Minggu, 04 April 2010: HR PASKAH KEBANGKITAN TUHAN

HR PASKAH KEBANGKITAN TUHAN

BACAAN PERTAMA: Kis 10:34:37-43
BACAAN KEDUA: Kol 3:1-4
I N J I L: Yoh 20:1-9 (Pagi); Luk 24:13-35 (Sore)

“Masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya”

Ketika saya tinggal di Wisma Uskup, Keuskupan Agung Semarang, dan bertugas sebagai Ekonom Keuskupan Agung Semarang, saya sering harus bepergian ke luar kota dan pulang larut malam. Biasanya saya membawa kendaraan sendiri atau ‘nyopir sendiri’. Ada yang sungguh menarik dan mengesan bagi saya, yaitu: ketika saya pulang tengah malam dan kendaraan sudah mendekati pintu gerbang, yang pertama kali terbangun serta menyambut kedatangan saya adalah anjing piaraan kami, bukan penjaga malam (yang mungkin tertidur). Nampaknya anjing tersebut sudah hafal dan peka akan suara mesin mobil yang saya pakai, maka begitu mendengar suara mesin mobil ybs.. ia langsung berlari cepat ke pintu gerbang, menggonggong untuk menyambut kedatangan kami. Memang kami begitu mengasihi anjing tersebut, yang memang sungguh berfungsi di malam hari sebagai penjaga malam, maka sebagai yang dikasihi ia cepat tanggap dan berlari cepat menyambut kami. Itulah yang sering terjadi dalam kehidupan bersama kita, siapapun yang merasa dikasihi pada umumnya tanggap dan cepat berreaksi ketika yang mengasihi menghadapi masalah atau di dalam kesulitan. Yohanes, adalah murid terkasih Yesus, ketika ia dan Petrus diberi tahu oleh para perempuan bahwa Yesus yang telah dimakamkan tidak ada lagi alias ‘hilang’, mereka berdua berlari menuju makam, tetapi Yohanes ‘yang lebih dahulu sampai ke kubur itu dan ia melihatnya dan percaya’.

“Masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya” (Yoh 20:28)

Yang terkasih datang lebih cepat, melihatnya dan menjadi percaya, itulah yang terjadi. Kata ‘melihat’ dan ‘percaya’ di dalam Injil Yohanes sering dipakai dan dengan demikian kata-kata tersebut sungguh bermakna atau berarti. Yang dapat melihat dan kemudian menjadi percaya, hemat saya tidak hanya melihat dengan mata insani/phisik melulu tetapi juga dengan mata hati dan jiwa. Apa yang dilihatnya menyingkapkan aneka pengalaman atau mengingatkan apa yang telah terjadi dan dialami. Pengalaman murid yang terkasih ini kiranya dapat menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi kita semua.

Siapa yang terkasih di antara kita, atau dari siapa saya merasa paling dikasihi? Jawaban yang mudah atas pertanyaan ini tentu akan datang dari para suami dan isteri, kemudian dari anak-anak. Yang terkasih dan yang paling mengasihi bagi suami adalah sang isteri dan sebaliknya, sedangkan yang paling mengasihi anak-anak tentu saja orangtuanya, itulah kebenaran sejati. Maka dengan ini juga kami berharap kepada para suami, isteri, orangtua/ayah ibu dan anak-anak untuk saling melihat dan percaya; hendaknya tidak saling mencurigai ketika untuk sementara harus berpisah, entah satu hari, satu minggu atau beberapa hari. Maklum pada masa kini karena adanya HP (Hand Phone) dengan mudah orang untuk saling berkomunikasi, tetapi dengan mudah juga curiga terhadap yang terkasih dan dengan demikian setiap saat mencoba menghubungi dengan HP-nya. Sadar atau tidak kehadiran HP mau tidak mau telah menggerogoti kepercayaan satu sama lain atau juga menggerogoti sopan santun, etika atau tata-krama.

Jika kita tidak mampu mempercayai mereka yang dekat dengan kita setiap hari, entah di dalam keluarga, tempat kerja maupun masyarakat, maka rasanya akan menjadi sulit untuk percaya kepada orang lain yang belum begitu dikenal, apalagi percaya kepada Tuhan, Yang Ilahi. Maka dengan ini kami mengingatkan kita semua: marilah kita perdalam, teguhkan dan perkuat saling percaya kita kepada yang terkasih, yang setiap hari hidup atau bekerja bersama kita. Untuk membantu hal ini baiklah kita lebih mengutamakan untuk melihat apa yang baik, indah, benar, luhur dan mulia dalam diri saudara-saudari kita, yang kiranya lebih banyak daripada apa yang amburadul, jorok, salah, dst… Beriman kepada Yesus yang telah dibangkitkan dari mati berarti percaya kepada RohNya yang terus menerus bekerja, dan dengan demikian juga dipanggil untuk melihat buah-buah Roh dalam diri saudara-saudari kita maupun dalam seluruh ciptaan Allah di bumi ini. Buah-buah Roh itu antara lain “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Gal 5:22-23) , marilah kita lihat buah-buah ini dalam diri saudara-saudari kita agar kita semakin saling percaya satu sama lain. Marilah kita renungkan juga sapaan Paulus kepada umat di Kolose di bawah ini.

“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” (Kol 3:1-2)

Kita diingatkan oleh Paulus untuk ‘mencari dan memikirkan perkara yang di atas’, yang berarti senantiasa mengusahakan diri berbudi pekerti luhur dalam hidup sehari-hari. Maka baiklah saya kutipkan sekali lagi nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan sebagai perwujudan berbudi pekerti luhur, yaitu : “bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet “(Prof.Dr. Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997)

Keutamaan atau nilai mana yang menurut anda mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebar-luaskan dalam hidup sehari-hari dalam lingkungan hidup anda, silahkan dicermati dan dipilih sendiri. Hemat saya ketika kita unggul dalam penghayatan keutamaan atau nilai tertentu, secara implisit keutamaan atau nilai lain terhayati juga. Baiklah di sini saya mengangkat keutamaan ‘disiplin’ yang menurut pengamatan saya perlu dihayati dan disebarluaskan. “Berdisiplin adalah kesadaran akan sikap dan perilaku yang sudah tertanam dalam diri sesuai dengan tata tertib yang berlaku dalam suatu keteraturan secara berkesinambungan yang diarahkan pada suatu tujuan atau sasaran yang telah ditentukan” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10). Kami berharap berdisiplin ini sedini mungkin ditanamkan atau dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dan sekolah-sekolah, dan tentu saja dengan teladan dari para orangtua dan para guru. Kami berharap juga kepada kita semua untuk berdisiplin di jalanan, taatilah aneka macam rambu-rambu dan petunjuk jalan yang terpampang dengan jelas. Apa yang terjadi di jalanan hemat saya dapat menjadi cermin kwalitas hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!" Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN. Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” (Mzm 118:16-17.22-23)

‘SELAMAT PASKAH, ALLELUYA”


Jakarta, 4 April 2010

Rm. I. Sumarya .SJ.