“Jagalah dirimu!” (Tit 1:1-9; Mzm 24:1-4; Luk 17:1-6)

“Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!" Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu." (Luk 17:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
 
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yosafat, Uskup dan Martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
 
·   Orang yang tak dapat menjaga atau mengurus dirinya dengan baik dan benar pasti tak mungkin atau tak dapat menjaga atau  mengurus orang lain. Dengan kata lain orang yang tak dapat mengurus atau menjaga dirinya akan menjadi batu sandungan bagi orang lain melakukan dosa atau tindak kejahatan. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua agar dalam hidup sehari-hari tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain serta dengan rela dan besar hati mengampuni siapapun yang menyalahi atau menyakiti kita alias berdosa. Pertama-tama kami mengajak dan mengingatkan kita semua di dalam Tahun iman ini hendaknya kita sungguh menjaga dan mengurus iman kita sebaik mungkin. Secara khusus kepada para gembala atau pelayan umat kami harapkan dapat menjadi contoh atau teladan dalam penghayatan iman. Memang setia pada iman pada masa kini sungguh merupakan bentuk penghayatan rahmat kemartiran, mengingat dan memperhatikan kemerosotan moral terjadi di sana-sini dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi saksi kasih pengampunan pada masa kini kiranya juga merupakan salah satu bentuk penghayatan rahmat kemartiran, mengingat dan memperhatikan bahwa banyak orang lebih suka balas dendam ketika dirinya disakiti atau dipersulit hidupnya. Yesus mengingatkan bahwa jika kita memiliki iman sekecil ‘biji sesawi’ saja kita dapat melakukan sesuatu yang luar biasa, termasuk menjadi saksi iman dalam kondisi dan situasi apapun serta mengampuni mereka yang menyalahi atau menyakiti kita. Marilah kita hidup saling mengampuni sebagai perwujudan iman kita kepada Tuhan, yang senantiasa mengampuni kesalahan dan dosa-dosa kita.
·   Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu,yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu isteri, yang anak-anaknya hidup beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib.Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah,melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya” (Tit 1:5-9). Kutipan di atas ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi bagi para pelayan atau gembala umat, yaitu hendaknya “tidak bercacat, tidak angkuh, buka pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat memguasai diri dan berpegang kepada perkataan yang benar”. Dari hal-hal yang bersifat negatif di atas kiranya yang baik diusahakan pada masa kini adalah ‘bukan pemarah dan tidak serakah’, dengan kata lain senantiasa hidup dan bertindak dengan rendah hati dan sederhana. Jika dapat rendah hati dan sederhana maka pasti suka memberi tumpangan, yang baik, bijaksana, adil, saleh dan dapat menguasai diri. Menguasai diri berarti mengendalikan diri dan ketika orang dapat menguasai diri maka sikap terhadap orang lain pasti akan melayani, sebaliknya jika orang tak dapat menguasai diri maka sikap terhadap yang lain pasti menindas dan mencelakakan. Kesederhanaan dalam cara hidup dan cara bertindak para pelayan atau gembala umat sangat diharapkan. Maka jika ada pelayan atau gembala umat tidak hidup sederhana hendaknya umat tidak takut menegor dan mengingatkannya. 
 
TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai."Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?""Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.” (Mzm 24:1-4)
 
Senin, 12 November 2012

Romo Ignatius Sumarya, SJ