"Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?” (Kis 9:31-42; Mzm 116:12-13.14-15.16-17; Yoh 6:60-69)


“ Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?" Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya." Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya." Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah." (Yoh 6:60-69), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Jika kita berkehendak untuk tumbuh berkembang dalam iman, maka setiap saat ada kemungkinan kita menghadapi atau menerima hal-hal yang tak masuk akal, entah itu berupa perbuatan maupun perkataan atau ajaran. Para murid telah menerima perkataan yang tak masuk akal dari Yesus, yaitu jika mendambakan hidup kekal hendaknya mengimani bahwa ‘roti’ yang diberikan oleh Yesus sebenarnya adalah tubuh atau dagingNya sendiri. Mendengar perkataan itu cukup banyak orang meninggalkanNya, tetapi para murid dalam iman menanggapi: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah”. Sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus dan dibaptis secara katolik kiranya kita sering menerima komuni kudus berupa ‘roti tawar’ yang kita imani sebagai Tubuh Kristus. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian yang telah dan sering menerima komuni kudus untuk hidup dan bertindak sesuai dengan iman, yaitu senantiasa setia menghayati atau melaksanakan sabda-sabda Tuhan di dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimana pun dan kapan pun. Kiranya kita dapat belajar dari dan meneladan santo-santa, pelindung kita masing-masing, yang hemat saya telah menghayati atau melaksanakan secara total sabda Tuhan, yang mungkin hanya ayat-ayat tertentu saja. Maka baca dan renungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci dan ketika ada ayat yang mengesan, hendaknya terus direnungkan dan dihayati. Ingat pesan ini, yaitu “Bukan berlimpahnya pengetahuan, melainkan merasakan dan mencecap dalam-dalam kebenarannya itulah yang memperkenyang jiwa” (St Ignatius Loyola, LR no 2)

·    "Segeralah datang ke tempat kami.” (Kis 9:38c), demikian permintaan para murid di Lida kepada Petrus. Mendengar kata-kata atau permintaan itu, tanpa takut dan gentar, melainkan dengan bergairah dan cepat-cepat, Petrus pun berangkat. Petrus percaya ada sesuatu yang penting di balik permintaan atau kata-kata tersebut, dan kiranya Petrus menghayatinya sebagai kata-kata atau permintaan dari Tuhan. Akhirya ‘dalam nama Yesus yang telah wafat dan bangkit dari mati’, Petrus membangkitkan orang yang telah meninggal dunia atau mati. Kita semua dipanggil untuk meneladan Petrus; mungkin mujizat yang terjadi melalui diri kita tidak sebesar apa yang terjadi melalui Petrus. Di dalam hidup dan kerja kita setiap hari, kiranya kita sering melihat atau menghapi orang-orang yang lesu, tak bergairah atau putus asa dalam hidupnya, karena harus menghadapi tantangan, masalah atau hambatan yang banyak dan besar. Baiklah, ‘dalam nama Yesus’ kita datangi mereka serta kita bangkitkan mereka daari kelesuan, ketidak-gairahan maupun keputus-asaan. Percaya kepada Yesus yang telah bangkit dari mati berarti senantiasa hidup dan bertindak dalam dan oleh RohNya, yang menghidupkan, menggairahkan dan membangkitkan. Percayalah bahwa ‘dalam nama Yesus, Tuhan’ kita akan mampu menggairahkan dana membangkitkan mereka yang lesu dan putus asa. Dalam Tuhan lihat dan tunjukkan apa-apa yang baik atau yang menjadi kekuatan dalam diri orang yang bersangkutan, kemudian ajaklah mereka untuk melakukan apa yang baik tersebut atau mewujudkan kekuatannya dalam tindakan atau perilaku. Dengan kata lain kami harapkan kita senantiasa berpikiran positif terhadap siapapun, sebagai bukti bahwa kita beriman kepada Yesus yang telah bangkit dari mati dan hidup sesuai dengan RohNya. Hendaknya pantang menyerah dalam menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah.
Bagaimana akan kubalas keapada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN, akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya. Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya. Ya TUHAN, aku hamba-Mu! Aku hamba-Mu, anak dari hamba-Mu perempuan! Engkau telah membuka ikatan-ikatanku!” (Mzm 116:12-16)


Sabtu, 28 April 2012                   


Romo Ignatius Sumarya, SJ

Reaksi: