“Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku." (Kej 2:1a.12-22; Mzm 34:17-20; Yoh 7:1-2.10.25-30)

“Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun. Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Ia pun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam. Beberapa orang Yerusalem berkata: "Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh? Dan lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya." Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru: "Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku." Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba.” (Yoh 7:1-2.10.25-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Hari raya Pondok Daun adalah “hari raya yang dilangsungkan dalam musim gugur, pada waktu panen atau panen anggur, dan yang bertujuan bersyukur kepada Allah dengan mempersembahkan kepadaNya sebuah keranjang penuh buah-buahan” (Xavier Leon – Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru, Penerbit Kanisius 1990, hal 253). Hari ini secara kebetulan umat Hindu di Bali sedang merayakan hari raya “Nyepi”, hari raya untuk meninggalkan segala kesibukan sepanjang hari dan mengheningkan diri untuk mendekatkan diri pada Yang Ilahi, bersyukur dan berterima kasih atas segala kasih karunia Allah. Dalam hari raya pada umumnya orang memang bersyukur dan berterima kasih, namun beberapa orang Yerusalem dalam hari raya Pondok Daun ini lebih memperhatikan Yesus yang akan dibunuh oleh musuh-musuh-Nya, dengan kata lain perhatian mereka ke arah pembunuhan atau penyingkiran Yesus. Semakin menerima ancaman maka Yesus pun juga semakin menyatakan Diri yang sebenarnya. Dalam mawas diri selama Prapaskah ini ada kemungkinan kita juga menerima hambatan, ancaman atau tantangan, maka hendaknya jangan dihindari dan hayatilah sebagai sarana atau wahana untuk semakin memurnikan jati diri dan panggilan kita sebagai umat beriman atau beragama. Ingat dan sadari serta hayati bahwa sebagai murid-murid Yesus Kristus kita hendak meneladan Dia yang rela menderita, sengsara dan wafat di kayu salib, yang berarti kita diajak dan dipanggil untuk siap sedia menderita karena kesetiaan kita pada panggilan dan tugas pengutusan. Jadikan dan hayati aneka tantangan, hambatan dan ancaman sebagai sarana penggemblengan iman kita, sebagaimana untuk mendapatkan emas murni maka emas harus dibakar.

· "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia” (Kej 2:18-20). Sabda ini mengingatkan dan mengajak kita untuk merenungkan apa yang juga dinasehatkan oleh St Ignatius Loyola kepada siapapun yang berkehendak untuk maju dan mendalam dalam kehidupan rohani atau spiritual. “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan”(St Ignatius Loyola , LR no 23). Semangat materialistis telah dan masih merasuki atau menjiwai umat beriman atau beragama, termasuk para imam, bruder, suster atau para pemuka agama. Sebagai contoh ada seorang imam dengan bangga menceriterakan bahwa telah berhasil memiliki deposito uang jutaan rupiah, membeli sarana-sarana teknologi canggih masa kini, dst.., bukan menceriterakan pengalaman dalam melayani atau menggembalakan umatnya. Kami mengajak dan mengingatkan kita semua, segenap umat beriman atau beragama, untuk senantiasa mengusahakan dengan rendah hati dan bersama-sama agar memfungsikan aneka ciptaan dan karya manusia di bumi ini sebagai sarana untuk memuji, menghormati serta mengabdi Allah Tuhan dalam dan melalui aneka pelayanan kepada sesamanya. Jauhkan aneka sikap mental materialistis dalam cara hidup dan cara bertindak.

“Wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu” (Mzm 34:17-20)

Jumat, 23 Maret 2012

Romo Ignatius Sumarya, SJ

Reaksi: