“Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka” (Ibr 13:15-17.20-21; Mzm 23; Mrk 6:30-34)

 
“Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka” (Mrk 6:30-34), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Pelayanan Yesus semakin menarik dan mempesona banyak orang, sehingga banyak orang tergerak untuk mendengarkan pengajaran-Nya serta mengikuti-Nya kemana pun Ia pergi. Untuk itu berarti Yesus bersama dengan para rasul harus bekerja keras, sehingga pada suatu saat Yesus mengajak para rasul untuk beristirahat: ”Marilah ke tempat sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!”. Namun demikian banyak orang tetap mencari dan mengikuti-Nya, sehingga Yesus pun tidak tega terhadap mereka, sebagaimana dikisahkan bahwa “Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala”. Apa yang dihayati oleh Yesus ini kiranya baik menjadi permenungan dan refleksi khususnya bagi para gembala (imam atau pastor) maupun para orangtua dan pembina atau guru yang bertugas untuk mendampingi dan mendidik. Kami harapkan anda semua memiliki hati bagi umat atau peserta didik, yang berarti senantiasa memperhatikan mereka, terutama mereka yang kurang memperoleh perhatian. Dengan kata lain hendaknya anda rela memboroskan waktu dan tenaga bagi umat atau peserta didik, yang menjadi tanggungjawab anda. Pembinaan atau pendidikan pertama-tama dan terutama adalah masalah hati, dimana hati para peserta didik atau umat dibina sedemikian rupa sehingga akhirnya juga memiliki hati seperti hati Yesus, yang hati-Nya tergerak oleh belas kasihan kepada mereka yang miskin dan berkekurangan. Keteladanan atau kesaksian para orangtua, pendidik/ guru atau pembina dalam penghayatan hati yang tergerak oleh belas kasihan merupakan cara yang baik dalam membina atau mendidik.

· “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah. Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu” (Ibr 13:15-17). Kutipan ini hendaknya sungguh kita renungkan dan hayati, terutama ajakan atau peringatan bahwa “janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan” dan “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka”. Kami percaya bahwa kita semua mendambakan apa yang baik, maka pertama-tama marilah kita senantiasa melakukan apa yang baik, entah bagi diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita. Dengan kata lain hendaknya kita semua senantiasa saling berbuat baik dan membantu satu sama lain alias hidup dan bertindak dalam kegotong-royongan. Kita semua juga diingatkan untuk senantiasa mentaati pemimpin kita, yang bertugas mempersatukan dan melayani. Memang pertama-tama dan terutama kami mengingatkan dan mengajak siapa pun yang berfungsi sebagai pemimpin untuk senantiasa hidup dan bertindak melayani dengan rendah hati, agar dengan demikian disegani dan disukai oleh mereka yang anda pimpin, dan selanjutnya mereka pun akan mentaati perintah dan ajakan anda. Dengan kata lain para pemimpin atau atasan pertama-tama hendaknya berusaha untuk disukai oleh anggota atau bawahannya, untuk itu silahkan ‘boroskan waktu dan tenaga’ anda bagi anggota atau bawahan anda.

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” (Mzm 23)

Sabtu, 9 Februari 2013

Romo Ignatius Sumarya, SJ