HOMILI: Hari Minggu Prapaskah IV (2Taw 36:14-16.19-23; Mzm 137:1-6; Ef 2:4-10; Yoh 3:14-21)

“Barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah”

Anak kancil lari berkejar. Dimakan singa di tengah hutan. Dari hal kecil sampai hal besar. Pasrahkan saja kepada Tuhan”, demikian bunyi sebuah pantun karya Bp.Paulus Lion BA. Kancil termasuk binatang yang lincah dalam berlari, sedangkan singa juga dapat berlari dengan kencang ketika mengejar mangsanya. Singa tubuhnya memang lebih besar daripada kancil. Binatang-binatang ini di Taman Safari di Afrika Selatan, yang begitu luas, hidup dengan bebas di tengah padang rumput dan hutan, sesuai dengan Penyelenggaraan Ilahi/Tuhan. Mereka mencari makan sendiri alias tidak perlu diberi makan, sebagaimana terjadi di kebun binatan atau Taman Safari di Indonesia. Dengan kata lain sebagai binatang-binatang mereka sungguh tangguh dan handal dalam mempertahankan hidup, tetapi harap diketahui bahwa populasi kancil lebih besar daripada singa dan memang kancil-kancil tersebut menjadi makanan bagi singa. Meskipun dimakan oleh singa jumlah kancil tak berkurang. Di dalam Tamah Safari yang sungguh masih alami ini memang dapat diketemukan kebenaran-kebenaran sebagaimana dikehendaki oleh Allah, antara lain binatang-binatang, ciptaan Allah, dengan bebas dan penuh tanggungjawab mengusahakan dirinya agar tetap hidup, sehat dan tegar, tangguh dan mendalam di lingkungan hidupnya. “Beriman Tangguh dan Mendalam”, itulah tema Novena ke 8 di Seminari Menengah Mertoyudan, Minggu 18 Maret 2012, yang akan dipimpin oleh Mgr.Blasius Pujaraharja, Uskup Ketapang, dalam rangka merayakan 100 tahun Seminari Mertoyudan. Maka marilah kita mawas diri sesuai dengan tema tersebut.

Barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah” (Yoh 3:20-21).

Sebagai orang beriman atau beragama kita dipanggil untuk senantiasa melakukan apa yang benar dan baik. Memang mengingat dan memperhatikan kehidupan bersama masa kini yang masih diwarnai oleh kemesorotan moral hampir di semua bidang kehidupan, melakukan apa yang benar dan baik harus memiliki iman yang tangguh dan mendalam, sehingga tahan dan tabah dalam menghadapi aneka rayuan atau godaan setan dalam aneka bentuk dan situasi maupun kondisi. Untuk memperoleh iman yang tangguh dan mendalam orang harus terus menerus membiasakan diri menghadapi aneka tantangan dan hambatan serta godaan dalam iman. Dengan kata lain iman harus terus menerus digosok dengan aneka tantangan.

Tangguh adalah sikap dan perilaku yang sukar dikalahkan dan tidak mudah menyerah dalam mewujudkan suatu tujuan dan cita-cita tertentu. Ini diwujudkan dalam perilaku yang tetap tabah dan tahan terhadap berbagai cobaan dan tantangan untuk mencapai tujuan atau cita-cita. Perilaku ini diwujudkan dalam hubungannya dengan diri sendiri” (Prof Dr Edi Seedyawati/ edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 27). Selama anak-anak, remaja atau muda-mudi masih dalam proses pembelajaran atau pembinaan kami harapkan sungguh diperhatikan perihal pembelajaran atau pembinaan ketangguhan ini. Maka kepada para orangtua, guru/pendidik, pendamping atau pembina kami harapkan untuk sering memasukkan anak-anak, remaja atau muda-mudi ke dalam aneka cobaan dan tantangan, dan tentu saja juga harus didampingi terus menerus. Hadapkan dan berilah cobaan dan tantangan yang dapat mereka atasi, dan kemudian sedikit demi sedikit cobaan dan tantangan diperbesar, sehingga mereka semakin tangguh dan terampil dalam menghadapi dan menyelesaikan cobaan dan tantangan. Kami harapkan anak-anak, remaja dan muda-mudi dijauhkan dari aneka macam bentuk pemanjaan.

Ketika seseorang memiliki ketangguhan, maka ia juga akan dengan mudah untuk memperdalam apa yang diketahui. Dalam hal mendalam kami harapkan merenungkan ajakan St.Ignatius Loyola ini, yaitu “Bukan berlimpahnya pengetahuan, melainkan merasakan dan mencecap dalam-dalam kebenarannya itulah yang memperkenyang dan memuaskan jiwa” (St Ignatius Loyola, LR no 2). Maka sekali lagi kami berharap kepada para orangtua, guru/pendidik maupun pendamping atau pembina tidak terjebak untuk memberi pengetahuan sebanyak-banyaknya kepada anak-anak, peserta didik atau binaan, melainkan kedalaman atas pengetahuan. Secara khusus kami mengingatkan para pengelola atau pelaksana pendidikan/sekolah untuk lebih mengutamakan kedalaman atau kwalitas pengetahuan daripada kwantitas pengetahuan (maklum di Indonesia ini kurikulum di sekolah-sekolah begitu gemuk dan kurang langsing, sehingga peserta didik tidak lincah dan cekatan bergerak atau melangkah, demikian juga ketika mereka menjadi orang dewasa.

Karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya(Ef 2:8-10)

Sebagai orang beriman tangguh dan mendalam diharapkan senantiasa melakukan pekerjaan baik dengan murah hati dimana pun dan kapan pun, dalam situasi dan kondisi apapun. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku secara universal, kapan saja dan dimana saja, sedangkan murah hati berarti senantiasa menjual murah hatinya alias siap sedia memperhatikan siapapun tanpa pandang bulu, SARA. Orang beriman tangguh dan mendalam hemat saya dapat ditugaskan dimana saja dan kapan saja, dan ia pasti mampu melaksanakan tugas dengan baik dan benar.

Paulus juga mengingatkan kita semua bahwa iman maupun segala perwujudan atau penghayatan iman merupakan ‘pemberian Allah’, anugerah Allah, bukan hasil usaha kita manusia yang lemah dan rapuh ini. Paulus sendiri sebagai rasul agung, yang beriman tangguh dan mendalam telah menghayati kebenaran iman tersebut, maka karena dimana saja dan kapan saja ia senantiasa melakukan pekerjaan baik, sebagai penghayatan imannya yang telah dianugerahkan Allah, ia tak pernah takut dan gentar menghadapi aneka macam cobaan dan ancaman untuk dibunuh. Hidup dan bertindak dalam dan bersama dengan Allah tidak ada ketakutan atau kekhawatiran sedikitpun.

Mereka membakar rumah Allah, merobohkan tembok Yerusalem dan membakar segala puri dalam kota itu dengan api, sehingga musnahlah segala perabotannya yang indah-indah” (2Taw 36:19). Kutipan ini mengingatkan saya akan peristiwa pembakaran dan perusakan gedung gereja dan sekolah-sekolah katolik beberapa tahun lalu yang terjadi di Situbondo. Di tengah-tengah kehancuran dan penghagusan gedung gereja dan sekolah beserta semua perabotnya ada seorang pengurus dewan paroki/Gereja yang dengan rendah hati berujar “gedung gereja, gedung sekolah dengan segala isinya dibakar, dan hatiku pun dibakar untuk mencinta”. Ungkapan macam itu kiranya muncul dari orang yang sungguh beriman tangguh dan mendalam. Penghancuran dan pembakaran harta benda dan aneka sarana-prasarana duniawi membakar iman, harapan dan cinta, sehingga iman, harapan dan cintanya semakin murni, tangguh dan mendalam. Hidup beriman atau beragama yang utama dan pokok adalah keselamatan jiwa, bukan keselamatan phisik atau harta benda.

Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu kita menggantungkan kecapi kita. Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita: "Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!" Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing? Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku! Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku!” (Mzm 137:1-6)



Minggu, 18 Maret 2012


Romo Ignatius Sumarya, SJ

Reaksi: