“Supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia” (Why 22:1-7; Mzm 95:1-2.3-5; Luk 21:34-36)

"Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk 21:34-36), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
 
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta Beato Dionisius dan Redemptus, biarawan dan martir Indonesia, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Pesta pora, mabuk-mabukan dan berusaha mengutamakan kepentingan duniawi kiranya diminati oleh banyak orang di dunia ini jika ada kesempatan dan kemungkinan. Orang yang bersikap mental materialitis atau duniawi serta kaya akan uang pasti memiliki kecenderungan untuk berpesta pora dan mabuk-mabukan. Pesta pora dan mabuk-mabukan pada umumnya mengarah ke tindakan dosa atau amoral. Sabda hari ini mengingatkan kita semua untuk waspada terhadap ajakan untuk berpesta pora dan mabuk-mabukan atau dengan tegas menghindarinya. Hemat saya tidak ikut pesta pora yang tak terkendali dan mabuk-mabukan merupakan salah satu bentuk penghayatan rahmat kemartiran masa kini, maka dalam rangka mengenangkan para martir hari ini saya mengajak anda sekalian untuk menghayati rahmat kemartiran sebaik mungkin. “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan kamu  tahan berdiri di hadapan Anak Manusia”, inilah sabda Yesus yang hendaknya kita renungkan dan hayati. Berdoa merupakan salah satu cirikhas hidup beriman atau beragama, maka hendaknya ketika menghadapi rayuan atau godaan untuk berdosa segera berdoa. Bersama dan bersatu dengan Tuhan kita akan mampu mengalahkan aneka godaan atau rayuan untuk berdosa atau tidak setia pada iman kepercayaan kita. Sekali lagi kami ingatkan dan ajak: marilah  di Tahun Iman ini kita perkuat dan perdalam kesaksian penghayatan iman dalam hidup sehari-hari dimana pun dan kapan pun. Tuhan hadir dan berkarya dimana saja dan kapan saja, marilah kita tetap setia di ’hadirat’Nya, agar kita terluput dari aneka tindakan dosa atau amoral.
·   “Malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya. Lalu Ia berkata kepadaku: "Perkataan-perkataan ini tepat dan benar, dan Tuhan, Allah yang memberi roh kepada para nabi, telah mengutus malaikat-Nya untuk menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi." "Sesungguhnya Aku datang segera. Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini!” (Why 22:5-7). Jika kita setia pada panggilan, tugas pengutusan serta kehendak Tuhan, kiranya bagi kita tidak ada lagi perbedaan antara siang dan malam, karena “Tuhan Allah akan menerangi”. Penerangan-Nya antara lain dapat kita temukan dalam sabda-sabda-Nya, sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci, maka ketika kita harus menghadapi aneka bentuk kegelapan hidup atau masalah, sikapi dengan sabda Tuhan, karena dengan demikian anda akan mampu melihat segalanya dengan jelas dan baik, dan dengan demikian mampu mengatasi aneka kegelapan hidup dan masalah kehidupan. Terang Tuhan juga dapat kita hayati dengan dan dalam doa, dengan kata lain berdoalah terlebih dahulu untuk mohon kekuatan dan rahmat Tuhan sebelum mengerjakan segala sesuatu yang kelihatan gelap, berat dan sarat dengan aneka tantangan dan masalah. Berdoa dengan benar dan sungguh-sungguh berarti menempatkan diri secara total di ‘hadirat’ Tuhan, dan dengan demikian mau tak mau akan harus hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau sabda-Nya. Dalam dan dengan doa kita akan dituntun oleh malaikat-malaikatNya dalam menempuh atau menelusuri jalan yang harus kita lalui, dan dengan demikian kita pasti akan selamat di perjalanan serta sampai tujuan akhir, yaitu keselamatan atau kebahagiaan jiwa kita. Bukankah setiap hari kita sering menerima salam “Tuhan beserta kita”, maka hayatilah salam tersebut dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak anda setiap hari.
“Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita. Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur. Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-gunung pun kepunyaan-Nya. Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadikannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya.” (Mzm 95:1-2.3-5)
 
 
Sabtu,  1 Desember 2012

Romo Ignatius Sumarya, SJ