HOMILI: Hari Minggu Adven I (Yes. 2:1-5; Mzm. 122:1-2,4-5,6-7,8-9; Rm. 13:11-14a; Mat. 24:37-44)

Rekan-rekan yang budiman!

Injil Minggu Masa Adven tahun A ini mengawali ajakan berjaga-jaga menunggu kedatangan "Anak Manusia" pada akhir zaman (Mat 24:37-44). Peristiwa penyelamatan sudah mulai dan akan terwujud sepenuhnya kelak. Bagaimana penjelasannya? Ulasan kali ini juga akan menyinggung bacaan pertama, yakni Yes 2:1-5, yang berisi nubuat mengenai datangnya zaman damai. Kedamaian macam apa yang dimaksud?

INJIL DAN KEMANUSIAAN YANG BARU

Ungkapan "Anak Manusia" dalam pembicaraan mengenai akhir zaman dalam Injil Matius (juga dalam Injil Markus dan Lukas) menggemakan Dan 7:13, yakni Anak Manusia yang datang menghadap Yang Mahakuasa untuk memperoleh anugerah atas seluruh alam semesta. Dalam Kitab Daniel, Anak Manusia ini baru tampil setelah kekuatan-kekuatan jahat yang mengurung alam semesta punah. Begitulah, zaman yang dikuasai kekuatan edan itu digantikan dengan zaman Anak Manusia. Siapakah Anak Manusia ini? Bila dibaca dengan cermat, sosok Anak Manusia dalam Kitab Daniel menggambarkan kemanusiaan baru yang sepenuhnya ada di hadirat ilahi dan bebas dari pengaruh yang jahat. Bila Yesus digambarkan sebagai Anak Manusia dalam artian ini, maka ia datang dengan kuasa dari Allah sendiri. Orang bisa tak peduli dan mendiamkannya saja. Tapi akan tiba saatnya nanti mereka yang menganggapnya sepele akan merasa ketinggalan kesempatan.

Oleh karena itu, amat tepatlah mengawali masa Adven ini dengan berusaha menyadari bahwa Yang Mahakuasa sungguh hadir walau tidak selalu jelas. Kehadirann-Nya bukan kehadiran yang jauh, melainkan yang bergerak mendekat. Pada saat Dia tiba, dunia ini akan terpilah-pilah dengan sendirinya. Akan jelas siapa-siapa yang berpihak kepadanya, akan jelas pula siapa yang tidak peduli akan kehadirannya yang kini masih terselubung. Masa ini juga masa untuk berupaya memahami kemanusiaan baru yang diperkenalkan Yesus serta mengupayakan agar hidup masyarakat terarah ke sana. Dalam Injil Matius, kemanusiaan baru itu ditampilkan sebagai kenyataan Kerajaan Surga.

TIADA YANG TAHU KAPAN

Pengalaman kerap kali membuat orang berpikir bahwa dunia dan masyarakat ini berjalan menurut hukum-hukum alam dan kesetujuan-kesetujuan dalam masyarakat. Kita kerap berwacana mengenai kenyataan sosial agama dan kepercayaan, kenyataan sosial pengetahuan, hukum-hukum alam evolusi manusia, tata jagat. Dan memang perkembangan teknologi dan hidup masyarakat mengikuti dua macam kaidah tadi. Tentu saja tidak disangkal bisa terjadi hal tak disangka-sangka, seperti bencana alam atau kerusuhan. Tapi kejadian ini malah membuat orang semakin yakin bahwa hukum-hukum alam dan kehidupan sosial perlu semakin dikenali. Perubahan tidak begitu saja terjadi. Ada sebab dan akibatnya. Semakin dimengerti perubahan itu, semakin gampang dibuat perencanaan, perhitungan dan prediksi. Kehidupan sehari-hari praktis berdasarkan pendirian ini.

Apa warta Yesus? Wartanya menyangkut kenyataan yang tidak sepenuhnya termasuk dunia ini. Kerajaan Surga yang diwartakannya sudah ada tapi tak diketahui kapan terwujud utuh. Tak ada yang tahu kapan. Artinya, Kerajaan Surga tidak mengikuti mekanisme hukum alam dan kaidah-kaidah perkembangan masyarakat walaupun berinteraksi dengannya dalam cara-cara yang tidak bakal sepenuhnya dapat dijelaskan. Tidak banyak artinya berusaha mendeskripsikan "realitas sosial" Kerajaan Surga dan apa "struktur"-nya, meskipun dapat dikatakan bila Kerajaan ini sungguh ada, ada pula dampak sosialnya. Para teolog dan ahli ilmu sosial dapat bekerja sama mendalami masalah ini.

Tak ada yang tahu kapan kemanusiaan baru itu terwujud sepenuhnya kecuali Bapa sendiri, bahkan Anak Manusia yang akan datang itu tidak tahu saatnya (Mat 24:36). Oleh karena itu, dinasihatkan dalam petikan hari ini agar orang selalu siap (Mat 24:42-44). Dipakai panggilan "Bapa" dan bukan sebutan yang lain bagi Allah Yang Mahakuasa justru karena sebutan itu dapat membuat orang merasa dekat pada kerahiman dan belas kasihnya tanpa mengecilkan kewibawaan-Nya. Hendak diungkapkan bahwa saat yang amat menentukan itu bergantung pada wibawa yang dapat dialami sebagai yang rahim dan yang penuh belas kasih, bukan penghakiman yang semata-mata menentukan ganjaran atau hukuman.

KESEMPATAN YANG TAK TERDUGA


Dalam petikan ini dibicarakan tentang Nuh dan orang-orang pada zamannya (ay. 38-39). Nuh dikasihi Allah dan Nuh berusaha membalasnya dengan menurutinya. Atas suruhanNya ia membangun Bahtera, kawasan khusus yang terlindung dari kekuatan-kekuatan penghancur yang akan segera datang. Dan jalan terbaik untuk selamat ialah membiarkan diri dibimbing Allah sendiri. Jalan paling mudah menjauhkan diri ialah menganggap sepi kasih Allah itu dan sibuk dengan urusan sendiri.

Orang-orang pada zaman Nuh merasa sudah aman. Tak butuh apa-apa lagi. Mereka melihat yang dikerjakan Nuh, tetapi tidak peduli dan malah menganggapnya mengerjakan yang aneh-aneh saja! Kan tak akan terjadi apa-apa yang luar biasa! Semua bisa diperhitungkan, pikir orang-orang itu. Memang tak satu tindakan pun yang disebutkan termasuk tindakan buruk: makan minum, kawin dan mengawinkan. Semua ini kegiatan sehari-hari yang melangsungkan kehidupan manusia. Tetapi orang mudah melupakan bahwa ada yang tak termasuk keseharian. Gerak gerik Yang Ilahi yang tak dapat seluruhnya diperhitungkan. Ia tetap ada dalam wilayah yang keramat yang tak tunduk pada hukum-hukum di dunia ini.

Bagaimana dengan gerak gerik kemanusiaan? Disebutkan dalam Mat 24:40-41, ada dua lelaki yang menggarap tanah, ada dua perempuan yang menggiling gandum. Bekerja di ladang dan menggiling gandum adalah dua kegiatan dari hari ke hari. Tetapi keseharian ini dapat mengecoh. Yang kelihatan biasa-biasa itu tidak akan tetap sama. Walaupun orang-orang itu mengerjakan yang sama persis, dikatakan satu akan diambil, satu akan dibiarkan. Tidak ada ukuran apapun yang menjelaskan, baik ukuran alamiah maupun ukuran kesetujuan-kesetujuan. Sering kesamaan luar membuat orang berpikir bahwa bagi Yang Keramat juga demikian adanya, sama saja. Tetapi Yesus justru tidak membenarkan anggapan seperti itu. Orang dinasihati agar peduli, hormat, berjaga-jaga akan gerak-gerik Yang Keramat yang tak terduga-duga, dan jangan sekali-kali menyepelekannya atau menganggap semua sudah beres.

INJIL MATIUS

Dalam tahun liturgi A ini perhatian akan dipusatkan pada Injil Matius. Injil ini didasarkan pada Injil Markus dan beberapa bahan baru. Kedua bahan itu disusun kembali oleh Matius dalam bentuk lima kumpulan ajaran Yesus yang diselingi kisah mengenai sang guru dan murid-muridnya. Secara ringkas, Injil Matius dapat diikhtisarkan menurut bab-babnya sebagai berikut:
1-4: Bagian pengantar: silsilah Yesus, kelahirannya, pembaptisan, percobaan di padang gurun, permulaan karyanya.

5-7: Kumpulan ke-I ajaran Yesus: Khotbah di Bukit, ini pegangan dasar bagi mereka yang mau masuk dan hidup dalam Kerajaan Surga.

8-9: Pelbagai penyembuhan.

10: Kumpulan ke-II ajaran Yesus: pegangan bagi mereka yang mewartakan Kerajaan Surga.

11-12: Orang Yahudi menolak Yohanes Pembaptis dan Yesus.

13: Kumpulan ke-III ajaran Yesus: tentang Kerajaan Surga lewat perumpamaan dan penjelasannya. Inilah pusat Injil Matius.

14-17: Beberapa mukjizat, perselisihan dengan orang Farisi. Pengakuan Petrus dan penampakan kemuliaan Yesus.

18: Kumpulan ke-IV ajaran Yesus: sikap-sikap yang diharapkan tumbuh dalam kehidupan bersama para murid.

19-23: Perjalanan Yesus bersama murid-muridnya menuju ke Yerusalem dan perbincangan di Bait Allah.

24-25: Kumpulan ke-V ajaran Yesus: pengajaran di Bukit Zaitun mengenai datangnya Kerajaan Surga pada akhir zaman dan ajakan bersiap-siap.

26-28: Hari-hari terakhir Yesus bersama murid-muridnya, peristiwa-peristiwa dari Getsemani sampai Golgota, wafat dan kebangkitannya, penampakannya di Galilea.

Injil Matius menyoroti Yesus sebagai pribadi yang membawakan Kerajaan Surga lewat tindakan dan ajarannya. Siapa saja yang menerimanya - bukan saja orang Yahudi - akan menjadi bagian dari Israel baru, yakni bangsa terpilih baru, kemanusiaan baru. Mereka inilah yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Untuk sementara memang Kerajaan Surga belum kelihatan sepenuhnya, masih terselubung, walau jelas sudah mulai ada. Akan tiba saatnya kewibawaan ilahi menampakkan kuasanya seutuhnya. Saat itulah Kerajaan Surga tersingkap utuh dan orang yang siap akan ikut serta di dalamnya. Warta ini tak perlu membuat orang menjadi waswas dan mulai menghitung-hitung kapan hari akhir itu tiba. Orang dihimbau untuk menyelaraskan diri dengan kehadiran ilahi yang belum sepenuhnya tersingkap itu. Nuh tidak menyingkirinya, ia memasukinya. Itulah Bahteranya.

DARI BACAAN PERTAMA


Bacaan pertama bagi keempat hari Minggu Adven tahun A diambil dari Kitab Nabi Yesaya, yakni 2:1-5; 11:1-10 35:1-6a dan 7:10-14. Teks-teks ini dapat menolong orang bersiap-siap menyongsong perayaan Natal dengan menyelami kebesaran Dia yang sejak dahulu kala hadir di dekat umat manusia. Siapa saja yang ingin mengenali-Nya akan disertai-Nya. Bacaan bagi Minggu Adven I kali ini, yakni Yes 2:1-5, memuat nubuat mengenai datangnya zaman damai. Tetapi kedamaian itu bukannya keadaan yang akan didatangkan dari begitu saja dari atas melainkan suasana batin yang perlu didatangi bersama. Bagaimana penjelasannya?

YERUSALEM DAN KENABIAN

Kota Yerusalem menjadi di tempat ziarah bagi semua orang Yahudi sendiri yang berdiam di negeri Yudea, di Selatan dan di utara. Ada kepercayaan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa memilih tempat itu sebagai tempatnya Ia dapat dimuliakan oleh siapa saja. Itulah gunung mulianya - sering disebut dengan nama puitisnya, yakni Gunung Sion. Dan tempat dan kota itu menjadi kebanggaan nasional orang Yudea, khususnya yang berdiam di Yerusalem. Juga secara turun-temurun, para pengelola tempat suci itu erat berhubungan dengan kalangan istana.

