"Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." (Mi 7:14-15.18-20; Mzm 103:1-4; Luk 15:1-3.11-32)


“Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka” (Luk 15:1-3), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat memang dikenal sebagai orang-orang yang sombong, yang senantiasa merasa dirinya yang terbaik dan meremehkan atau melecehkan orang-orang berdosa. Padahal jika dicermati secara mendalam banyak orang melakukan dosa atau berbuat jahat karena kesombongan mereka, sebagaimana juga terjadi di negeri kita ini. Hemat saya banyak orang berbuat jahat atau melakukan apa yang tidak baik disebabkan oleh cara hidup dan cara bertindak para pejabat atau petinggi atau mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama, yang sombong, yang melecehkan mereka yang miskin, bodoh, kurang terdidik dst.. Perumpamaan perihal anak hilang hari ini hemat saya lebih terarah atau ditujukan kepada orang-orang sombong seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bersungut-sungut ketika menyaksikan Yesus menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan siapapun yang sombong untuk bertobat serta menjadi rendah hati, kemudian meneladan Yesus yang dengan penuh belas kasih menerima dan makan bersama-sama dengan orang berdosa.
Saya percaya bahwa kita semua sebenarnya juga berdosa, namun sering tak menyadarinya atau memang sengaja menyembunyikannya. Ketika ada orang mengampuni mereka yang berdosa atau bersalah, hendaknya juga tidak bersungut-sungut, melainkan bersyukur dan berterima kasih. Sekali lagi rasanya kita ini lebih seperti anak sulung yang merasa diri baik-baik terus-menerus, padahal tindakan baik yang kita lakukan hanya bertujuan agar dipuji orang. Sekiranya anda merasa diri bagaikan anak bungsu, yang hilang, hendaknya dengan rendah hati serta penuh harapan mengakui dosa-dosanya serta mohon kasih pengampunan Allah. Fungsikan aneka kesempatan mengaku dosa yang ada di gereja-gereja atau kapel-kapel untuk mengaku dosa sccara pribadi.

· “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut. Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham seperti yang telah Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala” (Mi 7:18-20). Kutipan ini kiranya dapat menjadi kekuatan dan dorongan bagi kita semua untuk tidak takut dan tidak malu mengakui dosa dan kesalahan kita kepada Allah maupun saudara-saudari yang telah kena dampak perilaku dosa dan perubuatan salah kita. Allah adalah Maha Setia dan Maha Pengampun, kesetiaan dan kasih pengampunanNya telah menjadi nyata melalui sekian banyak orang yang telah memperhatikan kita serta tidak pernah memperhitungkan kesalahan dan dosa-dosa kita. Tentu saja pertama-tama dan terutama mereka itu adalah ibu kita masing-masing. Bukankah ketika kita masih bayi atau kecil pasti senantiasa menyusahkan dan membuat ibu menderita, dan ibu tidak pernah mengingat dan memperhitungkan kesalahan dan dosa-dosa kita, sebagaimana sering dikidungkan dalam sebuah nyanyian “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”?. Kakak-kakak kandung kita atau bapak kita juga demikian adanya, dengan setia dan kasih pengampunan memperlakukan kita. Jika kita berani dan mampu menghayati kesetiaan dan kasih pengampunan ibu dengan mendalam, kiranya kita memiliki kekuatan dan keberanian untuk mengakui kesalahan dan dosa-dosa kita terhadap saudara-saudari kita yang lain serta mohon kasih pengampunan mereka. Marilah kita saling setia dalam mengasihi dan mengampuni satu sama lain, tanpa pandang bulu.

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat” (Mzm 103:1-4)

Sabtu, 10 Maret 2012


Romo Ignatius Sumarya, SJ