dada adalah symbol kasih dan sumber rezeki yang menyehatkan dan menyelamatkan. Ketika anak mulai diberi makanan tambahan selain ASI, hendaknya sedini mungkin berpedoman pada ‘empat sehat lima sempurna’, dengan kata lain anak sedini mungkin diperkenalkan dan menikmati semua jenis makanan dan minuman sehat, sehingga ketika dewasa mereka tak akan mengikuti selera pribadi dalam hal makan dan minum tetapi mengikuti pedoman hidup sehat.

Kita semua berharap anak juga semakin kuat rohnya, tidak hanya semakin besar tubuhnya. Maka hendaknya anak-anak sedini mungkin dilatih dan dibiasakan dalam hal sopan santun dan budi pekerti luhur, sehingga kelak ia memiliki sifat-sifat budi pekerti luhur atau keutamaan-keutamaan sebagai buah roh, seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan pengusaaan diri” (Gal 5:22-23). Pembinaan atau pembiasaan penghayatan keutamaan-keutamaan ini pertama-tama dan terutama dengan atau melalui keteladanan orangtua atau bapak-ibu, maka kami berharap bapak-ibu dapat menjadi teladan hidup berbudi pekerti luhur atau dijiwai Roh Kudus bagi anak-anaknya. Keteladanan merupakan cara utama dan pertama dalam mendidik dan mendampingi anak-anak yang tak tergantikan oleh cara apapun. Kami berharap juga sekolah-sekolah yang membantu para orangtua dalam mendidik anak-anak mereka juga lebih mengutamakan agar para peserta didik tumbuh berkembang menjadi pribadi baik dan berbudi pekerti luhur atau cerdas spiritual, jangan hanya berlomba dalam hal kecerdasan intelektual. Selanjutnya marilah kita renungkan apa yang menjadi tugas panggilan Yohanes Pembaptis.

“Menjelang kedatangan-Nya Yohanes telah menyerukan kepada seluruh bangsa Israel supaya mereka bertobat dan memberi diri dibaptis” (Kis 13:24)

Marilah anak-anak kita bina dan didik agar meneladan Yohanes Pembaptis, yaitu kelak mereka berseru dan mengajak semua orang untuk bertobat dan mempersembahkan atau menyucikan diri seutuhnya kepada Tuhan alias dibaptis. Dibaptis berarti disisihkan atau dipersembahkan seutuhnya kepada Tuhan sehingga mereka yang dibaptis hanya mau mengabdi Tuhan saja serta menolak semua godaan setan. Memang agar mereka berani dan mampu melaksanakan tugas pengutusan tersebut mereka harus tetap kuat dalam roh alias hidup dan bertindak dengan menghayati keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh Kudus di atas, sehingga tanpa berseru-seru kepada atau mengajak orang lain untuk bertobatpun, mereka yang melihat cara hidup dan cara bertindak anak-anak yang bersangkutan tergerak untuk bertobat. Mereka yang melihat atau hidup bersama dengan anak-anak yang baik dan berbudi pekerti luhur juga akan mendengar suara dalam hatinya “Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! Tuhan telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku” (Yes 49:1).

Kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk membuka mata dan telinga hati kita guna melihat dan mendengarkan suara Tuhan yang berbicara melalui anak-anak atau bayi atau anak yang masih berada dalam kandungan/perut ibunya. Mata dan telinga merupakan dua dari lima indera kita yang penting dalam proses perkembangan dan pertumbuhan kepribadian kita, karena apa yang kita lihat dan dengarkan sungguh mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak kita. Bayi, termasuk yang masih ada di dalam kandungan, dan anak-anak hemat saya lebih suci daripada kita orang dewasa, dan dalam hidup beriman hemat saya yang harus lebih dihormati dan dijunjung tinggi adalah mereka yang lebih suci, maka selayaknya kita menghormati dan menjunjung tinggi anak-anak. Tidak memperhatikan dan mendidik anak-anak dengan baik sesuai dengan kehendak Tuhan berarti membunuh masa depan mereka maupun menyuramkan masa tua/depan kita.

Kita berharap anak-anak kita kelak menjadi ‘bentara-bentara’ Penyelamat Dunia, pribadi-pribadi yang menyiapkan jalan bagi sesamanya untuk semakin beriman atau hidup suci atau menjadi penyalur rahmat dan kasih karunia Tuhan bagi sesamanya. Ketika anak-anak menjadi dewasa, dalam tugas dan pekerjaan apapun, kapanpun dan dimanapun, kita harapkan dapat membahagiakan atau menyelamatkan sesamanya alias fungsional menyelamatkan lingkungan hidupnya. Anak-anak adalah buah kasih yang diciptakan atau diadakan dalam kasih dan kebebasan, maka hendaknya juga didampingi dan dibesarkan dalam kasih dan kebebasan. Para orangtua atau pendidik hendaknya dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga dalam mendidik dan mendampingi anak, sebagai wujud mengasihi mereka. Mengasihi berarti juga dengan rela berani memboroskan waktu dan tenaga bagi yang dikasihi, tanpa pemborosan waktu dan tenaga kasih kurang mantap dan handal.

“Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui apakah aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumiliki. Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, Engkaulah yang menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena misteri kejadianku, ajaiblah apa yang Kauperbuat. Jiwaku benar-benar menyadarinya, tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah.” (Mzm 139:1-3.13-14ab.14c-15)

24 Juni 2011
Romo Ignatius Sumarya, SJ