“Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." (Am 2:6-10.13-16; Mzm 50:16-21; Mat 8:18-22)

Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: "Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka." (Mat 8:18-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berreflkesi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Yesus adalah Penyelamat Dunia dan memiliki tugas pengutusan untuk menyelamatkan seluruh dunia. Ia memang telah berusaha keras untuk berkeliling kemana-mana, namun Ia juga membutuhkan tenaga atau bantuan orang lain untuk meneruskan dan menyebarluaskan tugas pengutusan-Nya, dengan kata lain Ia membutuhkan orang-orang yang bersedia untuk menjadi pengikut atau murid-Nya. Pengajaran maupun kepribadian-Nya menyentuh dan mempesona banyak orang, maka cukup banyak orang akhirnya menjadi pengikut-Nya. Untuk menjadi pengikut Yesus harus dengan besar hati dan sukarela meninggalkan segala sesuatu atau segala yang dimiliki-Nya serta siap sedia untuk diutus kemanapun tanpa syarat. Dalam kisah hari ini ada seseorang ingin mengikuti Yesus, namun ketika menerima jawaban Yesus bahwa Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya, ia pun mengundurkan diri karena kelekatannya pada sesuatu yang tak dapat ditinggalkan. Alasan ‘menguburkan ayah’ atau melayat merupakan sesuatu yang tak mungkin dibantah, dengan kata lain merupakan alasan yang tak mungkin dapat dibicarakan atau didiskusikan. Itulah yang sering disebut sebagai kelekatan tak teratur. Maka dengan ini kami mendambakan anda sekalian yang menjadi pengikut Yesus Kristus untuk sungguh melepaskan diri dari aneka kelekatan yang tak teratur, entah itu berupa harta benda atau sifat pribadi atau kenikmatan-kenikmatan tertentu yang berlawanan dengan kehendak Allah. Menjadi pengikut Yesus Kristus harus bebas merdeka secara total.

· Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia. Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik. Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu;” (Ams 2:6-10). Jika kita sungguh secara total meninggalkan kelekatan-kelekatan tak teratur, maka kita akan mampu menerima anugerah Tuhan, yaitu “mengerti tentang kebenaran, keadilan dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik”. Kami percaya bahwa kita semua mendambakan untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik dan kami berharap para orangtua maupun para pengelola dan pelaksana karya pendidikan/sekolah lebih mengutamakan agar anak-anak atau para peserta didiknya lebih tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik daripada pandai, cerdas secara spiritual daripada cerdas secara intelektual. Memang mendidik anak-anak atau peserta didik untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik lebih sulit daripada mendidik agar lebih pandai. Jika orang sungguh memiliki kecerdasan spiritual alias baik, hemat saya kecerdasan-kecerdasan lainnya seperti kecerdasan intelektual, sosial, emosional, fisik dapat diusahakan dengan mudah. Kecerdasan spiritual merupakan landasan atau dasar kecerdasan-kecerdasan lainnya. Apa yang disebut dalam kutipan diatas, yaitu kebenaran, keadilan dan kejujuran hemat saya sungguh penting dan mendesak untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini, mengingat kebohongan, ketidak-adilan dan korupsi masih merebak di sana-sini dan lebih sungguh memprihatinkan bahwa hal itu terjadi dalam diri para tokoh atau pemuka hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di negeri kita tercinta ini. Sekali lagi saya angkat salah satu usaha yang hendaknya dikerjakan bersama-sama adalah peraturan dilarang menyontek di sekolah-sekolah, karena membiarkan para peserta untuk menyontek berarti mempersiapkan mereka untuk menjadi pembohong-pembohong dan koruptor-koruptor.

"Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu, padahal engkaulah yang membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku? Jika engkau melihat pencuri, maka engkau berkawan dengan dia, dan bergaul dengan orang berzinah. Mulutmu kaubiarkan mengucapkan yang jahat, dan pada lidahmu melekat tipu daya. Engkau duduk, dan mengata-ngatai saudaramu, memfitnah anak ibumu.Itulah yang engkau lakukan, tetapi Aku berdiam diri; engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau. Aku akan menghukum engkau dan membawa perkara ini ke hadapanmu” (Mzm 50:16-21)

Senin, 2 Juli 2012


Romo Ignatius Sumarya, SJ