“Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya” ( 2Raj 5:1-15a; Mzm 42:2-3 – 43:3-4; Luk 4:24-30)

“Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu." Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi” (Luk 4:24-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· “Luar negeri minded” pada umumnya menjiwai cara hidup dan cara bertindak orang berduit alias menjadi gaya hidup orang-orang kaya di negeri tercinta ini. Memang dalam kenyataan sering produk luar negeri lebih berkualitas daripada produk dalam negeri. Namun kasus pembelian kursi oleh anggota DPR RI beberapa waktu yang lalu sungguh menarik. Sebagaimana diberitakan dalam dialog di TV One diinformasikan bahwa hotel-hotel berbintang, yang juga dimiliki oleh orang asing, di kota-kota besar di Indonesia memakai kursi-kursi produk dalam negeri, yang kualitasnya tak terpaut jauh dari apa yang dibeli dari luar negeri, tetapi harganya hanya sepertiga dari harga yang dibeli di luar negeri. Sabda hari ini sungguh mengingatkan kita semua akan pentingnya menghargai dan menggunakan produk dalam negeri. Memang orang-orang yang suka korupsi akan lebih suka membeli produk luar negeri meskipun mahal, dan kemahalan yang terjadi karena telah di ‘mark up’. “Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya”, demikian sabda Yesus. Ada kata-kata bijak: jika kita tidak dapat mengasihi mereka yang dekat dengan kita sehari-hari, maka mengasihi mereka yang jauh merupakan pelarian diri, pelarian dari tanggungjawab, sebaliknya jika kita mampu mengasihi mereka yang dekat dengan kita setiap hari, maka mengasihi yang jauh akan melayani. Dengan ini kami berharap kepada kita semua untuk meningkatkan dan memperdalam hidup saling mengasihi antar kita yang hidup dan bekerja bersama setiap hari dimana pun dan kapan pun. Demikian kami juga berharap kepada kita semua untuk menghargai dan menggunakan produk negeri sendiri, misalnya dalam hal pakaian atau makanan dan minuman yang menjadi kebutuhan hidup kita sehari-hari.

· "Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya." (2Raj 5:3), demikian kata seorang gadis, pelayan, kepada nyonyanya, suatu nasehat atau saran agar Naaman, tuannya, berobat demi penyembuhan dari penyakitnya. Naaman pun melaksanakan nasehat gadis, pelayannya, tersebut dan akahirnya sembuh dari penyakitnya. Marilah hal ini kita sikapi sebagai suatu nasehat seseorang yang setiap hari hidup bersama. Kita dapat belajar dari atau meneladan Naaman yang sungguh mendengarkan dan melaksanakan nasehat orang yang setiap hari melayaninya. Marilah kita dengarkan aneka nasehat, saran, petunjuk, dambaan, keluh kesah atau suka-duka mereka yang hidup dan bekerja bersama dengan kita setiap hari. Secara khusus saling menghargai dan mendengarkan ini hendaknya terjadi dalam lingkungan hidup berkeluarga setiap hari, antara semua anggota kn eluarga. Demikian juga di sekolah-sekolah atau tempat kerja hendaknya saling menghargai antar guru dan murid, antar sesama guru atau antar sesama murid, antar rekan kerja maupun antar atasan dan bawahan. Tak ketinggalan juga kami mengajak kita semua untuk lebih menghargai budaya dan kesenian lokal atau tempat sendiri daripada asing atau luar negeri. Marilah kita perhatikan, angkat dan perdalam aneka kebudayaan dan kesenian yang baik yang ada di tempat asal kita masing-masing. Saya pribadi juga terkesan ada gerakan berpakaian adat di tempat-tempat kerja di Kodya Solo pada hari-hari tertentu, dan semoga hal ini juga menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain di negeri ini. Mungkin mulai dari cara berpakaian, dan kiranya pelan-pelan juga dalam hal menjunjung tinggi dan menghargai rekan dekat sendiri, sehingga terjadilah kebersamaan hidup yang saling mengasihi, mempesona dan memikat bagi orang lain.

“Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu! Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!” (Mzm 43:3-4)

Senin, 12 Maret 2012

Romo Ignatius Sumarya, SJ

Reaksi: