HOMILI: Hari Minggu Biasa XXVIII (2Raj. 5:14-17; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; 2Tim. 2:8-13; Luk. 17:11-19)

Rumah Duka “Yayasan Pelayanan Pemakaman Carolus”(YPPC) Jakarta, melayani perawatan dan pemakaman jenasah, baik bagi orang kaya maupun miskin dan agama atau kepercayaannya apapun. Mereka yang miskin memperoleh keringanan atau bantuan/sumbangan yang memadai, sesuai dengan kebutuhannya. Pengalaman para pegawai melayani sungguh beragam, dan ada contoh konkret yang bagi saya sungguh mengesan. Ketika melayani orang kaya para pegawai sungguh harus bekerja keras melayani aneka permintaan pelanggan/konsumen kaya tersebut, bahkan dilayani sangat baik pun sering merasa tidak puas, dan setelah selesai juga tidak berterima kasih sedikitpun. Ada juga pengurus PSE paroki minta bantuan YPPC dan tanpa ragu minta jasa sebagai imbalan telah ‘mengirim’ jenasah ke YPPC, ketika tidak diberi mereka marah-marah. Sebaliknya melayani mereka yang miskin apa adanya, tanpa tambahan pelayanan aneh-aneh, ketika selesai pelayanan mereka mengucapkan terima kasih. Saya teringat pengalaman tersebut setelah merenungkan Warta Gembira hari ini. Maka marilah kita renungkan Warta Gembira hari ini dengan khidmat dan mendalam.

"Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” (Luk 17:17-18)

Ada sepuluh orang yang disembuhkan oleh Yesus, sembilan orang di antaranya adalah masih sebangsa atau sesuku dengan Yesus, orang-orang Yahudi, sedangkan seorang dari mereka adalah orang asing. Sungguh menarik dan mengesan bahwa yang berterima kasih atas penyembuhan adalah orang asing dan orang-orang Yahudi tidak berterima kasih sedikitpun. Jika kita mawas diri dengan benar dan cermat kiranya masing-masing dari kita akan mengakui dan menghayati telah menerima banyak pemberian yang aneka ragam dari orang lain, dan sebagai orang beriman selayaknya kita senantiasa hidup dan bertindak dalam syukur dan terima kasih.

Kami percaya setiap kali menerima sesuatu dari orang lain kita juga mengucapkan ‘terima kasih’, maka kami berharap hal itu tidak hanya sekedar basa-basi atau formalitas belaka. Memang pada umumnya kita ini dengan mudah meminta dan ketika diberi sesuai dengan permintaan tersebut sering kita lupa mengucapkan terima kasih, lebih-lebih berkenaan dengan permintaan bantuan proyek. Berterima kasih saja tidak dilakukan apalagi membuat laporan atau pertanggungjawaban. Kami berharap agar anak-anak sedini mungkin dibiasakan dan dididik dalam hal berterima kasih, dan tentu saja pertama-tama didalam keluarga antar anggota keluarga terbiasa saling berterima kasih satu sama lain.Ketika di dalam keluarga ada kebiasaan saling berterima kasih satu sama lain, maka anak-anak di kemudian hari akan tumbuh berkembang sebagai pribadi yang hidup dengan syukur dan terima kasih.

Apapun yang dilakukan atau dikatakan orang lain terhadap diri kita dalam bentuk apapun hemat saya merupakan pewujudan kasih dan perhatian mereka terhadap diri kita yang lemah dan rapuh ini. Jika mereka tidak mengasihi atau tidak memperhatikan kita, maka kita pasti akan dibiarkan saja, tidak disapa sedikitpun. Memang kasih yang kita terima tidak senantiasa enak atau nikmat di hati dan tubuh kita, karena ada kemungkinan cara hidup dan cara bertindak kita tidak sesuai dengan kehendak atau perintah Allah, dengan kata lain kita hidup dan bertindak seenaknya sendiri, hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi. Jika kita memang dalam keadaan tidak baik, maka ketika diingatkan atau ditegor orang lain dalam rangka memperbaiki diri kita, hendaknya kita berterima kasih kepada orang yang bersangkutan. Kami percaya kita semua telah menderita sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit anggota tubuh kita, dan disembuhkan atau diobati orang lain, sehingga kita dapat tumbuh berkembang sebagai pribadi sebagaimana adanya pada saat ini. Marilah kita berterima kasih kepada siapapun dan secara khusus juga berterima kasih kepada Allah dengan senantiasa memuji dan memuliakan Allah dalam cara hidup dan cara bertindak kita, yang menjadi nyata dalam saling memuji dan memuliakan di antara kita dalam kehidupan bersama dimana pun dan kapan pun.

“Benarlah perkataan ini: "Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita; jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.” (2Tim 2:11-13)

Kutipan di atas ini mengingatkan dan mengajak kita untuk senantiasa tekun dan setia berterima kasih kepada siapun maupun kepada Allah serta memuji dan memuliakan Allah. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat”, sedangkan “tekun adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kesungguhan yang penuh daya tahan dan terus-menerus serta tetap semangat dalam melakukan sesuatu” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit.: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 24 dan 28). Allah begitu setia dan tekun mendampingi dan menyertai perjalanan hidup dan kerja kita dimana pun dan kapan pun, maka marilahkita tanggapi kesetiaan dan ketekunan Allah dengan senantiasa setia dan tekun melaksanakan tugas pekerjaan atau perutusan kita masing-masing.

Pertama-tama dan terutama kami harapkan anak-anak dan generasi muda dididik dan dibiasakan dalam hal setia dan tekun melaksanakan tugasnya, entah di dalam rumah/keluarga maupun di sekolah-sekolah. Karena tugas utama mereka adalah ‘belajar’, maka didiklah dan biasakan anak-anak/generasi muda setia dan tekun dalam belajar, sehingga tumbuh berkembang sebagai pribadi pembelajar yang handal dan tangguh. “Tugas, tanggungjawab, dan panggilan pertama seorang manusia adalah menjadi pembelajar. Sedangkan pelajaran pertama dan terutama yang dipelajarinya adalah belajar menjadikan dirinya semanusiawi mungkin” (Andrias Harefa: Menjadi Manusia Pembelajar, Penerbit Harian Kompas, Jakarta, Agustus 2000, hal 20).

“Menjadikan diri kita semanusiawi mungkin” merupakan panggilan dan tugas utama kita sebagai manusia, ciptaan Allah, orang-orang beriman. Hidup dan bekerja yang manusiawi memang merupakan langkah untuk tumbuh berkembang menjadi manusia beriman sejati, yang senantiasa hidup bersyukur dan berterima kasih, memuji dan memuliakan Allah. Saya pribadi senantiasa berusaha dengan rendah hati menghayati aneka tugasyang diserahkan kepada saya sebagai kesempatan emas untuk belajar, semakin manusiawi, lebih mengutamakan keselamatan jiwa manusia dari pada keberhasilan harta benda atau uang. Kami berharap kepada anda sekalian untuk senantiasa mengutamakan keselamatan jiwa manusia dalam hidup dan kerja dimana pun dan kapan pun.

Semoga kita semua ‘mati dengan Dia dan hidup dengan Dia’, dengan kata lain kita setia menjadi ‘gambar atau citra Allah’ dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun, maka ketika ada saudara-saudari kita tidak demikian adanya hendaknya segera diingatkan. Akhir kata marilah kita belajar terus-menerus agar menjadi manusia yang setia dan tekun melaksanakan kehendak dan perintah Allah dalam situasi dan kondisi macam apapun, di zaman yang sarat dengan godaan dan rayuan untuk berbuat jahat atau berdosa masa kini.

“Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa.Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita.Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!” (Mzm 98:1-4)



Minggu, 13 Oktober 2013

Romo Ignatius Sumarya, SJ 

Reaksi: