“Murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus” (1Yoh 1;1-4; Mzm 97:1-2.5-6.11-12; Yoh 20:2-8)

PESTA SANTO YOHANES, RASUL DAN PENGINJIL

“Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur.Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.” (Yoh 20:2-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan St. Yohanes, rasul dan pengarang Injil, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Cinta kasih merupakan keutamaan hidup luar biasa; orang yang saling mencintai pada umumnya dalam keadaan gembira, ceria dan dinamis serta cekatan dalam melakukan segala sesuatu. Yohanes dikenal sebagai murid terkasih Yesus, maka ketika mendengar ada sesuatu yang terjadi dalam diri Yesus ia dengan cepat dan cekatan berusaha untuk mencari tahu. Dalam Warta Gembira ini dikisahkan bahwa Yesus yang telah wafat dan dimakamkan tidak ada lagi berada di makam, sebagaimana diceriterakan oleh para wanita kepada mereka. Dua rasul, Petrus dan Yohanes tergerak untuk mencari tahu dan pergi ke makam, dan ternyata Yohanes lebih cepat sampai ke makam. Kita semua ada dan tumbuh berkembang sebagaimana adanya pada saat ini tidak lain karena cintakasih, yang telah kita terima secara melimpah ruah, maka marilah kita sadari dan hayati cintakasih yang telah kita terima tersebut. Kami berharap anak-anak di dalam keluarga sedini mungkin dididik atau dibiasakan perihal dirinya yang senantiasa dikasihi, sehingga kelak kemudian hari ketika menjadi dewasa mereka sungguh hidup dan bertindak berdasarkan cintakasih, dijiwai oleh cintakasih dan dengan demikian cepat dan cekatan menanggapi segala sesuatu yang sedang terjadi. Anak-anak kiranya dapat dilatih atau dibiasakan dalam hidup sehari-hari untuk membereskan atau memperbaiki apa yang tidak beres atau tidak baik dengan segera, dan tentu saja dengan teladan konkret dari orangtua. Kami berharap relasi antara suami-isteri atau bapak-ibu juga cepat dan cekatan dalam menanggapi apa yang terjadi dalam atau dialami oleh pasangan hidupnya.

· “Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna” (1Yoh 1:2-4). Apa yang dikatakan di atas ini kiranya dapat menjadi acuan atau pedoman hidup kita, lebih-lebih kalimat ini, yaitu:”Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami”. Marilah kita saling membagikan (sharing atau curhat) pengalaman iman untuk mempererat dan memperdalam persahabatan atau persaudaraan di antara kita. Pengalaman iman berarti aneka pengalaman yang terkait dengan Penyelenggaraan Ilahi, yang tidak lain adalah apa-apa yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Kami percaya masing-masing dari kita lebih mengalami apa yang baik daripada apa yang jahat, maka jangan pelit untuk memberitakan apa yang baik kepada saudara-saudari kita. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa sebagai orang beriman kita memiliki tugas pengutusan untuk mewartakan kabar baik, menyebarluaskan apa-apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa manusia. Kami percaya bahwa masing-masing dari kita senantiasa berkehendak untuk menyampaikan apa yang baik kepada saudara-saudari kita, dan ada kemungkinan terjadi salah faham karena kita kurang saling mendengarkan. Maka marilah kita perdalam keutamaan ‘mendengarkan’ dalam hidup dan kerja kita, agar kemudian kita mampu memahami dan menangkap kehendak baik saudara-saudari kita. Semoga dengan demikian akan terjadi sukacita yang sempurna dalam kebersamaan hidup dan kerja kita.

“TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya. Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN, di hadapan Tuhan seluruh bumi. Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya” (Mzm 97:1-2.5-6)

Kamis, 27 Desember 2012


Romo Ignatius Sumarya, SJ