Social Icons

Menggali Makna Bagian-bagian Misa: Bait Pengantar Injil dan Injil (Edisi 7)

Bait Pengantar Injil

Bait Pengantar Injil berfungsi mempersiapkan umat untuk mendengarkan Injil yang akan dibacakan. Pada saat Bait Pengantar Injil dinyanyikan, umat berdiri untuk menghormati Kristus yang hadir dan berbicara melalui Injil, dan sebagai tanda kesiapsediaan menyambut Tuhan Yesus yang bersabda dalam Injil.

Pada masa Prapaskah, Bait Pengantar Injil digantikan dengan lagu “Terpujilah Kristus Tuhan”. Di luar Prapaskah, Bait Pengantar Injil menggunakan Kidung Alleluya. Kata Alleluya berasal dari bahasa Ibrani yang artinya “Terpujilah Yahwe (Tuhan)”. Ungkapan “alleluya” ditujukan kepada Tuhan yang bangkit, sesuai dengan Wahyu 19: 1-7. Kata “alleluya” merupakan seruan khas Paskah, yaitu pujian untuk Tuhan yang bangkit. Dalam masa Paskah, “alleluya” mendapat tempat yang istimewa.

Bait Pengantar Injil merupakan ungkapan pujian sukacita untuk Tuhan yang bangkit. Maka Bait Pengantar Injil selalu dinyanyikan. Tidak benar bila petugas atau imam sebelum pembacaan Injil mengucapkan “Alleluya…alleluya” tanpa dinyanyikan. Bila alleluya tidak dinyanyikan, sebaiknya Bait Pengantar Injil dihilangkan. [Fr. A. Pramono]

Injil

Bacaan Injil merupakan puncak Liturgi Sabda. Pembacaan Injil menunjukkan kenyataan iman bahwa Yesus tetap hadir di tengah-tengah umat beriman, dan terus mewartakan Injil kepada segenap makhluk.

Keistimewaan Injil tampak dalam berbagai ritus yang mengiringinya, yaitu (1) Injil dibacakan oleh diakon atau imam; (2) sebelum pembacaan Injil, ada perarakan untuk membawa Injil oleh diakon atau imam; (3) diakon atau imam mempersiapkan diri dengan berdoa sebelum pembacaan Injil; (4) ada dialog antara pembaca Injil dan umat, yakni “Tuhan sertamu” – “dan sertamu juga”; “Inilah Injil Yesus Kristus menurut…” – “Dimuliakanlah Tuhan”; (5) ada pembuatan tanda salib di dahi, mulut, dada. Orang biasa mengartikan: “Sabda-Mu, ya Tuhan, kami pikirkan dan renungkan, kami wartakan, dan kami resapkan dalam hati kami.” Pembuatan tanda salib oleh pembaca dalam Kitab berarti bahwa dalam Injil ini, Salib Kristus diwartakan; (6) setelah pembacaan Injil, diakon atau imam mencium Injil sambil berdoa dalam hati: “Semoga karena pewartaan Injil ini dileburlah dosa-dosa kita”; (7) untuk Ekaristi yang dipimpin uskup, setelah Injil dibacakan, Injil dibawa kepada uskup untuk dicium. Jika perlu uskup memberikan berkat kepada umat dengan Kitab Injil itu; (8) Injil dihormati dengan dupa-ratus (tidak wajib).

Memaklumkan Injil adalah tugas diakon. Jika tidak ada diakon tertahbis, imam membacakan Injil sendiri lalu dilanjutkan dengan homili.
[Fr. A. Pramono]

Sumber: Martasudjita, E. Pr., Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral, Yogyakarta: Kanisius 2005.

Sumber: website www.reginacaeli.org