“Hukum manakah yang paling utama?” (Hos 14:2-10; Mzm 81:6-9; Luk 12:28-34)

“Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?" Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan." Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.” (Luk 12:28-34), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Semua tata tertib, peraturan atau hukum hemat saya dibuat dan diundangkan atau diberlakukan atas dasar dan demi cintakasih, maka jika anda mendambakan hidup bahagia, damai sejahtera dan selamat, kami harapkan menyikapi dan melaksanakan aneka tata tertib, peraturan dan hukum dalam dan dengan cintakasih. Berbicara perihal cintakasih dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan, hemat kami kita dapat bercermin pada suami-isteri yang saling mengasihi. Bukankah para suami dan isteri memiliki pengalaman cintakasih, sebagaimana diajarkan oleh Yesus, yaitu mengasihi dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan, yang secara konkret dihayati dengan saling telanjang bulat satu sama lain dalam hubungan seksual? Dengan kata lain hubnngan seksual yang baik dan benar sungguh merupakan wujud cintakasih yang paling kentara dan mudah difahami. Maka kami berharap kepada para suami-isteri atau bapak-ibu dapat menjadi teladan dalam penghayatan hukum yang utama yaitu saling mengasihi bagi anak-anak yang dianugerahkan kepada mereka. Selanjutnya kami mengajak dan mengingatkan kita semua: marilah kita sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita merupakan buah cintakasih, buah kerjasama cintakasih, kita dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya saat ini hanya karena cintakasih dan kerjasama. Maka selayaknya kita kemudian senantiasa hidup dalam cintakasih dan kerjasama. Jika ada sesuatu yang kurang sesuai dengan selera pribadi alias menjadi ‘musuh’, kasihilah dan jangan dibenci atau dijauhi. Segala sesuatu didekati dan disikapi dalam dan oleh cintakasih pasti akan menjadi sahabat atau saudara. Hidup dalam cintakasih berarti juga hidup dalam ‘ketelanjangan’, arinya tiada sesuatu pun yang dirahasiakan antar kita, semuanya ‘transparan’.

· “Siapa yang bijaksana, biarlah ia memahami semuanya ini; siapa yang paham, biarlah ia mengetahuinya; sebab jalan-jalan TUHAN adalah lurus, dan orang benar menempuhnya, tetapi pemberontak tergelincir di situ” (Hos 14:10). Kata bahasa Latin bijaksana adalah ‘sapiens’, yang dapat berarti bijaksana, arif, penuh pengertian, paham. Maka orang bijaksana berarti juga orang yang penuh pengertian pada serta dapat memahami orang lain. Sekali lagi kami angkat, bukankah pengalaman saling penuh pengertian dan memahami ini sebenarnya terjadi dalam relasi antar suami-isteri yang saling mengasihi, sehingga yang berbeda satu sama lain dapat hidup bersama sampai mati? Saya yakin anda sebagai suami dan isteri saling penuh pengertian dan memahami akan keunggulan, kelebihan, kekurangan, kelemahan anda, termasuk juga dalam hal yang bersifat pribadi seperti hubungan seksual. Saling penuh pengertian dan memahami hemat saya merupakan salah satu bentuk mengikuti jalan-jalan Tuhan yang lurus. Dengan kata lain mengikuti jalan-jalan Tuhan juga harus senantiasa berujud lurus, tidak munafik dan manipulasi. Jika anda berjuan untuk mengasihi hendaknya tetap setia mengasihi, jika anda bertugas belajar hendaknya tekun dan setia belajar, demikian juga jika anda pekerja hendaknya tekun dan setia bekerja, dst.. Ketekunan dan kesetiaan anda dapat menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan, di satu pihak butuh penuh pengertian dan pemahaman, di lain pihak memperteguh dan memperdalam pengertian dan pemahaman anda. Marilah kita dengan tekun dan setia menelusuri atau menempuh jalan-jalan atau cara-cara hidup yang baik dan benar, agar tidak terjatuh dan tak tergelincir.

“Sebagai suatu peringatan bagi Yusuf ditetapkan-Nya hal itu, pada waktu Ia maju melawan tanah Mesir. Aku mendengar bahasa yang tidak kukenal: "Aku telah mengangkat beban dari bahunya, tangannya telah bebas dari keranjang pikulan; dalam kesesakan engkau berseru, maka Aku meluputkan engkau; Aku menjawab engkau dalam persembunyian guntur, Aku telah menguji engkau dekat air Meriba. Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!” (Mzm 81:6-9)

Jumat, 16 Maret 2012


Romo Ignatius Sumarya, SJ

Reaksi: