"Apakah yang harus kami perbuat supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" (Kis 6:8-15; Mzm 119:23-24.26-27; Yoh 6:22-29)


“ Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus. Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?" Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah." (Yoh 6:22-29), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Orang setelah ditraktir makan pada umumnya terkesan kepada yang mentraktir, sehingga ia rindu untuk bertemu dengannya. Demikianlah yang terjadi dengan orang banyak setelah dikenyangkan dengan roti, yang telah digandakan oleh Yesus, mereka berusaha untuk mencari Yesus. Namun Yesus meningkatkan kerinduan mereka, yaitu tidak berhenti pada roti atau  hal-hal phisik, melainkan hal-hal spiritual atau rohani, yaitu kehendak Allah. “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah”, demikian sabda Yesus kepada orang banyak yang mencariNya. “Dia yang telah diutus Allah” tidak lain adalah Yesus, maka marilah kita percaya sepenuhnya kepada Yesus, yang berarti senantiasa melaksanakan sabda-sabdaNya maupun meneladan cara hidup dan cara bertindakNya. “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal”, demikian sabda Yesus, yang hendaknya kita renungkan dan hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. Makanan yang tidak dapat binasa tidak lain adalah keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan, dan kiranya sejak kecil di dalam keluarga kita telah diberi makanan-makanan tersebut, maka marilah kita kenangkan, perdalam dan perkembangkan aneka keutamaan atau nilai kehidupan yang telah kita terima melalui orangtua maupun para guru di sekolah-sekolah. Saya pribadi sangat terkesan dengan tegoran atau nasihat bapak saya almarlum yang saya terima ketika saya masih kecil, yaitu “Barang katon wae ora biso nggarap, ojo maneh sing ora katon” (=Apa yang kelihatan saja tidak dapat mengerjakan, apalagi yang tidak kelihatan).
·   “Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini -- anggota-anggota jemaat itu adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria -- bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara.” (Kis 6:8-10), demikian berita perihal Stefanus yang hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan dorongan Roh Kudus, bukan mengikuti kehendak dan keinginan pribadi. Jika kita hidup dan bertindak dalam dan atas nama Tuhan atau Roh Kudus, maka tak seorangpun dapat melawan atau mengalahkan kita. Marilah kita meneladan Stefanus, “yang penuh dengan karunia dan kuasa”, anugerah Tuhan. Karunia dan kuasa yang dianugerahkan oleh Tuhan tidak lain adalah aneka macam  budi pekerti luhur atau keutamaan-keutamaan iman, harapan dan kasih. Kita semua adalah orang beriman, maka marilah kita hayati iman kita dengan penuh harapan, artinya dengan bergairah, dinamis serta tidak kenal lelah hidup dan bertindak berdasarkan iman, yang menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak saling mengasihi. Percayalah jika kita hidup dan bertindak dalam dan oleh kasih, maka tak seorangpun mampu menghalangi dan melawan cara hidup dan cara bertindak kita. Setiap manusia diciptakan dan dibesarkan dalam dan oleh kasih, maka ketika didekati dan disikapi dalam dan dengan kasih, mereka pasti akan takluk kepada kita. Ingatlah dan sadari binatang sebuas apapun ketika didekati dan disikapi dalam dan dengan kasih dapat ditaklukkan dan kemudian menjadi sahabat, apalagi manusia.
Sekalipun pemuka-pemuka duduk bersepakat melawan aku, hamba-Mu ini merenungkan ketetapan-ketetapan-Mu.Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, menjadi penasihat-penasihatku. Jalan-jalan hidupku telah aku ceritakan dan Engkau menjawab aku -- ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titah-Mu, supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib.” (Mzm 119:23-24.26-27)

Senin, 23 April 2012   

Romo Ignatius Sumarya, SJ