“Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya." (Ef 5:21-35; Mzm 128:1-4; Luk 13:18-21)


“Maka kata Yesus: "Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya." Dan Ia berkata lagi: "Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya." (Luk 13:18-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Segala sesuatu kiranya mulai dari kecil, sederhana atau sedikit. Dalam Warta Gembira hari ini kepada kita diketengahkan perihal perumpamaan Kerajaan Allah bagaikan biji sesawi atau ragi. Biji sesawi konon yang terkecil, namun begitu tumbuh menjadi rimbun dan banyak burung-burung kecil berdatangan untuk mencari makan; demikian juga ragi dalam jumlah kecil ketika diadukkan ke dalam tepung terigu, maka rasanya jadi lain: ragi merasuki seluruh tepung terigu. Maka sabda hari ini kiranya dapat menjadi pegangan hidup kita, dimana meskipun jumlah kita kecil tetapi karena berkualitas, maka akan sangat berguna bagi kehidupan bersama. Dengan kata lain sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk lebih menekankan kualitas daripada kuantitas, mutu daripada jumlah. Tentu saja kualitas yang kami maksudkan terutama atau lebih-lebih kualitas iman, dengan kata lain marilah kita tingkatkan dan perdalam kualitas iman kita. Dalam Tahun Iman ini kita diajak untuk mawas diri sejauh mana kedalaman iman kita dan kemudian menghasilkan buah melimpah, berupa banyak jiwa diselamatkan. Semoga perkembangan dan pertumbuhan iman kita sungguh dapat menjadi tempat berlindung bagi banyak orang dalam rangka menyelamatkan jiwanya atau kehadiran dan sepak terjang kita senantiasa lebih enak dan nikmat untuk didiami, karena kita senantiasa melakukan apa yang baik dan menyelamatkan, terutama keselamatan jiwa manusia. Marilah kita didik dan bina anak-anak kita agar tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Demikian pula kami mengingatkan siapapun yang bekerja dalam pelayanan pendidikan atau sekolah untuk lebih mengutamakan agar para peserta didik tumbuh berkembang menjadi pribadi cerdas spiritual, bukan hanya secara intelektual belaka.

· “Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.” (Ef 5:32-33). Paulus menggambarkan kesatuan kita dengan Yesus Kristus, Tuhan, bagaikan kesatuan antar suami-isteri yang baik. Bukankah suami-isteri yang baik saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tubuh? Memang ajaran perihal saling mengasihi hemat saya secara konkret dapat diindrai atau dilihat dalam diri suami-isteri yang baik. Tentu saja kasih Tuhan kepada kita lebih daripada kasih suami terhadap isteri maupun isteri terhadap suaminya, karena “ Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela” (Ef 5:27). Dalam keadaan atau kondisi macam apapun Tuhan senantiasa mengasihi kita tanpa batas. Hidup saling mengasihi memang sungguh memikat, mempesona dan menarik banyak orang untuk mendekat dan bersahabat. Marilah kita hayati secara konkret hubungan erat atau mesra kita dengan Tuhan dan senantiasa berhubungan mesra dan erat dengan saudara-saudari kita, tentu saja tidak harus semesra hubungan suami-isteri. Kemesraan hubungan kita dengan orang lain antara lain menjadi nyata atau konkret ketika kita tidak saling menyakiti atau melecehkan, tetapi saling menghormati dan menjunjung tinggi, saling membahagiakan dan menyelamatkan. Sebagai umat beriman marilah kita wujudkan pendampingan atau penyertaan Tuhan dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun, artinya semoga siapapun yang melihat kita akhirnya tergerak untuk semakin beriman dan bersahabat dengan Tuhan maupun sesamanya. Persaudaraan atau persahabatan sejati antar kita , umat manusia, pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan.

“Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.” (Mzm 128:1-4)

Selasa, 30 Oktober 2012