Ada beberapa pujangga dan kaum terpelajar yang amat disegani baik di kalangan istana maupun di kalangan para imam di tempat suci. Kaum pujangga ini membesarkan hati, tapi juga mampu menantang dan memperingatkan para tokoh tadi. Di saat-saat tertentu mereka juga mewakili serta memperjuangkan kepentingan orang banyak. Mereka amat terpelajar dalam ajaran turun-temurun. Hal-hal sehari-hari dapat mereka artikan dalam terang ajaran Taurat. Peran kelompok ini penting dalam masyarakat Yahudi. Mereka menjadi "pembaca" gelagat zaman. Itulah para nabi dan kenabian di Yerusalem. Yesaya ialah salah satu yang paling dikenal dari kalangan itu. Ucapan-ucapannya diingat, dikumpulkan, ditulis dan disunting kembali para muridnya dan diluaskan di sana sini, semasa hidupnya dan jauh setelah itu. Teks Yes 2:1-6 kali ini mengalami perkembangan seperti ini. Bahkan ay. 2-6 bergema dalam Mikha 4:1-2. Dalam bacaan kali orang-orang Yerusalem, terutama kalangan istana dan tempat ibadat, diajak memahami lebih mendalam kejadian yang sudah amat lazim, yakni peziarahan tahunan ke Yerusalem. Secara khusus disoroti keprihatinan mereka. Orang-orang di Yerusalem bahkan dihimbau agar belajar dari keadaan mereka yang akan berziarah ke kota suci mereka.

TUHANNYA REKONSILIASI


Dalam kesadaran religius para nabi Yerusalem, Yang Maha Kuasa yang berdiam di kota Yerusalem itu sedemikian besar dan mengatasi batas-batas kebangsaan dan oleh karena itu semua orang dari bangsa manapun boleh dan berhak datang kepadaNya. Jangan Dia dianggap milik khusus umat, meski umat ini ialah bangsa khusus pilihanNya. Justru sebaiknya, mereka diharapkan dapat peka menangkap hasrat-hasrat rohani orang lain. Alangkah baiknya bila kekayaan rohani di Yerusalem semakin terbuka sehingga siapa saja yang datang bisa mendapat bimbingan langsung dari Dia dan menemukan jalan kebahagiaan.

Siapakah Dia yang bisa didatangi di Kota Sucinya itu? Ditegaskan dalam Yes 2:4 bahwa Dia akan menjadi "hakim" antara bangsa-bangsa. Dalam dunia PL, hakim bukan sekadar pemimpin proses peradilan, tapi juga pemimpin masyarakat yang berwewenang mendamaikan pertikaian yang dibawakan ke hadapannya dengan wibawa dan kebijaksanaannya. Kiasan ini dikenakan kepada Dia yang berdiam di Sion. Ia dapat mendamaikan pertikaian, Dia itu Tuhannya rekonsiliasi.

Bangsa-bangsa yang akan ke Sion menghadap Yang Maha Kuasa itu bukannya datang untuk berwisata ria. Banyak yang memendam macam-macam keprihatinan, termasuk rasa permusuhan satu sama lain. Ada pihak-pihak yang merasa diperlakukan tak adil, ditekan oleh bangsa dan kelompok lain. Ada ganjalan. Komunikasi macet dan menggumpallah konflik horisontal, begitulah istilah sekarang. Tindakan selanjutnya ialah hunus pedang, arahkan tombak bersiaga maju perang untuk menentukan bukan siapa benar siapa salah, tapi siapa yang lebih kuat. Ketegangan ini tercermin dalam keprihatinan bagian kedua Yes 2:4 ini. Syukur dalam keadaan itu tidak semua pihak membiarkan diri hanyut. Ada upaya bernalar - ada yang mulai mengajak mencari pemecahan. Dan inilah yang terbaca oleh sang nabi. Ada harapan mendapatkan pemecahan dari pihak ketiga yang bisa menolong. Coba kita kini baca kembali ay. 3 dengan gagasan tadi. Terungkap hasrat orang dari mana saja yang mau datang ke Yerusalem: "Mari, kita naik ke gunung Tuhan, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalanNya dan supaya kita berjalan menempuhnya, sebab dari Sion akan keluar pengajaran (= "Taurat dalam arti sebenarnya, bukan hukum belaka") dan firman Tuhan dari Yerusalem." Terasa betapa luas dan luhur pemikiran penyair yang menulis ayat itu. Lebih lagi, awal ay. 4 jelas-jelas mengatakan: "Ia - Tuhan - akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa, akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa." Dan bila terjadi demikian maka perlengkapan yang tadinya bakal dipakai untuk saling menghancurkan akan menjadi peralatan untuk mengelola bahan yang menunjang kehidupan: logam pedang akan ditempa menjadi bajak untuk menggarap tanah, ujung tombak akan beralih menjadi alat menuai buah!

