“Mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?” (Ef 4:1-6; Mzm 24:1-4; Luk 12:54-59)


“ Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” (Luk 12:54-59), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk memiliki kepekaan terhadap tanda-tanda zaman atau gejala-gejala alam , dan tentu saja juga gejala yang terjadi dalam tubuh kita sendiri (terutama bagi rekan-rekan perempuan terkait perihal menstruasi atau kehamilan). Kami mengajak pertama-tama marilah kita peka terhadap gejala-gejala yang terjadi di dalam tubuh kita masing-masing, misalnya gejala sakit, gejala mau menstruasi dst.., dan kita tanggapi gejala tersebut dengan memadai, sehingga kita selamat. Jika kita peka terhadap gejala yang ada dalam tubuh kita, maka kami percaya kita akan peka terhadap gejala-gejala alam di lingkungan kita. Dalam hal gejala alam kiranya para petani atau pelaut sangat peka, karena setiap hari hidup dan kerja mereka di alam bebas serta sangat tergantung pada gejala-gejala alam. Bagi kita semua agar kita peka terhadap aneka gejala di lingkungan hidup kita, caranya adalah mawas diri atau pemeriksaan batin setiap hari, maka hendaknya jangan melupakan mawas diri atau pemeriksaan batin setiap hari, dan sebaiknya dilakukan menjelang istirihat malam. Jika kita terbiasa mawas diri atau pemeriksaan batin, maka kita akan terampil dalam pembedaan roh atau spiritual discernment. Secara kebetulan hari ini rekan-rekan Islam merayakan hari raya Idul Adha, hari korban, dan dalam memilih binatang korban sungguh cermat, artinya dipilih yang terbaik. Semoga pengalaman memilih binatang korban ini juga meluas dalam hidup sehari-hari, yaitu senantiasa memilih apa yang baik, untuk dikerjakan atau dihayati. Marilah kita tanggapi gejala alam di lingkungan hidup kita sebaik mungkin demi keselamatan dan kebahagiaan hidup kita semua.

· “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua” (Ef 4:2-6). Ajakan Paulus ini kiranya layak kita tanggapi dengan sepenuh hati, kita laksanakan atau hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun, yaitu hidup dan bertindak dengan “rendah hati, lemah lembut dan sabar”. Keutamaan-keutamaan ini hemat saya pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan. Baiklah yang akan saya angkat dan refleksikan adalah keutamaan sabar. “Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Berbagai rangsangan dan masalah muncul setiap saat di hadapan kita setiap hari, misalnya rangsangan akan kenikmatan dalam hal makan, minum dan tidur, seks, rangsangan untuk memiliki dan membeli sesuatu yang baru dst.. Masalah dapat beraneka ragam, apalagi jika kita setia pada panggilan dan tugas pengutusan, maka kita pasti akan menghadapi banyak masalah. Semoga kita tidak tergoda untuk mengikuti rangsangan atau tergesa-gesa menyelesaikan masalah. Untuk itu hendaknya kita menghadapi rangsangan maupun masalah dengan berdoa, mohon kekuatan dan pencerahan dari Tuhan dalam menghadapi rangsangan dan memecahkan masalah. Bersama dan bersatu dengan Tuhan kita akan mampu mengatasi rangsangan maupun masalah yang mendatangi diri kita, dan memang untuk itu kita harus berani berkorban dan berjuang.

“TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai."Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?""Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.” (Mzm 24:1-4)

Jumat, 26 Oktober 2012

Romo Ignatius Sumarya, SJ