“Jika seorang makan roti ini ia akan hidup selamanya” (Kis 8:26-40; Mzm 68:8-9.16-17; Yoh 6:44-51)


Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku. Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal. Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” (Yoh 6: 44-51), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Jenis makanan yang kita konsumsi memang akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan kebugaran tubuh kita maupun hidup spiritual kita. Ada rumor: mayoritas orang Indonesia ini yang dikomsumsi adalah ‘rumput’/daun atau sayuran, sedangkan orang Eropa makan daging, maka tidak mengherankan orang Indonesia lebih mengandalkan otot daripada otak, phisik bukan spiritual. Di sekolah-sekolah senantiasa diajarkan perihal ‘empat sehat, lima sempurna’, yang berarti jika mau sehat hendaknya mengkonsumsi nasi/jagung/ubi, sayuran, daging/telor dan buah-buahan, sedangkan jika mendambakan sempurna tambahlah susu. Maklum banyak orang mengkonsumsi makanan dan minuman hanya mengikuti selera pribadi, bukan mengikuti pedoman hidup sehat. Jika dalam hal makan dan minum saja tidak sehat, apalagi dalam hal pelaksanaan atau penghayatan sabda atau perintah Allah.Akulah roti hidup yang turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia”, demikian sabda Yesus. Kita yang percaya kepada Yesus Kristus hal itu berarti setiap kali kita menerima komuni kudus dijanjikan untuk hidup selama-lamanya. Janji dari Allah setia adanya, dan kiranya dari pihak kita juga dituntut setia, yaitu setia melaksanakan dan menghayati perintah atau sabda-Nya dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari alias dengan rendah hati berusaha untuk menjadi suci, membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan. Jika selama hidup di dunia ini kita sungguh membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan, maka ketika dipanggil Tuhan alias meninggal dunia kita akan menikmati hidup mulia dan bahagia selamanya di sorga.
·   Malaikat Tuhan berfirman kepada Filipus: “Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza." Jalan itu jalan yang sunyi.” (Kis 8:26). Dengan taat dan setia Filipus melakanakan perintah Allah melalui malaikatNya. Ia berjalan menuju ke selatan sampai di Kaisarea untuk memberitakan Injil, mewartakan kabar baik, menyebarluaskan apa yang baik dan menyelamatkan, terutama keselamatan jiwa. Marilah kita meneladan Filipus: ke arah mana kita berjalan atau bepergian hendaknya kita senantiasa menyebarluaskan apa yang baik dan menyelamatkan jiwa manusia, dan untuk itu tentu saja jiwa kita sendiri selamat adanya. Jiwa selamat berarti cara hidup dan cara bertindak dimana pun dan kapan pun baik adanya, sehingga dampak hidup dan tindakannya mempengaruhi orang lain untuk membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan, setia pada panggilan dan tugas pengutusannya. Dikatakan bahwa jalan yang dilalui oleh Filipus adalah ‘jalan yang sunyi’, berarti orang harus berani berjalan sendirian dalam kesunyian; ia, meskipun sendirian, dapat dihandalkan setia pada panggilan dan tugas pengutusan, serta tidak menyeleweng dari panggilan dan tugas pengutusannya. Cukup banyak orang takut dalam kesunyian atau sendirian, atau bahkan ketika sedang sendirian kemudian hidup seenaknya, semau gue, mengikuti selera atau keinginan pribadi, karena merasa tidak ada orang lain yang mengetahui. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa sebagai orang beriman, meskipun secara phisik kita sendirian, sebenarnya kita tidak pernah sendirian, karena Tuhan menyertai dan mendampingi kita. Maka ketika secara phisik sendirian hendaknya orang bersyukur dan berterima kasih, karena ada kesempatan untuk bermesra-mesraan dengan Tuhan tanpa gangguan. Bukankah kita sering menyepi atau menyendiri agar dapat menikmati kebersamaan dengan Tuhan?

“Ya Allah, ketika Engkau maju berperang di depan umat-Mu, ketika Engkau melangkah di padang belantara, bergoncanglah bumi, bahkan langit mencurahkan hujan di hadapan Allah; Sinai bergoyang di hadapan Allah, Allah Israel. Gunung Allah gunung Basan itu, gunung yang berpuncak banyak gunung Basan itu! Hai gunung-gunung yang berpuncak banyak, mengapa kamu menjeling cemburu, kepada gunung yang dikehendaki Allah menjadi tempat kedudukan-Nya? Sesungguhnya TUHAN akan diam di sana untuk seterusnya!
(Mzm 68:8-9.16-17)


Kamis, 26 April 2012

Romo Ignatius Sumarya, SJ