RAHMAT ILAHI DAN TINDAKAN MANUSIA


Orang-orang yang tadinya siap berperang itu sendirilah yang akan mengubah mesin perang menjadi alat-alat bercocok tanam, bukan Tuhan yang di Gunung Sion itu. Mereka merasa memperoleh pengajaran dariNya akan nilai kehidupan. Inilah kebesaran Dia yang ada di tempat suci itu: dapat mengubah manusia dari yang siap menjalankan kekerasan menjadi yang mahir memelihara kehidupan dan tetap membiarkan manusia sendiri yang mengujudkannya. Kedamaian bukan karena semua menyembah Yang Ilahi dengan cara yang sama, melainkan karena masing-masing mendapat sesuatu dari Yang Ilahi yang mereka kenal dan dengan demikian mereka berubah sikap dan menindakkan hal-hal yang membangun. Ini warta bagi semua orang, juga bagi orang zaman ini, di mana saja. Ini juga warta antar iman, bukan sekadar ajakan toleransi saja. Yes 2:5 mengakhiri petikan ini dengan seruan "Mari berjalan dalam terang Tuhan!" Ajakan itu ditujukan kepada "keturunan Yakub", cara bicara Perjanjian Lama untuk menyebut kelompok masyarakat yang merasa diri mendapat tugas menghadirkan keilahian di dunia. Juga mereka dan semua orang yang percaya diajak mencari pencerahan budi dan hati tadi dan menjalankannya dalam kehidupan. Masa Adven ialah masa menantikan kedatangan dia yang dalam terang ini. Bacaan dari Mat 24:37-44 yang diulas di muka menyoroti kemanusiaan baru yang bisa diharapkan datang itu. Rahmat tercurah dari atas, tapi orang diharap jeli dan peka menanggapinya dan membiarkan diri kena pesona Dia yang di atas itu!

PENDALAMAN KITAB SUCI


Pendalaman bacaan pertama dan juga Injil seperti di atas akan membuat warta Injil terasa dekat dan memperkaya batin. Pendalaman seperti itu sebenarnya sudah mulai dalam proses pembentukan Injil-Injil sendiri. Dulu dalam ibadat dikisahkan sebuah ingatan akan Yesus, lalu diupayakan memahami bagaimana kejadian ini memberi makna kepada khazanah teks turun-temurun mereka yang kita kenal sebagai Perjanjian Lama. Begitulah terkumpul bagian-bagian Injil yang memuat rujukan langsung atau tak langsung ke sana. Dalam perkembangan lebih lanjut, dibacakan juga secara terpisah petikan dari Perjanjian Lama yang dipilih pemimpin ibadat setempat, kemudian juga diikuti bacaan surat atau pengajaran tokoh-tokoh yang masih mengenal para rasul sendiri. Peringkat bacaan seperti ini akhirnya terkumpul dan diolah dalam peringkat bacaan Hari Minggu dan hari biasa yang dikenal dalam gereja Katolik "Ordo Lectionum Missae" dan yang diikuti oleh beberapa gereja lain di pelbagai negeri dalam semangat ekumenik. Dalam hubungan dengan Injil hari Minggu Adven I/A (Mat 24:37-44), bisa disimak lebih lanjut bagaimana warta kenabian Perjanjian Lama tadi membantu menajamkan kepekaan orang menangkap gelagat serta pertanda kehadiran Dia yang mendamaikan kemanusiaan dan membaruinya.

Salam hangat,

A. Gianto

Reaksi: