“Aku ini jangan takut” (Kis 6:1-7; Mzm 33:1-2.4-5.18-19; Yoh 6:16-21)


Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sedang laut bergelora karena angin kencang. Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Aku ini, jangan takut!" Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui” (Yoh 6:16-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Hidup adalah sebuah perjalanan, sejak kita dilahirkan sampai mati atau dipanggil Tuhan. Memang di dalam perjalanan kita tidak tanpa beban, tugas atau pekerjaan, entah berat atau ringan. Kita berjalan terus agar tumbuh bekembang menjadi pribadi sebagaimana kita harapkan atau dambaan. Kiranya dalam perjalanan ini kita sering merasa takut atau khawatir, karena harus menghadapi ‘gelombang kehidupan’ berupa tantangan, masalah atau hambatan. Jika kita mengandalkan kekuatan atau kemampuan pribadi selayaknya kita takut atau khawatir, tetapi jika kita berjalan bersama dengan Tuhan tiada ketakutan atau kekhawatiran sedikitpun. “Aku ini, jangan takut”, demikian sabda Yesus kepada para murid yang ketakutan karena dalam perjalanan di danau diombang-ambingkan oleh gelora gelombang karena angin kencang. Marilah kita sadari dan hayati bahwa Yesus yang telah bangkit dari mati senantiasa menyertai dan mendampingi perjalanan hidup kita melalui RohNya. Hadapilah aneka tantangan, masalah dan hambatan dalam dan oleh Roh, dengan kata lain hadapi dengan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan ini, yaitu “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Hidup dan bertindak dijiwai oleh keutamaan-keutamaan ini kita pasti akan sukses dalam mengerjakan atau melaksanakan aneka tugas, pekerjaan dan kewajiban kita; kita dapat mengatasi aneka masalah, tantangan dan hambatan dengan baik. Hendaknya kita tidak menjadi penakut, melainkan pemberani, bukan dengan mengandalkan kekuatan atau kemampun diri pribadi, melainkan rahmat atau anugerah Ilahi, pendampingan dan penyertaan Roh yang terus-menerus berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini.
·   Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.” (Kis 6:7), demikian berita gembira perihal buah karya pelayanan para rasul. Kesuksesan pelayanan para rasul ini terjadi karena Tuhan senantiasa menyertai atau mendampingi mereka dan mereka mengimani sepenuhnya penyertaan atau pendampinganNya. Hal ini kiranya menjadi pelajaran yang baik bagi kita semua umat beriman dalam rangka melaksanakan aneka tugas, pekerjaan dan kewajiban. Hendaknya dalam semangat iman kita bekerja, hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Para pendiri bangsa atau bapak bangsa kita, yang terdiri dari aneka suku pada waktu itu hemat dalam dan dengan semangat iman mereka memaklumkan kemerdekaan Negara serta mengisi kemerdekaan dengan membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan melalui pemberian diri bagi bangsanya, sehingga Negara kita berdiri teguh dan berkembang sebagaimana adanya pada saat ini. Kami juga berharap kepada segenap umat beriman atau beragama: jika anda mendambakan iman atau agama anda tumbuh berkembang, semakin banyak orang menggabungkan diri ke dalam iman atau agama anda, hendaknya senantiasa menghayati iman dalam hidup sehari-hari. Aneka pengetahuan agama, kitab suci atau iman hendaknya tidak berhenti dalam pengetahuan saja, melainkan menjadi nyata dalam penghayatan. Hemat saya semua agama mengajarkan cintakasih sebagai ajaran yang utama, maka marilah kita segenap umat beragama hidup dan bertindak dalam dan dengan cintakasih. Ingat dan sadari bahwa suami-isteri saling mengasihi sehingga bertambahlah keturunan atau anak-anak; maka hal yang sama juga akan terjadi yaitu jika kita hidup dan bertindak dimana pun dan kapan pun dengan saling mengasihi, percayalah buah melimpah yang menyelamatkan  dan membahagiakan akan terwujud.
Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur. Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN.” (Mzm 33:1-2.4-5)
Sabtu, 21 April 2012

Romo Ignatius Sumarya, SJ
Note: kepada segenap rekan perempuan kami ucapkan selamat merayakan RA Kartini, semoga semangat RA Kartini menjiwai cara hidup dan cara bertindak anda sekalian. 

Reaksi: