“Barangsiapa datang kepada-Ku ia tidak akan lapar lagi” (Kis 7:51-8:1a; Mzm 31:3c-4; Yoh 6:30-35)


“ Maka kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga." Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa." Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi (Yoh 6:30-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Ada orang-orang tertentu yang melaksanakan latutapa berhari-hari, tanpa makan dan minum, dan tinggal sendirian di tempat sepi atau hening. Mereka melakukan hal itu dengan tujuan utama agar senantiasa dekat dengan Tuhan atau Yang Ilahi, maka meskipun tanpa makan dan minum berhari-hari mereka merasa tak pernah kelaparan atau kehausan serta tak pernah mengeluh atau menggerutu. “Barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi”, demikian sabda Yesus, yang hendaknya kita renungkan dan hayati. Kenyang dan nikmat dalam Tuhan, itulah yang kiranya kita usahakan bersama-sama sebagai umat beriman atau beragama. Memang rasanya tak mungkin bagi kita semua untuk tanpa makan dan tanpa minum berhari-hari, maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk menghayati sabda Yesus di atas dengan senantiasa hidup dan bertindak dalam Tuhan. Jika kita senantiasa hidup dan bertindak dalam Tuhan, maka apapun yang harus kita lakukan, apa yang harus kita makan dan minum, akan enak dan nikmat adanya. Dalam hal makan dan minum, misalnya, hendaknya makan dan minum dalam dan dengan iman, sehingga dalam hal makan dan minum berpedoman pada sehat dan tidak sehat, bukan enak/nikmat dan tidak enak/nikmat. Apa yang enak dan nikmat pada umumnya kurang atau tidak sehat, tidak menjamin kesehatan dan kehandalan tubuh, sehingga orang yang bersangkutan mudah jatuh sakit, tidak memiliki daya tahun tubuh yang handal dalam menghadapi dan mengerjakan aneka tugas dan pekerjaan berat.
·    "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kis 7:60), demikian kata terakhir Stefanus, sebelum meninggal dunia karena dirajam oleh musuh-musuhnya. Kata-kata ini keluar dari Stefanus, karena ia sungguh kenyang dalam Tuhan, hidup dan bertindak dalam Tuhan kapan pun dan dimana pun. Meskipun ia dirajam dengan batu, dilempari dengan batu sampai mati, ia tidak mengeluh dan menggerutu, tidak membenci dan balas dendam terhadap musuh-musuhnya, tetapi mengampuni dan mendoakannya. Kiranya Stefanus meneladan Yesus yang tergantung di puncak kayu salib, dalam puncak penderitaanNya, sehingga ia juga diangkat sebagai martir pertama di dalam Gereja. Kami percaya bahwa kita semua sering mengalami ancaman atau disakiti oleh orang lain, dan pada umumnya secara otomatis kita mudah marah dan membenci mereka yang mengancam dan menyakiti kita. Sebagai umat beriman kami ajak anda sekalian: marilah meneladan Stefanus, sebagai tanda atau bukti bahwa kita sungguh membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan. Hendaknya jangan marah, mengeluh atau menggerutu ketika menghadapi aneka tantangan, masalah, atau hambatan, entah itu karena kesetiaan iman kita maupun kesambalewaan kita dalam menghayati iman. “Gagal atau sukses, hendaknya selalu bersyukur”, demikian salah satu isi motto Bapak Andrie Wongso, promotor Indonesia. Saya percaya kepada anda sekalian, para orangtua, pasti memiliki pengalaman sebagaimana dialami oleh Stefanus, misalnya ketika anak-anak mengganggu anda, anda tidak marah, mengeluh atau menggerutu, lebih-lebih ketika anak-anak masih kecil atau bayi. Hendaknya pengalaman tersebut terus diperkembangkan dan diperdalam serta disebarluaskan dalam hidup sehari-hari dimana pun dan kapan pun. Didik dan dampingi anak-anak anda dalam hal ini, terutama dengan teladan atau kesaksian hidup anda.
“Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku! Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku” (Mzm 31:3c-4)

Selasa, 24 April 2012

Romo Ignatius Sumarya, SJ